Work Text:
Sakit.
Sakit.
Sakit.
Suara komputer berdengung pelan, menyatu dengan napas ruangan yang pengap.
Meja di hadapan Alhaitham penuh oleh tumpukan berkas yang selalu terasa mencekik dirinya dan kini hanya terlihat seperti sisa-sisa perang yang sudah usai.
Di sudut layar, waktu menunjukkan kurang lima belas menit sebelum pulang.
Seharusnya ia merasa lega. Pekerjaannya selesai. Tidak ada lagi angka, laporan, atau kalimat resmi yang menunggu disentuh.
Tapi pikirannya justru berlari mundur, kembali ke percakapan singkat saat jam istirahat tadi—
Kata-kata kaveh yang terucap pelan namun meninggalkan jejak seperti retakan di kaca.
Wajah Alhaitham perlahan kehilangan warna. Bukan karena lelah bekerja, melainkan karena bayangan tentang apa yang menantinya nanti.
Tentang hukuman yang tidak pernah benar-benar disebutkan, tapi selalu terasa nyata.
Ia menghela napas panjang, berat, seolah ingin mengeluarkan sesuatu yang mengganjal di dadanya.
Tanpa ia sadari, dari kejauhan nilou memperhatikannya—teman dekat, tidak lebih.
'Haitham, kamu gapapa? Aku lihat muka kamu masam daritadi.'
'.. gapapa nilou, cuma kecapean aja.'
'gimana kalau kita beli kopi dulu buat penyegar?'
Alhaitham berkecamuk dengan pikiran sendiri.
Boleh saja sih. Tapi dia khawatir dengan larangan Kaveh untuk mendekat dengan Nilou.
Tetapi apa salahnya membeli kopi untuk menyegarkan pikiran?
Toh hanya sebentar saja, Kaveh tidak mungkin melihat, kan?
'Um.. jadi gimana Haitham?'
'Oh, boleh deh'
Alhaitham selama ini tidak sadar bahwa Kaveh memasang pelacak di baju dan juga handphonenya. Kaveh benar benar mencintainya.
'mau Matcha 1 dan Americano 1 ya!'
Mereka menunggu di meja dekat barista, tidak ada percakapan. Tapi sudut mata Alhaitham melihat ada seseorang yang memerhatikan dia, ah mungkin hanya perasaan ku saja.
Kaveh terlihat naik pitam melihat mereka begitu dekat, apa Alhaitham tidak peduli dengan perkataannya 2 hari yang lalu?! Kaveh sudah mengucapkan semua serapah di dalam hati.
Kaveh tidak mendekat.
Dia hanya berdiri di seberang jalan, setengah tertutup tiang lampu dan bayangan sore yang mulai turun.
Tangannya mengepal di dalam saku mantel, kukunya menekan kulit sendiri sampai sakit.
Tapi bukan itu yang paling terasa.
Yang paling terasa adalah cara Alhaitham berdiri di samping Nilou tanpa terlihat tertekan. Tanpa terlihat takut. Tanpa terlihat seperti seseorang yang baru saja berjanji tidak akan melanggar batas lagi.
Kamu bohong.
Kamu bilang cuma aku.
Sementara itu Alhaitham meraih minumannya. Jari-jarinya dingin. Gelas plastik itu terasa licin di tangannya sendiri.
Nilou tersenyum kecil. 'Kamu keliatan pucet banget. Serius cuma capek?'
Alhaitham mengangguk pelan. 'Iya. Banyak laporan tadi.'
Dia tidak berbohong. Tapi juga tidak jujur.
Mereka berdiri terlalu dekat. Tidak sengaja. Tapi dari sudut pandang seseorang yang sudah dikuasai cemburu, jarak itu terlihat seperti pengkhianatan.
Napas Kaveh mulai tidak teratur. Dadanya naik turun lebih cepat. Pikirannya memutar ulang semua larangan yang sudah dia ucapkan, semua nada tinggi, semua tatapan tajam yang Alhaitham terima darinya.
Dia tetap memilih dekat dengan Nilou.
Langkah Kaveh akhirnya bergerak sendiri.
Satu.
Dua.
Tiga.
Sampai suara langkah sepatunya berhenti tepat di belakang Alhaitham.
'Alhaitham.'
Suara itu pelan.
Tapi cukup untuk membuat bahu Alhaitham menegang seketika.
Perlahan dia menoleh.
Dan benar saja.
Ekspresi Kaveh tidak meledak seperti biasanya. Tidak ada teriakan. Tidak ada kata kasar. Justru itu yang membuat suasana jauh lebih mencekam.
'Kaveh…' suara Alhaitham hampir seperti bisikan.
Nilou menatap keduanya bergantian. 'Oh— kalian ketemu juga…'
Kaveh tersenyum tipis. Terlalu tipis. 'Iya. Ketemu.'
Tatapannya tidak pernah lepas dari Alhaitham.
'Aku cuma—' Alhaitham mulai bicara, tapi tenggorokannya terasa kering.
'Cuma minum kopi?' potong Kaveh pelan.
Alhaitham terdiam.
Jawaban yang benar seharusnya sederhana. Tapi di bawah tatapan itu, semua kata terasa salah.
Nilou merasakan suasana yang berubah mencekam.
'Haitham, aku duluan ya. Udah mau malam ini.'
'Alhaitham mengangguk cepat. 'Iya, makasih ya, Nilou.'
Saat Nilou pergi, jarak aman itu ikut pergi bersamanya.
Sekarang tinggal mereka berdua.
Ramai, tapi terasa sempit.
Kaveh melangkah mendekat. Terlalu dekat. Suaranya rendah.
'Aku udah bilang apa ke kamu dua hari lalu?'
Alhaitham menunduk. Tidak berani berbicara.
'Terus sekarang ini apa?'
'Cuma beli minum—'
'Cuma. Cuma. Cuma.' Kaveh tertawa pendek tanpa ekspresi.
'Buat kamu semua selalu cuma.'
Kata-kata itu pelan, tapi tiap suku katanya menekan Alhaitham.
Orang-orang lewat tanpa memperhatikan drama kecil yang terasa sebesar dunia bagi dua orang ini.
Tangan Kaveh terangkat sedikit, seperti ingin meraih lengan Alhaitham.
'Ayo pulang,' kata Kaveh akhirnya.
Bukan membentak.
Bukan memaksa.
Tapi tetap terasa seperti perintah yang tidak bisa ditolak.
Alhaitham melihat kopinya yang belum diminum sama sekali. Uapnya sudah hilang. Sama seperti rasa hangat yang tadi dia harap bisa menenangkan pikirannya.
Dan kali ini, sakitnya bukan cuma karena takut pada Kaveh.
Tapi karena dia mulai sadar.
dia juga takut pada dirinya sendiri, yang selalu memilih diam.
Sakit.
Jari Kaveh masih melingkar di pergelangan tangan Alhaitham saat mereka berjalan lagi. Tidak menyakitkan. Tapi cukup kuat untuk mengingatkan bahwa dia tidak benar-benar punya pilihan.
Lampu jalan memantul di aspal yang mulai gelap. Orang-orang lewat, tertawa, ngobrol, hidup seperti biasa.
Berbeda dengan langkah Alhaitham yang terasa makin berat.
'Aku gak suka harus ngulang-ngulang hal yang sama'
ucap Kaveh pelan tanpa menoleh.
'Aku udah capek ngomong baik-baik.'
Alhaitham menatap punggungnya. 'Aku gak—'
Pegangan di tangannya mengencang sedikit.
'Aku belum selesai.'
Sunyi lagi.
'Aku perhatiin kamu akhir-akhir ini.'
Suara Kaveh tetap tenang. Terlalu tenang.
'Kamu makin sering buat keputusan sendiri.'
Kalimat itu terdengar aneh. Seolah itu sebuah kesalahan.
Alhaitham berbicara pelan
'Keputusan… kecil.'
'Gak ada yang kecil kalau itu bikin aku ngerasa kamu mulai lepas dari aku.'
—————
Langkah mereka berhenti di depan apartemen. Kaveh baru melepaskan tangannya saat pintu lift tertutup.
Ruang sempit itu terasa lebih sesak dari biasanya.
Kaveh berdiri di depan panel tombol. Alhaitham di belakangnya.
Jarak mereka dekat, tapi rasanya seperti ada dinding tebal di antara mereka.
'Tau gak kenapa aku marah banget tadi?' tanya Kaveh pelan.
Alhaitham menggeleng.
'Karena kamu keliatan nyaman tanpa aku.'
Ding.
Pintu lift terbuka.
Mereka masuk ke apartemen tanpa berbicara. Begitu pintu tertutup, bunyi klik kunci terdengar lebih keras dari seharusnya.
Alhaitham berdiri di dekat pintu. Tasnya masih di bahu.
Kaveh menaruh kunci pelan di meja.
'Taruh tas kamu.'
Bukan bentakan.
Perintah.
Alhaitham menurut.
'Aku gak mau kamu keluar lagi malam ini.'
'Aku emang gak ada rencana—'
'Aku tau.'
Nada Kaveh lembut.
'Kamu anak baik kalau kamu nurut.'
Kata-kata itu membuat sesuatu di dada Alhaitham terasa jatuh.
Kaveh mendekat, mengangkat tangan, menyentuh pipi Alhaitham dengan ujung jarinya. Sentuhan yang terlihat seperti memberi luka baru.
'Aku cuma mau kamu inget satu hal'
Bisiknya.
'Dunia di luar itu bikin kamu makin jauh dari aku.'
Jarinya turun ke dagu, mengangkat wajah Alhaitham sedikit supaya menatapnya.
'Aku satu-satunya orang yang paling ngerti kamu.'
Tatapannya tajam. Tidak berkedip.
'Jadi kalau aku bilang jangan deket sama orang lain… itu bukan larangan kosong. Itu demi kamu juga.'
Alhaitham ingin bicara.
Ingin bilang dia cuma minum kopi. Cuma duduk sebentar. Cuma ingin bernapas.
Tapi di bawah tatapan itu, semua terasa seperti pembelaan yang egois.
Seolah-olah dia memang bersalah karena ingin ruang.
Ponselnya tiba-tiba bergetar di meja.
Nama Nilou muncul di layar. Refleks, Alhaitham bergerak untuk mengambil ponsel. Tapi Kaveh lebih cepat.
Tangannya mengambil ponsel itu duluan.
Dilihatnya layar yang menyala.
Lalu dimatikan.
Ditaruh kembali.
Terbalik.
'Aku gak suka ada orang lain yang nanyain keadaan kamu selain aku,' katanya pelan.
Tidak marah.
Tidak cemburu secara meledak.
Lebih seperti aturan rumah yang sederhana.
'Alhaitham… kamu milih aku, kan?'
Pertanyaan itu terdengar lembut.
Tapi entah kenapa, rasanya seperti jebakan.
Karena untuk menjawab “iya"
dia harus mengabaikan semua rasa tidak nyaman yang dari tadi berteriak pelan di dalam dirinya.
Dan untuk pertama kalinya—
Alhaitham merasa sakitnya bukan karena dimarahi.
Tapi karena dia mulai sadar.
rasa takut ini sebenarnya adalah Rumahnya sendiri.
—————
Kaveh mengajak Alhaitham ke mall dengan alasan sederhana, beli baju baru.
Katanya, biar kelihatan lebih segar.
Biar lebih cocok berdiri di sampingnya.
Alhaitham tidak banyak bertanya. Dia sudah terbiasa ikut saja.
Mereka berjalan melewati deretan toko yang terang, penuh musik dan orang-orang yang tersenyum menyambut pelanggan.
Dunia terlihat ceria dan tenang di luar, berbanding terbalik dengan beban yang Alhaitham bawa kemanapun.
Di lantai dua, Kaveh melambatkan langkahnya.
Bukan di toko pakaian.
Mereka berhenti di sebuah etalase kecil yang menjual aksesori.
Kalung.
Gelang.
Cincin.
Pandangan mata Kaveh langsung berhenti pada satu benda.
Kalung tipis dengan gantungan kecil berbentuk 'K'
Cincin logam sederhana. Tidak mencolok. Tapi cukup jelas saat dipakaikan di leher seseorang.
