Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2024-08-17
Words:
792
Chapters:
1/1
Kudos:
4
Hits:
73

Mimpi

Summary:

Mimpi yang begitu indah. Tapi apakah kenyataan akan seindah itu?

Notes:

Weak Hero (c) Seopass & RAZEN

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Baekjin merasa dunia di sekitarnya hampa. Emosi yang pernah mengisi hidupnya seolah menguap, meninggalkan perasaan kosong yang tak dapat dideskripsikan oleh kata-kata. Tubuhnya melayang di udara, terjebak dalam kehampaan yang tak berujung. Dunia di sekitarnya begitu gelap, tak ada satu pun benda atau suara yang memberi tanda kehidupan. Kakinya bahkan tak dapat menapak tanah, membuatnya makin terasing dalam kegelapan.

Samar-samar terlihat cahaya dari arah depan. Cahaya putih itu perlahan bergerak mendekat, seakan menawarkan harapan di tengah kegelapan. Mata merah Baekjin menyipit karena silau, tangan kanannya terulur, berusaha meraih sesuatu yang mungkin bisa memberinya makna kembali. Cahaya itu makin mendekat, menyelimuti Baekjin dalam terang yang menghapus kegelapan sekelilingnya.

Hari itu cuaca cerah karena Korea sedang memasuki musim semi. Baekjin dan Sieun melakukan aktivitas seperti biasa di sekolah. Mereka berkumpul di perpustakaan, berdiskusi tentang soal-soal matematika yang akan di olimpiadekan. Mereka saling bertukar pikiran mengenai soal-soal yang dirasa rumit dan berusaha menemukan solusi terbaik. 

Sieun mengakui kecerdasan Baekjin , tak heran lelaki berambut pirang itu mendapat beasiswa untuk sekolah karena kecerdasannya. Baekjin sering memberi Sieun soal-soal matematika yang sangat rumit, tantangan yang disukai Sieun karena tak ada yang mampu menyelesaikan soal-soal tersebut. Bahkan Sieun sendiri merasa kesulitan untuk memecahkan beberapa soal yang Baekjin buat, padahal lelaki berambut perak itu selalu juara dalam olimpiade matematika.

Mereka berdua terlibat dalam diskusi mendalam, saling memberikan solusi dan mengkritisi jawaban satu sama lain. Setiap kali Sieun berhasil menyelesaikan salah satu soal dari Baekjin, senyum kecil terlukis di wajah mereka.

“Aku rasa cukup untuk hari ini, Sieun.” Baekjin menopang wajahnya dengan telapak tangan, tangan kanannya memutar-mutar pensil yang habis digunakan untuk mengerjakan soal matematika. “Mari kita makan siang di kantin atau kita hanya akan mendapatkan makanan sisa,” ucap Baekjin sambil tersenyum geli.

Sieun mendongak, mata ungu miliknya bersitatap dengan mata merah milik Baekjin. Perut Sieun berbunyi; meraung minta diisi. Belajar memang menguras banyak energi.

“Kamu benar, Baekjin Na. Ayo kita makan siang di kantin, aku yakin sekarang antriannya sudah lebih sedikit,” balas Sieun.

Mereka berdua mengemasi buku-buku dan peralatan tulis mereka sebelum beranjak menuju kantin, siap untuk menikmati waktu istirahat mereka. Suasana perpustakaan yang tenang perlahan berganti dengan ramainya kantin sekolah yang penuh dengan siswa yang tengah menikmati makan siang mereka.

Selesai makan siang, Baekjin berjalan bersama Sieun di lorong sekolah. Mata merah itu bergulir ke arah gudang kecil yang menjadi tempat janitor meletakkan alat pembersih. Sebuah jaket merek Versace yang semampir di atas gagang pel.

Memang merupakan hal yang ganjil kedua benda yang tampak bertolak belakang itu berada di tempat yang sama. Tapi kedua matanya membola saat melihat barang-barang yang terasa tak asing itu. Gagang pel yang dulu pernah dia pakai untuk mengepel sekolah, jaket Versace yang biasa dia pakai.

Kepala Baekjin tiba-tiba terasa sakit, ia mencengkram erat rambut pirangnya saat bayangan mengenai masa lalunya terlintas di benaknya. Ia mengingat dengan jelas momen saat dirinya tertabrak truk. Pemandangan itu begitu nyata, suara klakson truk, suara tubuhnya yang terhempas, dan darah yang mengalir. Ia merasa seharusnya sudah mati karena kecelakaan itu. 

Baekjin terhuyung, nyaris kehilangan keseimbangan. Pandangannya kabur sejenak sebelum kembali fokus. Ia menyadari sesuatu yang mengerikan: ia sedang tidak berada di dunia nyata. Segala sesuatu di sekitarnya mulai terasa aneh dan surreal , seperti bayangan yang terus berubah. Ia berada di alam mimpi yang penuh fana. 

Baekjin mulai merasa bersalah kepada Sieun. Meskipun ia berharap bisa bersahabat dengan Sieun, ia menyadari bahwa banyak hal jahat yang telah ia lakukan secara tidak langsung telah menyakiti Sieun. Pikiran itu menghantuinya, membuatnya bertanya-tanya, apa aku pantas berteman dengannya?

Di tengah kegalauan itu, Sieun tiba-tiba bertanya, “Apa kau baik-baik saja?”

Baekjin refleks menjawab, “Tidak apa-apa,” 

Dia menjeda sebelum melanjutkan, “Sieun, aku punya pertanyaan. Kalau aku melakukan hal yang jahat yang secara tidak langsung menyakitimu, apa kau akan membenciku?”

Sieun awalnya bingung. “Apa yang kau bicarakan?”

“Aku hanya membayangkannya,” jawab Baekjin cepat, berusaha menutupi perasaannya yang sebenarnya. “Aku merasa jika aku melakukannya, aku akan menjadi orang yang sangat jahat. Lalu aku akan menjauhimu karena aku merasa tidak layak berteman denganmu.”

Sieun sempat terdiam sejenak, lalu menjawab “Jika kau merasa kau ini jahat, berarti kau itu sebenarnya baik, Baekjin.

Tapi jika kau benar-benar melakukannya, aku akan berusaha mengingatkanmu. Aku tidak tahu apakah hasilnya akan berhasil, atau hubungan kita akan terputus, atau yang terburuk kita akan menjadi musuh. Tapi aku akan berusaha sebisa mungkin mengingatkanmu.

“Kenapa kau melakukannya?”

“Karena kau adalah temanku, Baekjin.”

Lalu tiba-tiba saja dunia di sekelilingnya memudar. Hal terakhir yang dia lihat adalah senyum lembut Sieun padanya.

Tiba-tiba Baekjin terbangun di rumah sakit. Suara mesin monitor detak jantung dan aroma antiseptik menyambutnya. Ia menatap langit-langit, mencoba memahami apa yang baru saja terjadi. 

Apakah semua itu hanya mimpi, atau ada sesuatu yang lebih dalam yang harus dihadapi?  

Satu hal yang pasti, ia masih hidup dan mungkin, hanya mungkin, masih ada kesempatan untuk memperbaiki semuanya.

TAMAT  

Notes:

Ini adalah mimpi Author yang tidak mungkin terwujud. Tapi tolong biarkan saya menghalu TTATT