Work Text:
Lenggang gendhing terputar merdu di radio jadul yang masih saja setia menggunakan kaset tape untuk sumber suaranya. Bukan tidak mengikuti zaman, namun hanya memanfaatkan apa yang masih ada. Alunan demi alunan terlantun indah menyentuh jiwa. Begitu pula dengan dua sejoli yang menari dengan anggun mengikuti irama gendhing Tari Karonsih.
Tari Karonsih meceritakan tentang kisah cinta sejati antara Panji Asmara Bangun dengan Dewi Sekartaji yang penuh kerinduan, penantian, dan ujian. Tari Karonsih melambangkan kesetiaan antara sepasang kekasih yang akhirnya bertemu setelah sekian lama berpisah. Penari Panji Asmara Bangun biasanya memiliki dedeg yang tinggi, gagah, dan tegap. Terlihat tampan dan perkasa. Sedangkan Penari Dewi Sekartaji biasanya ditarikan oleh perempuan yang luwes, lencir, ramping. Terlihat cantik dan menawan.
Harusnya….
Namun kali ini berbeda. Di aula utama sebuah gedung sanggar sedang menampilkan dua anak adam yang sedang berlatih Tari Karonsih. Aneh? Tidak juga. Di seni, hal ini bukanlah masalah besar yang harus diperdebatkan. Banyak juga perempuan yang menarikan Buto Cakil, dan banyak juga laki-laki yang menarikan Tari Gambyong.
Panji Asmara Bangun menari dengan gagah, lincah, tetapi tetap halus, tiap gerakannya menyampaikan pesan-pesan yang mendalam. Begitu pula Dewi Sekartaji yang menari dengan lembut dan menyentuh hati, liukan tubuh yang luwes dengan samparan yang ada pada jarik terlihat menawan jika mata memandang.
Srisig terlihat yang artinya sudah berada di ujung tarian. Senandung dengan anggunnya telah keluar dari area panggung disusul dengan Kenan di belakangnya. Tepukan tangan terdengar dari beberapa warga sanggar yang kala itu berada di aula kala dua penari kebanggaan telah menyelesaikan tarian.
“Minum sek Ken, Sen.”
“Nggih Budhe, suwun.”
Tawaran minum diberikan oleh pelatih tari yang saat itu kebetulan berada di sanggar. Beliau adalah Budhe Laksmi yang mungkin tahun ini sudah menapaki usia 59 tahun. Walau begitu, beliau masih sangat sehat, bugar, dan pastinya sigrek. Tari Karonsih kali ini akan ditampilkan di depan pak Bupati untuk sambutan.
Mbak Yuni adalah salah satu penari senior kebanggaan. Harusnya ia yang menari dan memerankan Dewi Sekartaji di tarian ini. Namun karena hari sambutan pak Bupati berlangsung bertepatan pula dengan hari kelulusannya, jadi Mbak Yuni tidak bisa menari pada kesempatan kali ini.
Mengapa lelaki yang dipilih? Apakah tidak ada perempuan sampai-sampai pemeran perempuan harus diperankan dan ditarikan oleh laki-laki?
Jawabannya adalah satu. Tidak semua penari memiliki rasa dalam menari. Wiraga, wirama, wirasa. Wiraga adalah gerakan penari mulai ujung kepala hingga ujung kaki. Wirama adalah keselarasan gerakan tari dengan alunan gendhing. Wirasa adalah penghayatan, ekspresi, dan rasa yang ditunjukkan untuk lebih menghidupkan tarian.
Sebut saja ia Sena. Cowok ganteng sekaligus cantik itu punya nama lengkap Senandung Kidung Mustika. Jika dilihat, nama tersebut lebih cocok untuk orang yang terjun di seni musik. Memang benar, Ibu Sena adalah seorang sinden, dan Bapak Sena adalah seorang musisi keroncong dengan spesialis pemegang cak dan cuk. Sedangkan Sena sendiri lebih memilih untuk terjun ke seni tari.
Berbekal darah seni dari kecil, membuat Sena lebih membaur dengan hal berbau seni. Meski tidak seni tari totok tapi adalah darah seninya. Lagi pula Ibunya pasti bisa menari, walau sedikit.
Sena bukan orang yang kemayu, dan lembek. Ia selayaknya laki-laki pada umumnya. Yang menjadi pembeda, Sena bukan orang yang jaim. Ia akan menumpahkan segala kemampuannya untuk membuat lebih indah sebuah tarian.
Bagi Sena, dalam menari tidak ada batasan gender. Entah mau perempuan atau laki-laki, selagi kamu mau belajar dan mencoba, ku kira tidak akan menjadi masalah. Karena sudah berpengalaman menari sedari kecil, membuat Sena sudah menyatu dengan gerak tari, alunan musik, dan penghayatan yang otomatis keluar dan menyesuaikan dengan tarian.
Sena lebih cocok dengan tari alusan entah itu tarian yang biasa ditarikan oleh perempuan maupun laki-laki. Sena bisa tari gagahan namun jika Ibu bilang “Dek dek, makanmu itu lho mbok ya dibanyakin. Katanya pengen nari Ramayana terus jadi Rahwana. Kalo kurus gini yang ada kalah sama Anoman to?" Begitu kata Ibu.
Ya memang, perawakan Sena yang langsing, ramping, dan tidak terlalu tinggi untuk ukuran laki-laki sangat mendukung Sena untuk menarikan tari alusan saja. Sampai-sampai kini, ia harus menarikan tarian yang biasanya ditarikan oleh seorang perempuan.
Bersama Kenan lagi.
Tak pernah terbesit di pikiran Sena untuk pentas Tari Karonsih bersama Kenan. Dan ia berperan sebagai perempuan. Sena tidak masalah, sungguh. Ia bahkan lebih sering menghabiskan waktunya untuk mengajari tari klasik kepada anak perempuan sebayanya atau dibawahnya. Yang menjadi masalah adalah di Kenan.
Pemilik nama Kenandra Wisanggeni Priagung Bagaskara itu, cowok hitam manis, dengan senyum menawan, memiliki badan yang atletis dan tinggi tegap. “Ngguanteng e sundul langit." Kata Mbak Yuni hiperbola. Ia adalah adik kelas Sena semasa SD, lalu dipertemukan kembali saat SMA.
Kenan lahir dengan darah seni juga. Bahkan kedua orangtuanya merupakan penari. Berbeda dengan Sena, keinginan Kenan untuk mendalami seni sayangnya baru ia temukan akhir-akhir ini. Saat SMA kelas 10 ia bertemu kembali dengan Sena dan pada akhirnya ia baru ada keinginan untuk mendalami seni tari. Saat SD padahal sudah diikutkan ekstrakurikuler tari, tapi yang namanya bocah masih labil, kan?
Karena memang sudah ada darah seni, latihan dalam waktu kurang dari tiga bulan pun gerak tarian Kenan sudah terbentuk. Wiraga, Wirama, Wirasa seakan sudah menyatu dengan Kenan. Memang beda kalau sudah bakat dari kecil. Ditambah ada keturunan seni pula.
Kini Kenan dan Sena masih berada di aula tempat tadi berlatih. Beberapa orang sudah mulai berkurang karena sudah malam. Tinggal mereka berdua dan Budhe Laksmi saja yang sedang berbincang sedikit dengan salah satu orangtua murid di sanggar.
“Kak Na, napa igh kamu tu? Bengong wae perasaan."
"Nggak bengong, cuma kepikiran aja.“
“Mikirin apa sih, Senaku Cah Ayuku…"
"Heh sing sopan! Aku lho lebih tua! Nek manggil yang bener DEK!”
Tawa Kenan terdengar sepanjang ocehan Sena, tambah lagi saat Sena sengaja menekan kata “DEK!” kepadanya. Tidak salah juga, karena pada dasarnya Kenan adalah adik kelas Sena.
"Iyaa, maaf nggih Cah Ayu… “
Panggilan ini sudah biasa Kenan lantunkan saat hendak memanggil Sena. "Cah Ayuku”, “Kak Nanaku”, “Kak Sena sayangku”. Mereka sudah menjalin hubungan saat Kenan berada di kelas 10 semester 2 dan Sena berada di kelas 11 semester 2. Dan kini Sena berada di kelas akhir, sedangkan Kenan masih berada di kelas 11.
Jika bukan karena Kenan yang ikut masuk ke sanggar yang sama dengan Sena, mungkin mereka tidak akan bisa berpacaran? Mereka menjalin hubungan pun karena lebih sering menghabiskan waktu di sanggar, berlatih tarian bersama, saling menemani mengerjakan tugas sekolah di sanggar, dan masih banyak lagi.
Sena itu lemah kalau soal Kenan. Adik kelas yang kepalang ganteng itu sudah merebut hatinya. Memang benar kata orang-orang, pesona berondong itu mematikan banget.
Makanya kini Sena kepikiran, bisa gak ya dia nari tanpa ada salah pas pentas besok?
Ditatap Kenan saja Sena masih sering salah tingkah tidak karuan dan bikin hilang fokus. Bagaimana nanti saat pentas sungguhan? Sena takut jadi pengacau.
“Oh ya pantes, siapa sih yang gak gemeteran pas duet tari sama cowok secakep aku?“
Kepedean, tengil, nakal. Itulah Kenan, banyak-banyak sabar memang harus dilakukan oleh Sena untuk menghadapi kekasih berondongnya itu.
“Opo sih, mboh ah karepmu Ken!"
Jawab Sena sambil merapikan kembali barang-barang lain untuk dimasukkan ke dalam tas dan langsung beranjak berdiri dan menuju ke Budhe Laksmi untuk salim.
"Guyon kak— eh tunggu sek ta…“
Pun kini mereka sudah berada di parkiran. Sudah pamit kepada Budhe Laksmi dan sudah siap untuk pulang ke rumah. Kebetulan rumah mereka searah, dan tiap latihan tari di sanggar, Kenan selalu menjemput Sena dan berangkat bersama menggunakan Vario hitam milik Kenan yang baru saja dibelikan oleh Ayah.
Mentang-mentang sudah 17 tahun, Ken…
Udara malam berhembus, di jalan masih ramai-ramainya walau jam kini sudah menginjak pukul 22.30 malam. Tangan Sena biasanya melingkar indah di pinggang Kenan, namun karena Ia masih sedikit jengkel, jadi Ia urungkan itu. Gengsinya besar.
"Kak…“
"Kak Na…”
Tidak ada jawaban dari sang pemilik nama.
“Kak Nana, Cah ayuku…" Ucap Kenan lebih halus, lebih berperasaan sambil mengarahkan tangan kirinya ke belakang guna mencari keberadaan tangan Sena.
Dapat.
Kenan tarik pelan tangan Sena untuk dapat berpegangan pada pinggangnya. Tak menolak, Sena pun merapatkan diri dan kini memeluk Kenan seperti yang biasa ia lakukan saat sedang berkendara bersama kekasihnya ini.
Kenan sudah paham betul, kalau Sena sedang ngambek begini pasti bakal gengsi mau peluk. Harus Kenan dulu yang memulai baru mau deh Sena. Dan benar kan? Sena tidak menolak perlakuan Kenan. Malahan merapatkan diri demi mencium aroma Kenan dari belakang.
"Maaf ya kak Sena, bercanda aja tadi Kenan. Kakak jangan banyak pikiran gitu ya? Kenan yakin kok kalo kakak bisa. Nyatanya yang dipilih buat nari itu kakak, tandanya emang kakak yang harusnya nari dan kakak pasti mampu. Oke?“
Tenang Kenan sambil mengelus punggung tangan Sena lembut dengan ibu jari tangan kirinya. sesekali ia mainkan pula gelang yang bertengger indah di tangan Sena.
"Iya sayang, makasih ya adek ganteng.“
“APAA? COBA LAGI YANG KERAS, AKU NGGAK DENGER!"
"IYA, MAKASIH KENANDRA!“
“BUKAN, BUKAN YANG ITU!"
"AH KAMU TUH! AKU NGAMBEK LAGI LHO!“
“EH EH jangan kak astaga! Ya udah kalo nggak mau deh, nggak maksa…"
Hening seketika, angin malam berhembus, pelukan kian mengerat, usapan lembut kian merasuk. Nyaman, Sena rasanya tidak ingin cepat sampai rumah. Dan tiba-tiba…
“Makasih ya sayang, adek gantengnya kak Sena…"
Aula utama gedung sanggar kini terisi penuh dengan banyak pasang mata yang menyaksikan latihan rutin sanggar. Latihan rutin sanggar biasa dilakukan di hari Sabtu sore dan Minggu sore. Terkhusus untuk yang akan pentas atau lomba, biasanya akan datang setiap hari ke sanggar untuk latihan.
Hari ini Minggu sore, jadwal rutin para warga sanggar untuk berlatih. Dalam gedung sanggar terdapat beberapa pembagian kelas. Per kelas tentunya berbeda ruangan untuk tempat latihannya. Biasanya yang akan menempati aula utama gedung adalah kelas kecil, karena sungguh… jumlah murid kelas kecil sangatlah membludak, sehingga ditempatkan ke ruang latihan yang paling luas.
Kini Kenan, Sena, Marcell, Juna, Januar, Riyani, Raras, dan Chantika sedang berada di satu ruangan. Kelas remaja tidak hanya itu saja sebenarnya, namun entahlah. Hari itu hanya 8 orang yang hadir. Atau bisa saja berada di kelas ruangan lain karena ingin mempelajari tarian lain.
Kelas remaja kali ini diajar oleh Mas Sunandar. Mahasiswa lulusan ISI Surakarta yang mengisi waktu sampingan dengan mengajar tari di sanggar ini.
“Besok sing tampil depan pak Bupati siapa wae to?”
“Kenan, Mas Sena, Mbak Raras, Iyan, sama Tika Mas!” Seru Chantika semangat.
“Nampilin dua tarian tok ya?”
“He’em, Mas. Pembukanya tuh si Kamajaya Kamaratih, kalo tiga cewek ini hiburannya.” Timpal Marcell si blesteran yang sangat minat dengan seni Jawa.
“Ooo, kamu nggak tampil berarti Cell, Jun, Jan?”
“Orak mas, aku seh wedi pentas ogh. Apalagi ini di depane pak Bupati.” Jawab Januar yang memang merupakan newbie di sanggar ini.
“Gitu, ya wes ya wes. Agenda kali ini kita lihat dulu yang pentas besok ya, mulai dari Kenan sama Sena sek, yok!”
Mendengar hal itu, Kenandra dan Senandung sempat bersitatap sebentar, lalu mengangguk dan tesenyum satu sama lain. Menempatkan posisi masing-masing dan siap untuk menari. Alunan gendhing mulai terdengar. Gerakan diawali dengan Sena yang menari dengan anggun dan penuh penghayatan. Disusul oleh Kenan yang masuk dengan gagahnya tetapi tetap halus. Kenan dan Sena menari dengan lancar dan penuh dengan rasa yang membuat tarian lebih hidup.
“Kasih tepuk tangan semuanya!!”
“Wezzz, emang beda yo darah seni ki!!” Seru Chantika setelah Kenan dan Sena menyelesaikan tariannya.
”Mas Sun aku mbok ya diajari juga tari kayak Mas Sena, pengen aku njoged pasangan gitu.” Kata Riyani semangat.
“Iyooo, dibenerin sek itu mendakmu! Kamu sing sering kendo kaki e.” Kata Mas Sunandar.
“He’e Yan Iyan, awakmu ki mesti bedo dewe lho diantara kita bertiga. Sikilmu nggejejer senenge.”
“Gak papa Ras, wong namane masih awalan. Ya to Yan? Udah keren itu si Iyan, Nyatanya dia baru gabung 2 bulan tapi dah disuruh pentas.” Bela Sena kepada Iyan.
“Wuu kui Mbak, rungokno. Wlek!”
“Cuman yo kudu dikulinakke Yan, emang bener juga si Raras nek kamu kelihatan yang paling beda, leres mboten Mas Sun?”
“Betul Sen, emang kunci tarian tu salah satune di mendak. Selain ben enak dipandang dan kelihatan lebih nyeni lebih ada estetika ne, mendak ki ya bisa untuk keseimbanganmu pas nari. Jadi Riyani, dan yang lain. Kalian mendak o ya nang nduk!”
Latihan rutin minggu sore kemarin adalah latihan terakhir sebelum akhirnya Kenan, Sena, Raras, Riyani, dan Chantika melakukan gladi resik. Kini kelimanya sedang berada di Balai Kota, tempat untuk acara besok hari.
“Kok deg-degan yo aku?”
“Iyolah, kowe urip yo deg-degan to, Yan.”
“Menengo Ka Tika, nggak butuh opinimu!”
Biasa, dua perempuan sepantaran Kenan itu selalu saja ribut. Entah di sanggar maupun di luar sanggar. Ada saja yang diributkan. Sena yang mendengarkan ocehan Riyani dan Chantika pun ikut tertawa kecil.
“Mau minum dulu kak?”
“Nggak Ken, takut suduk’en aku.”
“Okee.”
Perbincangan kecil yang manis. Siapa pun yang mendenganya mungkin akan meleleh saking manisnya.
“Kamu agak nunduk coba, rambutmu ada kotorane.”
Spontan Kenandra menundukkan kepalanya sejajar dengan mulut Sena, Sena mengambil sobekan kertas kecil yang entah datangnya dari mana. Mereka pun saling tersenyum seakan di dunia ini hanya ada mereka berdua.
“Makasih ya kakak…” Ucap Kenan sambil menjawil dagu Sena. Sena pun ikut tersipu atas perlakuan gamblang berondong satu itu.
“Ekhem Ekhem!! Heh Ken, Sen ono aku lho iki, rispek kaum jomblo plis?”
“Hahaha maap Mbak Ras, peace…”
“Makane kamu jangan stecu kalo dideketin cowok. Salahmu dewe to.”
“Yaelah Mas Sen, Mbak Raras po doyan lanangan to?” Saut Chantika tanpa adab yang disambut pukulan Raras di pantatnya.
Waktu gladi resik pun sudah tiba, Mereka berlima sudah menari untuk acara besok. Pengenalan area panggung, backstage, dan posisi penonton sudah tergambar jelas di benak masing-masing. Berdoa saja besok lancar dan tidak ngeblank.
Pukul 15:00 sudah terpampang jelas di jam digital ruang rias kala itu. Artinya masih ada waktu sekitar 4 jam lagi sebelum tarian sambutan ditampilkan. Ya benar, pukul 19.00 adalah waktu dimana pak Bupati akan menempati kursi depan dengan wibawanya.
Ruang rias diisi dengan Kenan dan Sena. Mengingat hanya ada 3 tarian yang akan ditampilkan, 2 dari sanggar tempat Sena dilatih, dan 1 dari sanggar lain. Tampilan pertama adalah untuk sambutan, yaitu Kenan dan Sena, sedangkan 2 tarian lainnya adalah hiburan yang akan ditampilkan di pertengahan acara dan menuju akhir acara.
Ruang rias laki-laki dan perempuan berada di satu ruangan dan hanya terpisah oleh sekat di tengah-tengah. Penari perempuan berada di satu sisi dan sisi lain adalah penari laki-laki. Yang merias kali ini adalah Budhe Laksmi, Budhe Kanthi, dan dibantu Bunda Kenan juga Ibu Sena.
Bunda Kenan dan Budhe Kanthi akan membantu dalam make up, Budhe Laksmi bagian kostum, dan Ibu Sena di bagian rambut dan irah-irahan. Semuanya sudah diatur sedemikian rupa sehingga tidak ada tumpang tindih pekerjaan.
Budhe Laksmi, Budhe Kanthi, Bunda dan Ibu masih memfokuskan kepada Kenan dan Sena yang memang tampil lebih dulu. Namun mereka akan tetap bolak-balik ke sisi lain ruangan untuk dapat mengurusi tiga anak perempuan cantik yang juga akan tampil pada pertengahan acara.
“Kak Sena cantik ya, ini sih dipacak’i tipis juga dah keluar auranya.” Ujar Bunda sambil mempersiapkan alat riasnya.
“Jangan gitu Bun, nanti muka e merah lho dia.” Jahil Kenan menggoda Sena.
“Apa to Ken kamu itu. Sssut diem jangan banyak omong, nanti Budhe Kanthi susah ngeriasnya!”
“Ini tak buat tipis-tipis aja ya Kak, bagian matanya aja yang Bunda tebelin.”
“Iya Bunda. Sena manut aja gimana baiknya.”
Senandung itu lelaki berparas cantik, manis, dan imut. Pernah beberapa kali saat ia keluar rumah hanya menggunakan hoodie bertudung dan celana pendek di atas paha, ia dipanggil “adek cantik” oleh Abang penjual martabak. Ya mungkin karena malam hari juga, jadi mungkin si Abang tidak melihat dengan jelas.
Karena Sena adalah laki-laki, Bunda pun menyesuaikan riasannya agar tidak terlihat berlebihan, namun tidak terlihat pucat pula untuk tampil di malam hari. Semuanya pas, ditambah dengan kostum kemben, jarik samparan, wig rambut panjang, sampur indah yang bertengger cantik di pinggang ramping Sena, serta irah-irahan pada kepala Sena yang tampak lebih memukau. Masih banyak detail indah lainnya dari Sena.
Jam sudah menunjukkan pukul 16.15. Sena sudah selesai dengan riasan wajah, dan kostum tarinya. Tentu Kenan sudah selesai lebih dahulu, dan ia kini sedang makan camilan yang memang sudah ia bawa dan siapkan untuk hari ini.
Mata Kenan tak lepas dari Sena, walau tangan fokus mengambil camilan, mulut fokus mengunyah, tapi mata fokus pada Sena di depannya yang sedang dipasangi aksesori terakhir yaitu kelat bahu.
Setelah semua selesai, Sena langsung beranjak menuju tempat Kenan berada. Sedangkan Budhe Laksmi, Budhe Kanthi, Bunda dan Ibu sudah berpindah ke sisi ruangan lain untuk bergantian mengurus tiga teman lainnya.
“Heh! Ngalamun kamu itu.”
“H-hah, gimana kak?”
“Kamu itu lho, kok ya bengong, lagi nyemil tapi matanya nggak lihat makanan.”
“Ya abis kalah sih.”
“Kalah maksudnya?”
“Cemilannya kalah menggoda dibandingin kamu kak.”
Siapapun sadarkan berondong ini segera. Bisa-bisanya masih sempat gombalin pacar.
“Mulai mulai…”
“Cantik banget, Sayang...”
Tidak salah dengar, Kenan memang sesekali memanggil Sena seperti itu, apalagi di saat berdua saja dan saat suasana lagi pas biasanya.
“Makasih, kamu juga ganteng.”
“Oh kalo itu sih jelas..
… Kakak tau? Kakak itu cantik sekali. Bukan karena kostum ini kakak jadi cantik. Tapi kostum ini jadi cantik karena dipakai sama kakak.”
“Mulutnya manis beneeeer…” Tak bisa dipungkiri Sena sangat tersipu hanya karena gombalan murah yang terucap oleh kekasihnya itu.
Bagaimana tidak terpesona? Sena dengan tampilan yang tidak biasa ini membuat Kenan seribu kali lebih terpikat dibuatnya. Sena memang sering menari tarian perempuan, tapi hanya sekadar latihan saja, untuk yang dipentaskan seperti hari ini, sepertinya baru kali ini.
Kostum kemben yang tampak pas di tubuh langsing Sena, memperlihatkan tulang selangka yang terlihat menawan dan memang ada secara alami. Hitam warna kostum kontras dengan kulit Sena yang kuning langsat bersih. Kelat bahu yang melingkar di lengan Sena yang ramping pun terlihat lebih memukau saat Sena memakainya. Irah-irahan dan wig rambut panjang lurus terlihat sangat menyatu dengan wajah Sena yang memang sudah cantik dari asalnya. Semua yang ada pada Sena itu cantik, indah, menawan. Begitu pikir Kenan.
“Aku nggak aneh to, pake kostum ini?”
“Aneh gimana? Cantik gitu.”
“Ya aku kan cowok Ken, gimana kalo nggak cocok?”
“Iya tau kamu cowok. Cowok cantik tapi…”
“Ah males ah!”
“Lho bener kok kamu itu cantik, nggak bosen aku bilang kalo kamu tuh cantik cantik cantik. Kamu cocok banget pake kostum ini, kamu cocok sama riasannya, kamu cocok sama tariannya, kamu cocok di semuanya kakak.”
“Bener ya?”
“Iya, sayang…
… satu lagi…
… kamu cocok juga bersanding sama Kenan sih kak.”
Waktu yang ditunggu pun kini datang. Jam sudah menunjukkan pukul 18.58 yang mana sebentar lagi Kenan dan Sena akan tampil. Detik-detik sebelum naik ke panggung adalah hal yang paling mendebarkan dibanding saat sudah berada dipanggung.
Meski sudah berkali-kali tampil di depan banyak orang dan mengikuti lomba-lomba secara onsite. Sena hanyalah manusia biasa yang bisa merasakan demam panggung juga. Berbeda dengan Kenan yang tampak santai dan lebih memilih untuk memandang wajah grogi Sena saat sebelum naik ke panggung.
“Relax oke? Tarik nafas, tahan bentar, satu dua tiga, keluarin.”
Kenan selalu punya cara tersendiri untuk menenangkan kekasihnya itu. Berbekal mulut manis dan bahasa cintanya adalah physical touch, dua hal itu bisa membuat Sena menjadi lebih tenang. Elusan pada punggung tangan Sena yang dingin diberikan Kenan. Tatapan mata yang mendalam guna memberi dukungan bahwa “Kenan disini, Kenan bersama Kak Sena, jangan takut.” Hanya Kenan yang bisa begitu.
Terdengar lantunan gendhing Tari Karonsih. Jika sudah begini tidak ada waktu untuk kabur dan bersembunyi. Sena menempatkan dirinya di posisi seperti saat ia gladi resik kemarin. Gerakan tubuh yang luwes, penghayatan yang membuat tarian semakin hidup, dan gerak tari yang selaras dengan gendhing yang terputar.
Semua mata memandang indahnya tarian Dewi Sekartaji yang sedang ditarikan oleh Senandung. Semua tampak terbawa suasana dengan gerakan yang ditampilkan. Ada yang mengabadikan lewat rekaman video, ada pula yang melihat dengan fokusnya.
Pertengahan tari akhirnya Panji Asmara Bangun memasuki area panggung. Aura dominan dan gagah perkasanya sangat terlihat. Kenan menarikan dengan gagah namun tetap halus. Menari dengan rasa membuat tarian itu tidak sekadar tarian, tapi ada pesan tersembunyi yang terkandung di dalamnya. Gerak-gerak yang sarat makna.
Kenan dan Sena menari dengan sukacita. Tidak ada rasa gugup, grogi, ataupun takut ngeblank. Saat dimana gerakan saling menyatukan sampur Sena sempat menatap mata Kenan yang ternyata saat itu sedang menatap matanya juga. Mereka saling tersenyum penuh arti.
Sena teringat akan momen dimana ia ditembak oleh berondong tampan yang kini jadi kekasihnya itu. Berani sekali bocah baru mentas dari SMP sudah nekat nembak kakak kelasnya. Sena teringat akan momen dimana lucunya Kenan yang meminta izin kepada Ibu untuk mendekati Sena. Sena teringat akan momen dimana Kenan rela menyisihkan uang saku demi mengajak Sena ke pasar malam sekaligus menjadikan Sena sebagai pacarnya.
Dalam satu gerakan itu teringat banyak sekali momen manis yang telah Kenan beri kepada Sena. Kenan dengan effortnya. Kenan dengan lugunya, dan Kenan dengan tengilnya. Semuanya Sena suka.
Salah satu gerakan favorite Sena adalah duduk di pangkuan Kenan. Gerakan itu berada di menit terakhir. Saat pertama kali dikenalkan dengan Tari Karonsih, Sena langsung jatuh cinta dengan gerakan ini. Dimana Dewi Sekartaji duduk di pangkuan Panji Asmara Bangun. Gerakan melepas rindu setelah sekian lama tidak berjumpa.
Ada desir aneh yang Sena rasakan saat melakukan gerakan ini, entah saat hanya melihat sebagai penonton, saat ia latihan, dan kini saat ia tampil. Degup jantung Sena terpacu dua kali lebih cepat. Dan momen-momen lain bersama Kenan pun kian beterbangan di pikirannya.
Sena suka bagaimana Kenan memanjakannya, mulutnya yang manis membuat Sena setiap hari jatuh kepada Kenan. Suara Kenan yang halus saat berbicara dengan Sena, Sena suka.
Sena paling senang jika dipanggil “Cantik” “Cah Ayu” “Sayangku” oleh Kenan, Sena hanya malu dan gengsi untuk mengakuinya.
Sena suka bagaimana ia diboncengkan Kenan. Memeluk Kenan dari belakang dan menghirup aromanya yang tidak terlalu kuat tapi tetap harum dan membuat nyaman.
Dan Sena juga suka saat dimana ia hanya berdua bersama Kenan di ruang tamu rumah, menonton video tari bersama, belajar dan mengerjakan pekerjaan rumah bersama, dan tentunya bercerita tentang keseharian masing-masing dengan Kenan yang tidur di paha Sena sambil melihat Sena dari bawah.
Sungguh Sena sangat suka hal itu. Sebuah fakta yang lucu, Sena jatuh kepada Kenan karena Kenan sering tiba-tiba tidur di paha Sena. Terkadang Kenan juga menghadap ke samping yang langsung disambut perut rata Sena. Satu tangan Sena dengan spontannya mengelus rambut adik kelasnya itu. Sesekali Kenan akan membawa tangan Sena yang lain untuk ia mainkan dan ia usap lembut.
Memangnya boleh anak kecil baru lulus SMP sudah membuat mabuk kepayang orang? Orangnya lebih tua lagi.
Tari sambutan sudah selesai ditampilkan, Kenan dan Sena berhasil membawakan Tari Karonsih dengan baik dan lancar, banyak yang tersenyum karena tarian mereka berdua.
Tak hanya orang-orang yang berbahagia atas tarian itu. Mereka yang menarikan pun juga merasakan kebahagiaan. Dan tentunya lebih dalamnya rasa cinta satu sama lainnya.
“Di kesempatan yang akan datang, mau ya kak nari Karonsih lagi sama aku?”
“Mau Kenan, pasti!”
Karonsih Bersama Kekasih, TAMAT


