Actions

Work Header

Parfum Nona Bergaun Merah

Summary:

Perangkap dengan enam tahap akan berjalan selama enam hari.
Kali ini pasti akan didapatkannya, bukti untuk menjatuhkan pembunuh berantai The Ripper, Svengali.
Mr. Inference yakin, rencananya kali ini tidak ada kecacatan sama sekali dan pasti akan berhasil.
Cukup yakin walau sudah mengetahui lawannya memiliki tingkat inteligensi yang sama dengan sang Detektif.

Notes:

Disclaimer:
Parfum Nona Bergaun Merah © A d e l i a
Identity V © NetEase
Svengali (1931) © Warner Brothers-First National

Chapter 1: Rencana

Chapter Text


Sebuah tubuh ditemukan di gang sempit jauh dari jalan raya utama. Saksi seorang pengantar koran yang sudah bersiap-siap mulai dari pukul empat pagi.

Kesaksian yang didapat menyatakan bahwa mayat perempuan ditemukan dalam keadaan tepat bersandar di dinding dengan kondisi mengenaskan berupa isi perut yang terburai.

Tepat pada pukul lima paginya, polisi sudah mengamankan tubuh dan mengisolasi tempat tersebut. Tim forensik meneliti tempat kejadian sebelum tubuh dipindahkan. Hasil data akan diberikan secepat mungkin dalam waktu dua hari. Polisi dan timnya akan melakukan tindak lanjut dengan menghubungi keluarga untuk mendapatkan keterangan saksi lainnya.

Selama dua hari itu, melakukan hal semaksimal mungkin adalah hal yang dilakukan sebelum data pemeriksaan tubuh keluar nanti.

Maka tanpa menunda waktu lebih lama lagi, petugas kepolisian berpencar mencari petunjuk.

Tangis pecah dari seorang wanita yang diketahui adalah ibu dari korban. Di sampingnya pria paruh baya berusaha menenangkan istrinya yang semakin lama tak terkendali. Mungkin petugas yang bertugas mengorek informasi seharusnya memberikan waktu berkabung untuk keluarga.

Sheriff Baden bersama dengan orang-orang yang dibawanya keluar dengan hasil yang rasanya masih kurang. Kepala keluarga masih cukup memiliki kontrol dan mengingat apa yang terjadi pada malam sebelum putrinya pergi.

Malam itu akan ada pesta dari keluarga bangsawan di seberang sana, karena keluarga mereka bukanlah keluarga yang terpandang, tentu mendapatkan surat undangan membuat mereka terkejut dan senang. Putrinya berangkat dengan memakai gaun merah panjang yang disukainya dan pergi menggunakan kereta kuda. Tak ada yang menemaninya selain kusir yang mengantarkan.

Mereka mengira putri mereka akan aman-aman saja mengingat anak itu memiliki keahlian bela diri yang dipelajarinya untuk mengikuti tes kemiliteran nanti. Tapi siapa yang akan mengira, putrinya tidak kembali sampai tengah malam sebagaimana dengan yang dijanjikan.

Data kusir yang beroperasi malam itu sudah didapatkan, teman-teman korban sudah diminta keterangan oleh petugas lainnya yang membagi tugas, para tamu yang hadir di pesta tersebut sudah ditanyai satu per satu.

Sisanya hanya perlu menggabungkan semua data dan keterangan. Kemudian menyerahkan hasilnya kepada tim investigasi untuk meneliti apa yang bisa mereka gali.

Untuk hal ini, sang Sheriff hanya bisa memikirkan satu tempat.

Agensi detektif swasta.

 


 

Seorang Detektif senior merasa kepalanya sakit dengan setumpuk kertas yang baru saja ditaruh di atas mejanya. Ia tak berkerja langsung dengan badan negara, tapi perlakuan Sheriff di depannya seolah menjadikan dirinya seperti detektif resmi dari kepolisian.

“Tuan Inference, ini adalah salinan data yang kami dapatkan selama satu minggu. Tim kami sudah menyelidikinya, tetapi saya meminta Anda untuk membantu mengulik kasus ini juga.” Seorang pria berseragam lengkap, rambut hitam kecoklatannya tersisir rapi karena pagi ini akan langsung ke kantor untuk menanganin kasus baru lainnya.

Sosok yang dipanggil Inference mengerang tipis, pria itu mengambil kertas paling atas dan membacanya perlahan. Untuk beberapa saat, kesenyapan terjadi di antara mereka berdua.

“... Saya benar-benar putus asa.”

Tatapan biru melirik ke arah petugas yang berdiri di sana. Tak menyangka dengan perkataan itu. Apakah pihak kepolisian sudah tak punya harapan lagi? Bukannya dengan data baru ini, mereka bisa menemukan banyak informasi yang merujuk ke arah pelakunya?

Sheriff itu, Jose Baden, duduk di salah satu sofa terdekat setelah berdiri cukup lama. Pria itu mengurut dahinya dan mengembuskan napas berat.

“Teman-teman dari pihak korban mengaku tidak ada hal yang aneh sebelum pembunuhan itu terjadi, korban tak memberi tahu jika korban akan menghadiri sebuah pesta. Kemungkinan korban memang tak ingin membesar-besarkan hal ini. Teman-temannya mengaku bahwa korban merupakan sosok yang dewasa dan tenang,” Baden menjelaskan secara singkat apa yang didapatkannya. Pria tersebut melirik ke arah cangkir kopi dengan asap yang masih mengepul, Inference sempat memerintahkan seorang gadis yang dipanggil dengan nama Emma untuk membuatnya.

Di balik pintu sana, gadis itu bersenandung riang sembari membersihkan lemari buku. Baden merasa penat dan sedikit iri melihat orang lain memiliki hari yang cerah di saat dirinya berkutat dengan tugas yang sudah menumpuk. Tapi diri juga yang menginginkan pekerjaan melelahkan seperti ini, maka bukan salah Emma yang ceria setelah pulang dari klinik salah satu dokter yang dikenal gadis itu.

“Kusir yang mengantarkan korban mengaku tak ada hal yang aneh, dan korban diantarkan sampai ke tempat tujuan dengan selamat,” lanjutnya. Di balik kedua mata yang berbeda warna, Sheriff itu melirik ke arah Detektif yang masih membaca lembaran kertas tersebut. “Tamu yang ada di pesta mengaku mereka sempat berbicara singkat dan memperkenalkan diri. Korban sempat menjelaskan alasan saat ditanya mengapa datang sendiri, jawabannya karena perempuan itu cukup mandiri dan bisa melindungi dirinya sendiri.”

Di balik kaca monocle, Detektif tersebut membaca data forensik yang sudah keluar. Tubuh korban memiliki robekan lebar sepanjang 43 cm, robekan yang dibuat oleh benda tajam sepanjang 37 cm, sedangkan 6 cm lainnya karena koyak saat isi perut dikeluarkan. Di leher ada bekas kemerah-merahan, kemungkinan korban dicekik sebelum kemudian ditusuk dan dibelek. Hanya saja, dari semua itu, tim forensik tak menemukan bekas sidik jari. Kemungkinan antara pelaku membersihkan jejaknya dengan sangat lihai atau mungkin menggunakan alat pencegahan seperti sarung tangan karet dan peralatan lainnya sehingga tidak meninggalkan bukti.

Tapi jika menggunakan alat-alat seperti itu, bukankah itu mencurigakan untuk korban?

Inference bisa mengatakan itu setelah merangkum hipotesisnya. Darah yang ditemukan di tempat kejadian terbilang sedikit, sehingga bisa dipastikan korban dibunuh bukan di jalan tersebut. Korban bisa saja dibunuh di suatu tempat, suatu tempat dengan simbah darah, atau mungkin darah yang mengering dan membekas. Polisi sudah menyelidiki semua tempat tapi tak ada yang sesuai dengan yang diharapkannya.

Maka korban dibunuh bukan di tempat terbuka, tapi di tempat tertutup. Tak mungkin polisi akan mengecek setiap rumah yang ada di kota ini. Itulah mengapa petugas di depannya mengatakan bahwa ia putus asa.

Dan satu bukti lagi yang membuat Inference yakin, bahwa korban sebelumnya percaya terhadap pembunuhnya, sehingga bisa digiring ke suatu tempat, lalu dibunuh dengan tidak manusiawi.

Bukti ini cukup membuat Inference sakit kepala dan meminum kopinya. Ia membaca dan mencerna data forensik perlahan-lahan.

Cairan kental mani ditemukan di rahim korban, jumlahnya hanya sedikit. Kemungkinan keduanya sempat menjalin hubungan badan. Perempuan yang mereka teliti ini terbilang orang yang bebas dalam pergaulannya, sehingga malam itu bukanlah yang pertama kali bagi korban untuk berhubungan badan dengan laki-laki. Lalu pelaku melakukan kesalahan dengan mengeluarkan benihnya di dalam tubuh korban, alasan yang cukup untuk membuat pelaku mencabik-cabik perut korban sampai tak terbentuk, serta alasan mengapa darah yang tersisa hanya sedikit.

Untuk sesaat, sudut bibir tertarik di wajah sang Detektif.

“Lalu keterangan dari Tuan Svengali—”

Inference tersedak oleh kopinya sendiri. Baden bingung melihat reaksi tiba-tiba dari Detektif itu. Tapi tak peduli dan melanjutkan penjelasannya.

“Beliau mengaku bahwa korban sempat berbincang-bincang dengannya mengenai ketertarikannya dengan musik, juga mengenai keinginan korban melanjutkan pendidikan ke kemiliteran. Setelah pesta berakhir, beliau juga sempat menawarkan tumpangan untuk mengantarnya pulang. Tapi korban menolak dengan halus. Benar-benar pribadi yang kuat, ya?”

Mata kiri terasa berdenyut, Inference menaruh bibir menyentuh cangkir, tapi tak ada niatan untuk meminumnya.

“Sudah selesai?”

Baden berkedip beberapa kali. “Ya?”

“Apa kau sudah selesai?” Inference bertanya sekali lagi. Menaruh kopinya dan menopang dagu pada tempurung tangan kanan. “Kalau sudah selesai, kau bisa kembali ke kantormu. Bukankah kau sudah terlambat?”

Baden merutuk pelan ketika melihat jam. Pria tersebut mengambil mantel dan topinya. “Baiklah, kalau begitu saya undur diri.” Langkahnya cepat ke arah pintu keluar, sang Detektif pun tak perlu meliriknya dan kembali pada tumpukan kertas yang harus dibaca. Tapi sebelum keluar, petugas tersebut menengok ke arah Inference yang kini mengusap dagunya. “Aku berharap kau bisa membantuku dan kepolisian ... keamanan kota ini bertaruh padamu ... Naib.”

Pintu tertutup meninggalkan Detektif yang menaikkan kedua alisnya. Dari luar, Emma bertanya apakah Sheriff Baden akan pergi secepat ini, pria itu mengiakan dan berterima kasih atas kopinya.

Pria itu—Naib Subedar, mengerang tipis.

Membebankan tanggung jawab dengan embel-embel ‘keamanan kota’, seolah dirinya seorang pahlawan saja, tentu membuat Detektif Inference sedikit kesal. Terlebih pada kasus pembunuhan ini.

Inference sempat berunding dengan ketiga rekannya yang lain.

Di kota ini sudah banyak terjadi pembunuhan selama beberapa bulan terakhir, yang sekarang adalah yang terbaru.

Bagi para detektif yang sudah meneliti setiap kasus, mereka menemukan jika semua pembunuhan yang terjadi memiliki keterikatan. Inference dan rekannya sudah menemukan dugaan ini di saat pihak kepolisian masih belum bisa menentukan apakah pembunuh di balik semua kasus ini adalah orang yang sama atau tidak.

Rekannya bernama Recluse mengatakan teknik pembunuhan antara korban satu dengan yang lainnya memiliki kemiripan. Hal ini didukung dari pihak kepolisian yang menamai pembunuh dari kasus baru ini.

Sebutan yang disematkan untuk sang pembunuh adalah The Ripper.

Nama yang aneh jika bisa dibilang, tapi ternyata nama itu dibuat berdasarkan cara pembunuh merusak korbannya. Hebat juga polisi bisa membuat sebutan seperti ini.

Tapi herannya saat terjadi pembunuhan yang sama, mereka kadang tak bisa menentukan apakah pembunuhan ini disebabkan oleh Ripper atau orang lain karena akhir-akhir ini sering terjadi kasus pembunuhan sadis.

Sedangkan Inference dan rekan-rekannya beranggapan jika pembunuhan ini dilakukan oleh satu orang, terlihat dari polanya.

Mereka membuat kesimpulan kasus ini adalah kasus pembunuhan berantai, tetapi sebelum mengetahui kebenarannya serta konfirmasi dari kepolisian, hasil pikiran ini cukup menjadi rahasia untuk mereka berempat saja.

Ah, sebenarnya ada beberapa hal yang sangat mudah untuk mengetahui siapa pembunuh ini.

Detektif Inference mengamati foto korban saat ditemukan pertama kali. Matanya dengan teliti melihat semua yang tertangkap oleh kamera. Keadaan korban benar-benar mengerikan. Tapi ada beberapa hal yang mengganjal, gaun merah yang dipakainya tidak robek, dan darah yang mengotori gaun hanya sedikit. Juga—bukankah penampilan korban terlalu simpel?

Untuk menghadiri sebuah pesta tanpa ditemani siapa-siapa, maka korban membutuhkan sesuatu untuk membawa barang-barangnya, bukan? Misalnya tas.

Melihat dari penampilan korban yang berpakaian serba merah termasuk perhiasannya. Maka seharusnya korban membawa sebuah tas yang juga berwarna merah. Inference akan menghubungi Baden nanti.

Detektif itu menarik napas dalam-dalam dan bangkit berdiri dari tempatnya. Menghisap pipa rokok yang sempat ia abaikan saat Baden berada di kantornya barusan. Manik biru menatap keluar, suasana pagi kota yang ramai. Dua rekannya, Recluse dan Norton baru saja kembali dari kasus yang mereka tangani, kedua pemuda itu terlihat kelelahan.

Inference tak bisa membebankan kasus ini kepada mereka, untuk sekarang. Dengan ini, ia mengambil mantel dan tongkatnya, bersiap keluar untuk menemui seseorang.

 

 

Di kota ini, seseorang yang memiliki reputasi tinggi biasanya bangsawan dan menteri-menteri pemerintah. Tapi ada beberapa yang memiliki reputasi tanpa harus memiliki kedua latar belakang itu.

Mereka adalah orang-orang yang memiliki bakat dan kecerdasan.

Maka biarkan ia memperkenalkan satu orang yang berasal dari kumpulan orang-orang berbakat yang dimaksudkan, namanya adalah Svengali.

Svengali merupakan seorang musikus ternama di kota, citranya di publik sangat baik, permainan musiknya menjadi favorit dari setiap orang yang mendengarnya. Svengali kerap melakukan pergelaran orkestra di gedung-gedung besar, di mana panggungnya selalu ramai dihadiri banyak pengunjung. Rata-rata tamunya adalah bangsawan yang memiliki ketertarikan musik berkelas tinggi. Dari kelas pengunjung yang rutin menghadiri orkestra memberi penilaian bahwa musik yang dibawakannya bukan sembarang musik yang bisa dinikmati kelas bawah.

Terkadang Inference bingung bagaimana bisa ia memiliki kenalan orang ternama seperti ini.

Bar sangat ramai hari ini, panggung kecil di bawah sana menampilkan penyanyi cantik bersuara menggoda diiringi dengan musik yang menantang. Riuh pengunjung terdengar memeriahkan suasana. Sepertinya sebuah kesalahan bagi Inference yang memutuskan untuk minum-minum di tempat seperti ini, ia niatnya hanya ingin merilekskan syaraf di otaknya, siapa sangka malah membuat kepalanya semakin mumet.

“Detektif Inference, apakah kau tidak apa-apa?” seseorang di seberang meja berbicara. Nadanya terdengar khawatir setelah melihat sang Detektif yang kelelahan sampai seperti itu, mungkin sedikit merasa bersalah telah mengajak lawan bicaranya untuk makan siang.

“Ya ... tidak, maksudku tidak apa-apa.” Segelas bir ia tengguk begitu saja, menghangatkan tubuhnya yang sudah panas. Salah memang ke tempat seperti ini pada siang hari, siapa yang mengira bar akan ramai bahkan siang-siang seperti ini? Inference mengira bar akan ramai pada malam hari saja, itulah mengapa ia memilih tempat seperti ini.

Dan untuk sesaat Inference melupakan beberapa hal—sejak kapan bar buka siang hari?

Di mejanya ada kacang-kacangan, rasanya tidak begitu enak, ia menyesal memesan makanan termurah di sini. Sedangkan lawan bicaranya memesan segelas anggur dan semangkuk beri berwarna biru.

Ah, dirinya memang teman yang buruk.

“Maaf ... seharusnya kita ke restoran atau semacamnya ... bukan ke tempat seperti ini,” ucap Inference pelan.

Mengingat siapa sosok Svengali, tentu tempat seperti ini bukanlah tempat biasa pria itu menikmati makan siang. Tapi Inference juga tak bisa mengorbankan uang akhir bulannya untuk dihabiskan ke restoran mahal. Ini pilihan yang sulit.

Tapi seolah pria di hadapannya ini paham, Svengali tersenyum saat membalas, “Saya bisa memahaminya. Saya juga menikmati suasananya, anggur ini rasanya tak jauh berbeda dari anggur yang diberikan oleh kenalan saya. Mungkin anggur berkualitas?” Tatapan itu tertuju pada seorang wanita yang sedang melakukan pekerjaannya di balik konter, tangan-tangan lincah mencampurkan beberapa minuman dengan lihai, kemudian diberikan kepada satu pengunjung yang kini bertepuk tangan melihat atraksi sang Barmaid secara langsung di hadapannya. “Dan wanita kenalanmu, Nona Demi Bourbon sangat senang melihatmu datang ke sini.”

Inference tertawa pelan. “Ah, begitu ya.” Ia pernah berjanji kepada wanita itu untuk berkunjung, tapi tak mengira ia akan mengunjunginya di saat-saat seperti ini.

Suara musik dan riuh di bawah sana semakin memekakkan telinga. Inference meneguk gelasnya hingga habis, tatapan birunya lurus, ke arah pria di hadapannya.

Svengali, pria itu berpakaian lebih rapi hari ini, berbeda dari yang biasanya yang selalu memakai mantel tidur berwarna biru dan kemeja yang tiga—atau lebih—kancing teratas terbuka. Kali ini pria tersebut memakai pakaian formal dengan jas dan celana hitam, serta mantel hitam serasi lainnya. Hanya saja, kemejanya masih memiliki dua kancing yang sengaja dibuka, sampai-sampai dadanya sedikit terlihat.

Kacang sudah diabaikan karena Inference merasa lidahnya sudah tak kuat memakan biji-bijian itu. Sebagai gantinya, ia memulai pembicaraan yang ingin ia tanyakan langsung kepada Svengali—ia sudah menanyakan beberapa saksi secara langsung sebelumnya, sekarang hanya tinggal pria ini saja. Inference menyebut nama korban yang ia teliti kasusnya, dan pria di hadapannya memberikan reaksi terkejut.

“Ah, nona itu ... saya turut berduka cita setelah mendengar kabarnya. Kita baru bertemu sekali, tapi saya sudah merasa kecocokan di antara kita berdua. Saya tak mengira hal buruk terjadi menimpanya.” Entah apa benar Svengali benar-benar berduka cita, karena pria tersebut mengambil beri biru di mangkuk dan menikmatinya perlahan. Wajahnya awalnya sempat terlihat sedih, kini berubah seolah rasa manis di lidah memperbaiki suasana hati.

Sang Detektif menangkap setiap gerakan kecil yang Svengali buat melalui tatapan yang mengikuti. “Apa benar kau menawari untuk mengantarnya pulang?”

Pria itu mengangguk, mencicipi satu beri lagi. “Tak perlu repot-repot, begitu katanya. Memang besok saya memiliki jadwal yang padat, sehingga saya harus menjaga stamina saya.”

Begitu ya ....

Inference terdiam. Mengamati beri yang dimakan satu per satu, membuat isi mangkuk semakin lama berkurang. Apakah semanis itu?

Di dalam heningnya, tanpa sadar Inference berbisik sesuatu, “Apakah ... dia terlihat cantik dengan gaun merahnya?” Apakah semua mata tamu melihat ke arahnya? Apakah gaunnya tak lebih cantik dari tamu lainnya? Apakah gaunnya bisa membuat orang-orang kagum? Apakah—

“Ya, beliau sangat cantik malam itu.”

Inference tak tahu bisikannya sekeras itu untuk Svengali bisa mendengarnya.

“Gaun merahnya sangat indah, menyala terang di antara gaun-gaun tamu lainnya yang berwarna lembut yang sedikit membosankan,” komentarnya, “Nona itu terlihat seperti mawar yang berjalan di dalam keramaian. Sudahkah Anda melihatnya? Penampilannya yang serba merah itu?”

Inference terdiam dan mengangguk saja.

Ternyata bukan gaunnya yang menarik.

Svengali memuji, “Cantik bukan?” Bahkan Detektif itu bisa melihat paksaan untuk berkata manis dari raut wajah sang Musikus.

Inference mengangguk lagi. Svengali menarik garis bibirnya.

“Jika saya ingat-ingat, beberapa tamu lainnya sempat memuji kecantikannya juga. Rambut pirangnya sangat lembut dan indah, walau potongannya sedikit rendah, tapi mungkin itu daya tariknya.” Pria tersebut seperti mencoba mengingat-ingat. “Perhiasannya juga terlihat mahal, katanya milik keluarga yang diturunkan dari generasi sebelumnya.”

Bagi Inference itu bukan informasi yang penting. Pria itu menahan dagu dengan tangannya. Sedangkan di sisi lain, Svengali berhenti memberi kesaksiannya karena Inference terlihat tak tertarik.

Tak ada pembicaraan di antara mereka berdua untuk beberapa menit ke depan. Inference terus berpikir lebih lanjut akan peluang sang korban yang bisa menarik perhatian pembunuhnya. Tapi Inference tak sadar jika kelakuannya sekarang ini tak baik begitu mengabaikan teman makan siangnya. Tapi Svengali yang paham pun hanya memaklumi.

Bagaimanapun juga tugas seorang detektif memang berat. Terlebih untuk kasus ini, Inference bekerja sendiri. Andai saja Svengali bisa membantu, pria itu akan melakukannya.

Svengali menyelipkan satu beri di antara jari telunjuk dan ibu jari, lalu diarahkan ke depan. Menutup mata kiri seolah menilai sebuah permata. Warna birunya sangat lembut dan segar. Dengung berat dikeluarkan saat menikmati keindahannya.

Inference terbangun dari lamunannya berkat suara itu, sang Detektif menatap lawan bicaranya yang fokus terhadap beri di tangan. Pucuk coklat sedikit jatuh ke samping saat empunya memiringkan kepala, bingung dengan reaksi wajah Svengali yang terlalu serius hanya pada satu buah beri itu.

Apa ada yang menarik? Itu hanya sebuah beri berwarna biru—pikirnya begitu.

Sampai kemudian Inference tersadar sesuatu saat mata kelam itu bukan menatap beri, melainkan menatap dirinya sendiri dengan ekspresi yang sulit untuk diartikan.

Napas mendadak tertarik dan tersendat tipis. Entah kenapa, mata itu seperti tak hanya menilai kualitas beri, tapi juga menatap wajahnya untuk membandingkan sesuatu. Dan hal itu membuat dirinya merasa tak nyaman.

Svengali menaruh beri itu kembali ke mangkuk. “Sudahku duga ...,” ucapannya memiliki jeda, tatapannya yang awalnya terarah kepada beri kini beralih menatap lurus pada sepasang iris biru yang juga menatapnya.

Belum sempat Svengali menyelesaikan komentarnya. Inference, kedua tangan saling bergenggaman, pria itu memalingkan wajah, menyela dengan pertanyaan lainnya, “Apa benar, pendirian beliau begitu kuat sampai-sampai menolak tawaran dari seseorang seperti Tuan Svengali? Maksudku, wanita mana yang tidak ingin berjalan bersama Anda?” Perlahan, maniknya melirik dari ekor mata, dan mendadak degup jantungnya terasa kuat.

Inference bisa menangkap seringai tipis di sana, yang mana membuat dirinya merasakan hawa dingin sesaat yang membuatnya menggigil, sekarang ia benar-benar merasa gugup dengan senyuman itu.

“Saya juga heran ....” Svengali menopang dagunya dengan satu tangan, tatapan sayunya sangat dalam seolah ingin menyerap seluruh warna yang ada pada manik biru itu. “kira-kira ... mengapa?”

Napasnya tertarik cepat, Inference tak bermaksud menahan napasnya, tapi tatapan Svengali benar-benar membuatnya kosong, bahkan lupa untuk menghirup oksigen. Apakah ... apakah ini daya tarik seorang pria berbakat yang dicintai oleh semua orang terutama para wanita di kota ini?

Svengali masih menatapnya lekat-lekat, senyum masih sama, kekeh tipis melihat reaksi di depannya.

Ah.

Tidak. Bukan.

Tatapan itu bukan tatapan yang sama.

Pembicaraan mereka tak berlangsung lama. Yang memutuskan undur diri berasal dari pihak Detektif. Svengali sempat mengerang kecewa dengan cepatnya waktu yang mereka habiskan bersama. Tapi pria tersebut tak protes, lalu mengatakan bahwa Inference memang sosok yang sibuk.

Maka keduanya berpisah di situ.

Inference cepat-cepat kembali ke kantornya.

Tak disangka, Baden tepat berada di depan pintu ruangannya. Pria itu membawa data yang ia pinta. Inference tak berkata apa-apa, mengambil kertas tersebut dan masuk ke dalam kantornya. Pintu yang menghubungkan ke ruangannya dikunci, membuat pria yang memiliki kepentingan kesal.

Emma datang untuk menenangkan pria tersebut. Mengatakan mungkin Tuan Inference sedang tidak ingin bertemu dengan orang lain. Walau tidak senang, Baden paham dan menurut.

Sebelum pergi dari sana, petugas tersebut sempat mengerutkan alisnya. “Pria itu ... raut wajahnya terlihat sangat aneh.”

Inference tak peduli. Kertas di tangannya ia lempar begitu saja ke meja.

Ia melepas topi dan jasnya, mencampakkannya ke sofa. Inference mendudukkan diri di kursi, ia memijit pelipisnya. Entah kenapa, napasnya tak beraturan, keringat membasahi wajah.

“Sial ....”

Dirinya terlihat berantakan, Inference menenangkan dirinya sendiri. Ia melirik dan menemukan tangannya yang tremor. Berdecak dan mengepalkan tangannya lebih keras.

Sebenarnya, semuanya sangat mudah.

Inference sudah bisa menebak siapa pelakunya.

Hanya saja ... ia masih membutuhkan bukti.

Mengerang keras dan mengacak rambutnya.

Pria itu ... bagaimana bisa semuanya menjadi seperti ini.

Polisi masih belum bisa menemukan orang-orang yang bisa mereka curigai. Bukti hampir tidak ada sama sekali, seolah pembunuhan ini dilakukan oleh sesuatu yang bukan manusia. Sedangkan rekan-rekannya yang lain juga tak jauh berbeda, mereka tak peduli dengan kasusnya saat mengambil kasus lain yang lebih ringan.

Lalu di sini dirinya berada.

Inference mencurigai—tidak, tapi dirinya yakin. Bahwa pelakunya tidak lain tidak bukan adalah kenalannya sendiri.

Svengali.

Ya. Gentleman ramah yang baru saja ditemuinya itu.

Orang-orang akan berpikir dirinya gila atau iri karena Svengali adalah orang terakhir yang bisa dicurigai oleh mereka.

Memang dirinya sangat kejam jika menuduhnya secara sepihak. Tapi kecurigaannya tidak bersifat subjektif. Ia memiliki bukti—sayangnya, bukan sebuah bukti fisik yang bisa diserahkan kepada kepolisian begitu saja.

Mereka berdua pernah membicarakan hal ini, yang memulainya adalah Svengali, pria itu bertanya apakah kepolisian meminta bantuan dari sang detektif swasta—Inference—lagi. Ya, ia menjawabnya begitu. Dan entah bagaimana mereka berakhir membicarakan pembunuhan ini bersama.

Awalnya biasa saja, mereka saling bertukar pendapat, mengira-ngira apa niat di balik pembunuhan ini. Svengali berpendapat seperti dendam, cinta, ketertarikan, harta, dan lainnya. Inference tak bisa mengiakannya begitu saja.

Sampai kemudian, Svengali mencoba menyemangatinya, berharap semoga pembunuhan berantai ini bisa cepat-cepat berakhir.

Di saat itu juga, bahkan Inference tak tahu bagaimana raut wajahnya.

Kaget? Mungkin, ia ragu, gugup. Dan pembicaraan mereka berakhir di sana. Ia kembali ke kantornya dalam keadaan yang tak jauh berbeda dari yang sekarang ini.

Semua itu hanya karena satu hal.

Bagaimana bisa Svengali tahu bahwa kasus ini adalah pembunuhan berantai?

Polisi bahkan merahasiakan informasi rinci mengenai pembunuhan ini. Siapa saja korbannya, lapisan keluarganya, wanita atau pria, juga bagaimana kondisi kematiannya. Beberapa data yang dikeluarkan hanya berupa berita duka di koran dengan wajah normal korban. Juga di dalam koran tak hanya memuat satu orang saja, korban pembunuhan lainnya, kecelakaan, orang hilang. Jika keluarga mengizinkan, maka cerita mereka akan dicetak.

Maka jika sekadar melihat data pembunuhan, selama satu bulan ini tak hanya wanita saja yang terbunuh, pria dan anak-anak juga. Berhubung pembunuh berantai, The Ripper, hanya mengincar wanita, juga teknik membunuhnya sangat berciri.

Selain itu, bahkan polisi tak tahu jika pembunuhan ini dilakukan satu orang yang sama seiringan dengan kasus yang terus terjadi di sekitar kota.

Jika ia melaporkan hal ini. Kemungkinan petugas akan mengira bahwa Svengali tak jauh berbeda dengan dirinya yang bisa menyimpulkan bahwa pembunuhan ini dilakukan oleh orang yang sama, berhubung Svengali memiliki kecerdasan yang tinggi. Inference juga tak memiliki bukti yang kuat jika memang benar Svengali pelakunya. Selain itu, kemungkinan besar ia juga akan dituntut karena menyebarkan informasi rahasia milik kepolisian.

Inference tak memiliki bukti, dirinya kesal karena itu.

Kesal karena ia sangat yakin, tapi ia tak memiliki bukti untuk menunjukkan siapa sosok pelakunya. Mungkin orang-orang akan bertanya bagaimana ia bisa yakin dengan pendapat-pendapat itu? Orang cerdas di kota ini tak hanya dirinya, tentu bisa saja ada orang lain yang bukan seorang detektif bisa menebak hal tersebut.

Kalau begitu Inference akan menunjukkan beberapa hal.

Bagaimana bisa semua ciri korban sesuai dengan apa yang ia duga?

Sebenarnya tak lama ini Svengali pernah mengakui sesuatu kepadanya. Pada sebuah acara pesta yang digelar di kediaman sang musikus, saat itu Inference hanya berjalan-jalan di sekitar taman dan beristirahat di sebuah gazebo, dan secara kebetulan Svengali menemukannya di sana.

Mungkin karena suasanya mendukung dan hanya ada mereka berdua saja di sana. Svengali memberikan sesuatu—sekuntum bunga mawar merah segar, masih dengan durinya yang tajam. Pria mana yang tak akan heran diberikan bunga oleh pria lainnya? Ya, Inference merasa seperti itu. Sampai kemudian Svengali mengatakannya, bahwa pria itu tertarik dengannya, menyukainya, hal yang memiliki kaitan dengan rasa romantis.

Inference? Bingung, ia seperti orang bodoh yang melongo.

Dari kejadian itu, semakin lama semakin berkembang. Bagaimana pria tersebut selalu memuji kepintarannya, yang kemudian semakin lama memuji penampilannya. Detektif Inference terlihat sangat tampan, indah, cantik, begitulah kata-kata yang disampaikan. Inference tak bisa protes karena itu hanya sebuah pujian.

Tapi entah kenapa ... semakin lama Svengali terlihat semakin aneh. Pria tersebut memperlihatkan rasa ketertarikannya dengan cara-cara yang ... intim.

Lalu bagaimana hal itu bisa mengaitkannya dengan kasusnya?

Mudah. Svengali pernah memuji aroma tubuhnya yang terasa maskulin dan tajam, ada satu aroma yang tak sengaja tertangkap oleh penciuman sang pria—kayu manis. Kayu manis merupakan aroma yang bisa dipakai oleh pria maupun wanita, itulah mengapa Svengali memuji aromanya sangat seksi.

Dan keesokan harinya, ditemukan tubuh tak bernyawa di dekat jembatan. Dari penelitiannya yang terjun langsung ke tempat kejadian perkara, di tengah semua aroma amis darah, Inference tak sengaja mencium aroma dari baju sang korban. Ia kira aroma parfum pada pakaian akan hilang dalam kurun waktu tertentu, tapi aroma ini masih menempel kuat seolah-olah baru saja dipakaikan. Sekilas saja dan Inference sudah tahu, pembunuh itu ingin memberikan sebuah pesan kepadanya.

Dan ya. Aroma apakah itu?

Kayu manis. Walau berbeda dari miliknya yang terasa pedas, aroma ini jauh lebih manis.

Awalnya mungkin itu hanya kebetulan.

Kemudian minggu berikutnya Svengali memuji ketekunannya, seolah ia seperti orang yang gila kerja. Dan pada malam hari berikutnya ditemukan mayat seorang wanita pekerja. Keluarga korban mengatakan jika wanita ini bekerja sangat keras sampai pulang terlalu larut malam.

Hal itu masih belum bisa memastikannya.

Svengali pernah memuji rambutnya, bertanya bagaimana kira-kira penampilannya jika ia melepaskan ikatannya dan membiarkan rambut coklatnya tergerai, yang tentu saja ia tolak saat itu. Dan beberapa hari berikutnya, ia menemukan korban baru dengan memiliki ciri yang sama—rambut lurus coklat kayu dengan potongan sebahu.

Saat itu Inference mulai tersadar akan sesuatu.

Pertemuan berikutnya—Inference juga bingung sejak kapan mereka bisa menjalin hubungan seperti ini—mereka berdua membicarakan hal lainnya, mungkin tak sengaja lebih mendalam mengenai privasi. Svengali bertanya apakah Inference bukan berasal dari daerah sini, berdasarkan garis wajah dan aksen berbicara, dan benar saja dijawab bahwa sang Detektif adalah seorang pria Nepal. Mungkin karena hubungan mereka yang semakin akrab sehingga Inference merasa tak masalah memberi tahu identitasnya.

Dan pagi harinya, polisi menemukan mayat wanita, diduga pekerja dari negara luar karena wajahnya terlihat seperti orang Asia.

Inference terdiam, melihat semua kasus yang memiliki kode yang hanya dirinya dan Svengali yang tahu. Seolah pria itu sendiri yang ingin menunjukkan langsung kepadanya, jawaban dari semua pertanyaannya.

Dan pembunuhan kali ini, kodenya adalah merah.

Svengali menyinggung mengenai pakaian pernikahan orang Nepal. Awalnya pria tersebut sempat salah karena malah menunjukkan budaya India kepadanya. Tapi Inference tak mengelak juga, karena beberapa hal ada kesamaan, termasuk dengan kain sari merah.

“Saya ingin tahu ... apakah warna merah cocok dengan Anda, Tuan Detektif?”

Dengan apa yang terjadi setiap pertemuan mereka, tentu Inference tak bisa tenang dengan pertanyaan itu. Ia menyindir candaan Svengali yang terlalu privasi karena pembicaraan mereka yang sebelumnya, ia masih belum tertarik dengan pernikahan, itu jawaban darinya.

Bisa saja, sebelum pembunuhan ini terjadi, Inference menyuruh petugas Baden untuk memperhatikan setiap wanita yang keluar malam hari dengan berpakaian merah. Tapi, bukankah itu mencurigakan? Bisa saja informasinya menjadi bumerang, membuat dirinya dicurigai dan yang terburuk—ter-suspect.

Inference masih menekan tangannya yang gemetar.

Untuk kali ini, ia mendapatkan kode baru.

Mata biru.

Inference mengerang, ia tak bisa membiarkan pembunuhan ini terus berlanjut. Rasanya sangat menyakitkan, saat ia tahu siapa pelakunya, tapi ia tak bisa menangkapnya dengan bukti yang belum ia dapatkan.

Tarikan napasnya semakin berat. Berpikirlah, berpikir! Apa yang harus ia lakukan? Matanya menatap setiap kertas di atas meja. Untuk mendapatkan bukti, apa yang harus ia lakukan? Meneliti setiap petunjuk akan memakan waktu.

Ah, tunggu sebentar, bukankah Sheriff Baden membawa sesuatu?

Inference mengambil kumpulan kertas itu, ia membacanya dengan saksama. Tas merah yang ia tanya berhasil ditemukan di saluran air pasar dan kini diamankan di kantor polisi. Sheriff Baden berpesan, jika ia ingin meminjamnya, maka petugas itu akan memberikannya berhubung pihak kepolisian sudah meneliti tas tersebut.

Tidak ada kerusakan yang parah, tas itu masihlah sama walau sedikit kotor, hanya perlu membersihkannya saja sudah cukup. Di dalam tas tersebut berisi kertas, pena, undangan, lipstik, bedak, cermin, dan buku catatan. Di dalam buku catatan, tak ada catatan terbaru mengenai pesta yang didatangi korban, hanya catatan kegiatan sehari-hari yang dilakukan sebelum menghadiri pesta, tak ada yang mencurigakan.

Inference berpikir cukup lama. Tas merah ditemukan di saluran air dekat pasar? Pasar tersebut lumayan dekat dengan tempat di mana tubuhnya ditemukan. Apa pelakunya sengaja membuang tubuh dan tas di tempat yang berbeda? Bukankah itu sangat mencurigakan? Atau mungkin saja saat memindahkan tubuhnya, tasnya tak sengaja terjatuh? Atau pembunuhnya tak sadar jika tasnya tertinggal dan membuangnya sembarangan? Bukankah itu sangat lalai? Maka jika dihubungkan jalan yang menghubungkan antara tempat kejadian dengan pasar—

Ah.

Mengapa ini semakin sulit, dua tempat itu masihlah sangat jauh dan tak berhubungan dengan tempat yang ia curigai—rumah kediaman Svengali.

Jika dilihat dari manapun, tak ada petunjuk yang mengarah pada tempat tinggal pria Inggris itu.

Inference menarik napasnya dalam-dalam, pikirannya harus tenang agar bisa dengan mudah mengolah informasi—tapi mengapa susah sekali tubuhnya diajak bekerja sama.

Baiklah, mari memeriksa laporan tentang barang yang ada di dalam tas. Kertas dan pena tak dipakai oleh korban, tak ada tanda-tanda kerutan pada lembarannya atau tinta yang digunakan, buku catatan juga. Tapi sesuatu yang berbeda dengan undangannya. Undangannya memiliki beberapa bekas robek dan garis lipstik yang ditekan. Kebetulan lipstik dalam keadaan terbuka dan di dalamnya patah, cerminnya juga pecah, tapi tidak terjadi apa-apa dengan bedaknya.

Inference menyimpulkan, korban dibunuh saat bersiap-siap kembali ke rumahnya, dan lebih tepatnya lagi saat korban memakai lipstiknya, biasanya wanita memakai lipstik setelah sudah berpakaian rapi dan sudah cukup memoles wajahnya.

Alisnya berkerut.

Bedak, lipstik, cermin.

Korbannya memang dari keluarga yang tak ternama, jadi perlengkapannya tidak begitu bagus, tapi entah kenapa ada yang kurang.

Svengali tidak akan mendekati seorang wanita hanya karena gaunnya berwana merah—sesuai dengan petunjuk yang diberikan.

Korban pasti memiliki sesuatu yang berhasil menarik perhatian sang pembunuh. Penampilannya tidak mungkin, maka jawabannya ada di dalam tas. Tapi benda-benda yang ditemukan oleh polisi semuanya bukan benda yang bisa digunakan sebagai alasan Ripper menargetkan korbannya. Lalu apa itu? Benda yang tidak ada saat tas ditemukan?

Apa itu kira-kira? Sesuatu yang masih bisa dipakai baik keluarga bangsawan maupun keluarga kelas menengah dan ke bawah? Sesuatu yang bisa dipakai korban untuk menutupi penampilan dan gaun merahnya yang tidak menarik?

Apa, apa itu—Inference meremat kepalanya. Berpikir keras. Matanya melirik ke setiap benda yang berada di ruangannya, berharap ia bisa menemukan sesuatu yang memiliki kesamaan dengan benda yang ia duga.

Apa—

Mata birunya membelalak, tepat ke arah botol kaca wine yang terlihat lebih kecil tetapi lebar. Kacanya yang bening memperlihatkan isinya yang masih penuh dengan cairan berwarna maroon kental.

Ah.

Parfum.

Inference bangkit dari tempatnya. Meraih botol tersebut.

Ya, parfum.

Benda yang bisa menutup kelas seorang keluarga dari kelas bawah sekalipun, tentu saja itu adalah sebuah parfum premium yang mahal. Tak masalah bedak dan lipstik murahan, asalkan parfum memiliki aroma yang mewah dan tahan lama, mereka tak akan tahu bahwa korban berasal dari keluarga kelas menengah.

Dan itu berarti—bukti masih ada di tempat kerjadian.

Inference meremas botol di tangannya, lalu beranjak cepat ke arah meja. Parfum itu masih ada di sana, setidaknya, walau sudah seminggu, tapi terlihat pelaku cukup percaya diri dengan usahanya menghapus semua bukti-bukti dari tubuh korban, terlebih sepanik apa pelaku saat mengeluarkan cairan maninya di dalam rahim sang korban, tentu saja pelaku akan lebih fokus pada hal itu—semoga saja pelaku tidak menyadari hal kecil seperti ini.

Maka dari itu hanya satu hal yang bisa dilakukan, yaitu mencari bukti di tempat kediaman pelaku itu sendiri—tempat tinggal Svengali.

Tidak mungkin Inference akan menyuruh Baden mengerahkan polisi untuk mengecek tiba-tiba rumah Svengali, karena pihak kepolisian sama sekali tidak menaruh kecurigaan pada pria tersebut. Juga mana mungkin ia akan mengunjungi Svengali hanya untuk mengecek kamarnya, itu sangat aneh, terlebih ia membutuhkan waktu yang sangat lama untuk berpikir kira-kira di mana benda itu terjatuh, yang ada Svengali akan menyadarinya dan menyuruhnya pulang saat itu juga. Tentu, jika pelaku terancam maka pilihan satu-satunya adalah mencarinya sendiri dan melenyapkan bukti.

Oleh karena itu ia membutuhkan sebuah cara, sebuah cara yang bisa membuatnya berada di kamar itu cukup lama, yang bisa membuat Svengali percaya walau pria tersebut meninggalkan dirinya di dalam rumah pria itu, walau selama satu hari sekalipun.

Cukup lama sampai ia memikirkan satu hal. Dan hal ini sukses membuat tubuhnya tremor semakin parah.

Inference meremas kertas di tangannya, ia menunduk dalam dan meneguk ludahnya. Semakin ia memikirkannya, semakin parah tubuhnya bergetar, ia merasakan dingin, merinding.

Inference tahu, ia harus berani mencoba segalanya untuk mendapatkan bukti.

Laci meja dibuka. Mengambil beberapa kertas dan amplop, empat—enam.

Secarik kertas ia pilih, berusaha setenang mungkin menulis setiap kata ke dalam kertas tersebut. Kalimatnya cukup panjang, ia melipatnya dan memasukkannya ke dalam amplop. Lalu kertas kedua, ia menarik napas dalam-dalam, menutup matanya rapat-rapat, berusaha untuk tenang. Menyusun beberapa kata di kepalanya sebelum menulisnya ke dalam kertas.

Kertas ketiga dan keempat, perasaannya jauh lebih tenang. Ia memasukkannya ke dalam amplop, setiap amplop ia berikan nomor, kemudian memasukkan masing-masing kertas sesuai dengan nomornya.

Sampai pada kertas kelima, mendadak rasa panik tiba-tiba datang. Inference menuangkan beberapa air ke dalam gelas, dan meminumnya. Ia mengatur napasnya, meyakinkan diri.

Kembali pada kertas yang ia tinggalkan sementara. Mengambil pena dan menggurat setiap huruf dengan perlahan, tangannya masih tak bisa tenang, gemetar membuat garis yang ia buat terlihat jelek, tapi ia tak peduli. Jika semua petunjuk mengarah pada satu keputusan, dan mungkin dalam hal ini ia sudah berada di dalam kondisi berbahaya, nyawanya mungkin saja terancam, maka semua jawaban ada pada kertas kelima ini.

Membentuk satu nama, ‘Svengali’, kemudian melipat dan memasukkannya ke dalam amplop. Inference mengembuskan napasnya dalam-dalam, degup jantungnya tak beraturan.

Kertas terakhir. Kali ini menggigit bibirnya kuat-kuat, tapi tak sampai melukai. Jika tak ada dari kelima kertas tersebut yang terbukti, maka jawaban terakhirnya hanya satu ini.

Seusainya, ia melepas lem yang merekat pada lapisan penutup dan menguncinya. Tangannya meremas kumpulan amplop di dalam genggamannya. Hanya ini satu-satunya cara.

Sebuah perangkap yang ia buat.

Perangkap yang hanya berjalan dalam enam tahap. Sebuah perangkap yang menentukan nasibnya hanya dalam waktu enam hari.

Detektif Inference—Naib Subedar, merasa yakin, rencana dan perangkapnya pasti akan berhasil.

Kali ini, bukti pasti akan ia dapatkan.