'Bagus,' gumamnya pelan.
'Cocok buat kamu.'
Alhaitham langsung mengerti arah pembicaraan itu.
'Buat… apa?'
'Biar orang tau kamu milik siapa.'
Nada suaranya ringan. Seperti bercanda.
Tetapi matanya tidak.
Alhaitham menggeleng pelan.
'Aku gak suka pakai aksesoris.'
'Aku suka.'
Jawaban itu datang cepat.
Kesunyian masih ada di antara mereka, di tengah keramaian mall yang tetap berjalan tanpa peduli.
'Alhaitham…' suara Kaveh melembut, tapi justru terasa lebih menekan.
'Kamu tau aku gampang cemburu. Kamu bisa bantu aku lebih tenang, kan?'
Kalimat itu bukan perintah langsung.
Bukan ancaman.
Tapi seperti jaring halus yang menutup dari segala arah.
Kalau menolak, berarti tidak peduli.
Kalau menolak, berarti menyakiti.
Kalau menolak, berarti salah.
Jari Alhaitham terasa dingin saat akhirnya mengambil kalung itu.
'Sini aku pakaikan' kata Kaveh pelan.
Dan Alhaitham menunduk sedikit.
Bunyi klik kecil terdengar saat pengaitnya terkunci di belakang leher.
Ringan.
Dan rasanya berat sekali.
Sejak hari itu, Kaveh selalu tahu.
Siapa yang menelepon.
Siapa yang mengirim pesan.
Kapan Alhaitham terlalu lama membalas.
————
'Kamu tadi telepon siapa?'
'Teman kantor.'
'Kenapa harus sembunyi-sembunyi di balkon?'
'Aku cuma cari sinyal yang bagus.'
'Alhaitham.' Nada itu membuat semua alasan terdengar seperti kebohongan.
Dan malam itu.
Kaveh memberitahu kepada Alhaitham bahwa Alhaitham perlu “diingatkan” lagi tentang batasan yang tidak boleh dilanggar.
Tidak ada teriakan keras yang terdengar keluar kamar.
Tidak ada barang pecah.
Hanya suara desahan pelan.
Nafas yang tertahan.
Dan rasa sakit yang bersarang di tubuh Alhaitham, cukup lama setelah semuanya selesai.
Dia tidak melawan.
Tidak menangis keras.
Diam seperti biasa.
Keesokan paginya, tubuhnya terasa berat. Bekas memar warna ungu yang ditinggalkan Kaveh di seluruh badannya membuatnya mengingat malam sebelumnya.
Tapi yang paling melelahkan bukan rasa di badan.
melainkan rasa hampa.
Saat keluar kamar, dia mencium aroma makanan.
Kaveh ada di dapur, memakai celemek, memanggang roti seperti pagi biasa.
Seolah tidak ada yang terjadi.
'Kamu bangun'
'Aku udah bikin sarapan nih.'
Alhaitham mengangguk kecil. 'Makasih.'
'Ayo cuci muka dulu. Nanti dingin.'
Nada yang sama seperti orang peduli.
Dan mungkin, di kepala Kaveh, memang itu bentuk peduli.
Setelah dari kamar mandi sebentar, Alhaitham duduk di meja makan.
Kalung itu masih melingkari lehernya. Kalung itu dingin saat menyentuh kulit.
Kaveh menaruh piring di depannya.
'Hari ini jangan lembur ya.'
'Iya.'
'Langsung pulang.'
'Iya.'
Kaveh tersenyum tipis. 'Anak baik.'
Sendok di tangan Alhaitham berhenti sesaat sebelum lanjut makan lagi.
Sunyi menemani mereka.
Bukan sunyi yang tenang.
Tapi sunyi yang penuh hal-hal yang tidak pernah boleh dibicarakan.
Hari demi hari berjalan seperti itu.
Alhaitham tetap bekerja, tetap hidup, tetap berjalan.
Tapi jauh di dalam dirinya.
Ia merasa seperti burung dengan sayap yang masih ada,
namun terlalu sering dilipat.
Terlalu lama tertutup.
Sampai lupa rasanya terbang tanpa rasa takut.
Sakit.
Sejak hari itu, sesuatu di dalam diri Alhaitham berubah.
Bukan perubahan yang terlihat jelas. Ia masih datang tepat waktu, masih menyelesaikan pekerjaannya dengan rapi, masih berbicara seperlunya kepada teman teman.
Dari luar, tidak ada yang salah.
Tapi di dalamnya, ruang itu terasa makin sempit.
Setiap langkah terasa seperti sudah ditentukan. Setiap pesan yang masuk membuat degup jantung terpacu lebih cepat. Setiap kali ingin berhenti sejenak, pikirannya lebih dulu berbisik.
Boleh tidak?
Dia akan marah tidak?
Ini termasuk salah atau tidak?
Rumah yang dulu terasa tenang perlahan berubah seperti dinding tak terlihat.
Bukan dikunci, tapi tetap tidak bisa ditinggalkan tanpa rasa bersalah yang menggantung seperti bayangan.
Alhaitham mulai berbicara lebih sedikit. Tertawa lebih pelan. Bahkan cara bernapasnya seperti hati-hati, seolah kebebasan adalah sesuatu yang bisa memicu masalah.
Seperti burung yang lama berada di sangkar—
Pintu mungkin tidak selalu tertutup,
Tapi langit terasa terlalu jauh untuk digapai.
Hari itu hujan turun tiba-tiba saat jam pulang kerja.
Langit gelap lebih cepat dari biasanya. Jalanan licin, lampu kendaraan memantul di aspal basah seperti serpihan kaca yang pecah.
Pikiran Alhaitham sedang penuh.
Bukan tentang pekerjaan. Bukan tentang laporan.
Tentang satu kalimat yang terus berulang di kepalanya
“Kamu makin sering bikin keputusan sendiri.”
Sejak kapan hidupnya sendiri terasa seperti pelanggaran?
Langkahnya sedikit terlalu cepat saat menyeberang.
Klakson terdengar keras. Lampu menyilaukan pemandangan Alhaitham. Dunia seperti berhenti mendadak.
Lalu gelap.
Saat Kaveh menerima telepon itu, dunia di sekelilingnya mendadak sunyi.
Suara orang berteriak di ujung ponsel Alhaitham menjelaskan sesuatu tentang kecelakaan, tentang rumah sakit, tentang kondisi yang tidak mengancam nyawa tapi perlu observasi.
Kata-kata itu terdengar jauh. Seperti datang dari dalam air.
Perjalanan ke rumah sakit terasa kabur.
Lampu lalu lintas, suara mesin mobil yang panas, orang-orang di trotoar yang berjalan, semuanya lewat tanpa terlihat.
Yang ada hanya satu bayangan di kepalanya
Alhaitham berjalan di sampingnya. Diam. Selalu diam.
Dan untuk pertama kalinya, Kaveh tidak bisa menepis satu pikiran yang muncul pelan tapi menusuk.
Kalau saja aku tidak membuat dunianya sekecil itu.
Saat melihat Alhaitham terbaring diam dengan perban di pelipis dan tangan terbalut, sesuatu di dalam hati Kaveh runtuh tanpa suara.
Bukan karena luka itu.
Tapi karena wajah Alhaitham terlihat… tenang.
Terlalu tenang.
Kaveh duduk di samping ranjang, tangannya gemetar saat menyentuh ujung jari Alhaitham dengan hati-hati, seolah takut orang di depannya akan menghilang.
'Aku cuma mau kamu tetap di sampingku…' bisiknya serak.
Kalimat yang dulu terasa seperti cinta,
Kini terdengar seperti pengakuan dosa.
Ia menunduk, dahinya hampir menyentuh tangan Alhaitham.
'Aku kira kalau aku jaga kamu terus… aku gak bakal kehilangan kamu.'
Napasnya goyah.
'Tapi aku malah bikin kamu gak punya tempat buat bernapas.'
Di ruangan putih yang sunyi itu, Kaveh akhirnya mengerti.
Cinta yang dipeluk terlalu erat bisa berubah jadi sangkar.
—————
Ruang rawat itu sunyi, hanya diisi bunyi mesin dan langkah perawat yang sesekali lewat.
Alhaitham sudah sadar, tapi masih lemah. Kepalanya berat, tubuhnya terasa seperti bukan miliknya sendiri.
Dunia bergerak pelan, seperti tertutup kabut tipis.
Di kursi samping ranjang, Kaveh tidak pernah benar-benar pergi.
Tangannya sering menggenggam tangan Alhaitham, hangat, lembut, penuh perhatian.
Setidaknya dari luar terlihat begitu.
'Jangan banyak gerak dulu,' katanya pelan saat Alhaitham mencoba bangun sedikit.
'Kamu bikin aku takut.'
Takut.
Kata itu selalu muncul sekarang.
Bukan lagi marah.
Bukan lagi larangan keras.
Hanya rasa takut… yang entah kenapa tetap membuat Alhaitham merasa bersalah.
'Aku cuma mau duduk,' bisik Alhaitham.
Kaveh langsung berdiri, membantu dengan hati-hati, mengatur bantal di belakang punggungnya.
Gerakannya telaten.
'Lihat kan? Kamu butuh aku,' ucapnya pelan, seperti kesimpulan yang lembut.
'Kalau aku gak ada, kamu pasti maksa diri terus.'
Alhaitham diam.
Kalimat itu terdengar seperti perhatian.
Tapi juga seperti pengingat… bahwa dirinya rapuh sendirian.
Setelah pulang dari rumah sakit, semuanya berubah cara, tapi bukan arahnya.
Kaveh jadi lebih halus.
Ponsel Alhaitham sering “dibantu" dipegang.
'Biar kamu istirahat, aku aja yang balas pesan teman kantor kamu.'
'Aku udah bilang kamu lagi pemulihan, jadi gak usah dijenguk banyak orang. Capek buat diri kamu.'
'Aku pindahin kursi kamu lebih dekat ke meja biar kamu gak perlu jalan jauh.'
Semua masuk akal.
Semua terdengar masuk akal.
Sampai Alhaitham sadar… dia sudah jarang menyentuh dunia luar tanpa perantara Kaveh.
Suatu sore, ponselnya bergetar di meja. Nama Nilou muncul lagi.
Refleks, Alhaitham bergerak.
Tapi tangan Kaveh lebih dulu mengambilnya.
Seperti kebiasaan yang terbentuk tanpa disadari.
'Dokter bilang kamu gak boleh stres,' katanya lembut, mematikan layar.
'Nanti aja kalau kamu udah bener-bener kuat.'
'Aku cuma mau bilang aku udah baikan…'
Kaveh tersenyum kecil, menyentuh pipinya.
'Kamu gak perlu jelasin diri kamu ke siapa-siapa. Aku kan udah tau kondisi kamu.'
Kalimat itu terdengar manis.
Tapi pelan-pelan, dunia Alhaitham mengecil lagi, kali ini dibungkus selimut hangat bernama perhatian.
Malam hari, saat lampu kamar sudah mati, Kaveh memeluknya dari belakang.
Hati-hati. Penuh kasih sayang. Seolah Alhaitham sesuatu yang bisa pecah.
'Aku hampir kehilangan kamu,' bisiknya di rambut Alhaitham.
'Tau gak rasanya gimana?'
Tidak menunggu jawaban.
'Aku gak bisa kalau kamu kenapa-kenapa. Jadi tolong… jangan bikin aku cemas lagi.'
Kata tolong itu terdengar seperti permohonan.
Tapi di dada Alhaitham, rasanya seperti janji yang mengikat.
Karena sekarang, setiap langkahnya bukan lagi soal benar atau salah.
Tapi soal…
apakah ini akan bikin Kaveh cemas atau takut?
apakah aku egois kalau mau sesuatu sendiri?
Kaveh mengelus pelan kalung yang masih melingkar di leher Alhaitham.
'Kamu aman sama aku,' gumamnya.
Dan di kegelapan kamar itu,
Alhaitham menatap langit-langit yang gelap.
Aman.
Kata yang selalu sama.
Yang dulu terasa seperti sangkar.
Sekarang terasa seperti kunci
yang tidak pernah dia pegang sendiri.
—————
