Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Series:
Part 18 of Pesan Antar
Stats:
Published:
2025-09-18
Words:
10,376
Chapters:
1/1
Comments:
4
Kudos:
13
Bookmarks:
2
Hits:
99

Spesial

Summary:

[Oki/Osamu] Osamu mulai mengenal Oki lebih dekat daripada sebelumnya, dan ia pun akhirnya menyadari sesuatu. Buat yui

Notes:

© Daisuke Ashihara
Canon setting
Implied Oki/Osamu

Buat yui. Makasih karena aku akhirnya menyadari kemodusan Oki 🤣🤣👁️👁️

Work Text:

Osamu sudah terbiasa dengan hal-hal tidak lazim.

Tapi … apakah ini juga termasuk?

"Um, maaf?"

"Cepat serahkan uangmu."

Usai pertempuran peringkat untuk tim B, Osamu kembali ke markas bersama dengan yang lain. Namun dia sedang berbelanja untuk makan malam sekarang, sendirian. Lalu tiba-tiba ada sekumpulan orang aneh mendatanginya.

Tentu saja Osamu tahu dia harus lari. Tapi bagaimana? Posisinya kalah jumlah, bahkan meski dia punya kekuatan trigger, tak bisa sembarang menggunakannya untuk masyarakat sipil. Sejak awal dia juga tak berniat untuk itu, sih.

Kekuatan fisik tubuh aslinya? Tolong jangan ditanya. Setidaknya dia memiliki sedikit harga diri.

"Pak polisi! Itu mereka!"

"Ack, sial, ada yang melihat kita!"

Osamu bengong ketika orang-orang yang baru saja mengepungnya mendadak lari. Tentu saja dia merasa lega, tapi suara siapa itu tadi?

"Oki Kouji?"

Ingatan Osamu masih segar. Oki adalah sniper dari tim Ikoma. Rambutnya hitam dan punya mata biru, ditambah memiliki paras rupawan. Kenapa dia ada di sini? Dan lagi, membantunya? Mereka bahkan tidak kenal secara pribadi.

Walau demikian, Osamu tetap mengucapkan terima kasih. "Maaf, pasti merepotkan karena membantuku. Terima kasih."

Oki tersenyum. "Bukan apa-apa. Apa kau sedang dalam perjalanan kembali? Aku bisa menemanimu."

Sepertinya dia orang yang ramah, pikir Osamu.

"Tidak, aku bisa kembali sendiri—"

"Bagaimana kalau bertemu dengan orang-orang seperti itu lagi? Berdua lebih baik."

"Ah, kalau begitu, terima kasih."

Kalau dipikir-pikir, Osamu tidak bisa terlambat. Pasti Shiori dan yang lainnya sudah menunggu dirinya. Jika terkena masalah lagi, entah apa yang akan terjadi. Ucapan Oki benar, sebaiknya mereka jalan berdua.

Tapi … ini sangat canggung. Osamu bahkan tidak tahu harus memulai topik pembicaraan yang seperti apa. Terlalu banyak bicara pada orang yang baru dikenal rasanya agak aneh, kan?

"Aku melihat strategi spidermu, kurasa itu sangat bagus. Tidak banyak yang menggunakannya, jadi itu bisa menjadi kejutan."

Jika sudah begini, Osamu harus membalasnya.

"Terima kasih. Kau juga sangat hebat sebagai seorang sniper. Pergerakanmu sangat cepat dan menembak tanpa ragu."

"Aku senang mendengarnya, tapi kurasa sniper di timmu juga bagus. Dia punya trion yang cukup banyak, kan?"

"Ya, aku sendiri tidak tahu persisnya, tapi kurasa itu memang sangat membantu tim kami. Tapi kalian adalah tim yang tangguh, jika kita hanya saling berhadapan, mungkin tim kami yang akan rugi."

Osamu pikir itu memang keuntungan bagi timnya. Posisi Chika sebagai sniper juga sudah oke. Selanjutnya mereka hanya perlu mengumpulkan pengalaman lebih banyak. Sebab sudah pasti menembus ke peringkat A sangatlah sulit.

"Kau merendah sekali, sesekali banggalah atas pencapaianmu, er-"

"Panggil aku Mikumo saja."

"Baiklah, Mikumo-kun. Kurasa kau harus sedikit lebih percaya diri. Itu juga akan berguna bagi timmu."

Orang-orang di rank B sangatlah hebat. Osamu mengingat bagaimana timnya melesat dari bawah, itu bukanlah perjuangan yang mudah sama sekali.

"Oh, iya. Bagaimana aku harus memanggilmu?"

"Oki saja boleh."

"Begitu. Terima kasih atas ucapanmu, Oki-san."

Tak terasa perjalanan mereka berakhir. Markas Tamakoma sudah terlihat sekitar seratus meter ke depan. Osamu pun berpamitan dengan Oki, berpisah di persimpangan. Lalu kembali seolah tak terjadi apa-apa.

"Osamu, apa ada masalah?" Shiori bertanya begitu pemuda itu masuk. "Aku mencoba menghubungimu."

"Oh, maaf, sepertinya tadi baterainya habis jadi masih harus diisi."

"Ah, ya, sudahlah. Lalu siapa tadi yang mengantarmu?" Shiori menaik-turunkan alisnya. Kenapa dia bertingkah aneh?

Ternyata Shiori melihatnya, ya? "Hm, itu Oki dari tim Ikoma. Dia sniper."

"Tumben sekali kau akrab dengan sniper, apa kau bermaksud menggali informasi dan pindah haluan?"

Osamu menggeleng. "Tidak, tidak, bukan begitu. Kami kebetulan bertemu dan dia ingin mengantarku, hanya itu saja."

"Begitu, ya?"

Entah kenapa sekarang Shiori senyum-senyum tidak jelas. Namun dia tak melanjutkan topiknya dan segera mengambil alih bahan makan malam untuk dimasak.

Sambil menunggu, Osamu duduk di sofa. Menganalisa beberapa video pertarungan sebelumnya. Timnya masih punya banyak kekurangan, mungkin dia bisa mendapatkan sedikit inspirasi jika melihatnya ulang. Lagipula dirinya sedang senggang sekarang.

"Hee, jadi tadi kau bersama sniper dari tim Ikoma?"

"Jin-san, kau kembali?"

Osamu tidak begitu memperhatikan sampai Jin muncul di depannya. Kenapa dia juga menatap aneh seperti Shiori? Apa ada sesuatu di wajahnya?

"Ya, hanya bicara sedikit karena dia mengantar pulang."

"Padahal tim kalian sudah mencapai posisi dua. Pertarungan juga telah selesai, bukankah itu aneh?"

Osamu mengernyit. "Maaf, aku kurang paham. Apa maksudnya?"

"Ah, megane-kun. Akan kujelaskan lain kali, tapi yang jelas, kau harus hati-hati."

"Baiklah. Akan aku ingat."

Kenapa ya dengan semua orang hari ini?

 

***

 

Lagi, Osamu bertemu dengan Oki saat tugas penjagaan.

"Oh, itu kau, Mikumo-kun."

"Oki-san? Kau juga di sini?"

Osamu tidak yakin kenapa dia bertemu dengan Oki untuk kedua kali. Tapi mungkin karena ini tugas, tetap ada kemungkinan mereka berdua patroli di dalam zona terlarang.

Di sini, penduduk tidak ada. Walau masih menyisakan bangunan rumah, tapi wilayahnya telah dinetralisir sepenuhnya. Jadi suasananya cenderung sepi. Ada Yuma juga, sebenarnya, tapi dia berjaga di sisi lain.

"Sepertinya malam ini jatah tim Ikoma dan Tamakoma-2," kata Oki. "Bagaimana kalau ngobrol sebentar sambil berjalan?"

Osamu pikir itu tidak ada salahnya. Lagipula akan membosankan jika hanya sendirian dan diam.

"Boleh saja."

Keduanya pun mulai berjalan, sambil mengamati sekitar. Jaga-jaga bila ada warp yang terbuka. Meski sekarang semuanya telah berhasil dikendalikan seperti semula, Osamu tetap khawatir jika tiba-tiba ada neighbor yang muncul di wilayah penduduk.

"Hei, Mikumo-kun," panggil Oki. "Bagaimana di Tamakoma?"

"Kurasa baik-baik saja, tim kami juga sedang menganalisa beberapa rekaman pertandingan."

"Jadi kau yang melakukannya?"

"Begitulah. Aku harus melakukan apa yang aku bisa. Lagipula, aku tidak sekuat itu, atau punya trion yang banyak."

Oki memang sudah tahu, tapi suasananya jadi tidak enak. Sepertinya dia salah bicara.

"Ah, lalu kudengar timmu berniat menjadi anggota ekspedisi, ya?"

Osamu tersenyum kecil. "Bisa dibilang begitu, aku juga harus berusaha lebih keras supaya tidak tertinggal dari yang lainnya."

Menurut Oki juga seharusnya begitu. Osamu adalah yang terlemah di timnya. Meski strateginya bagus, namun tidak ada salahnya jika bisa bertahan lebih lama di medan tempur. Itu juga merupakan hal yang baik dan tidak bisa dianggap remeh.

"Ya, sepertinya itu rumit sekali, tapi aku yakin kau bisa melakukannya."

"Um, maaf, tapi bukankah kita ini tidak dekat?"

Oki tertawa pelan. "Begitu, ya? Lalu kita harus sedekat apa?"

Osamu tahu Oki mungkin hanya asal bicara. Tapi kenapa pemilihan katanya begitu? Kedengaran agak ambigu. Atau mungkin dirinya yang terlalu overthinking? Bagaimana pun, Osamu tidak tahu apa-apa tentangnya.

Sebuah warp muncul tiba-tiba. Oki dan Osamu langsung bersiaga dengan senjata masing-masing. Pembicaraan mereka nampaknya harus tertunda sebentar.

Ada dua neighbor yang datang, tipe marmod. Pergerakan mereka patut diwaspadai dan tidak bisa dihadapi secara gegabah.

Oki mengambil jarak ke belakang, mengatur bidikan. Sedangkan Osamu melangkah ke depan, menyiapkan raygust untuk bertahan serta asteroid. Seharusnya ini cukup untuk menahannya sebentar.

Osamu melihat inti trion dari marmod, bersiap melancarkan asteroid. Namun salah satu kaki neighbor itu mengarah padanya. Osamu melompat ke belakang, lalu ayunan yang lain datang.

Sekilas cahaya melewati Osamu. Satu marmod itu langsung jatuh. Pemuda itu menoleh dan melihat Oki tengah menggunakan Egret.

"Terima kasih, Oki-san."

"Masih tersisa satu."

"Baik!"

Osamu berusaha menyerang, mengalihkan pandangan sang makhluk neighbor. Oki melancarkan tembakan, tapi meleset karena pergerakan acak makhluk itu. Salah satu kakinya menuju pemuda berkacamata.

Ah, sial. Bangunan juga ikut hancur karenanya. Sekarang sebaiknya dia menyelamatkan Osamu dulu. Langsung saja lelaki itu berlari ke arahnya, menghilangkan sejenak senjatanya guna menangkap Osamu yang nyaris kehilangan keseimbangan.

Ternyata kaki Osamu terluka. Dia takkan bisa berjalan dengan kondisi ini. Oki kemudian meletakkan tangannya di balik tengkuk dan lutut Osamu, membawanya pergi.

"O-Oki-san, aku berat!'

"Tidak, kok, Mikumo-kun. Jadi santai saja."

Osamu tidak tahu harus berkata apa. Dia malu karena tidak bisa menjaga dirinya sendiri, dan bahkan harus dibantu Oku untuk pergi dari jangkauan serangan marmod itu.

Baru saja Oki terhenti, dia melihat Kazama datang dan menghabisi marmod itu sampai berkeping. Melirik ke arah Oki dan Osamu yang tak jauh di belakangnya.

"Kalian ini sedang apa, sih?"

"Oh, aku menyelamatkan agen Mikumo. Dia hampir terkena reruntuhan," jelas Oki.

"Maaf, kami kurang hati-hati," sambung Osamu.

Kazama menyipitkan mata. "Baguslah. Kalian ini sudah rank B, harus tetap waspada jika tidak ingin disalip."

"Baik!"

Kazama pergi, entah ke mana. Meninggalkan Osamu dan Oki yang masih melakukan pose bridal style. Keheningan terjadi selama beberapa saat sampai akhirnya Osamu angkat bicara.

"Maaf, bisa turunkan aku?"

Astaga, ini benar-benar memalukan.

 

***

 

"Gosip kalau Hyuse adalah seorang neighbor sudah sedikit mereda, ya."

"Kurasa begitu, dan dengan ini, orang akan disibukkan dengan rumor baru."

"Kenapa manusia sangat suka sekali dengan rumor?"

Diskusi internal di Tamakoma membuat semua orang kesulitan menjawab pertanyaan Yuma itu. Dia seorang neighbor yang selalu berperang, jadi wajar baginya jika tidak memahami hal-hal semacam ini.

"Sederhananya, manusia itu memang suka membicarakan sesuatu. Terlepas apakah itu benar atau tidak, tapi makin kontroversial, biasanya makin menarik untuk dibahas mereka," jelas Osamu. Walau sejujurnya dia juga tak begitu paham dengan hal itu. Namun itulah yang dia dengar dari Netsuki.

Rumor Hyuse ditimpa oleh rumor baru. Begitulah cara kerjanya. Setidaknya untuk sementara, posisi neighbor dari Aftokrator itu aman. Meski tak ada jaminan sampai kapan juga, sih.

"Lagipula jika terbongkar sekarang juga merepotkan," komentar Hyuse.

"Hm, begitu, aku paham sekarang," kata Yuma sambil mengangguk. "Jadi kalau begitu, aku mau tanya pada Osamu. Bagaimana kalau aku juga tiba-tiba harus membuka identitasku sebelum ekspedisi? Bagaimana dengan tim ini?"

Itu … pertanyaan yang lumayan berat. Osamu pun tak tahu pasti.

"Kita tidak tahu akan sebesar apa dampaknya, tapi kurasa Border yang akan paling dirugikan. Namun sampai kita berhasil, kurasa mereka akan membantu menutup rumor itu. Dan lagi, Hyuse berencana pulang, jadi kurasa itu akan baik-baik saja."

Yuma mengangguk lagi. "Aku juga ingin menanyakan sesuatu yang lain."

Osamu berkedip. "Apa?"

"Ada rumor bahwa kau dan sniper dari Ikoma dekat. Apa itu juga hanya desas-desus saja?"

"Hah?"

"Aku tidak peduli," komentar Hyuse. Dia memilih memakan dorayakinya dalam gigitan besar.

"Jangan-jangan, Osamu-kun juga ingin mencoba jadi sniper?"

"Chika, kau juga berpikiran seperti itu?"

"Habisnya, biasanya kau meminta saran dari Gunner atau Shooter," imbuh Yuma. "Wajar jika Chika berpikir demikian. Bukan berarti kami melarangmu berteman dengannya, tapi lihat, Chika lebih sering berkumpul dengan sesama sniper untuk latihan, itulah maksudku."

Apa benar begitu? Osamu tidak menyadarinya. Menurutnya Oki juga orang baik. "Hm, dia sudah membantuku dua kali. Jadi kurasa aku punya hutang budi padanya."

"Lalu kau akan membayarnya dengan apa? Kau bahkan bukan sniper dan tidak mungkin diajak dia latihan berdua saja, kan?"

Mendengar kata 'berdua' membuat Osamu memikirkan sesuatu. Sepertinya dia dan Oki selalu berakhir dengan situasi berduaan saja. Mungkinkah ini sudah saatnya Osamu mulai bergaul dengan orang baru? Tak ada ruginya juga mengenalnya.

"Apa aku harus mentraktirnya makan?"

"Boleh juga, atau undang dia ke sini."

Yotaro mendadak muncul dengan Raijinmaru. Sepertinya mereka berdua baru kembali.

"Oh, Yotaro, apa kau punya rencana?" tanya Osamu.

"Besok jadwalmu membuat makan malam, kan? Sekalian saja ajak ke sini. Lagipula aku jadi cukup penasaran dengannya setelah mendengar ceritamu. Pasti dia orang yang lumayan kuat, kan?"

"Ah, iya. Dia sniper yang menggunakan grasshopper, kurang lebih begitu."

"Oh, pemuda itu!" Yotaro tampak mengingat sesuatu. "Aku melihatnya di siaran pertandingan, tapi tidak ingat namanya. Begitu, jadi dia, ya? Kenapa tidak sekalian saja kau memata-matainya."

Osamu tertawa canggung. "Ah, ahaha, kurasa takkan semudah itu."

Tapi ide mengajak Oki makan malam tidak terdengar buruk. Bagaimana pun, Osamu berhutang budi padanya. Apa Oki akan suka masakannya? Itu pertanyaannya.

Masalah lainnya, bagaimana cara menghubunginya? Mereka bahkan tidak bertukar nomor dan mail.

"Apa Chika bisa memakai grasshopper juga?" tanya Yotaro.

"Um, kurasa bisa. Tapi penggunaannya lebih sulit karena harus dilakukan dengan cepat dan menjaga keseimbangan."

"Benar," kata Hyuse. "Itu hanya bisa dilakukan dalam situasi tertentu. Selain itu, justru grasshopper bisa menghambat rute pelarian bagi sniper atau meninggalkan sedikit jejak. Bisa jadi musuh juga akan memanfaatkannya."

Oh, begitu.

Osamu lumayan memahaminya. Misalnya saja jika Chika turun dari gedung dan memakai grasshopper, gerakannya akan terhenti di udara dan menjadi sasaran sniper atau penyerang lain yang jangkauan serangannya menengah, misalnya viper milik kapten Nasu. Satu detik pun adalah hal yang sangat berharga bagi petarung lain untuk mengubah keadaan. Lengah sesaat juga bisa berakibat buruk pada tim.

Hyuse memang hebat, bisa menganalisa sampai sejauh itu. Jadi pada dasarnya, memakai grasshopper bagi sniper itu bagaikan pedang bermata dua.

Ternyata Oki sangat hebat, ya.

"Aduh, kepalaku pusing! Aku mau makan camilan! Hyuse, di mana dorayakiku?"

"Sepertinya masih disimpan di kulkas."

"Oke, yosh! Ayo makan dorayaki!"

Sekarang, Osamu harus apa jika ingin mengajak Oki ke sini?

 

***

 

"Eh, tumben."

"Maaf, Shiori-san. Aku tahu ini agak merepotkan."

"Tenang saja. Aku bisa mengajarimu!"

Osamu akan pikirkan caranya nanti untuk mengundang Oki. Setidaknya dia harus mempersiapkan diri dulu. Shiori dan juga Konami sangat jago memasak, tapi senpainya sedang ada tugas sekarang. Jadi hanya bisa meminta tolong pada Shiori.

"Kau ingin membuat sesuatu yang spesial untuk Oki-kun, ya?" Shiori senyum-senyum aneh, sama seperti sebelumnya.

"Kurasa begitu. Aku tidak tahu juga dia suka apa, jadi kurasa membuat makanan yang umum dulu seperti kare adalah pilihan yang baik."

"Oke, ikutilah langkahku dengan baik, Osamu!"

Seharian itu, Osamu belajar dengan Shiori. Tentu ada beberapa kegagalan, karena pemuda itu belum pernah membuat kare sebelumnya. Mentok-mentok hanya menggoreng daging atau nasi saja.

Hasilnya cukup lumayan pada akhirnya. Shiori memujinya dan berkata Osamu hanya perlu latihan lagi supaya rasanya jadi lebih baik.

"Sudah oke! Kurasa Oki-kun akan menyukai masakanmu."

"Begitukah? Syukur sekali. Tapi aku bingung bagaimana menghubunginya … kami juga tidak dekat."

"Kau belajar masak kare tapi tidak tahu bisa mengundangnya atau tidak?"

"Ah, kurang lebih begitu. Kurasa aku harus bersiap dulu, jadi—"

"Aku paham. Nanti akan coba kucari cara untuk menghubungi tim Ikoma."

"Eh, tidak perlu sejauh itu."

"Halo? Kapten Ikoma?"

Osamu berkeringat dingin. Dia tidak tahu jika Shiori akan langsung menghubungi tim Ikoma. Tapi, tunggu, bagaimana perempuan itu bisa punya nomor kapten Ikoma?

"Ya, ya. Osamu-kun ingin bertemu dengan sniper tampan kalian itu. Kalau bisa besok. Oke!"

Panggilan berakhir dan Shiori memberikan wink, entah pada maksudnya.

"Shiori-san, apa itu tidak berlebihan?"

"Kau juga tidak tahu bagaimana cara menghubunginya, kan?"

"Benar, sih. Tapi sejak kapan kau punya nomor kapten Ikoma?"

"Sudahlah, yang penting kapten Ikoma akan meneruskan informasimya pada Oki-kun."

Yah, Osamu rasa itu hal yang cukup membantunya.

Walau dia masih merasa janggal dengan sikap Shiori.

 

***

 

"Permisi."

Petang itu, markas Tamakoma kedatangan tamu. Siapa lagi kalau bukan Oki Kouji.

"Ah, masuklah dulu, Oki-san."

"Terima kasih, Mikumo-kun."

Di dalam ada Yuma dan Hyuse. Sisanya sedang bertugas ke kota lain karena laporan kemunculan neighbor secara acak lagi. Shiori turut dipanggil. Osamu pikir mereka baru akan kembali besok. Chika juga sedang ada urusan di rumah. Agak sayang juga rasanya karena tidak bisa makan beramai-ramai.

"Maaf memanggilmu kemari lewat kaptenmu, Oki-san. Shiori-san tiba-tiba saja …. "

"Tidak, bukan apa-apa. Kudengar kau mengundangku ke sini, tentu saja aku harus datang, kan?"

"Terima kasih sudah meluangkan waktumu. Sebentar, aku sajikan dulu karenya."

Sementara Osamu pergi ke dapur, Yuma yang juga ada di sana menatap pada Oki. "Apa tujuanmu terhadap kapten kami?"

Oki tersenyum. "Tujuan? Aku tidak punya yang seperti itu. Kami hanya berteman."

Yuma mengamatinya sejenak. "Kau tidak sepenuhnya jujur, ya?"

"Hahaha, aku tidak mengerti apa maksudmu."

Hyuse kebingungan. Memangnya apa tujuan Oki? Apa dia mau menggali informasi soal kelemahan tim mereka? Tapi Osamu tidaklah sebodoh itu. Meski demikian, Hyuse juga harus waspada.

"Kau tidak terlihat meyakinkan," katanya. "Apa pun itu, aku takkan membiarkanmu dekat-dekat dengannya."

Yuma terus memberikan tekanan melalui tatapannya, dan berhenti ketika Osamu datang membawa sajian untuk mereka semua. Dia yang bertugas memasak hari ini, jadi wajar saja.

"Oki-san, semoga rasanya sesuai seleramu," kata Osamu. "Aku mendadak belajar membuatnya dari Shiori-san karena tidak tahu apa yang kau suka. Aku ingin mengucapkan terima kasih untuk bantuanmu."

