Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Fandom:
Relationships:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Series:
Part 3 of WaniHana Series
Stats:
Published:
2026-01-09
Words:
1,546
Chapters:
1/1
Comments:
2
Kudos:
3
Hits:
25

Red Sunset

Summary:

Robin ingin bersantai saat weekend, tapi Crocodile memaksanya untuk ikut ke suatu tempat.

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

Dalam satu hari terdapat 24 jam waktu yang harus dilalui manusia. Tapi di antara jam 4 hingga 6 sore adalah waktu yang paling tidak disukai oleh Nico Robin.

Kenangan saat Pulau Ohara dihancurkan Buster Call saat senja hari dan api besar melahap pohon pengetahuan selalu muncul dalam ingatannya begitu langit mulai memerah. Karena itu, dia lebih sering berada dalam ruangan saat menjelang sore agar tidak perlu melihat bagaimana langit berubah warna.

Hari ini adalah Jumat sore, saatnya memberikan laporan mingguan kepada Crocodile. Sementara Robin melaporkan kinerja Baroque Works dan Rain Dinners, matahari kian bergulir ke barat, membuat dirinya tidak nyaman dengan sinar kemerahan yang masuk dari jendela besar di ruang kerja bosnya.

“Beberapa agen Millions sudah disusupkan ke dalam pasukan prajurit kerajaan dan pasukan pemberontak. Mereka tinggal menunggu perintah saja” Robin bicara sambil melambaikan tangannya, membuat beberapa tangan tambahan dengan kekuatan Hana Hana no Mi untuk menutup gorden jendela.

Crocodile hanya melirik sekilas ke gorden jendela yang ditarik menutup, mengira bahwa wanita di hadapannya merasa silau oleh cahaya matahari senja.

“Bagaimana dengan dua tikus yang sengaja kubiarkan menyusup masuk ke sini?”

“Mereka ada di Whiskey Peak. Apa sudah waktunya untuk membereskan mereka?”

“Sementara biarkan saja. Tunggu aba aba dariku”

“Baik. Apa ada hal lain yang perlu aku kerjakan?”

“Sementara tidak ada”

“Kalau begitu, aku pamit dulu”

Robin sudah berjalan pergi dua langkah saat lelaki bertangan kait emas itu memanggilnya.

“Tunggu sebentar, Miss All Sunday”

“Ya?”

“Apa yang akan kau lakukan pada akhir pekan besok?”

“Eh? Hanya bersantai membaca buku saja” jawab Robin dengan heran.

Tumben sekali bosnya menanyakan kegiatan akhir pekan segala. Di antara mereka seperti ada perjanjian tak tertulis bahwa akhir pekan adalah hari libur pribadi yang tak bisa diganggu, kecuali ada kondisi darurat.

“Kalau begitu, kau ikut denganku besok”

“Apa ada pekerjaan?”

“Ikut saja” tukas Crocodile sambil menghembuskan asap rokoknya.

“Baik, Mr 0” jawab Robin sambil mengumpat dalam hati karena rencana bersantainya jadi terganggu.


Besoknya, Robin cukup terkejut saat Crocodile mengajak untuk menaiki sebuah kapal di pelabuhan Nanohana. Tadi dia berpikir bahwa apapun yang akan mereka lakukan masih berada dalam area Alabasta. Jika sampai naik kapal, sudah pasti berarti pergi ke pulau lain.

Kapal itu langsung berangkat begitu mereka berdua naik. Kelihatannya memang sudah disewa khusus oleh bosnya itu untuk perjalanan mereka.

“Kita akan ke mana, Mr 0?” tanya Robin ingin tahu.

“Ke sebuah pulau” jawab Shichibukai itu pendek sambil bersandar merokok di haluan kapal.

Jawaban itu membuat Robin langsung malas bertanya lagi. Dia menggerutu dalam hati “Tentu saja ke sebuah pulau. Memangnya bisa ke langit?”

Untunglah perjalanan mereka singkat, hanya sekitar satu jam saja. Kapal itu merapat di sebuah dermaga kecil. Turun dari dermaga itu, Crocodile menyusuri jalan setapak kecil ke arah hutan sementara wakilnya mengikuti saja hingga akhirnya jalan setapak itu membawa ke sebuah tanah lapang.

Seorang lelaki yang kelihatannya penjaga setempat langsung tergopoh gopoh menghampiri dan menyapa “Oh, Tuan Crocodile! Sudah lama tidak kelihatan. Hari ini bawa teman? Silakan! Silakan! Tempat biasa yang di pojok, kan?”

Robin melirik Crocodile yang hanya mengangguk saja. Dari sapaan penjaga itu, kelihatannya Shichibukai itu sudah sering ke sana entah untuk apa.

“Silakan keranjangnya. Aku nyalakan api dulu sambil menunggu kalian”

Penjaga itu memberikan dua keranjang rotan kepada Crocodile lalu bergegas pergi ke arah pojokan tanah kosong.

“Nih, pegang satu” Crocodile menyodorkan salah satu keranjang kepada Robin yang menerimanya dengan heran.

Tanpa bicara apapun lagi, lelaki besar itu ngeloyor begitu saja masuk ke dalam hutan bersama keranjang miliknya.

Robin cepat menyusul dengan bingung “Mr 0! Apa yang akan kita lakukan di dalam hutan dengan keranjang begini?”

“Berburu jamur”

“Hah?”

“Ini pulau musim semi, Miss All Sunday. Apa yang dilakukan kebanyakan orang saat musim semi? Tentu saja berburu jamur” jawab bosnya sambil terus berjalan.

“Mr 0, aku tidak pernah berburu jamur…”

Crocodile menoleh dan melihat keseriusan di wajah partnernya. Dia mendengus pelan sambil lanjut berjalan lagi “Perhatikan aku…”

Sambil berjalan, Crocodile memetik beberapa jamur dan menunjukkan ciri ciri mana jamur yang bisa dimakan. Robin tidak fokus dengan penjelasan itu karena masih sulit mencerna situasi.

Ohara adalah pulau iklim tropis sehingga tidak ada jamur yang menjadi target berburu jamur begini. Meskipun pernah mampir di beberapa pulau musim semi, Robin tidak tertarik untuk berburu jamur. Untuk apa repot berburu jamur di saat dirinya sendiri menjadi target buruan dunia?

Ditambah lagi, aneh sekali bosnya bisa tiba tiba mengajak melakukan kegiatan santai begini. Mereka memang sering menghabiskan waktu bersama, tapi semuanya dalam konteks pekerjaan. Berburu jamur jelas tidak termasuk dalam pekerjaan mengurus Baroque Works atau Rain Dinners.

Hal lain yang mencengangkan Robin adalah kefasihan lelaki besar di hadapannya memilah jamur. Dia hafal semua jenis jamur yang mereka temui seolah profesinya adalah seorang ahli jamur, bukan bos dari organisasi kriminal.

“Miss All Sunday, kau itu wanita pintar tapi terus memetik jamur beracun dari tadi. Kau sengaja ingin meracuniku?” Crocodile menggerutu ketika Robin lagi lagi keliru mengambil jamur.

Mendengar gerutuan itu, Robin hanya bisa mencibir kesal sambil membuang jamur beracunnya. Bosnya memang aneh, bisa bisanya memberikan pujian dan ejekan dalam satu tarikan nafas.

Sekitar 2 jam kemudian, akhirnya keranjang mereka penuh dan Crocodile mengajak kembali ke tanah kosong tadi.

Terlihat penjaga tadi melambai di dekat api unggun kecil “Apinya sudah kunyalakan. Tusukan untuk memanggang dan air untuk mencuci jamur juga sudah siap. Kalian bawa bumbu sendiri atau mau kusiapkan juga?” 

“Tidak usah, aku bawa sendiri” Crocodile menjejalkan beberapa uang kertas ke dalam genggaman penjaga itu.

“Terima kasih, Tuan! Aku tinggal dulu, panggil saja kalau perlu sesuatu, ya!” pamit penjaga itu dengan ceria.

Crocodile duduk di batang pohon yang memang sengaja ditempatkan di dekat api unggun. Tangannya meraih baskom berisi air dan mencuci satu buah jamur “Perhatikan cara mencucinya. Setelah itu, kau yang cuci semua sementara aku memanggangnya”

Robin tahu alasan kenapa dia yang disuruh mencuci jamur jamur itu. Bosnya tidak suka terkena air terlalu lama karena air membuat kekuatan Suna Suna no Mi melemah. Tanpa protes, dia bergerak mencuci jamur jamur itu dari tanah yang masih menempel sementara Crocodile mengambil jamur bersih dan memanggangnya di atas api dengan tusukan bambu.

Selesai mencuci, dia duduk di samping Crocodile sambil memperhatikan bagaimana bosnya membolak balik jamur yang sedang dipanggang. 

Crocodile mematikan rokoknya lalu mengulurkan tangan kanan masuk ke dalam mantel bulu. Dia mengeluarkan sebotol kecil garam dan menaburkannya ke salah satu jamur yang terlihat sudah matang. Dia mengulurkan botol garam itu ke Robin “Taburkan sedikit saja ke jamur yang sebelah sana. Itu sudah matang” tunjuknya ke salah satu jamur lain.

Karena tangan kirinya berupa kait, tentu saja bos Baroque Works itu harus melepaskan botol garam di tangan kanan agar bisa bergerak bebas meraih jamur yang tadi sudah ditaburi garam.

Robin meraih botol garam dan jamur yang ditunjuk tadi. Dia menaburkannya sedikit saja sesuai instruksi lalu mencoba mengigit sedikit.

Rasanya gurih, tidak terlalu asin. Garam tadi hanya memberikan rasa asin tipis yang enak.

“Seperti apa iklim di Ohara?”

Pertanyaan yang membuat Robin hampir tersedak. Dia menoleh mendapati bosnya mengunyah jamur tanpa meliriknya sedikitpun.

“Kau bilang tidak pernah berburu jamur, jadi kutebak kalau Ohara bukan pulau musim semi”

Robin diam sesaat. Tidak pernah mereka membahas hal pribadi seperti asal usul masing masing meskipun Crocodile jelas tahu sedikit latar belakang dari wakilnya yang membuat geger dunia di usia masih sangat muda.

“Benar, itu pulau iklim tropis. Tidak ada berburu jamur di sana” jawab Robin singkat.

“Hmm…”

Sunyi sesaat di antara mereka sebelum akhirnya Robin bicara “Mr 0, kenapa tiba tiba mengajak berburu jamur?”

Crocodile melirik sambil mengunyah dan menjawab “Karena aku sedang bosan”

“Hah?”

“Aku bilang, aku sedang bosan dan sudah lama tidak berburu jamur juga. Pekerjaan kita semakin sibuk belakangan dan akan semakin sibuk lagi ke depannya. Anggap saja ini sedikit selingan” lanjut Crocodile sambil terus mengunyah.

“Errr… Baiklah…”

Keduanya lanjut memakan jamur dalam keheningan. Robin tidak tahu harus bicara topik apa. Membahas pekerjaan jelas akan membosankan, tapi membahas hal pribadi juga seperti topik tabu di antara mereka. 

Hari ini mood Crocodile terlihat bagus karena dia tidak bicara kasar. Jika sampai Robin iseng menanyakan latar belakang bosnya, pasti suasana hati lelaki itu langsung berubah buruk.

Selesai mereka makan, hari sudah mulai beranjak sore.

Crocodile menyalakan rokok kembali dan menghisapnya sesaat sebelum menghembuskan asap sambil berdiri “Ayo kembali ke Alabasta”

Tanpa bicara, keduanya berjalan kembali ke dermaga menuju kapal yang tadi mereka naiki. Semakin mendekati dermaga, Robin bisa melihat jelas langit yang semakin memerah, memantik masa lalu yang dibencinya.

Begitu mereka sudah berada di atas kapal, Robin bersandar di pagar haluan kapal. Dia mengakui pemandangan langit senja memang cantik sekaligus juga traumatis baginya.

Sesaat wanita arkeolog itu memejamkan mata. Rasanya seolah mengulang hari itu kembali, ketika dia yang berumur 8 tahun mendayung sampan sendirian sambil menangis meninggalkan Ohara yang terbakar hebat di belakang.

Robin menghela nafas sebelum membuka mata. Dia menatap langit senja yang memerah lalu melirik ke bawah, melihat sepatu boots putihnya bersanding dengan sepatu pantofel hitam yang dikenakan Crocodile di atas lantai kayu kapal.

Lelaki itu bukanlah seorang teman atau keluarga, hanya seseorang dengan tujuan yang sama untuk sementara waktu. Hari ini, dia membiarkan wanita arkeolog itu tetap hidup karena masih menganggapnya berguna. Suatu hari nanti, saat tujuan mereka sama sama tercapai atau sama sama gagal, maka mereka pasti akan berpisah. Entah tanpa pamit atau malah mencoba saling bunuh.

“Mr 0, terima kasih untuk hari ini”

“Hmmm…”

Lelaki itu bukanlah seorang teman atau keluarga. Tapi setidaknya, kehadirannya membuat Robin merasa tidak sendirian pada senja hari ini.



Notes:

Hobi berburu jamurnya Crocodile tercantum resmi dalam Vivre Card official.

Series this work belongs to: