Work Text:
“Haitham, tidak bisakah kamu merapikan buku yang kamu baca. Jangan sembarangan meletakkannya,” yang lebih tua berteriak kepada yang lebih muda.
Ocehan Kaveh tentu saja dianggap angin lalu oleh sang panitera. Terlalu berisik itu yang Alhaitham pikirkan, ia mengaktifkan noice cancelling nya, dan kemudian berlalu meninggalkan teman serumahnya itu, oh salah haruskah ia mengatakan kekasihnya ?
Dilain waktu jika mereka habis melakukan kegiatan malam mereka, maka paginya Alhaitham akan bertingkah manja dengannya.
“Aku mau ke kamar mandi!” ucap Alhaitham kepada Kaveh yang sedang memandangnya dari pintu kamar mereka.
“Tidak bisakah kamu jalan?” walaupun jawaban Kaveh terdengar kasar, namun ia tetap membawa langkahnya menuju yang lebih muda.
“Salahkan seseorang bermain kasar semalam.”
“Salahkan juga seseorang yang bertingkah imut dan seksi dalam satu waktu,” balas Kaveh seraya mengangkat dan membawa Alhaitham ke kamar mandi.
Apakah ada hari dimana mereka tidak akan bertengkar, tentu saja jawabannya tidak ada. Dimana pun bertengkar adalah kegiatan wajib mereka atau mungkin itu adalah cara mereka untuk menunjukkan kasih sayang satu sama lain. Aneh memang, tapi mungkin itu benar, apakah Alhaitham tidak pernah manja kepada kekasihnya itu, tentu saja sering tapi itu hanya berlaku jika ada mereka berdua. Apakah Kaveh tidak pernah manja kepada Alhaitham, tentu tidak harus ditanya karena jawabannya sangat sering, segala hal tentang Alhaitham adalah kelemahannya,yang pasti bagaimana hubungan keduanya hanya mereka yang tahu. Bahkan teman mereka seperti Cyno dan Tighnari juga tidak bisa berkomentar banyak tentang mereka.
Seperti pertengkaran yang satu ini, ketika Cyno mengajak mereka bermain kartu bersama di salah satu tavern di sumeru, 90% permainan mereka diisi oleh pertengkaran Alhaitham dengan kekasihnya itu. Pertengkaran mereka terus saja seperti itu, bahkan terkadang, hanya karena piring kotor di wastafel menjadi sebuah keributan besar untuk mereka. Namun, sepertinya love language yang dimiliki oleh sepasang kekasih ini adalah keributan, karena memang sebenarnya mereka menikmati keributan itu satu sama lain.
“Aku akan ada project, selama 3 bulan di padang pasir. Kamu yakin tidak ingin ikut bersama ku?” pertanyaan itu sudah lima kali Kaveh tanyakan kepada Alhaitham yang sedang bersantai dengan membaca buku. Jika Kaveh terus menanyakannya, Alhaitham rasa ia akan segera mendapatkan doorprize saat itu.
“Tidak Kaveh, bukankah aku sudah mengatakannya padamu. Aku memliki banyak pekerjaan yang harus aku lakukan disini.”
“Aku tidak yakin, jujur. Bagaimana jika kamu ikut saja, ya?” kali ini pertanyaan itu lebih seperti sebuah permintaan yang terdengar putus asa dari Kaveh.
Alhaitham menghela nafas dan mulai memusatkan perhatiannya kepada kekasihnya yang terkadang bisa kekanak-kanakkan ini. Alhaitham langkahkan kakinya menuju Kaveh yang sedang duduk di meja makan seraya menatap gelas yang ia pegang. Ia sandarkan satu tangannya di meja dan tangan lainnya menarik wajah Kaveh dengan lebut agar menatapnya. Tatapannya jatuh kepada iris berwarna merah itu, menunjukkan bayangannya. Sebuah ciuman lembut Alhaitham kepada Kaveh yang disambut dengan senang hati oleh sang empu, saat dirasa ciuman itu semakin memanas, Alhaitham memutus nya.
Tangannya ia usapkan dengan lembut kepada pipi kekasihnya itu, “Kamu bisa terlambat. Pergilah, aku akan baik-baik saja jangan khawatirkan aku.”
“Dan lagi aku rasa yang harus berhati-hati adalah kamu, aku dengar dari Candace badai pasir semakin sering terjadi. Berusahalah untuk tidak mati disana senior Kaveh.” Sambungnya
“Bagaimana jika aku mati disana?” tanya Kaveh kepada Alhaitham yang masih berdiri menatapnya.
Kaveh tentu tahu Alhaitham tidak suka jika Kaveh menanyakan sesuatu yang seperti ini kepadanya, tapi Kaveh tetap penasaran dengan jawabannya.
“Bukankah, sudah aku katakan untuk tidak mati disana. Jika kamu mati disana, aku tidak akan datang ke pemakamanmu, terlalu berat untuk menghadiri pemakamanmu.”
Helaan nafas, terdengar dari Kaveh. Ia berdiri dari posisi nya, memeluk dan memberikan ciuman singkat sekali lagi kepada kekasihnya ini.
“Baiklah, tapi berjanjilah untuk tidak membuat masalah mengerti.” Perintahnya dengan jelas kepada kekasihnya yang Kaveh sangat tahu suka mencari masalah.
“Masalah apa yang bisa aku lakukan?, masalah lah yang suka menghampiriku. Lagipula selama kamu pergi aku berencana untuk menikmati ketenanganku, tanpa amarahmu, dan tanpa gangguan mu,” Bohong, Kaveh tahu jika Alhaitham berbohong.
“Tham, ayolah jangan mengajak aku ribut dulu, aku serius. Untuk kali ini, kumohon Jangan buat masalah oke?”
Tidak ada balasan dari yang muda, hanya ada pelukan hangat yang ia berikan.
“Baiklah, aku pergi. Jaga dirimu, jangan menyesal karena tidak ikut denganku ya.”
“Hm…, hati-hati, sampai jumpa lagi.”
.
.
.
Namun masa depan adalah sebuah misteri, tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi di esok hari. Bahkan Archon pun hanya dapat memperkirakannya. Apa yang dapat dilakukan ketika nasi telah menjadi bubur, bunga yang mekar telah layu, dan vas yang indah telah hancur. Alhaitham harus menyesali keputusannya untuk tidak ikut dengan Kaveh pada hari itu.
Harusnya ia menerima saja ajakan Kaveh hari itu atau harusnya ia menahan saja Kaveh hari itu agar tidak jadi pergi, harusnya ia memeluk Kaveh lebih lama, harusnya ia mencium Kaveh lebih dalam, harusnya ia lebih percaya dengan firasatnya saat itu, harusnya--
Semua itu hanya menjadi perandaian atau alasan yang bisa Kaveh berikan kepada dirinya sendiri.
Mendapatkan surat bahwa ia diminta untuk kembali ke Sumeru, sudah menjadi cukup aneh baginya apalagi surat itu berisi perintah langsung dari sang Dendro Archon. Namun, alasan dirinya di panggil menjadi lebih aneh, tidak dapat ia terima, seperti sebuah mimpi buruk.
Alhaitham,
Kekasihnya,
Juniornya ,
Menjadi salah satu korban dalam peristiwa pencegahan dibuatnya dewa baru oleh akademiya.
Apa yang Kaveh lewatkan, dia hanya baru dua bulan pergi tapi, kenapa banyak hal yang ia lewatkan, kenapa kekasihnya bisa menjadi korban, kenapa tidak ada yang menghubungi nya lebih awal, kenapa tidak ada satupun yang mencegah kekasihnya, kenapa?.
Banyak pertanyaan yang ingin Kaveh tanyakan, tapi dia bingung. Kaveh marah, tentu saja namun ia harus marah kepada siapa?,
Sang archon? tidak mungkin.
Akademiya? mungkin bisa.
Alhaitham? ini semakin tidak mungkin, dia sangat gila jika marah pada kekasihnya.
Atau ia harus marah kepada dirinya sendiri karena tidak bisa berada disisi Alhaitham.
Emosi hampir menguasainya, jika ia tidak ditahan oleh Cyno mungkin ia sudah berteriak kepada sang Archon. Bahkan, ketika Lord Kusanali sang Dendro Archon, memberitahu nya tentang semua yang terjadi pada hari itu, Kaveh masih tidak dapat menerimanya.
Apa gunanya mendapatkan penjelasan jika akhirnya kekasihnya tidak dapat kembali. Kaveh tidak butuh orang lain yang menjelaskannya, yang ia butuhkan adalah Alhaitham, kekasihnya yang menceritakannya. Menceritakan semua petualangan yang ia lalui agar ia dapat memastikan bahwa Alhaithamnya masih hidup, agar ia dapat memastikan bahwa semua yang ia dengar adalah mimpi.
Ah benar, bukankah Dendro Archon dapat melakukannya, pasti ini hanya mimpi yang dibuat agar ia berhenti tergila-gila dengan pekerjaannya.
Itu adalah yang Kaveh inginkan, ia ingin egois menganggap bahwa ini semua hanya mimpi, bahwa ini adalah bunga tidur yang Archon Dendro berikan padanya. Namun untuk kesekian kalinya, ia tahu bahwa ini bukan mimpi, ia tahu bawa Alhaitham nya tidak akan pernah kembali.
Di hari pemakaman sebagian orang mungkin akan menganggap Kaveh tidak memiliki hati, karena tidak menangis di pemakaman kekasihnya. Tapi mereka yang mengenal Kaveh tahu bahwa, tatapan mata itu menunjukkan betapa terlukanya Kaveh saat ini hingga ia tidak dapat menitihkan airmatanya. Sorot matanya yang seakan kehilangan cahayanya, kehilangan kehidupannya.
Kaveh ingin menangis, Kaveh ingin berteriak, Kaveh ingin memeluk peti itu. Tapi Kaveh lelah, semalaman menangis dan memeluk semua hal yang berkaitan dengan kekasihnya, ia lelah karena tenagannya telah terkuras, ia hanya ingin dibangunkan dari mimpi ini dan memeluk kekasihnya.
Dengan semua yang telah terjadi,
Siapa yang akan beradu mulut tentang hal-hal kecil dengannya lagi?
Siapa yang akan memeluk dan mencium Kaveh lagi ditengah malam, jika ia lelah dengan deadline nya?
Siapa yang akan menghapus air mata Kaveh dan memberikan kehangatan kepadanya?
Siapa yang akan memberikan alasan bodoh untuk tidak menghubunginya, karena hanya tidak ingin kaveh terluka, namun dirinya sendiri terluka.
Siapa yang bersedia menjadikan dirinya umpan, hanya agar sebuah rencana lancar.
Siapa yang mengatakan bahwa Kaveh tidak boleh mati di padang pasir, justru dirinya sendiri lah yang saat ini sedang tertidur dengan damai di dalam peti.
“Maaf Kaveh, tapi kamu harus ikhlas veh.” Ucap Cyno yang sedari tadi berdiri di sampingnya.
Tidak ada jawaban dari sang empu hanya hening yang membalas.
“ Veh, aku kembali duluan ya. Kamu juga harus kembali, jangan terlalu lama disini. Alhaitham akan ikutan sedih jika melihatmu begini.” Ucap Cyno seraya menepuk pelan bahu Kaveh dan berlalu pergi meninggalkan Kaveh sendiri.
Sekarang hanya ada Kaveh dan Alhaithamnya.
Pertahanannya hancur, Kaveh jatuh berlutut di hadapan makam kekasihnya, Kaveh kembali menangis, kali ini bukan menangis dalam diam. Ia berteriak, terus memanggil nama sang kekasih namun tidak ada jawaban.
Kenapa harus kekasihnya, kenapa harus Alhaithamnya?
“T-tham, aku mohon katakan ini hanya bercanda. Aku mohon katakan, bahwa ini hanyalah tipuan mu agar membuatku marah.” Suara Kaveh tercekat karena tangisannya sendiri.
“T-tham, kamu akan keluar dari balik pohon kan, kamu akan memelukku kan? Kumohon tham jawab aku. Aku janji tidak akan marah, jadi tolong katakan. TOLONG KATAKAN INI SEMUA HANYA CANDAANMU.” Kaveh berteriak frustasi, tangisannya semakin keras, diikuti dengan hujan yang turun dengan derasnya.
Tubuh Kaveh telah basah, namun ia masih enggan untuk pergi. Ia tidak akan pergi sebelum mendapatkan jawaban dari kekasihnya.
“Alhaitham sayang, uda ya bercandanya. Aku gak akan marah. Jadi uda ya, Lord Kusanali dan Cyno uda pergi. Kamu bisa berhenti becanda kan sayang?” untuk kesekian kalinya Kaveh memohon namun apa daya, hanya hening dan suara rintik hujannya yang menjawabnya. Semua ini adalah kenyataan yang harus Kaveh terima.
Kaveh berdiri dari posisinya berjalan pelan, membawa langkahnya menuju kesamping makam kekasihnya. Tatapan jatuhnya kepada wajah datar kekasihnya itu. Cantik, padahal hanya wajah datar tapi kenapa sangat cantik, sangat tidak adil. Kaveh terus memandang foto itu, mengusapnya pelan, seakan itu adalah wajah nyata Alhaitham.
“Tham, kamu uda janjikan gak bakal buat masalah. Kenapa sekarang gini?”
“Kamu janji, mau nyambut aku dirumah, kita pulang ya.” Hanya suara hujan yang ada disana. Kaveh bahkan mulai gemetar karena dingin yang menusuk kulitnya.
“Haitham…?” untuk kesekian kalinya Kaveh memanggil nama kekasihnya itu dengan lirih.
“ Kalau tahu bakal gini, harusnya kamu aku paksa aja ikut kemarin ya. Kalau tahu aku gak bakal bisa lihat kamu lagi, harusnya aku peluk kamu erat-erat ya, dan aku gak kasih kamu lepas.”
Kaveh menatap foto Alhaitham dengan sangat dalam, ia hampir tenggalam di dalamnya, jika tidak karena sebuah tepukan halus menyentuh bahunya, membuat ia kembali kepermukaan.
Kaveh membalikkan badannya, ia bisa melihat Haitham nya disana.
“Haitham…?”
Kaveh senang, ternyata benar ini semua hanyalah tipuan kekasihnya, Kaveh sudah dapat menduganya.
Kaveh berusaha menyentuhnya,meraihnya, menariknya kedalam pelukannya, tapi itu hanya bayangan tipis. Kaveh mengerang frustasi karena ia tidak bisa memeluk haithamnya. Ia terus berusaha untuk meraih bayangan itu tapi, tidak bisa. Ia kembali berlutut.
“ Kaveh…? Senior Kaveh…. ?” bayangan itu terus memanggilnya, berusaha meminta perhatiannya.
Kaveh mengangkat wajahnya hingga kedua iris itu bertemu.
“Kaveh, Maaf. Aku tidak bisa pulang bersamamu.” Ucap Haitham seraya menyamakan tingginya dengan posisi Kaveh yang masih berlutut di hadapannya.
“Nggak, kita pulang ya. Haitham kamu uda janji kan. Kita pulang yah. Aku tahu kamu pasti bercanda, aku gak akan marah. Jadi kita pulang yah.” Kaveh kembali mengulang ucapannya.
Kaveh dapat merasakan hawa hangat pada sekitar pipinya, ketika Haitham mengarahkan telapak tangannya kesana.
“Kaveh, I’m so sorry. I want back home, but I can’t.” Bayangan itu tersenyum kepada Kaveh.
Kaveh berusaha untuk tidak mengedipkan matanya, tidak ingin melewatkan apapun.
“Aku meminta bantuan, Lord Kusanali untuk melakukan ini, agar aku dapat berpamitan dengan kamu. Aku tahu kamu akan seperti ini.” Lanjut Haitham seraya terus mengelus lembut pipi Kaveh.
“Kamu pulang ya, hujannya makin deras, nanti kamu sakit.”
Kaveh menggelengkan kepalanya dengan kuat, ia menolak, ia tidak akan pernah meninggalkan Haithamnya lagi.
“Aku tidak mau, kamu sakit. Kamu pulang yah.”
“Tidak, kalau tidak denganmu.”
“Kaveh, please. just let me go.”
Kaveh menundukkan kepalanya sangat dalam.
“What should i do if you're not there, I am so weak without you, tham.”
“No, you are not weak, veh.”
Kaveh pasti akan merindukan wajah kekasihnya ini, senyumnya, bahkan tatapan dinginnya akan ia rindukan.
“I will always need you tham, and my biggest regret is leaving you alone”
“No,Kaveh. Ini bukan salah kamu, jadi jangan salahkan diri kamu yah, aku mohon.”
“Tapi—”
“Tidak, Kaveh. Ini karena aku yang tidak mendengarkan kamu. Maaf, tapi kamu harus biarkan aku pergi ya.”
“ I will miss you so bad, but you're right, but you're right, I should be able to let you go right?”
Kaveh kembali melanjutkan ucapannya yang sempat terjeda.
“Alhaithamku, Sayangku, My universe, My Love, for now I can’t take you home. But you will take me with you next time, promise?”
“I Promise, when it's time, I will wait for you, so you can hug me. Tapi aku sangat berharap itu tidak dalam waktu dekat. Berjanjilah jika kamu akan hidup dengan baik. Aku akan mengawasi mu.”
“Hahahah, I know. I promise you. Aku akan hidup dengan baik.”
“I love you Kaveh, I love you so much my light.”
“ I love you more, Haitham.”
“Goodbye Kaveh”
“Not goodbye, Tham. But See you again love.”
Bayangan Alhaitham menghilang dalam pelukan Kaveh. Kali ini, tangisan Kaveh sudah tidak terdengar. Kaveh berdiri dari posisinya, dan menatap kembali ke arah makam Haitham.
“Kamu akan selamanya, menjadi kekasih ku Haitham. Tidak ada perpisahan diantara kita. Aku akan memenuhi semua rencana kita, aku akan membuat kekasihku bangga dari atas sana, hingga ia bisa memamerkan pada semua malaikat bahwa kekasihnya adalah orang yang luar biasa,” Ucap Kaveh seraya tersenyum kepada Foto Alhaithamnya.
“Aku akan sangat-sangat merindukanmu, aku akan mengunjungimu lagi nanti. Untuk sekarang, sampai jumpa lagi, Alhaitham.”
Itu menjadi ucapan yang Kaveh berikan kepada Haitham sebagai pengantar untuknya, sebelum Kaveh berjalan pulang kerumah. Ke rumah yang dulu Alhaitham dan dirinya tinggal, rumah yang akan selalu Kaveh jaga kehangatannya, hingga ia bisa bertemu kembali dengan Alhaithamnya.
“ Aku berharap hidup mu akan selalu bersinar, My Light of Kshahrewar.”
-Selesai-
