Actions

Work Header

Be There For You

Summary:

Renjun cuma mau ketenangan setelah hari yang panjang, tapi Haechan nggak bisa berhenti hadir di sekitarnya. Konflik, kesalahpahaman, dan ketulusan akhirnya membawa mereka pada pelukan hangat—dan ciuman pertama yang menenangkan hati.

Notes:

^_^ Pls read tags carefully

Work Text:

Renjun masuk apartemen dengan langkah berat, tasnya hampir jatuh dari bahu. Seharian tadi dia udah ketemu banyak orang, ngejar deadline, plus diskusi panjang yang bikin kepalanya panas. Jujur aja, yang dia pengen sekarang cuma ketenangan. Tidur. Tanpa suara siapa pun.

Sayangnya, begitu pintu kebuka, suara itu langsung nyambut.

“Jun! Akhirnya! Aku udah nungguin kamu dari tadi,” teriak Haechan sambil duduk di karpet, remote TV di tangan. Dia semangat banget, kayak nggak ada kata capek dalam kamus hidupnya.

Renjun berhenti sebentar, menarik napas dalam-dalam. “Haechan… bisa nggak… jangan berisik dulu?” suaranya pelan tapi tegas.

Haechan ngedip, agak kaget. Biasanya kalau Renjun pulang, paling cuma lempar komentar sarkas terus duduk bareng. Kali ini auranya beda.

“Aku cuma mau nyapa,” Haechan muter sedikit ke arah Renjun, senyum tipis tapi matanya masih cerah. “Eh, gimana kalau kita makan bareng? Aku udah order ayam—”

“Chan.” Renjun mendadak nyetop, suaranya naik setengah oktaf. “Aku capek. Aku nggak mau ngobrol, nggak mau makan, nggak mau denger suara kamu. Aku cuma mau… sendiri.”

Hening.

Biasanya Haechan bakal ngebalas dengan lelucon atau pura-pura tersinggung. Tapi kali ini dia diem. Tatapan cerahnya sedikit meredup, tangannya masih pegang remote tapi berhenti gerak.

Renjun langsung ngerasa bersalah tapi tubuhnya udah keburu rebahan di sofa, yang posisinya di belakang Haechan. Dia nutup mata, berharap Haechan berhenti ganggu. Beberapa menit kemudian, dia sadar ada selimut yang ditaruh di atas badannya. Nggak ada suara lagi, nggak ada ocehan usil. Haechan cuma duduk di karpet, matanya nempel ke layar TV tapi jelas nggak benar-benar nonton.

 

Dan entah kenapa, itu bikin Renjun makin kepikiran.

 

Biasanya, meski Renjun bilang berisik, ada aja suara Haechan nyanyi kecil, komentar random, atau sekadar bunyi tawa. Tapi kali ini… nggak ada apa-apa.

Renjun berusaha tidur, tapi bukannya tenang, kepalanya malah makin berisik. Selimut yang tadi ditaruh Haechan justru bikin dia ngerasa bersalah.

Dia ngintip sedikit. Haechan masih duduk di karpet, remote di tangan, tapi nggak tekan tombol sama sekali. Biasanya kalau Renjun udah ketiduran, Haechan bakal nyeletuk sesuatu atau malah motoin diam-diam. Tapi sekarang sunyi. Suara tv juga udah dimatiin sama Haechan.

Renjun geser posisi, pura-pura cari posisi nyaman. Tapi malah jadi resah. Hatinya nggak enak.

“Haechan,” panggilnya pelan.

Nggak ada jawaban.

Renjun menghela napas, agak kesal tapi juga cemas. “Kamu marah ya?”

Haechan akhirnya noleh, senyumnya tipis banget—senyum yang lebih mirip formalitas daripada asli. “Nggak kok. Kamu capek kan? Ya udah, aku diem aja.” Suaranya tenang, tapi justru terasa asing buat Renjun.

Dan itu aneh. Aneh banget.

Renjun duduk setengah, matanya masih berat tapi pikirannya gelisah. “Aku… nggak maksud buat nyuruh kamu diem beneran.”

“Ya udah, nggak apa-apa,” potong Haechan cepat. Dia kembali menatap TV, pura-pura sibuk. Tapi nada suaranya jelas dingin, jauh dari Haechan yang biasanya.

Renjun jadi makin nggak tenang. Energi ribut Haechan yang biasanya bikin dia kesel, sekarang justru dia kangen dalam hitungan menit. Apartemen yang terlalu sunyi rasanya malah bikin Renjun nggak bisa napas lega.

 

Renjun akhirnya bangun dari rebahannya. Kepalanya masih berat, tapi hatinya jauh lebih berisik dari tadi. Dia bener-bener nggak tahan lihat Haechan yang diem begini.

“Serius. kamu marah? Ngabek nih?” tanya Renjun lagi, kali ini suaranya lebih tegas.

Haechan masih nggak noleh. “Aku bilang nggak apa-apa.”

“Ya terus kenapa diem gitu?”

“Aku cuma nggak mau ganggu kamu. Tadi kamu bilang kan, jangan berisik. Jadi ya udah, aku diem.” Jawabannya datar, tapi jelas ada nada tersinggung yang nggak bisa disembunyiin.

Renjun mendengus, nyari kata-kata yang pas tapi malah keluar dengan nada tinggi. “Chan, aku lagi capek banget. Seharian udah ketemu orang, denger suara ini itu. Aku pulang cuma mau istirahat. Kamu ngerti nggak sih? Kenapa dikit-dikit ngambek sih? Bukannya malah bikin lega, kamu bikin aku tambah pusing, ribet.”

Kata-kata itu meluncur lebih cepat dari yang dia kira. Begitu sadar, Renjun langsung terdiam.

“...Oh, jadi menurut kamu aku ribet, ya? Oke, noted.” Haechan bilang gitu sambil senyum tipis, tapi matanya berkaca-kaca. Bukan nangis heboh, cuma mata yang udah penuh air, kayak kalau kedip sekali aja bisa langsung jatuh.

Dia buru-buru balik badan lagi, tatapannya ditempelin ke layar TV yang bahkan dari tadi nggak dia tonton. Remote di tangannya digenggam erat, seolah itu cara terakhir biar dia nggak kelihatan rapuh.

Renjun nggak lihat itu. Dari posisinya, dia cuma ngeliat punggung Haechan. Jadi yang keluar dari mulutnya adalah sisa kekesalan yang belum reda.

“Kamu tuh kenapa sih, Chan? Aku pulang capek banget, yang aku butuh cuma tenang. Tapi kamu malah ngambek cuma gara-gara aku bilang jangan berisik. Harusnya kamu ngerti, dong. Bukannya malah bikin tambah ribet.”

Suara Renjun agak meninggi, terdengar seperti “ceramah” panjang yang keluar karena saking ruwetnya isi kepalanya.

“Kalau aku bilang capek, ya tolong jangan dipikirin aneh-aneh. Aku bukan nggak mau ngobrol sama kamu. Aku cuma butuh waktu. Kamu ngerti nggak? Atau harus aku jelasin lagi, tiap kali?”

Haechan masih nggak nyaut. Dia menggigit bibir bawahnya, nahan biar air matanya nggak jatuh. Ada rasa sakit yang ngumpul di dada—kenapa jadi gini sih, niat dia awalnya bukan begini...

Renjun ngelihat ke arah Haechan, tapi cuma punggungnya yang kelihatan, tegak dan kaku. Karena itu, dia nyangka Haechan lagi ngambek.

Renjun geser duduk, nadanya makin terdengar seperti orang ngejelasin panjang lebar, padahal intinya cuma dia lagi nyalurin lelahnya.

“Kamu tuh, Chan, kadang suka nggak peka. Aku kan udah kasih tanda kalau aku lagi capek, tapi kamu masih aja nyodorin energi kamu. Aku ngerti kok kamu tipe orang yang rame, tapi tolonglah, jangan selalu nganggep semua orang bisa ngikutin ritme kamu.”

Dia berhenti sebentar, lalu melanjutkan lagi, suaranya makin berat.
“Dan jujur ya… ini bukan sekali dua kali. Kadang aku juga capek kalau kamu dikit-dikit mau diperhatiin, dikit-dikit butuh respon. Aku juga manusia, Chan. Aku nggak bisa selalu kasih energi yang sama kayak kamu. Aku punya hari di mana aku cuma pengen diem, ngerti nggak?”

Haechan meremas remote di tangannya makin kencang. Matanya makin basah, tapi dia masih berusaha keras nahan, pura-pura fokus ke layar.

Renjun menghela napas panjang, tapi bukannya reda, kata-katanya justru makin deras. “Terus… kalau aku kebetulan lagi nggak sesuai ekspektasi kamu, kamu malah ngambek. Aku yang harus muter otak buat balikin suasana. Padahal aku udah berusaha keras loh buat nyesuaiin diri sama kamu. Kadang aku mikir, ini aku yang terlalu sabar atau kamu yang terlalu manja?”

Kata itu keluar begitu aja, tanpa filter. Dan begitu meluncur, Renjun langsung sadar, tapi egonya keburu menahan.

Haechan menunduk sedikit, menggigit bibir sampai pucat. Air matanya hampir jatuh, tapi dia masih bertahan, bahunya bergetar tipis. Punggungnya tetap menghadap TV, nggak mau kasih Renjun lihat wajahnya sekarang.

Renjun melihat punggung itu, dan karena nggak sadar kondisi Haechan sebenarnya, dia ngira diamnya itu bentuk ngambeknya Haechan. Jadinya, bukannya berhenti, dia malah merasa harus lanjut nyeramahin Haechan.

“Lihat kan sekarang? Kamu diem lagi. Setiap kali aku ngomong serius, kamu langsung nutup diri. Gimana aku bisa ngerti kamu kalau kamu cuma ngasih aku punggung kayak gini?”

Suasana kamar makin tegang. Nggak ada suara selain nada frustrasi Renjun dan detik jam dinding yang terasa lebih keras dari biasanya.

Dan di detik itu, Haechan tahu—kalau dia buka mulut, air matanya nggak akan bisa dibendung lagi.

 

Renjun masih dengan nada frustrasi, tangannya bahkan ikut gerak, seakan lagi ngejelasin panjang lebar. “Ya gini nih, Chan. Kalau ada masalah, kamu tuh diem. Kalau aku capek, kamu malah nuntut aku buat selalu ada di mode siap sedia. Aku juga pengen dimengerti, kenapa cuma aku yang harus ngerti kamu? Nggak adil, tau nggak?”

Suasana masih hening. Renjun narik napas kasar, seolah udah bener-bener mentok.
“Hah… aku capek ngomong kayak gini terus.”

Dia bersandar ke sofa, menutup wajah sebentar dengan telapak tangan. Tapi sebelum hening itu bertahan lama, suara Haechan akhirnya pecah.

“Aku…” suaranya pelan, bergetar, kayak keluar dari tenggorokan yang ketahan lama. Renjun langsung nengadah, kaget karena akhirnya Haechan buka mulut.

“Aku nggak pernah minta kamu harus selalu ngerti aku, Jun,” lanjut Haechan, masih ngebelakangin Renjun. Bahunya kelihatan naik-turun, jelas banget dia lagi nahan sesuatu. “Aku cuma… pengen ada di sisi kamu. Kalau kamu capek, aku pikir… setidaknya aku bisa bikin kamu ngerasa nggak sendirian.”

Dia tarik napas gemetar.
“Tapi kalau kehadiran aku malah bikin kamu tambah capek… kalau semua yang aku lakuin cuma dianggap ribet dan manja… yaudah. Aku…” suaranya makin serak, kayak tali yang hampir putus, “aku nggak tau lagi harus kayak gimana, Jun.”

Renjun tertegun. Kata-kata Haechan tadi menggema keras di kepalanya. Suara bergetar itu… bukan marah.

“Hae…” suara Renjun otomatis melembut, panik. Dia berdiri buru-buru, melangkah ke arah Haechan. “Ya Tuhan, kamu nangis?”

Haechan buru-buru ngusap matanya, punggungnya masih coba tegak. “Aku nggak nangis.” Suaranya parau, jelas-jelas kebalikan dari ucapannya.

Renjun jongkok di depan Haechan, maksa ngeliat wajahnya. Dan begitu dia lihat mata Haechan yang basah, bibirnya yang bergetar, Renjun ngerasa kayak baru ditonjok keras di dada.

“Chan… astaga…” tangannya langsung bergerak nahan tangan Haechan yang masih ngegenggam remote sekuat tenaga. “Aku nggak tahu kamu sedih banget. Aku kira kamu cuma ngambek kayak biasa.”

Haechan menunduk, pundaknya goyah. “Aku… aku cuma pengen nemenin kamu, Jun. Aku pikir itu cukup. Tapi ternyata aku cuma bikin kamu kesel, maaf...”

Renjun langsung geleng cepat, nadanya lembut tapi tegas. “Nggak, bukan gitu, Chan. Aku yang salah. Aku kebawa emosi, aku capek, dan aku asal ngomong. Aku… aku nggak pernah bener-bener ngerasa kamu ribet, apalagi manja.” Dia tarik napas dalam, nadanya tulus banget sekarang. “Aku sayang sama kamu justru karena kamu selalu ada, selalu rame, selalu bikin suasana hidup. Aku cuma… lagi bodoh banget barusan.”

Dia taruh remote dari tangan Haechan, lalu genggam jemarinya erat. “Aku janji, aku nggak akan ngomong kayak tadi lagi. Aku nggak mau bikin kamu ngerasa nggak cukup, apalagi bikin kamu nahan nangis sendirian.”

Renjun naikkan tangan, usap perlahan pipi Haechan yang masih basah. “Jangan tahan sendiri lagi, ya. Kalau sakit hati, bilang ke aku. Jangan diem. Aku nggak tahan ngeliat kamu gini.”

Haechan akhirnya ngangkat wajah, matanya merah tapi masih indah buat Renjun. “Jun…” suaranya lirih.

Renjun nggak nunggu lama. Dia narik Haechan ke pelukannya, erat, seolah takut kalau dia lepas sedikit aja, Haechan bakal hancur. “Aku ada di sini. Aku nggak akan biarin kamu ngerasa sendiri. Maafin aku, Chan.”

Haechan nempel di dada Renjun, napasnya mulai beraturan, tapi masih terdengar sedikit terisak. Renjun peluk dia lebih erat, tangan satu tetap di punggung Haechan, satu lagi mengelus rambutnya pelan.

Setelah beberapa detik, Renjun menunduk, muka Haechan masih nempel di dadanya. Dia geser perlahan, menatap mata Haechan yang sekarang memerah tapi penuh kepercayaan. “Aku nggak mau cuma bilang sayang… aku mau nunjukin juga.”

Haechan menatap balik, bibirnya sedikit gemetar. Renjun senyum tipis, lembut, lalu menempelkan bibirnya ke Haechan. Ciuman itu pelan, hangat, penuh ketulusan. Haechan menutup mata, membalasnya perlahan, seolah ngerasain semua rasa lega, rindu, dan cinta yang selama ini tertahan.

Ketika mereka akhirnya melepaskan ciuman, Haechan tersenyum kecil, masih nempel di dada Renjun. Renjun mengelus punggungnya, senyum tipis tapi penuh cinta. “Aku di sini. Selalu buat kamu.”

Dan untuk pertama kalinya malam itu, apartemen mereka terasa hidup lagi, bukan karena tawa atau suara ribut, tapi karena kehangatan yang hanya mereka berdua bisa rasain, di pelukan satu sama lain.