"Oh, itu bukan apa-apa."

Yuma senewen. Dia meremat sendoknya sambil menatap dengki. Jadi Osamu latihan memasak kare hanya demi dirinya? Ugh, menyebalkan.

"Kau kenapa?" tanya Hyuse.

"Sembelit," jawab Yuma asal.

Osamu pun turut duduk bersama mereka, di sebelah Oki. Mereka membicarakan beberapa hal. Yuma tidak begitu mendengarnya, karena yang ia tahu Osamu justru selalu memberikan senyuman kepadanya.

Kenapa ini rasanya sangat menjengkelkan?

"Mikumo-kun, ada nasi di pipimu."

"Eh, iya kah?"

"Sini biar aku ambilkan."

"Terima kasih, Oki-san."

Oki mengusap area dekat bibir Osamu dengan ibu jarinya, membuat empunya merasa agak berdebar. Dia terlalu ceroboh sampai membuat orang lain membantunya. Lagi-lagi itu Oki. Kalau begini terus, bagaimana dia bisa membalas budi?

"Um, Oki-san, apakah ada sesuatu yang benar-benar kau inginkan?"

"Kenapa?"

"Kurasa aku merepotkanmu lagi."

"Oh, tidak sama sekali." Oki memakan nasi yang diambilnya dari sekitar pipi Osamu. "Aku cukup senang dengan makanannya. Masakanmu ternyata sangat enak."

Osamu berbunga-bunga mendengarnya. Tentu saja. Siapa yang tidak ingin dipuji ketika telah berusaha keras? Itu terdengar menyenangkan juga.

"Benarkah?"

"Ya, kapan-kapan aku ingin memakannya lagi. Apa boleh?" tanya Oki dengan senyuman lebarnya. Wah, benar-benar tampan, batin Osamu. Orang yang punya paras rupawan memang berbeda, ya.

Akh! Osamu geleng-geleng. Dia harus menghentikan pemikirannya itu.

"Te-tentu saja! Kau bisa langsung ke sini. Oh, iya. Nanti aku minta nomormu sekalian, Oki-san, supaya kita tidak merepotkan orang lain lagi."

Hm, kedengarannya agak ambigu lagi. Tapi buat apa dipikirkan? Osamu hanya ingin mereka berteman baik.

Oki mengeluarkan ponselnya. "Kurasa itu ide yang bagus, jadi aku bisa menelpon kapan saja."

"Iya, ini nomorku—"

Yuma tidak bisa berbuat apa-apa. Osamu tampak senang bicara dengan sniper tampan itu. Mungkin punya wajah bagus adalah nilai lebihnya.

Yah, dia lumayan mengakuinya juga soal kemampuan di medan tempur. Oki itu cukup tangguh, jadi agak sulit menjatuhkannya. Harus memakai strategi yang benar-benar matang. Dia paham kenapa Osamu kagum dengannya.

Akan tetapi, Yuma kesal. Dia tak ingin Osamu terus tersenyum pada bedebah itu. Dia menusukkan sendoknya pada nasi. Menahan diri supaya tidak menghajar lelaki perebut atensi itu.

Osamu itu tidak peka akan hal yang dia hadapi sendiri. Harusnya Yuma mencoba bertindak, tapi apa yang akan dia lakukan ketika Osamu terlihat sesenang itu?

"Kenapa kau kesal?" tanya Hyuse yang tidak peka akan suasana.

"Maaf, aku lelah," balas Yuma.

"Kenapa kau berbohong? Kau iri padanya? Tanpa side effect pun, aku bisa melihatnya dengan jelas."

"Apa? Jadi kau juga setuju kapten kita dekat-dekat dengannya?"

Hyuse terdiam sejenak sebelum bicara, "Tidak. Aku sependapat denganmu. Bisa saja dia mencoba mencari kelemahan kita. Meski sekarang tim kita di peringkat atas, tapi tak ada yang tahu kedepannya. Itu bukanlah jaminan untuk segalanya."

Oh, Yuma senang dengan pemikiran Hyuse. Setidaknya sekarang mereka berada di kapal yang sama.

Masih Yuma ingat kenapa dia bisa merasa sekesal ini. Kemarin, dirinya ada tugas bersama dengan Osamu. Lalu saat hendak menghampiri temannya itu, dia melihat sang kapten sedang digendong oleh Oki.

Hm, Yuma juga tidak tahu pasti perasaan apa ini. Sepertinya bukan kekesalan biasa. Padahal selama ini dia jarang merasa demikian. Sebagai petarung, tentu saja dia selalu mementingkan alasan logis di balik tindakan seseorang.

Makan malam itu damai, atau begitu saja kelihatannya. Tidak ada apa-apa.

"Aku akan membantu cuci piring."

"Bagaimana bisa, Oki-san? Kau itu tamu di sini."

"Cuaca sangat dingin akhir-akhir ini, jadi tidak baik terlalu lama terkena air dingin."

"Ah, soal itu, kami punya sarung tangan karet," potong Yuma. "Jadi tenang saja dan pulanglah. Aku bisa membantu Osamu."

"Begitulah?" Oki menggaruk pipinya yang tidak gatal. "Tapi aku merasa tidak enak, karena memakan kare buatan Mikumo-kun dan ingin membantunya."

"Tidak perlu repot-repot, Oki-san, lagipula sekarang sudah malam. Kau juga harus cepat pulang."

Zzingg

Ctas!

Brssss

Entah kenapa, tiba-tiba hujan deras mendadak turun. Kilat dan guntur saling bersahut-sahutan. Angin juga berembus dengan sangat kencang. Rinainya pun terlihat sangat banyak, sepertinya akan sulit pulang, meski dengan payung sekali pun.

"Kenapa tiba-tiba hujan, ya?" Osamu heran. "Padahal ramalan cuacanya baik-baik saja. Oki-san, apa kau akan menunggu?"

"Sepertinya begitu."

Tapi, hujannya makin deras. Bahkan kini hampir tengah malam. Kapan ini akan reda?

"Oki-san, maaf, gara-gara aku mengundangmu—"

"Jangan minta maaf, Mikumo-kun. Ini di luar prediksi, lagipula melawan alam juga mustahil."

"Bagaimana kalau Oki-san menginap saja dulu di sini? Besok pagi kurasa harusnya sudah lebih baik."

"Tidak!"

Yuma mendadak meninggikan suara. "Maksudku, kenapa dia harus menginap di sini? Tinggal pakai tubuh triggernya dan pulang."

Osamu tidak pernah melihat Yuma sekesal itu. Apa dia kalah dalam latihan simulasi? Tapi biasanya takkan sampai depresi. Yuma paham dan bisa mengukur kekuatannya sendiri. Mungkin dia hanya mengalami hari yang buruk.

"Yuma juga, kau harus beristirahat. Ah, Oki-san bisa pakai kamarku. Aku akan tidur di sofa."

"Eh, tidak, kenapa kau yang tidur di sofa?"

"Benar, harusnya dia yang tidur di sofa," kata Hyuse.

"Tapi tidak sopan membuat tamu tidur di sofa. Hm, bagaimana kalau kita tidur bersama saja?"

Yuma terbatuk hebat. "A-apa? Kenapa?"

Osamu memiringkan kepala. "Kenapa? Ya, kami berdua laki-laki, harusnya tidak masalah."

"Ta-tapi, Osamu—"

"Kalau begitu, aku akan membantumu cuci piring dulu."

"Ah, maaf merepotkanmu."

"A-aku juga akan membantu!" seru Yuma.

Osamu tersenyum. "Yuma, bukannya aku tidak mau menerima bantuanmu, tapi kau tidak terbiasa dan akan memecahkan piringnya lagi."

Itu benar. Yuma memang kompeten saat bertanding, tapi untuk urusan semacam ini, dia kurang bisa memahaminya. Hah, sialan. Jadi inilah kelemahannya yang tak terelakkan?

Hyuse menepuk pundaknya. "Kita lihat dulu apa yang akan dia lakukan. Jika sesuatu mengganggu Osamu, kau bisa langsung menyingkirkannya."

"Oh, benar juga idemu. Kau benar-benar bagus dalam memberi saran, Hyuse."

"Ah, tidak. Ini supaya tim kita tetap berada di posisinya."

Yuma tahu itu, meski tetap dongkol ketika melihat kedekatan mereka.

 

***

 

"Apa kasurnya terlalu sempit, Oki-san?"

"Tidak, tapi kenapa kau tidak tidur juga?"

Oki sudah duduk di tepi ranjang, sedangkan Osamu tampaknya hendak pergi entah ke mana.

"Ah, aku harus menganalisis sebentar. Nanti aku akan kembali."

Oki menarik tangannya, membuat Osamu terjatuh ke kasur. Pemuda itu tak sempat menghindar, tubuhnya oleng dan berakhir berbaring bersisian dengannya.

"Aduh …. "

"Istirahat itu juga bagian dari pertarungan. Jangan memaksakan dirimu. Lagipula pertempuran peringkat sudah berakhir."

Osamu mengerjap. "Ah, begitu. Maaf, aku biasa begini. Jadi mungkin tanpa sadar terus melakukannya."

Oki tersenyum di sebelahnya. "Lebih baik begitu, bukan? Sebagai kapten, kau harus selalu menjaga tubuhmu."

Osamu mempertimbangkan. Sepertinya itu benar. Jika dia sakit, itu justru akan menyusahkan semua orang. Osamu tidak ingin jadi beban siapa pun.

"Kau benar. Terima kasih atas nasihatnya, Oki-san."

"Oki saja tidak apa-apa."

"Tapi kedengarannya tidak sopan."

"Hahaha, kalau begitu, terserahmu saja."

Osamu senang bisa menemukan seseorang yang mengerti dirinya. Oki juga sangat baik padanya. Entah kenapa, bersamanya bisa membuatnya lega. Walau ini rasanya agak berbeda ketika dia bersama teman-temannya dari Tamakoma.

"Oki-san juga sebaiknya cepat tidur. Besok aku akan mengantarmu. Akan aku matikan dulu lampunya."

"Ya, baiklah."

Osamu kembali setelah mematikan lampu. Meletakkan kacamata di meja, lalu dia berbaring di samping Oki, kemudian memejamkan mata. Walau di luar sana masih hujan deras dan cukup berisik.

Tapi malam ini, rasanya Osamu bisa tidur lebih nyenyak.

 

***

 

"Eh? Serius?"

"Lucu sekali mereka tidur seperti ini."

 

Osamu mengerjap ketika mendengar suara. Ketika membuka mata sepenuhnya, dia melihat Karasuma dan Konami.

Eh?

"Senpai?"

"Jangan bergerak dulu, Osamu. Kami mau memotretmu."

Klik!

Klik!

Klik!

"Apa yang—"

"Ini adalah barang bukti yang langka. Bukan begitu, senpai?" tanya Karasuma pada Konami.

"Benar, mereka sangat lucu! Tapi kenapa sniper itu ada di sini?"

Ingatan Osamu kembali. Dia menoleh ke samping dan menemukan Oki di sebelahnya. Masih tertidur pulas. Apa dia tidak akan bangun setelah mendengar semua ini? Atau mungkin kelelahan, ya?

"Oh, semalam hujan deras jadi Oki-san menginap di sini." Osamu menjelaskan situasi dan langsung menguap setelahnya.

"Kenapa dia bisa ke sini?" Konami masih bingung.

"Aku mengundangnya untuk ikut makan malam. Karena aku yang memasak—"

"Oh, begitu rupanya." Konami senyum-senyum aneh juga. Mirip seperti Shiori. Kenapa, ya? Entah kenapa feeling Osamu merasa tidak enak.

"Kalian lanjut tidur bareng saja, aku akan memfoto semuanya."

Osamu memerah. "Karasuma-san, hentikan. Aku sudah bangun. Lagipula kenapa kau melakukannya?"

"Kenapa tidak? Ini menyenangkan."

"Se-senpai!" Osamu tidak tahu lagi bagaimana harus menghentikannya.

Terdengar suara dari samping Osamu. "Oh, maaf. Aku sepertinya tidur terlalu nyenyak, ya."

Oki sudah bangun dan mengambil posisi duduk. Pemuda itu menguap sebelum kemudian menyapa mereka.

"Pagi, maaf karena tiba-tiba menginap."

"Tidak apa, Oki-kun, nanti datang untuk sarapan juga, ya." Konami mengacungkan jempol.

"Ah, terima kasih, tapi sepertinya aku harus kembali. Nanti kalian repot—"

"Tidak, tidak sama sekali."

Osamu tertawa canggung sambil menggaruk pipi.

Pemuda berkacamata kemudian meminta Karasuma dan Konami keluar sebentar. Supaya Oki bisa lebih tenang.

"Maaf, senpaiku memang selalu begitu," kata Osamu.

"Oh, tidak apa. Mereka orang yang penuh dengan semangat, ya? Kudengar tim Tamakoma adalah nomor satu di Border. Jadi tidak mengherankan kalau timmu kuat juga."

Osamu berdehem. Dia merasa malu karena terus dipuji. "Apa Oki-san mau sarapan dulu?"

"Tidak, aku akan langsung pulang saja. Aku juga sudah makan malam, kan? Terima kasih karena sudah membiarkan aku menginap."

"Bukan apa-apa. Nanti akan aku antar sekalian."

"Tidak perlu repot-repot."

"Justru akulah yang selalu merepotkan Oki-san."

Osamu dan Oki beres-beres sebentar sebelum kemudian keluar dari kamar. Sekarang dia harus mengantar sniper itu pulang.

"Osamu, tidak sarapan dulu?" tanya Shiori ketika melihat juniornya pergi ke arah pintu.

"Ah, aku akan mengantar Oki-san dulu."

"Oke, kalau begitu hati-hati, ya!"

Osamu mengangguk pelan dan kemudian berjalan bersama Oki keluar dari markas.

"Hei, kenapa kalian semua begitu?"

Shiori melihat suasana di meja makan jadi suram selepas kepergian Osamu.

"Yah, aku tidak ingin ikut campur, tapi apa mereka memang sedekat itu?" Karasuma melihat-lihat foto di ponselnya. Dia memotret Osamu dan Oki sebelum mereka bangun tadi.

"Entahlah, sepertinya akhir-akhir ini saja. Kalau aku ingat, saat itu Oki-kun mengantar Osamu pulang." Shiori menjelaskan.

"Heee, ternyata begitu." Konami mengerti sekarang. Tidak salah juga punya teman baru. Itu hal yang bagus bagi Mikumo. Jika ingin naik ke atas, setidaknya dia harus punya banyak kenalan.

"Lihat, aku punya foto waktu mereka berpelukan," kata Karasuma.

"Eh, mana? Tunjukkan padaku!" Konami penasaran. Dia baru datang setelah Karasuma, jadi mungkin melewatkan sesuatu.

"Maaf, itu bohong, senpai."

Konami syok. "A-apa?!"

Yuma hanya diam.

Tapi ia rasa Karasuma tidak berbohong.

 

***

 

"Jam segini memang masih dingin."

Osamu dan Oki berjalan beriringan. Menelusuri jalan yang masih sepi. Udara pagi terasa dingin, mungkin karena semalam hujan deras.

"Kau belum sarapan, Mikumo-kun, bagaimana kalau kita makan dulu?"

"Tidak usah, aku baik-baik saja."

"Jangan begitu. Makan bersama tidak buruk, kan?"

Oki tersenyum. Osamu tidak bisa menolaknya. Dia memang selalu seperti ini, lemah jika ada seseorang yang meminta kepadanya.

"Kurasa sedikit saja tidak apa-apa."

Jam segini ada beberapa restoran cepat saji yang sudah buka. Namun suasananya tak begitu ramai. Oki memesankan hamburger dan kola untuk mereka. Keduanya menunggu sebentar dan membawa nampan ke meja.

"Apa kau suka makan hamburger, Oki-san?"

"Tidak juga, kadang-kadang saja."

"Aku belum tahu banyak tentangmu, jadi mungkin kadang aku akan mengatakan sesuatu yang aneh. Aku harap kau memakluminya."

Oki bertopang dagu. "Tidak juga, aku lebih suka ketika menghabiskan waktu denganmu."

Lagi, Osamu mendengarnya. Apa dia yang terlalu sensitif? Atau memang Oki sudah biasa melontarkan kalimat ambigu seperti itu?

"Begitu. Aku juga senang." Osamu menjawab diplomatis. "Oki-san sangat baik."

"Benarkah? Aku senang sekali mendengarnya darimu."

Osamu masih merasa ganjil, namun memilih mengabaikannya saja. Lagipula untuk sekarang, Oki terlihat biasa ketika berinteraksi dengannya. Bisa jadi lagi-lagi Osamu hanya terlalu memikirkannya. Kebiasaan yang buruk.

Sarapan pagi itu berlalu dengan tenang. Osamu juga sudah mengantar Oki ke jalan dekat rumahnya. Mereka kemudian berpisah.

Sama seperti di hari itu.

Rasanya ini agak aneh ketika dikatakan, tapi belakangan Osamu merasa … sendiri. Yuma dan Chika sibuk berlatih dengan orang-orang yang memiliki posisi sama. Meningkatkan kemampuan mereka. Bahkan Yuma juga sering ikut latihan simulasi guna memperkuat dirinya.

Berbeda dengannya.

Tentu mereka masih bertemu di markas Tamakoma dan saling mengirimkan pesan. Tapi intensitasnya tidak sesering itu. Mereka juga sedang mempersiapkan untuk ikut uji awak ekspedisi beberapa waktu kedepan.

Jujur saja, Osamu juga tidak paham kenapa merasa seperti itu. Namun pikirannya teralihkan karena Oki. Pemuda itu selalu mengapresiasi hal-hal kecil yang dilakukannya. Mungkin terlihat sederhana dari luar, tapi itu berarti besar baginya.

Ah, apa yang dia pikirkan?

Akhir-akhir ini Osamu merasa asing dengan semuanya. Dia tidak tahu apakah butuh istirahat lebih atau tidak. Tekanan menjadi peringkat atas di pertempuran rank B, dirasa?

Namun saat bersama Oki, anehnya Osamu bisa melupakan semua itu. Merasa bahwa semuanya akan baik-baik saja. Tapi Osamu tidak tahu mana jawaban yang tepat untuk kegelisahannya.

Apakah ini hal yang benar untuk dilakukan?

Osamu tidak tahu kenapa ia menolehkan kepalanya ke belakang. Tidak berharap apa-apa, sebenarnya. Hanya ingin melakukannya saja. Akan tetapi dia melihat Oki melambaikan tangannya, menunjukkan senyum lebarnya.

Suaranya tidak terdengar karena jarak mereka agak jauh, tapi Osamu yakin dia mengucapkan 'sampai jumpa'.

Osamu hanya tersenyum kecil dan membalas lambaian tangannya.

 

***

 

Satu kali adalah kebetulan.

Dua kali merupakan persimpangan.

Dan tiga kali adalah takdir yang tidak terelakkan.

Hari ini Osamu mengantar Yuma ke tempat simulasi pertarungan antar anggota Border. Teman sekelasnya itu bilang ingin mengadu kemampuan dengan Midorikawa seperti biasa. Sementara itu, Osamu sedang menunggu sambil berdiri, menonton pertandingan sepuluh babaknya. Itu tidak terlalu lama, jadi tidak masalah baginya.

Pergerakan Yuma dan Midorikawa sangat intens. Sulit menentukan siapa pemenangnya. Dan ketika Osamu tengah fokus memperhatikan, seseorang menepuk pundaknya.

"Hai, Mikumo-kun."

Osamu membenahi letak kacamatanya. "Ya, Oki-san. Kau juga ingin bertarung?"

"Tidak juga, tapi kapten kami sangat ingin kemari." Oki menunjuk sang kapten tim Ikoma yang tak jauh darinya.

"Hm, begitu."

"Boleh aku berdiri di sebelahmu?"

"Silakan saja."

Osamu tidak keberatan, tapi entah kenapa dia merasa aneh. Lagi-lagi seperti ini. Setiap kali bertemu dengan Oki dia memiliki perasaan yang ganjil, tidak tahu kenapa.

"Kaptenmu sepertinya sangat suka bertarung juga, ya," kata Osamu. "Yuma juga begitu."

"Mungkin begitulah orang-orang yang kuat. Kemarin-kemarin, sepertinya Yuma juga pergi dengan Kageura."

Oh.

Osamu tahu itu, Yuma memang sudah berkenalan dengan banyak manusia dan berteman dengan mereka. Ada sebuah ungkapan, orang kuat akan selalu berkumpul dengan sesamanya. Tampaknya itu juga berlaku bagi Yuma. Tidak seperti Osamu ingin membatasi pertemanannya juga, sih.

Dia senang karena Yuma sudah beradaptasi dengan dunia ini.

"Mikumo-kun, apa kau haus?"

"Tidak."

"Kalau mau, sekalian nanti kubelikan minuman."

"Ah, tidak usah, tapi terima kasih tawarannya—uwaahh!"

Osamu merasakan tubuhnya oleng. Ada beberapa anggota rank C yang tampaknya sedang bermain-main dan menyenggolnya. Osamu yang tidak siap lantas berusaha mencari pegangan. Tapi tidak ada yang bisa diraihnya selain Oki di sebelahnya.

Brukk

Oki juga tidak bisa menahannya, akibatnya dia terjatuh, dengan Osamu yang menimpanya.

Kepala Osamu terasa berdenyut. Agak sakit rasanya. "Aduh … maaf, Oki-san."

"Tidak apa, apa kau baik-baik saja?"

"Um, ya. Aku tidak apa-apa."

"Kau yakin?"

Osamu agak bergidik ketika merasakan tangan Oki di punggungnya. Agak meraba dan membuatnya tersentak. Lantas dia buru-buru bangkit dari posisinya.

"Maaf, Oki-san."

"Syukurlah kalau kau baik-baik saja."

Oki turut bangun. Punggungnya terasa agak sakit karena terbentur lantai, jadi dia memegangnya. Osamu menyadarinya dan merasa agak bersalah.

"Apa itu sakit?"

"Ini bukan karenamu, santai saja."

"Tapi—"

"Osamu!"

Terlalu sibuk bicara, Osamu tidak tahu kalau Yuma ternyata sudah selesai. Neighbor itu tiba-tiba berdiri di depannya dan menatap tajam pada Oki.

"Yuma, ini—"

"Osamu, ayo pergi."

"Eh?" Osamu bingung. Apa Yuma sudah tidak akan melakukan pertarungan lagi? Biasanya sekali saja tidak cukup baginya.

Yuma menyeret Osamu pergi, dan pemuda berkacamata hanya bisa mengikuti. Osamu meminta maaf dengan gestur tangan pada Oki, supaya memaklumi sikap Yuma.

"Hm, sulit juga, ya."

 

***

 

Kikuchihara mendengar rumor aneh.

Itu dimulai karena kejadian kemarin. Osamu dan Oki terjatuh. Masalahnya, sikap Yuma mencerminkan permusuhan terhadap tim Ikoma. Apa mereka baik-baik saja? Bukan urusannya juga, sih, tapi jika dibiarkan berlarut-larut pasti cukup repot menyelesaikannya.

"Hei, Kikuchihara, kau dengar, tidak?"

Kikuchihara menatap malas pada Izumi di depannya. Kenapa tiba-tiba memulai pembicaraan?

"Apa?" sahutnya malas.

"Kudengar kemarin ada pertengkaran antara Oki dan Kuga? Hahaha. Harusnya aku melihatnya. Tapi kenapa mereka berselisih?"

Kikuchihara melihatnya. Kemarin dia tak sengaja lewat sana karena ada perlu. Lalu malah mengetahui hal yang tidak relevan.

Lalu entah bagaimana kejadian itu berkembang menjadi rumor. Ada yang bilang tim Tamakoma-2 sedang berselisih dengan tim Ikoma. Ada juga yang mengatakan itu disebabkan kesalahpahaman. Pokoknya banyak yang beredar.

Dan yang paling gila, Kikuchihara mendengar bahwa mereka tengah memperebutkan Osamu.

Dia tidak tahu harus percaya atau tidak. Sejauh pengamatannya tidak begitu. Osamu terlihat bingung, tapi Oki bersikap agak berbeda.

"Aku tidak tahu," kata Kikuchihara pada akhirnya. "Kenapa aku harus peduli?"

Izumi menatapnya. "Serius? Bagaimana kalau Osamu kenapa-kenapa?"

"Dia laki-laki, bisa melindungi dirinya sendiri. Kenapa kau malah khawatir?"

"Tapi dia tidak terlihat seperti bisa melindungi dirinya sendiri."

Benar juga, sih. Osamu itu terlalu berhati-hati, tapi tak jarang juga malah menampakkan kelemahannya. Terutama wajahnya itu, tampak tidak berdaya.

"Hentikan pembicaraan rumor yang belum tentu benar."

"Benar juga ucapanmu. Aku tak seharusnya percaya rumor. Pasti ada kesalahpahaman, sama seperti desas-desus soal neighbor itu."

Kikuchihara akhirnya bisa bernapas lega. Dia tidak ingin terlibat pembicaraan yang merepotkan.

Sebenarnya itu bukan pertama kali Kikuchihara melihat Osamu dan Oki berinteraksi. Dia kebetulan berada di dekat lokasi saat Osamu nyaris dikeroyok orang-orang aneh ketika malam hari. Tadinya dia maju-mundur berniat membantu, tapi Oki sudah muncul duluan.

Memang itu seharusnya tidak dia pikirkan. Bikin pusing saja. Tapi kenapa Oki tiba-tiba mendekatinya? Pertempuran peringkat juga sudah berakhir. Dan ia tidak ingat keduanya saling kenal sebelum itu, hanya formalitas di pertarungan tim.

Lalu Kikuchihara juga tidak sengaja sarapan di tempat yang sama dengan mereka beberapa hari kemudian. Kenapa dia selalu terlibat, sih? Mengetahui kehidupan orang lain bukanlah inginnya.

Tapi makin lama melihatnya, dia sedikit kesal juga. Osamu itu polos dan lamban soal dirinya sendiri. Tidak menyadari maksud tatapan yang diarahkan kepadanya. Namun merepotkan jika ikut campur, jadi Kikuchihara hanya melihatnya saja. Meyakinkan dirinya sendiri itu bukanlah masalahnya.

Hanya saja, kejadian hari itu memperjelas sesuatu. Motif Oki tak bisa disembunyikan darinya. Dasar lelaki picik, batinnya berkata. Apakah dia harus mengatakannya pada Osamu juga?

Ah.

Biarkan saja dia sadar sendiri.

 

***

 

Penentuan anggota ekspedisi harus melalui beberapa tahap.

Pertama, semua anggota yang memenuhi syarat dipanggil, bersama dengan operator masing-masing. Masing-masing ketua telah ditentukan dan mereka berhak memilih anggota tim berdasarkan hasil undian.

Osamu duduk dengan tenang. Tapi entah kenapa matanya melirik ke arah Oki. Agak jauh juga, sebenarnya. Buru-buru dirinya menggelengkan kepala. Lagi-lagi dia merasakan hal itu.

Perasaan yang asing.

Mungkin … Osamu takut tersaingi oleh timnya? Tidak ada jawaban yang lebih masuk akal daripada itu.

Osamu direkrut oleh Suwa, bersama dengan Yoko dan juga Oki. Sementara operator mereka adalah Ui. Rasanya senang karena ada seseorang yang setidaknya dikenal di sini. Jadi dia tak terlalu kesulitan beradaptasi.

Selama seminggu, ada tugas-tugas yang harus mereka lakukan. Juga arahan simulasi pertarungan melalui software yang telah disediakan. Bukan hanya itu, hampir semua perangkat seperti daya lampu, dapur dan sebagainya memanfaatkan trion sebagai sumber daya.

Pada hari pertama, Osamu kehabisan trion sehingga tak dapat mengerjakan tugas. Itu bukanlah hal yang mengherankan, jadi pemuda berkacamata juga tidak begitu mempermasalahkannya. Lagipula dia telah punya solusinya, yaitu dengan memotret bagian tugasnya dan akan mengirimkannya esok hari.

Untuk tempat tidur, mereka semua sepakat akan menggunakannya secara bergiliran. Meski Yoko agak keberatan di awal-awal, mungkin karena dia perempuan, jadi tak terbiasa dengan ini. Namun untungnya dia bisa diajak bekerjasama pada akhirnya.

Osamu tidak mengalami kesulitan berarti di sana. Mungkin mendengarkan beberapa saran, tapi selebihnya baik-baik saja. Dia juga sangat serius dengan ini, supaya dapat terpilih untuk ikut ekspedisi.

Satu-satunya hal yang agak membuatnya bingung adalah simulasi pertempuran dengan bidak representasi anggota tim. Bukan masalah kemampuannya, tapi tiap bidak hanya punya poin pergerakan yang terbatas bagi tiap orang. Osamu harus memutar otak untuk mengatasinya.

Percobaan pertama memang sulit, namun lama-lama Osamu mulai memahami pola serangan yang bagus dengan poin terbatas. Walau mustahil mengalahkan tim yang lebih hebat darinya.

Osamu sedang menunggu giliran mandi. Sementara itu dirinya mencoba mencatat dan memikirkan sendiri beberapa jawaban untuk tugasnya.

"Hm, kurasa kalimat ini tidak ada hubungannya."

"Mikumo-kun, kamar mandinya kosong sekarang," panggil Oki.

"Ah, terima kasih sudah memberitahuku, Oki-san."

"Kau sedang apa?"

"Menyusun kalimat untuk menjawab ini."

Setelah kejadian hari itu, Osamu berusaha tidak memikirkan hal-hal aneh. Namun kalau terus begini, bagaimana bisa dia tidak mengingatnya? Entah rumor apa yang sudah beredar karena insiden itu terjadi di depan banyak orang.

Osamu tak bertemu dengan Oki sampai hari seleksi. Jadi dia juga bingung harus bersikap bagaimana.

"Aku akan membantumu."

"Terima kasih."

Entah dianggap keberuntungan atau kesialan, malam ini Osamu harus tidur dengannya. Konotasinya aneh sekali, padahal mereka mendapatkan kasur sendiri-sendiri.

Osamu beranjak, berbalik dan baru menyadari Oki hanya memakai handuk untuk menutupi bagian bawahnya.

"Bajumu, kenapa tidak kau pakai?" Osamu memalingkan wajah. Duh, kenapa pipinya terasa panas saat melihat tubuh Oki?

Sementara itu, pemuda yang membuat resah hanya berkata dengan enteng, "Oh, badanku belum kering. Jadi aku akan menunggu sebentar."

Osamu berdehem, mengambil peralatan mandi. Kemudian terbirit-birit menuju ke kamar mandi.

Keanehan terus terjadi. Sekarang dada Osamu rasanya berdebar. Apa karena habis lari? Hah, sebaiknya dia bersikap santai saja. Tidak terjadi apa-apa, apa yang harus ia risaukan?

Osamu selesai mandi, sudah merasa lebih segar daripada sebelumnya. Dia kemudian kembali ke bilik kamarnya dan melihat Oki tengah mengamati lembar jawabannya. Untungnya sudah berpakaian kembali.

Ah, kenapa Osamu malah mengingat hal yang memalukan?

"Apa kau kepikiran sesuatu?" tanya Osamu. Tidak enak jika dirinya menjauh untuk suatu alasan yang tidak pasti. Bagaimana pun, mereka satu tim sekarang. Jika ada sedikit gesekan, rasanya juga kurang nyaman.

"Hm, kurasa jawabannya berhubungan dengan misi ekspedisi."

"Oh, begitu, ya? Kalau dipikir benar juga."

"Kan?" Oki tersenyum. "Kurasa itu masuk akal, apalagi ini adalah seleksi untuk misi itu."

Osamu mulai sadar. Jadi kemungkinan jawaban dari tugas-tugas mereka berhubungan dengan hal tersebut. Oki ternyata cepat menyadarinya.

"Terima kasih atas petunjuknya. Kurasa aku bisa menjawabnya sekarang."

"Sama-sama. Kalau perlu bantuan lagi, panggil saja aku, Mikumo-kun."

 

***

 

Yoko mendadak tidak termotivasi.

Sebenarnya itu adalah hal yang biasa, namun mereka harus 'bertempur' esok hari. Jika suasana hatinya terus begini, mungkin akan sulit diajak bekerjasama.

Tapi Osamu juga tidak dekat dengannya, jadi tak tahu apa yang harus dilakukan. Mau bicara saja takut salah dan memperburuk keadaan. Benar-benar membingungkan. Yang jelas, tim ini masih perlu kekuatan Yoko, karena mungkin dia lah individu terkuat di sini sekarang, mengenyampingkan beberapa masalah yang telah berlalu. Yoko hanya perlu mendorong keinginannya lebih keras, namun itu bukanlah sesuatu yang dapat dipaksakan.

Pada akhirnya mereka memutuskan untuk menghubungi tim Wakamura. Memberitahukan sedikit info yang mereka dapat guna membantu. Lagipula di sana ada Hyuse, jadi Osamu juga menyetujui langkah ini. Bagaimana pun, mereka harus terpilih sebagai anggota ekspedisi. Nilai dalam simulasi ini jelas berpengaruh.

Osamu bingung mencari cara menenangkan Yoko, hingga kemudian Oki memberitahunya jika gadis itu adalah penggemar berat Karasuma. Osamu lantas segera memanfaatkan hal itu. Memang kesannya seperti 'menjual' seniornya sendiri, tapi ini situasi darurat karena Yoko sudah kehilangan arah.

Dengan iming-iming kencan bersama Karasuma, akhirnya Yoko kembali bersemangat. Tatapannya yang sempat mati kini menyala kembali.

"Kau tidak bohong, kan?"

"Tidak, tenang saja."

"Baiklah, aku juga akan berusaha sebaik mungkin!"

Osamu pikir, ini lumayan berhasil. Namun Yoko sangat antusias ketika mendengar 'kencan', ya?

Ia rasa itu bukanlah hal yang buruk.

 

***

 

"Hahh … jadi kita dapat bantuan dari tim Suwa pada akhirnya."

Wakamura menghela napas. Dalam hati dia agak kontradiktif, namun bantuan ini sangat berarti bagi timnya. Mungkin karena ada Hyuse di sini, ya? Entah kenapa dia memikirkan kemungkinan itu.

Tapi, sudahlah. Sekarang mereka lebih baik mengerjakan tugas saja. Namun Wakamura jadi penasaran sekarang.

"Hyuse, kurasa kau sangat diperhatikan, ya?"

"Tidak juga."

Jawaban Hyuse sangat singkat dan padat. Benar-benar tipikal dirinya. Atau mungkin memang beginilah sifat asli orang Kanada?

Sementara itu, tim Utagawa juga menunjukkan progres yang bagus saat simulasi pertarungan. Tidak bisa dipungkiri, Wakamura sendiri juga merasa kurang layak di posisinya sekarang. Namun ia akan berusaha sebaik mungkin.

Saat berdiskusi dengan anggotanya, Wakamura mendapat panggilan. Kuga Yuma? Kenapa?

"Maaf, aku harus mengangkat ini," kata Wakamura pada yang lainnya. Peraturannya adalah rekan satu tim sebelumnya dilarang saling menghubungi satu sama lain. Namun mereka bisa berkomunikasi dengan anggota tim lainnya.

"Aku tidak tahu kenapa, tapi sepertinya ada yang membantumu?"

"Ya, memang, dari Tim Suwa. Kau ada masalah?"

"Aku tak bisa menghubungi Hyuse, jadi aku ingin meminta tolong untuk menyampaikan ini padanya. Aku takkan kalah darinya."

"Kau repot-repot menelpon hanya untuk ini?" tanya Wakamura.

"Um, sebenarnya bisakah kau hubungi timnya Suwa? Sampaikan salamku pada Osamu juga."

"Merepotkan. Apa rencanamu?"

"Tidak ada, aku cuma kangen saja."

Wajar jika Yuma merasa demikian. Sebelumnya dia selalu satu tim dengan Osamu, jadi perpisahan sementara ini mungkin masih terasa asing baginya.

"Oh, dan satu hal lagi."

"Apa?"

"Bilang padanya agar jangan dekat-dekat sniper itu."

Wakamura mencoba mengingat. Sniper? Maksudnya Oki? "Memangnya kenapa? Mereka kan satu tim sekarang."

"Pokoknya sampaikan padanya."

Klik

"H-hei!"

Wakamura melongo. Apa-apaan itu tadi? Seenak saja menghubunginya dan meminta bantuan. Dia pikir dirinya ini pesuruh atau semacamnya?

Namun Wakamura juga mengkhawatirkan Yoko. Apa dia baik-baik saja di sana? Meski hebat, rekannya itu punya suasana hati yang mudah berubah-ubah. Itu bisa jadi masalah. Anggap saja Wakamura sekalian memantaunya.

Tapi … buat apa?

Wakamura merasa ini tidak benar. Meski sulit, Yoko harus bisa bertahan di sana. Ini juga demi dirinya. Wakamura menahan diri sambil melotot tajam ke arah layar ponselnya sendiri.

Dan pada akhirnya, dia tidak menghubunginya.

 

***

 

Osamu menguap.

Hari ini dia kebagian jadwal menyiapkan sarapan. Tadi Yoko berbaik hati menyalakan sistem menggunakan trionnya. Meminta dirinya memasak sesuatu yang enak.

Karena bahannya terbatas, sepertinya Osamu akan membuat sandwich saja, dengan isian telur, sosis dan sayuran. Tidaklah sulit baginya menyiapkan itu.

Osamu sudah mengambil roti dan semua yang diperlukan. Mungkin dia harus menggoreng telur dan sosis dulu. Atau mencuci sayuran?

"Mikumo-kun."

"Oki-san? Kau sudah lapar?"

Sang sniper itu menguap. Mungkin masih merasakan kantuk juga, sama sepertinya.

"Tidak, tapi apa ada yang bisa dibantu?"

Osamu menimang. Bekerja berdua tentu akan lebih cepat. "Baiklah, tolong cuci sayurannya saja. Meski sudah disimpan di kulkas, tapi rasanya tidak tenang kalau belum dicuci."

"Oke!"

Tanpa basa-basi Oki langsung mengambil wadah berisi sayuran dan mencucinya. Sedangkan Osamu menyalakan kompor dan menuangkan sedikit minyak. Sebelum kemudian menggoreng telur terlebih dahulu karena memakan waktu yang agak lama. Osamu membalik ketika satu sisi telah terlihat matang, dan terus dilakukan sampai semuanya selesai.

Berikutnya adalah sosis. Yang ini lebih mudah, karena pada dasarnya sosis kemasan itu sudah matang. Hanya perlu waktu sebentar saja sampai semuanya siap.

"Mikumo-kun, aku sudah selesai mencucinya," kata Oki yang kembali.

"Terima kasih, Oki-san."

"Bukankah ini belum ada kejunya?" Oki menatap heran. Sepertinya Osamu ingin membuat sandwich, tapi rasanya pasti kurang jika tak memakai keju, kan?

"Oh, iya? Aku lupa. Akan kuambil di kulkas sebentar."

Osamu pergi mengambilnya, kemudian kembali. Dia menyusun isian di antara lembaran roti. Tak butuh waktu lama, akhirnya sarapan sudah siap. Untuk minum, masih ada air mineral di kulkas.

Sarapan pagi itu berlangsung khidmat. Sangat damai dan Osamu senang dengan suasananya. Setelah makan, dia pasti bisa fokus untuk mengerjakan tugas dan simulasi pertarungan berikutnya.

"Tidak kusangka kau bisa membuat ini," komentar Yoko.

"Ya, mengejutkan. Tapi kurasa itu tidak mengherankan," sahut Suwa.

"Ah, ini cuma sandwich, siapa pun bisa membuatnya," balas Osamu rendah diri. Dia juga tak sejago itu memasak, jadi mencari menu yang sederhana saja.

"Soalnya biasanya anak laki-laki tidak memasak, iya, kan?" Ui tersenyum kecil. "Kau ternyata punya sisi yang mengejutkan."

Osamu hendak menjawab, tapi Oki mendahuluinya. "Mikumo-kun pernah masak kare, loh!"

"APAAAA?!" seru semua anggota tim, melotot tidak percaya. Osamu tidak terlihat seperti orang yang bisa masak, makanya mereka terkejut.

"Eh, tunggu, bagaimana kau tahu?" Yoko curiga. Bisa jadi Oki hanya asal bicara.

"Aku pernah mencicipinya. Rasanya enak sekali."

Osamu merasa malu. Ia tak berbuat banyak, bahkan masih harus belajar lagi. Tapi Oki memujinya terus-menerus. Apa boleh seperti ini?

"Kalau kau bilang begitu, aku jadi ingin mencobanya," kata Ui. "Jadi penasaran seperti apa rasanya masakan Mikumo-kun."

"Iya. Kapan-kapan masakkan untukku juga!" Suwa terkekeh.

" …. "

Yoko tidak berkata apa pun, tapi alisnya mengernyit. Sepertinya dia juga ingin berkata sesuatu, tapi Osamu memakluminya saja. Ini bukan seperti dia memasak untuk pamer atau semacamnya.

"Jika sempat, ya," kata Osamu

"Buatku harus khusus kalau begitu." Oki tersenyum padanya. "Bukankah aku yang pertama mencicipi masakanmu?"

"Kalau kare, iya." Osamu membenahi letak kacamatanya. "Tapi sebelum itu aku juga sesekali memasak, walau masih dibantu Shiori-san."

"Apa ini? Kau bermain favorit, ya?" sinis Yoko. "Bukannya aku mau mencicipinya juga, tapi bukankah itu tidak adil jika Oki yang makan sendiri?"

"Kau tidak menghitungku tadi?" tanya Suwa seraya menunjuk dirinya sendiri.

Osamu hanya tertawa pahit.

 

***

 

Entah kenapa Yoko masih terlihat ragu.

Dia agak diam hari ini, lalu tiba-tiba ingin membicarakan detail.

"Seberapa baik aku harus bermain? Apa syaratnya? Apa aku juga harus mencapai poin tertentu dan—"

Osamu tidak memikirkan sejauh itu. Ternyata Yoko adalah pribadi yang sangat serius, mengenyampingkan betapa moody dirinya. Sepertinya dia tipikal seseorang yang harus punya tujuan, ya?

"Bagaimana kalau 'melakukan yang terbaik'?" saran Ui.

Yoko senewen. "Tidak, kesannya seperti aku bermalas-malasan sampai sekarang."

Suwa berpikir sejenak dan memberikan jawaban, "Bagaimana kalau 'Mikumo lolos ke ekspedisi'?"

Semua orang terkejut, bahkan Osamu sendiri. Dia tidak pernah mengira Suwa akan berkata demikian. Memang benar dirinya ingin terpilih, hanya saja kedengarannya agak …

Yoko tiba-tiba menoleh padanya. "Kau serius ingin mengikuti misi itu?"

Osamu berkeringat dingin. "Tentu saja."

Yoko menatap sinis, menguarkan hawa gelap. "Kalau begitu, sebaiknya jaga janjimu!"

"I-iya."

"Sudahlah, ayo kita bahas strategi," kata Suwa.

"Kau benar. Dan terima kasih makan malamnya, itu enak sekali," Yoko kembali terlihat tenang.

Perempuan memang sulit dimengerti, ya?

 

***

 

Tim Suwa menemukan sesuatu.

Berdasar hasil simulasi hari ini, Oki memaparkan bahwasanya kemampuan sangatlah penting. Jika mereka semua bisa mengaktifkannya bersamaan, ada kemungkinan untuk menang. Namun sebaliknya, itu juga bisa menjadi bumerang bagi mereka jika kerjasama tidak sesuai seperti yang diharapkan.

Sejenak Osamu berpikir apakah Oki baru saja membaca pikirannya? Meski ia tahu tiap individu punya kemampuan menganalisa sendiri, tapi tidak pernah mengira Oki juga satu pandangan dengannya. Terlalu mirip, malah. Membuat Osamu agak merinding sendiri saat mendengarnya.

Semua orang sepakat dengan pendapat Oki. Mereka tampaknya harus mengatur ulang strategi.

Ui mendapat solusi. "Kalau begitu, kita hanya perlu mencari celah dari data karakter di tim lain. Apabila kita bisa membaca aksi mereka di pertarungan, itu akan sangat membantu."

"Kecuali jika kita sudah bisa melakukannya," kata Yoko. "Mereka semua mengincar si mata empat. Tiap tim mengirimkan formasi terkuat dan mereka selalu mengincar Osamu yang paling lemah dan itu cukup mengganggu.”

Osamu punya beberapa ide, tapi dia tidak cukup yakin apakah bisa mengimplementasikannya. Dan ketika Suwa bertanya padanya, Osamu langsung memberikan usulan.

"Apa yang kurang dari kita sekarang adalah data."

"Tapi kita sudah punya semua data di sini," kata Oki.

"Aku pikir kita juga harus bertanya pada yang lain," katanya. Data adalah hal mendasar untuk tiap keputusan, dan Osamu yakin ini akan membantu timnya. Masalahnya, apakah tim lain bersedia atau tidak ketika ditanya semacam ini?

Untuk permasalahan tugas juga, Yoko tiba-tiba menyarankan agar mereka memberitahu tim Wakamura. Tidak ada yang keberatan, apalagi Hyuse juga berada di sana.

Namun masalahnya adalah yang terjadi setelah itu.

Ketika sedang melakukan simulasi pertarungan dengan Tim Utagawa, di mana Yuma berada, rekannya itu terus mengincar Oki. Karena sniper yang terus dikejar olehnya, akhirnya tak memberikan banyak opsi bagi formasi tim Suwa.

Awalnya, Osamu pikir itu wajar jika menyerang sniper. Mereka kadang bisa menentukan kemenangan tim dan mengubah alur pertarungan setelah itu. Namun Hyuse juga melakukan hal yang sama, bahkan membuat timnya kewalahan. Apalagi karena trionnya cukup besar, jumlah poin pergerakannya lumayan banyak.

Biasanya tim lawan mengincar dirinya, kan? Apa karena mereka satu regu jadi tidak ingin menyerangnya? Itu aneh, mengingat Yuma dan Hyuse tidak pernah pandang bulu siapa lawan mereka. Bagaimana mengatakannya? Mereka berdua adalah neighbor, jadi agak berbeda dengan manusia biasa.

Osamu tidak ingin berpikir begini, karena Chika juga biasa saja. Namun entah kenapa firasatnya tidak enak. Apakah terjadi semacam perselisihan antara Yuma dan Hyuse dengan Oki? Seharusnya itu setengah benar. Tapi menanyakannya secara langsung juga kesannya aneh, karena ini tak berhubungan dengannya.

"Kenapa aku terus diincar, ya?" Oki tertawa di sela-sela pelariannya. Sekarang mereka sedang melawan tim Utagawa, dan dirinya dikejar-kejar oleh Yuma.

"Hati-hati." Hanya begitu yang Osamu katakan. Yah, lagipula perhatian Yuma teralihkan dan membuat tim mereka bisa mengatur ulang strategi. Kedengarannya agak jahat, sih, tapi mau bagaimana lagi.

Ketika melawan tim Wakamura juga begitu. Hyuse selalu mengincar Oki. Menemukannya dengan cepat dan langsung menghancurkannya. Rasanya seperti mereka berdua punya dendam terhadap sang sniper.

"Ya ampun, aku benar-benar dikalahkan. Hahaha." Oki masih bisa tertawa di atas kekalahannya.

"Hei, jangan ketawa-ketawa," sinis Yoko.

"Sudahlah, ini juga baru hari pertama perhitungan nilai dari simulasi. Jangan terlalu dipikirkan. Sekarang yang terpenting kita sudah mendapat data dari pola serangan mereka, bukankah begitu, Mikumo?" Suwa menatap padanya.

"Ya, aku sudah mencatat berbagai macam skill yang kemungkinan mereka gunakan. Dengan begitu, memprediksi pergerakan mereka selanjutnya mungkin akan lebih baik."

"Mikumo-kun sangat bersemangat, ya?" Ui tersenyum. "Aku sangat senang melihatnya."

"Yah, tidak juga," jawab Osamu sungkan.

"Namun karena sudah dapat data, sepertinya kekalahan hari ini akan terbayar." Oki berkata.

"Hei, jangan senyum-senyum." Yoko masih sensi. Meski dia sudah menduga, kekalahan tetaplah sebuah kekalahan. Dia tak bisa menerima hal ini begitu saja.

"Ini memang masih prediksi, jadi mungkin tak ada jaminan yang tinggi. Tapi seharusnya masih bisa digunakan di pertandingan selanjutnya," kata Osamu. Dia yakin semua data yang sudah dicatatnya akan sangat membantu anggota timnya.

"Baiklah, kita akan menyusun strateginya selepas makan malam," ucap Suwa. "Sekarang kita istirahat dulu. Cewek-cewek bisa mandi duluan, kami akan membahas beberapa strategi."

"Lalu makan malamnya?" tanya Ui.

"Ah, aku akan melakukannya," kata Osamu sambil mengangkat tangan.

"Aku juga akan membantu," sahut Oki di sebelahnya.

"Hei, jangan tinggalkan aku sendiri, dong." Suwa berpura-pura dramatis. "Baiklah, aku akan memikirkan beberapa rencana setelah membantu kalian menyiapkan makan malam."

Begitulah, pada akhirnya para pemuda sibuk memasak di dapur. Sementara para gadis mandi duluan. Inilah yang disebut kerjasama tim, makin banyak orang, beban tugas juga terasa ringan.

"Kita mau masak apa?" tanya Suwa.

"Karena bahan kita masih cukup banyak, bagaimana kalau sup saja?"

"Boleh, boleh. Aku harus bantu apa?"

Mereka kemudian membagi pekerjaan supaya masakan cepat selesai. Apalagi membuat sup juga tidak terlalu sulit, jadi bisa cepat disajikan. Suwa tampak berbinar ketika melihatnya.

"Aku tak tahu kau sepandai ini dalam memasak, Mikumo."

"Tidak juga, aku masih belum sebanding dengan Shiori-san," ucap Osamu.

"Oh, operator kalian, ya? Jadi dia yang paling jago." Suwa manggut-manggut. "Rasanya jadi makin penasaran. Apa boleh aku main ke Tamakoma?"

"Tentu saja boleh, kenapa tidak? Markas kami selalu terbuka."

"Aku juga jadi ingin main lagi," kata Oki tiba-tiba. "Mereka sangat baik."

Osamu bingung. Apa Oki tidak sadar jika Yuma dan Hyuse … kurang menyukainya? Entahlah. Mungkin saja dia yang terlalu memikirkannya? Tapi itu menjelaskan sikap Yuma saat menyeret dirinya dari depan Oki.

"Oh, kau sudah pernah main, ya? Harusnya kau ajak aku sekalian, jadi kita bisa pesta!"

"Anu—" Osamu ingin mengatakan sesuatu, namun Oki keburu merangkulnya. Membuatnya terdiam karena kaget.

"Tidak, tidak. Mikumo-kun hanya boleh masak untukku."

Suwa manyun. "Cih, pelit."

Osamu … merasa semakin aneh saja dari hari ke hari karena ucapan Oki.

Ini bukan hanya asumsinya saja, kan?

 

***

Jin menggerutu.

Dia baru saja sampai di ruang monitor, sambil makan cemilannya seperti biasa. Bahkan saat datang tadi dia tidak berkata 'kekuatan elit telah tiba' dan semacamnya.

"Dia kenapa?"

Itulah pertanyaan yang ada di benak semua orang sekarang. Mungkinkah ada sesuatu yang tidak beres terkait latihan simulasi ini?

"Kau datang lebih awal, rupanya."

"Oh, Kazama. Aku baru saja selesai jadi langsung mampir kemari. Tapi kurasa tak bisa lama-lama."

"Bagaimana menurutmu? Apakah ada tim yang menarik?"

Jin menyipitkan mata. "Aku penasaran kenapa di Tim Suwa sangat tenang."

"Mungkin karena tiga dari lima anggotanya adalah kapten?" Kazama berusaha mengingat. Dia ingat Oki memegang peran sebagai sniper. Namun pemuda itu juga sangat tenang, sehingga tidak ada begitu banyak perselisihan yang tak perlu.

Oh, bukankah Oki itu yang bersama Osamu sewaktu tugas berjaga?

"Aku baru ingat, aku bertemu dengan Oki dan juga Mikumo sewaktu bertugas," kata Kazama. "Sepertinya merasa sudah dekat cukup lama, ya."

Makin senewen saja Jin mendengar itu dari Kazama. "Hah, begitu rupanya. Dia juga mampir ke cabang kami beberapa waktu lalu, bahkan mengantar si mata empat pulang. Sejak kapan mereka berteman?"

Kazama diam sejenak. "Kau yakin mereka hanya berteman?"

"Hei."

"Maaf, maaf. Hanya saja, ketika melihatnya sendiri, aku tak percaya mereka cuma teman."

"Apa maksudmu?"

Kazama lalu menceritakan apa yang terjadi waktu itu. Jin yang mendengarnya hanya berkedut kesal. Hah. Benar-benar, ya … bahkan si sniper itu selalu mencoba mencari kesempatan dalam kesempitan. Kenapa Osamu tak kunjung sadar juga akan modusnya?

Tampaknya dia harus melakukan sesuatu. Tapi apa? Suara darinya saja takkan berpengaruh.

Jin kemudian melihat-lihat penilaian dari anggota peringkat A yang lain. Dia terhenti pada penilaian Kazama dan terbahak-bahak.

Ternyata dia tidak sendiri, ya?

 

***

 

Osamu cukup baik dengan penyesuaian karakter neighbor.

Aturan baru dalam simulasi pertempuran adalah mereka harus membuat pion neighbor dengan menggunakan budget sesuai level trion masing-masing. Osamu sama sekali tidak kesulitan dan berhasil memikirkan model yang efisien. Karena jumlah poin modal juga terbatas, jadi hanya bisa dilakukan jika situasinya tepat saja.

Yang paling mengejutkan tentu saja adalah punya Hyuse. Karena bisa terbang meski tubuhnya besar. Benar-benar mempertaruhkan segalanya pada pion itu. Tapi idenya cukup bagus, yakni sebagai pengawasan daerah sekitar. Selain itu, ukurannya juga bisa menjadi faktor intimidasi.

Beruntung pertandingan mereka membuahkan hasil yang manis. Tim Suwa kini berada di peringkat pertama untuk simulasi pertempuran dengan neighbor. Hal itu sontak membuat semua orang terkejut. Padahal sebelumnya tim mereka selalu berada di posisi tengah. Bisa dikatakan ini adalah gabungan antara strategi dan juga kesempatan yang bagus untuk unjuk gigi.

Tentu saja semua anggota tim Suwa sangat senang dengan pencapaian itu. Mereka merasa kerja keras akhirnya dapat terbayarkan. Bahkan meski ini hanya kemenangan sehari, namun sangat berarti untuk menyulut semangat mereka.

Lalu sekarang diadakan evaluasi kapten untuk membagi lima ratus poin kepada anggotanya. Osamu tidak berharap banyak, bahkan jika harus dibagi rata pun, ia tak keberatan. Namun Suwa punya pandangannya sendiri.

"Aku akan memberikan lima ratus poin untuk Mikumo. Diskusi selesai."

Yoko adalah yang paling terkejut dan menentang hal itu. Osamu paham, tapi ketika Suwa bertanya, apa keinginannya? Tentu saja dia tak menolak. Osamu menginginkan poin sebanyak yang bisa dia raih. Bagaimana pun, itu kemungkinan akan menutup kekurangannya saat simulasi pertempuran yang nyata.

Walau demikian, dia sempat bertanya pada yang lainnya. Terutama Oki yang tidak keberatan sama sekali. Suwa juga menjelaskan jika ini adalah untuk menyeleksi orang-orang yang akan ikut dalam misi ekspedisi menjelajah neighbor. Hampir semua anggota timnya tidak berminat untuk itu.

Yoko bertanya, "Apa kau baik-baik saja dengan ini, Oki? Ui juga. Bukankah ini akan menghilangkan kesempatan kalian untuk mendapatkan bonus?"

Ui bilang itu adalah evaluasi kapten, jadi keputusan Suwa telah mutlak. Sedangkan Oki juga kurang lebih memikirkan hal yang sama.

"Aku juga tidak tertarik mengikuti misi ekspedisi."

Osamu bingung. Mau bicara juga rasanya canggung. Apa yang harus dia katakan?

Suwa memberikan hak seratus poin kepada Yoko supaya tak terjadi perselisihan karena dia terus mengomel, kemudian perempuan itu menulis sesuatu. Entah bagaimana pembagiannya, dan Osamu masih tetap memegang poin tertinggi.

Ia … benar-benar sangat berterima kasih karena semua rekannya di tim ini begitu pengertian. Akan ia ingat kebaikan mereka semua dan membalasnya suatu hari nanti. Bagaimana pun, semua poin itu diraih karena mereka semua juga rela memberikannya.

Pada akhirnya, tim Suwa menempati peringkat ketiga dari seluruh simulasi. Hasil yang sangat bagus, kalau boleh dibilang. Mereka sendiri juga tak mengira akan menjadi tiga tim teratas.

Aturan untuk fase dua juga telah keluar. Namun masih belum ada banyak hal yang mereka ketahui. Seiring waktu, regulasi juga pasti akan ditambah lagi. Untuk sementara, mereka sebaiknya beristirahat dulu sebelum esok tiba.

Hari ini Osamu mendapat Oki lagi sebagai rekan sekamarnya. Bukan hal buruk, tapi rasanya ingatan Osamu tentangnya sudah berbeda sekarang. Agak canggung dan gugup, walau demikian, dia turut menanyakan beberapa hal terkait pembahasan hari ini.

"Apa menurutmu tidak banyak anggota rank B yang ingin mengikuti ekspedisi ini?"

"Aku tak berpikir sejauh itu," kata Oki. "Jika dibandingkan dengan olahraga, mungkin semacam mengikuti turnamen nasional, atau bertindak sebagai representasi Jepang ke dunia."

Benar. Kebanyakan orang takkan memikirkan hal sampai sejauh itu. Namun Osamu tetap saja ragu, apakah keputusan ini baik-baik saja dan takkan membuat yang lain memandanginya aneh?

"Kenapa kau sedih begitu?" tanya Oki. "Apakah evaluasi kapten masih mengganggumu?"

"Yah, itu juga termasuk."

"Bisa dibilang, kita ini adalah tipe yang akan pergi dengan seluruh anggota, bukan? Tapi dalam kasus ini kau dan timmu yang memiliki hak, karena berhasil mencapainya secara adil di pertempuran peringkat. Jadi jangan merasa terlalu buruk soal itu."

Soal Yoko juga, masih agak mengganggu Osamu. Namun Oki menyakinkan dirinya bahwa semua itu tidaklah seperti asumsinya. Bonus itu terjadi karena alasan lain, bukan regulasi yang ditetapkan sejak awal.

"Aku juga masih mampu memenuhi kebutuhanku dengan cara lain."

Osamu tahu Oki mengatakan yang sebenarnya. Namun baginya, konotasinya terdengar aneh dan rancu. Bagaimana mengatakannya? Mirip seperti pria yang mengatakan hal itu pada istrinya supaya tidak khawatir.

Tidak, tidak. Osamu tidak boleh berpikiran begitu. Dia pasti sudah gila karena belakangan terus memikirkan Oki dan juga sikapnya yang ambigu itu. Sejauh ini pun, tidak ada kejadian apa-apa.

Tunggu. Kenapa itu terdengar seperti Osamu yang mengharapkan terjadi 'apa-apa' di antara mereka?

"Aku menghargai ucapanmu, tapi …. "

Oki melihat tampaknya Osamu masih merasa terbebani dengan banyak hal. Yah, sebagai seorang kapten, pasti ada banyak hal yang dipikirkan, bukan? Mungkin Oki bisa membantunya sedikit.

"Apa kau pernah berkunjung ke rumah anak-anak milik Border?"

"Apa?" Osamu terkejut. Baru kali ini dia mendengar hal tersebut.

Oki kemudian menjelaskan secara singkat, itu adalah tempat di mana anak-anak yang kehilangan keluarganya akibat invasi neighbor ditampung oleh Border.

"Sepertinya sudah agak lama sejak aku mulai berkunjung ke sana."

Raut Oki tampak lebih cerah ketika membicarakannya. Mungkin dia sangat suka bekerja di sana. Namun sedetik kemudian, parasnya berubah menjadi sendu. Bercerita jika anak-anak itu juga sempat tidak ingin diajak bermain. Alasannya, karena mereka mungkin takkan bertemu lagi.

Osamu tidak tahu harus berkata apa.

"Akhirnya aku berusaha untuk tetap berkunjung saat hari liburku. Lama-lama, mereka jadi terbiasa, dan sekarang sudah satu setengah tahun aku selalu datang."

Osamu paham. Mungkin karena kerja keras Oki lah, akhirnya anak-anak di sana menerima keberadaannya. Syukurlah jika demikian.

Pemuda itu kemudian menceritakan jika anak-anak itu bertanya kepadanya saat muncul di televisi, karena tak bisa mengenalinya. Kamera kadang juga tidak menangkap gambar secara jelas, apalagi untuk sniper sepertinya yang biasa bersembunyi di tempat tinggi.

"Kau tahu bagaimana tubuh trionku punya topi visor? Ide itu datang dari temanku di rumah anak-anak."

Oki tersenyum lebar. "Mereka bilang bisa mengenali Taichi dari tim Suzunari dengan mudah dan memintaku mencari aksesoris khasku sendiri."

"Oh, begitu."

Anak-anak memang sulit ditebak apa maunya. Osamu tidak heran.

"Daripada aku berperan sebagai pahlawan, aku lebih ingin menjadi seorang kakak yang selalu ada untuk mereka."

Jadi … Oki suka dengan anak-anak? Lalu kenapa dia mendekatinya—akh, Osamu menyimpulkannya sendiri lagi seperti ini. Padahal Oki hanya menceritakan pengalamannya saja.

Oki lalu menambahkan, bahwa dia hanya anak tunggal dan ingin selalu punya saudara. Bahkan melawan Chika amat terasa sulit baginya. Sekarang misteri soal itu akhirnya terpecahkan.

Rupanya Oki juga memiliki motivasi yang kuat, hanya saja bukan untuk mengikuti ekspedisi. Mungkin dia lebih suka hal-hal kasual seperti mengunjungi rumah anak-anak milik Border. Bentuk kebahagiaan yang sangat sederhana.

"Sepertinya kau suka sekali dengan anak-anak, ya," komentar Osamu.

"Kurang lebih, begitulah. Menjadi kakak kupikir juga menyenangkan?"

Jika kau sesuka itu dengan anak-anak, lalu kenapa kau menyukaiku?

Osamu yakin dengan asumsinya, semua ucapan dan tindak-tanduk Oki begitu jelas sekarang. Tapi pemuda itu tak pernah berkata apa-apa, jadi dia pun diam saja. Osamu tidak ingin dinilai terlalu percaya diri atau semacamnya. Lagipula, prioritasnya sekarang adalah mengikuti ekspedisi.

"Kalau dipikir, kita mungkin juga takkan bertemu lagi," kata Osamu tiba-tiba. "Misi ekspedisi akan memakan waktu yang lama dan aku juga tidak tahu apa yang akan terjadi padaku."

"Sebaiknya kau jangan terlalu pesimis. Bukankah akan banyak anggota rank A yang kemungkinan ikut juga?"

"Benar, tapi tidak ada jaminan untuk itu, kan?"

Oki terdiam.

Dia menyadarinya. Saat Osamu pergi, dunianya akan kembali seperti semula. Rutinitas seperti berlatih, atau mungkin mengunjungi anak-anak.

Bukan seperti Oki ingin menyatakan perasaannya sekarang juga, sih. Sekali pun iya, dia tahu itu hanya akan membebani Osamu nantinya selama di perjalanan ekspedisi, atau mungkin dalam seleksi ini. Oki lebih tidak ingin melihat Osamu yang kacau.

Baginya, Osamu yang memiliki ambisi jauh lebih menarik. Dia juga menantikan hari di mana pemuda itu akan terpilih. Dan walau jarak mereka terpisah jauh, masa depan bagi keduanya mungkin masih ada.

"Masa depan memang tidak pasti, aku setuju. Tapi aku yakin kau akan baik-baik saja. Kenaikan peringkat timmu itu juga karenamu, kan? Jadi percayalah pada dirimu sendiri."

Oki tersenyum lebar. Begitu menyilaukan seperti mentari. Osamu belum pernah disemangati seperti itu. Semua orang hanya akan bilang bahwa dia punya kekuatan sendiri, tapi tidak dengan percaya pada itu. Ucapan Oki sedikit membuatnya lega.

"Oki-san, terima kasih," katanya. Osamu membalas senyumnya dan membuat Oki tertegun di tempat.

"Apa kau selalu semanis itu saat tersenyum?"

Osamu berkedip. "Apa?"

"Kau manis."

Osamu tidak ingin salah paham, tapi ia tahu jika Oki tak berdusta sama sekali. Justru itu yang membuat hatinya kacau. Debaran yang telah lama tak dirasakannya, kini muncul kembali.

Mungkin Oki juga tahu bahwa dia telah menyadarinya, lalu apa? Pemuda itu juga tak menyatakan perasaannya, bagaimana bisa Osamu meresponsnya?

Bila saja dunia ini tidak terkena invasi neighbor, mungkin mereka akan bertemu secara biasa. Seperti saat Oki menyelamatkan dirinya waktu itu. Dan Osamu pun tidak tahu, apakah dunia yang seperti itu … lebih baik daripada saat ini?

Tentunya, tanpa serangan neighbor, mungkin masih ada beberapa tindakan kriminal yang terjadi. Namun mereka tak akan pernah jadi sedekat ini, bahkan sampai bicara tentang diri masing-masing. Osamu merasa dia nyaman menceritakan resahnya pada Oki, semua beban di pundaknya seperti terangkat begitu saja.

Andaikan saja hari-hari itu terus berlanjut, mereka dapat merajut masa depan bersama. Melakukan hal-hal 'biasa'. Sederhana, namun penuh kebahagiaan.

Ah, jadi begitu. Osamu mengerti sekarang tentang apa yang dirasakan olehnya. Perasaan ganjil yang selalu muncul ketika bersama dengan Oki.

Mungkin saja … dia juga telah jatuh hati padanya.

 

***

 

Pagi itu, tim Suwa bersiap menuju ke fase dua.

Semua anggota sudah sarapan dan mengecek kembali peralatan mereka. Setelah semua siap, Suwa memimpin di depan.

"Ayo kita jalan."

"Aku merasa agak sedih kita harus meninggalkan tempat ini," kata Oki.

Osamu ingin sependapat, tapi tidak juga. Bersama tim ini telah membuatnya mendapat banyak pengalaman baru. Dan tentunya pasti berguna untuk timnya juga kedepannya.

"Jangan bicara sembarangan," ucap Osamu pada akhirnya. Menyembunyikan sedikit rasa malunya. Apalagi setelah mengingat semalam. Dia benar-benar sangat lambat dalam menangani permasalahanya sendiri, bahkan baru menyadari perasaannya setelah beberapa waktu Oki terang-terangan modus seperti itu.

Yoko dan Ui mengikuti, begitu pula Osamu. Dia sudah sangat siap mengikuti fase ini, meski kemungkinan nilainya rendah untuk penilaian individualnya. Tapi dia akan berusaha sekeras mungkin, supaya dapat terpilih menjadi anggota ekspedisi.

"Kalau keberatan, biar aku bantu bawa," kata Oki, melihat Osamu membawa tas yang ukurannya lumayan.

"Tidak apa-apa, aku—"

Oh. Osamu ingat jika ini mungkin semacam refleks Oki, ingin bertindak sebagai seorang kakak. Walau dia tahu bukan itu pula maksudnya. Ini hanya akal-akalannya saja, kan?

Tapi, sudahlah.

Osamu pun memberikan tasnya. Oki tampak senang-senang saja menerimanya.

"Baiklah, terima kasih, Oki-san."

"Kau bisa bergantung padaku kapan saja, Mikumo-kun."

Pipi Osamu memanas. Apakah pesona lelaki tampan memang selalu seperti ini? Curang sekali. Bahkan meski Oki tidak mengatakan apa-apa, Osamu sepertinya tahu apa yang tengah ia pikirkan.

Walau begitu, Osamu bersyukur karena bertemu dengannya.

Entah bagaimana masa depan akan berjalan, dia akan mengusahakan yang terbaik. Supaya ketika kembali ke sini, dia bisa melihat senyum lebar sang sniper.

Atau mungkin … seseorang yang kini menjadi spesial baginya.

Series this work belongs to: