Actions

Work Header

The State of Being Normal

Summary:

"Apa kau mau jadi pacarku?"

Sherman berkedip, sekali, dua kali. "Huh?"

"H-hanya untuk sehari, tenang saja."

"HUH?"

Memiliki orang tua dewata sama sekali tiada enak-enaknya. Benar, kemampuan unik, stamina super dan fasih berbahasa kuda memang terdengar menyenangkan, tetapi rasanya tidak sepadan melihat resiko yang ada. Diburu hingga mati, lebih tepatnya.

Sherman Yang bahkan tak punya waktu untuk menjalin asmara, jadi ia akan mengambil segala kesempatan yang ia bisa. Termasuk ini. Terutama ini.

Apa itu normal, memangnya?

Notes:

Kita butuh lebih banyak Sheranda, folks!!!! Kepincut kapal ini sejak lihat kimia mereka di Hidden Oracle wkwk.

Karena info tentang dua karakter ini sangat minim, jadi ada beberapa bagian yang bukan canon. Terutama masa lalu Sherman dan Miranda. Dan timeline fic ini sesudah Blood of Olympus dan sebelum Hidden Oracle.

Enjoy!

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

"Lari sampai kalian menangis, anak manja!"

Sherman Yang putra Ares ditugaskan sebagai pelatih kebugaran oleh Chiron, penanggung jawab perkemahan. Ia menikmati raut wajah kelelahan para pekemah yang ngos-ngosan dan bersimbah keringat.

Sadis? Seratus persen.

Satu-satunya alasan Chiron mengizinkan penganiayaan ini adalah bahwa para monster di luar sana tak akan berhenti mengejar meski mereka meronta-ronta dan menangis darah. Percayalah, Sherman mengerti itu, tanya saja pada luka zig-zag yang memvonis wajahnya menjadi buruk rupa untuk selamanya.

Ketika pekemah termuda tampak nyaris pingsan, barulah Sherman bertepuk tangan menandai sesi pelatihan telah selesai. Saat pekemah-pekemah lain berhamburan berebut minum, di sanalah ia menyadari sesosok gadis sedang menghampiri pekemah termuda tersebut. Dia adalah Miranda Gardiner, konselor Kabin Demeter dan pemilik hati Sherman sejak setengah tahun ini.

Miranda duduk di samping sang pekemah, berucap sesuatu sembari mengulas senyum menenangkan. Gadis itu lalu memanggil Will Solace si healer yang segera membawa sang pekemah ke ruang rawat.

"Bagaimana keadaannya?" tanya Sherman ketika Miranda melangkah mendekat, menuju kardus air minum di sampingnya.

"Vertigo dan muntah-muntah. Tapi dia sudah ada di tangan Will, dia akan baik-baik saja."

Sherman mengangguk, menenggak minumnya, kemudian memutuskan untuk bertanya. "Kau tidak marah padaku karena berbuat begitu?"

Miranda kembali mengulas senyum. "Pelatihan ini krusial bagi kelangsungan hidup mereka. Ibuku hanyalah Dewi Pertanian, jadi monster terkadang tak menganggapku begitu penting untuk diburu, tapi aku tidak bisa mengatakan hal yang sama untuk anak dewa-dewi lainnya."

Sherman merasakan pandangan Miranda tertuju pada luka di sisi wajahnya. Biasanya, ia tak akan senang ditatap dengan penuh simpati, bekas luka adalah medali yang harus ia kenakan dengan bangga. Namun, ia merasakan hal lain dari gadis itu, seolah ... ia baik-baik saja tampak lemah di hadapannya.

Jika ayah dewatanya tahu ini, matilah ia. Putra Dewa Perang haram hukumnya secara sukarela menunjukkan ketidakberdayaan mereka.

"Um, omong-omong." Nada suara Miranda berubah resah. Semak belukar mulai tumbuh melingkari kakinya, refleksi isi hatinya. "Ibuku—ibu tiriku, maksudku—akan datang besok, jadi aku—bolehkah aku ...."

Miranda tampak frustrasi, jadi Sherman biarkan gadis itu meralat ucapannya berkali-kali tanpa menyanggah. Meski agak aneh melihat gadis yang selalu berlagak pasti mendadak menjadi gelisah seperti ini.

"Apa kau mau jadi pacarku?"

Sherman berkedip, sekali, dua kali. "Huh?"

"H-hanya untuk sehari, tenang saja."

"HUH?"

 

°•°
•°•


Di Perkemahan Blasteran, ada dua jenis penghuni; pekemah musim panas dan pekemah tahunan. Pekemah musim panas adalah mereka yang menempati Perkemahan hanya pada musim panas saja, ketika sekolah reguler libur, di mana setelahnya mereka akan kembali ke rumah masing-masing.

Pekemah tahunan, di sisi lain, adalah mereka yang tinggal di Perkemahan sepanjang tahun. Hal ini disebabkan oleh dua hal; mereka adalah keturunan dari dewa-dewi penting hingga akan sangat riskan jika dibiarkan berada di dunia luar karena monster akan memburu mereka tanpa henti, atau mereka—sederhananya—tidak punya rumah untuk berpulang. Sherman Yang adalah gabungan dari keduanya.

Ia tahu Miranda adalah pekemah tahunan, akan tetapi Sherman tak pernah tahu apa alasan tepatnya karena segan bertanya.

Kini, ia tahu mengapa.

Ayah Miranda, Tuan Gardiner, menikahi wanita mortal yang tak tahu dan tak siap sama sekali dengan serangan monster. Pertama kali serangan terjadi dan diketahuinya keanehan Miranda perihal tanaman (menumbuhkan semak belukar di sekitar ketika hatinya resah) Nyonya Gardiner tak ingin lagi melihat Miranda ada di rumah.

Kini, orang tuanya akan berkunjung. Miranda ingin menggunakan kesempatan ini demi memperlihatkan pada mereka bahwa ia sesungguhnya dapat hidup normal seperti gadis lain; berteman, bergurau, bahkan memiliki pacar.

Dan, ya, di sinilah Sherman berperan.

Dan, ya, ia setuju untuk disewa.

Mengapa Miranda memilihnya dan bukan pekemah lain seperti Damien White atau Cecil Markowitz yang lebih sedap untuk dipandang? Sherman tak tahu.

Apa ia peduli? Sejujurnya, tidak.

Kini ia telah berada di ruang tamu Rumah Besar, duduk berhadap-hadapan dengan orang tua Miranda. Ia dapat melihat garis wajah familier milik gadis itu pada Tuan Gardiner, dan bahkan dapat membaui aroma mint darinya. Tuan Gardiner adalah seorang petani dan barangkali karena inilah alasan Demeter jatuh cinta.

Percakapan berjalan dengan lancar, Miranda tersenyum terus selama pembicaraan, tetapi Sherman tahu gadis itu ketar-ketir setengah mati. Sebelum ini, ia bahkan telah meminum ramuan dari Lou Ellen demi menyumbat segala properti magisnya, agar tampak lebih normal di hadapan orang tuanya. Bahkan dengan itu pun Sherman dapat melihat betapa tanaman hias di jendela Rumah Besar mulai terpengaruhi emosi sang gadis.

Sherman sendiri tak merasa ada yang aneh, Tuan Gardiner jelas sekali merindukan Miranda dan Nyonya Gardiner cukup dapat ia toleransi meski wanita itu selalu menatap luka Sherman kelewat intens.

Hingga akhirnya.

"Apakah kau juga ... seperti Mira? Apa pun itu namanya?"

"Blasteran, Alicia," jawab Tuan Gardiner, "sudah kubilang padamu, tolong ingat."

Nyonya Gardiner menerimanya kelewat personal. "Oh, maafkan aku karena tidak tahu hal-hal aneh ini. Jika aku boleh memilih, aku lebih suka untuk tidak tahu sama sekali."

"Percayalah, Nyonya, sebagian dari kami juga berharap demikian," jawab Sherman, "dan itu sama sekali tidak aneh."

Satu alis Nyonya Gardiner terangkat. "Dan siapa orang tuamu, anak muda?"

"Ares. Dewa Perang."

"Pantas."

Tuan Gardiner memotong. "Dan apa maksudnya itu, Alicia?"

Nyonya Gardiner mengibaskan tangan. "Hanya berkomentar, Gerard, tolong rileks. Mister Yang bahkan tak tersinggung."

"Tolong jaga kata-katamu."

"Aku? Aku yang harus menjaga kata-kataku?" Nyonya Gardiner menghantam meja. "Katakan itu pada anakmu saat makhluk-makhluk itu merusak rumah dan mobilku!"

Sherman tertawa. Sungguh. Ia terbahak.

"Apa yang lucu?"

"Hanya tidak habis pikir saja. Kalian selamat dari serbuan monster. Hidup, utuh. Dan yang kau pedulikan adalah mobilmu, Nyonya. Aku heran siapa yang aneh sebenarnya di sini."

 

°•°
•°•


Nyonya Gardiner dengan wajah merah keluar dari Rumah Besar, hingga Tuan Gardiner tak punya pilihan lain selain ikut pamit juga, tetapi ia memeluk Miranda dan berjanji akan mengirim surat.

Itu tiga jam yang lalu, Sherman dan Miranda masih duduk di Rumah Besar hingga kini.

"Maaf mengacaukannya."

Miranda sempat menangis, tetapi dapat Sherman lihat adanya senyuman di sana. "Seharusnya aku yang minta maaf karena menyeretmu juga. Seharusnya aku terima saja ketidaknormalanku seperti yang lainnya di sini."

"Kalau kau tidak normal, entah aku ini apa."

Miranda tertawa, tangan Sherman ia genggam dengan hangat. "Apa itu normal, memangnya?"

 

 

 

Notes:

Sherman: I have no weakness, violences is my bone, war is my blood!
Miranda: H—
Sherman: oMG

in this house we stan a jerk with a heart of gold

kudos dan komen sangat diterima!

Series this work belongs to: