Work Text:
Yusril sudah membuat catatan dalam kepala. Ia yakin, hari ini ia dapat menemui Lukman di sawah miliknya. Sengaja pula ia meminta tukang becak itu untuk mengantarkan beberapa barang ke sana-sini agar sibuk dan ia dapat membayarnya nanti.
“Mas Yus!” panggil Lukman dengan suara kencang, sontak membuat Yusril menoleh ke arahnya yang sedang meniti pematang sawah.
Mendapati suara yang dikenalnya itu, Yusril melambaikan tangan seraya menyapa, “Eh, Bang!”
Lukman kemudian duduk di samping Yusril, melepas topi dan menaruhnya asal. Tidak ada orang lain di gubuk milik Yusril sekarang, hanya ada Lukman dan anak kepala desa itu sendiri. “Maaf, Mas Yus jadi lama nungguin saya, ya?” tanya Lukman.
“Enggak, Bang. Nggak lama, kok.” Yusril menggeleng meyakinkan Lukman, lantas menuangkan teh manis ke dalam sebuah gelas kecil untuk disuguhkannya pada lelaki itu. “Abang pasti capek, kan? Istirahat dulu aja. Saya bawa makan siang juga, bisa buat berdua,” cerocos Yusril. Ia tak lagi bersembunyi dari perasaannya pada Lukman.
Biasanya buah jatuh tak jauh dari pohonnya, tetapi pengalaman Lukman berkata lain. Yusril begitu lembut dan peduli sementara Diryo terkesan hanya ingin memanfaatkan tubuh Lukman. Sifat mereka tidaklah mirip satu sama lain.
Gelas kecil berisi teh itu diterima oleh Lukman dengan kedua tangan. “Jangan repot, Mas Yus,” ujarnya. “Saya juga habis ini mau cari makan.”
“Daripada Abang keluar uang buat makan, mending bantu habisin masakan saya. Enak, kok, Bang.” Tangan Yusril kini sibuk membuka rantang berisi bekal makanan dan mengambil dua buah sendok dari kantong plastik yang dibawanya.
Lukman tertawa kecil. “Mas Yus jago masak, ya?”
“Ih, Abang!” Yusril menatap Lukman. “Udah saya bilang berapa kali, panggil Yusril aja. Nggak boleh ada alasan segan cuma karena Bapak saya kades,” tegas Yusril sedikit sewot.
Kembali Lukman tertawa karena respons Yusril. “Iya, iya. Saya panggil Yusril, ya?” Matanya melirik makanan yang Yusril bawa. Bohong jika ia mengaku tak lapar setelah mengayuh becaknya ke banyak tempat sejak pagi. Ia hanya sedikit sungkan karena ia biasa makan dalam porsi besar, tetapi tentu ia akan menahan diri agar tidak terlalu banyak menghabiskan bekal yang Yusril bawa.
Yusril tersenyum sembari memisahkan salah satu tutup rantang untuk diberikan pada Lukman sebagai tempat makan. “Maaf seadanya, ya, Bang,” ujarnya pada tukang becak itu.
“Segini, sih, udah mewah buat saya, Yus.”
“Abang harus banyak nasinya. Saya tadi jam 9-an udah makan.” Yusril menuangkan sebagian besar nasi putih yang tersisa ke atas wadah makan Lukman.
“Eh, jangan— Ini kebanyakan, Mas.”
“Sst! Abang makannya harus banyak.”
Lukman hanya pasrah. Ia tentu senang atas kepedulian Yusril yang tulus padanya. Wadah makan miliknya diangkat, senyum pun diulas di wajah.
Dalam waktu kurang dari sepuluh menit, baik Yusril maupun Lukman selesai dengan makan siang mereka.
“Abang setelah ini sibuk, nggak?” Yusril bertanya setelah meneguk habis segelas teh miliknya. Usai merapikan rantang dan bekas makan siang keduanya, ia bergeser tempat duduk agar lebih dekat dengan Lukman yang baru saja duduk kembali di gubuk Yusril setelah mencuci tangan.
“Nggak ada, Yus. Biasanya masih harus narik lagi, tapi ini juga uang dari Yusril lebih banyak dari pemasukan saya kalo narik seharian penuh,” jawab Lukman diiringi tawa ringan.
Yusril tersenyum lega mendengarnya. “Syukurlah kalau itu cukup buat Abang. Hari ini Abang istirahat aja, nggak usah narik lagi.”
Lukman mengangguk pelan, turut tersenyum. Tangan lelaki bertubuh kekar itu kemudian mengusap dan menepuk pelan paha Yusril. “Makasih buat makan siangnya, ya, Mas. Masakan Mas Yus enak.”
Lagi-lagi Lukman memanggilnya dengan sebutan “mas” membuat Yusril makin gemas pada tukang becak itu. Namun, ia enggan mengingatkan Lukman kali ini, toh Lukman juga perlu pembiasaan karena sudah beberapa tahun keduanya saling mengenal dan familiar dengan panggilan untuk satu sama lain. “Kalau Abang lain waktu mau saya masakin lagi, bilang aja. Menunya juga bisa menyesuaikan selera Abang.”
“Jangan repot, Mas Yus. Mas udah banyak bantuin saya selama ini. Saya nggak mau nyusahin.”
Tangan Yusril mendarat di pundak Lukman. “Bang, saya nggak akan ngerasa repot buat Abang.”
Senyum di wajah Lukman melebar. Lukman sendiri belum sepenuhnya yakin untuk membuka hati untuk Yusril, tetapi ia tidak merasa keberatan sama sekali atas perlakuan Yusril padanya. “Mas Yus gimana? Apa masih ada kerjaan lagi?” tanya lelaki bertubuh tinggi dan besar itu. Kalau dipandang, memang wajah Yusril tampak manis dan tampan di matanya. Ia juga baru menyadari garis hidung Yusril mirip dengan milik Diryo.
Di semesta lain, mungkin akan menjadi hal yang luar biasa menyenangkan jika Lukman dapat memiliki Diryo dan Yusril sekaligus.
“Saya udah nggak ada kerjaan hari ini, Bang.” Yusril sesaat menelan ludah karena gugup. Ia hanya menikmati waktunya dengan Lukman. “Bang,” panggil Yusril sembari menatap lelaki di sampingnya itu.
“Hm? Kenapa, Yus?”
“Abang sore ini mau temenin saya?”
Ingin rasanya Lukman mencubit pipi Yusril saat ini karena gemas. “Mas Yus mau ke mana? Saya temenin nanti, ya. Mumpung saya ‘libur’ juga, hahaha.” Selain menjadi bentuk terima kasihnya pada Yusril, jawaban itu juga dipilih oleh Lukman karena ia lebih baik bepergian daripada berdiam diri di rumah tanpa banyak kegiatan.
“Mau ke alun-alun aja, Bang,” jawab Yusril. Kencan dengan Lukman. Itu yang sebetulnya ia inginkan.
“Boleh. Nggak sekalian ke pasar malam, Mas? Tadi saya lihat di alun-alun cukup rame, sudah dipasang wahana sama tenda-tenda orang jualan.”
Yusril menunduk untuk sedikit menyembunyikan senyum di wajahnya yang menghangat. “Abang mau?” ia balik bertanya, khawatir jika yang diucapkan oleh Lukman hanya basa-basi belaka.
“Saya ngikut Mas Yus aja.”
“Abang nggak sibuk malam nanti?”
Lukman menggelengkan kepala, lalu merangkul bahu anak kepala desa itu. “Kalau untuk Mas Yus, saya selalu ada waktu,” jelasnya dengan senyum.
Luar biasa senangnya Yusril atas kata-kata Lukman yang terdengar begitu manis di telinga. “Nanti jam 4 saya jemput Abang, ya?”
“Nggak mau naik becak saya aja, Mas?”
Yusril mulai memberanikan diri. Ia meraih tangan Lukman dan melepas tangan itu dari pundaknya untuk ia genggam. “Abang jangan tersinggung, ya. Bukan saya nggak mau naik becak Abang, tapi alun-alun cukup jauh, loh. Saya jemput aja, oke?”
“Guyon (bercanda), Yus.” Lukman terkekeh. “Gemes banget mukamu kalo serius gitu.” Tangan Yusril terasa dingin menggenggam tangannya. Ia menyadari pula gelagat Yusril yang tampak sedikit gugup.
“Nggak lucu.” Wajah Yusril memerah.
Tawa Lukman makin kencang atas respons Yusril. Hendak ia iseng pada lelaki itu lagi, tetapi perutnya berkata lain. Wajah Lukman agak memerah dan tangannya memegangi perut sendiri, malu karena bunyi perut yang cukup kencang dan ia yakin Yusril pun dapat mendengar itu. “SSHHH,” desisnya.
“Loh, Abang kenapa?” tanya Yusril sambil memegang lengan kekar Lukman, menatapnya khawatir.
Lukman beranjak dari posisi duduknya. Ia menunduk, tangannya meremas perut. “Perut saya mules, Mas. Saya ke kali dulu, nanti balik lagi ke sini. Maaf, ya, Mas. Darurat ini, tiba-tiba mules banget.”
“Eh, i-iya, Bang. Hati-hati jalannya,” tanggap Yusril yang bingung dengan wajah sedikit bersemu kemerahan. Mendengar kata mules terucap dari mulut Lukman saja sudah membuatnya cukup salah tingkah. Melihat Lukman berjalan menjauh dari gubuknya, ide gila muncul di pikiran Yusril.
Di sepanjang perjalanan ke sungai, Lukman harus sering menenangkan diri dengan mengatur napas dan berhenti sejenak. Perutnya yang mulas bukan main seakan-akan tak bisa diajak berkompromi.
Yusril diam-diam mengikuti Lukman, menyusul tukang becak itu beberapa menit setelah Lukman pergi dari gubuk kecilnya di sawah.
Setibanya di tujuan, sebuah sungai dengan air yang jernih dan semak-semak serta pepohonan di tepinya, Lukman melihat-lihat keadaan—memastikan tidak ada orang lain. Pria berpostur tinggi besar itu pun lantas melepas celananya.
Kulit sawo matang Lukman yang lebih muda di bagian paha mengilat terpapar langsung sinar matahari. Kontolnya menggantung tegang karena menahan mulas sejak sang pemilik meninggalkan gubuk Yusril. Akan tetapi, saat sampai di sungai, mulas itu mereda.
Di balik semak-semak, tak jauh dari tempat Lukman berdiri, Yusril berjongkok memandangi sang pujaan hati. Pemuda itu menelan ludah mengagumi bagian bawah tubuh Lukman yang terekspos begitu saja. Pikiran jorok pun memenuhi benak Yusril. Kontol Yusril sendiri mulai ereksi di dalam celana, terangsang hanya dengan melihat Lukman.
Lukman tak bergegas kembali menemui Yusril karena meski mulasnya hilang, ia yakin sensasi itu akan segera muncul kembali. Seketika Lukman teringat bagaimana ia menghadapi kontraksi menjelang kelahiran hasil hubungannya dengan Diryo.
Yusril menggigit bibir bawah, meremas-remas tonjolan kontolnya yang keras dari luar celana. Ia sudah tidak sabar melihat Lukman buang hajat.
Benar saja prediksi Lukman. Perutnya kini mendadak terasa mulas lagi. Karena sepengetahuannya tidak ada orang di sekitar, ia membiarkan fantasinya menjadi liar. Lukman membusungkan perut serta mengusapnya lembut, membayangkan dirinya sedang merasakan kontraksi sebelum melahirkan. “MMMHHH,” lenguhnya lepas dengan sensual. Kontol Lukman pun berkedut, tidak ada beda dengan lubang boolnya.
Nyaris saja Yusril mengumpat. Ia makin bernafsu mendengar lenguhan Lukman, ditambah gestur tukang becak itu yang tengah mengusapi perut.
Walaupun perutnya sudah benar-benar mulas, sengaja Lukman menahan diri untuk tak langsung berak. “AHH SSSHH, Mas Diryo,” desah Lukman.
Mendengar nama bapaknya disebut, Yusril cemburu. Ia tidak sebodoh itu. Ia sudah lama menduga ada hubungan khusus di antara Diryo dan lelaki pujaan hatinya, apalagi sejak anak yang Lukman lahirkan diurus oleh Diryo sebagai “kepala desa yang peduli dan mampu mengayomi rakyatnya”. Ah, persetan soal Diryo. Yusril punya lebih banyak dari sebatas kontol untuk memenangkan hati Lukman.
Imajinasi di dalam otak Lukman menjadi lebih jelas dan mendetail. Lukman memang seorang lelaki binal, tetapi ia juga punya perasaan. Frustrasi tentunya dirasakan saat ia mengingat Diryo tak berada di sampingnya ketika ia melahirkan setahun lalu.
Yusril bergegas memerosotkan celana sampai lutut sebelum ia berjongkok lagi di balik semak-semak. Ia mengusap kepala dan batang kontolnya sembari memandangi Lukman. Sebut nama saya, Bang.
Lukman berjalan di sekitar tepi sungai tempatnya melepas celana tadi, berusaha menahan hasrat untuk mengejan akibat mulas. Sesekali ia berhenti dan berimajinasi sambil memejamkan mata.
Kepala Yusril tertunduk, matanya melihat kontol sendiri yang sudah ngaceng sempurna. Mati-matian ia mencegah dirinya turun dan mengaku pada Lukman.
“HMMMHHH, perut Abang mules—” Lukman bermonolog.
Di desa, semua orang memanggil Lukman dengan nama atau sebutan mas. Hanya Yusril seorang diri yang memanggil Lukman dengan sebutan abang karena tukang becak itu berasal dari luar daerah.
Sontak perhatian Yusril terfokus lagi pada Lukman.
“Gimana kalo udah waktunya Abang melahirkan?” Lukman mengocok kontol dalam posisi berdiri, masih sembari melawan sensasi mulas di perut. “Yus, perut Abang sakit banget. Mau brojolan ini.”
Yusril menelan ludah, ikut mengocok kontolnya sendiri di balik semak-semak. “Lahirin aja anak saya, Bang. Udah waktunya, kan?” bisik petani itu, hanya cukup untuk didengar dirinya sendiri. Luar biasa senang dan sangenya Yusril saat mendengar namanya disebut oleh Lukman yang sedang sibuk masturbasi sambil menunda buang air besar.
“AAAAHH, ABANG NGGA TAHAN!” Lukman melangkah masuk ke sungai, berdiri di bagian yang memungkinkan setengah betisnya terendam dalam aliran air.
Jangan ditahan, Sayang. Yusril mengocok kontol dengan lebih cepat saat Lukman kencing dalam posisi berdiri tepat di tepi sungai.
Lukman mendongak, lega karena tekanan di kandung kemihnya berangsur berkurang. Gemercik tercipta ketika aliran air kencingnya beradu dengan permukaan air sungai. “SSSHH AAHHHH—”
Desahan Lukman membuat Yusril makin hilang akal. Ia sendiri terus mengocok kontolnya cepat, ingin segera mendengar lenguhan dan desahan Lukman lagi. “Cepet ngeden, Sayang. Lahirin anak saya, Bang.” Palkon Yusril sudah basah oleh cairan precum.
Hendak berpindah posisi, Lukman tidak bisa lagi menahan gejolak mulas di perutnya. Begitu ia melangkah, tainya yang encer menyembur dari bool dan langsung mengotori sisi dalam kedua paha. “AH! Yus, tolong Abang,” ujar Lukman masih sembari mengocok kontolnya sendiri yang besar.
Anjing, umpat Yusril dalam hati.
“Ketuban Abang pecah, Yus.” Lukman sengaja menyiksa dirinya sendiri dengan tak langsung mengejan. “AAAAHH, ABANG MAU BROJOLAN!” serunya lepas sebab ia sama sekali tidak mengetahui bahwa Yusril sedang bersembunyi sambil mengintipnya.
“Brojolin, Bang,” bisik Yusril. Napasnya berat, desahnya tertahan agar ia tidak ketahuan. Kontol Yusril makin ngaceng, ujungnya pun makin basah. Ia terus memandang perut Lukman yang bisa dibusungkan sampai tampak seperti orang hamil, yang mungkin karena memang Lukman sudah pernah mengandung.
Lukman berdiri sambil mengusap perut, lalu membiarkan tubuhnya yang bereaksi saat mulas kembali datang. “AAAARGHHH, YUSRIIIL!”
Lelaki yang namanya disebut sontak makin sange sekaligus salah tingkah. Apa Lukman memiliki perasaan yang sama padanya selama ini? Apa Lukman melihatnya sebagai orang yang istimewa? “Ngeden, Bang,” Lukman berbisik lagi. “Ayo, ngeden buat brojolin anak saya.” Yusril mempercepat gerakan tangan di batang kontolnya yang merah dan keras, sesekali menggesekan telapak tangan pada kepala kontolnya agar basah oleh precum yang keluar.
“AAAAAHHH!” Lukman meremas perutnya yang mulas sampai tainya memuncrat tepat ke air sungai, sebagiannya menyembur mengotori kaki Lukman sendiri. “HMMNGHH!” ia refleks mengejan karena mulasnya tak kunjung hilang.
“Anjing, anjing, anjing—” Yusril terengah-engah di sela tiap bisikannya yang dimaksudkan untuk Lukman. Kontolnya berkedut dalam genggaman, sedangkan cairan precum-nya meler terus-terusan.
Merasakan tainya menekan prostat di dalam bool, Lukman luar biasa keenakan. Tangannya tak henti mengocok kontol sementara boolnya terasa sesak dimanjakan. “MMMNGHHH!” Ia membuka kakinya lebih lebar dan sedikit menekuk lutut.
Yusril berharap ia dapat berlutut atau berjongkok tepat di belakang Lukman saat ini.
Untuk sesaat, Lukman melihat ke bawah, memperhatikan kontol besarnya yang ngaceng dan kedua kakinya yang sudah berlumuran dengan tai di sisi dalam. “SSSHH HMMMMHHHH—” Lukman melenguh sambil mengejan lagi. Bibir boolnya dipaksa melebar karena ukuran tai yang besar.
Pemandangan tersebut membuat Yusril tidak tahan lagi. Namun, ia sendiri masih ragu mengekspos dirinya sekarang. Yusril tidak mau Lukman malu atau menjadikan suasana di antara mereka canggung.
“AAAAAHHH HMMMNNHH!” Lukman mendorong tainya supaya keluar lagi, kali ini sembari mendongak dan mengusap-usap perutnya yang dibusungkan. “HEUNNGHHH!” Tainya yang keras keluar dari bool dalam bentuk utuh dan panjang. Di dalam lubang kotornya, prostat Lukman terstimulasi dan membuat batang kontolnya sendiri berkedut.
Yusril mengocok kontolnya dengan kasar dan cepat sebab tak lama lagi ia akan mencapai orgasme hanya dengan melihat Lukman berak di sungai.
Meskipun sempat merasa bimbang untuk mengikuti Lukman, nyatanya Yusril tidak jijik melihat apa yang ada di depan matanya. Bahkan, alih-alih merasa jijik, Yusril terangsang dan seakan-akan sudah mengenal Lukman secara lebih intim. Indah tubuh Lukman bukan lagi khayalan semata, terutama pada bagian bawah sang pria yang, Yusril suka tak suka, sudah pernah dijamah oleh ayahnya.
Tanpa menyentuh batang kontolnya sendiri, Lukman mengejan lagi dalam posisi setengah berjongkok yang memudahkan tainya untuk keluar. “Yus, tangkap bayinya,” kata Lukman. Terlarut dalam imajinasi, ia membayangkan keberadaan Yusril di sampingnya saat ini. “AAARGHH!” Kotoran yang besar keluar sekaligus dari bool Lukman tercemplung ke air sungai. Di waktu nyaris bersamaan, tukang becak itu mencapai klimaks. Pejunya memuncrat keluar dalam jumlah banyak.
Tak ingin ketinggalan, Yusril juga akhirnya menikmati gelombang orgasme. Daun kering dan tanah di dekatnya pun menjadi sasaran semburan peju kental pemuda itu. Karena tidak ingin ketahuan, Yusril hanya bisa membuang napas dengan kasar sebagai pengganti desah kenikmatan.
Lukman membersihkan diri, terutama bagian bawah tubuhnya usai memuaskan hasrat seksual.
Hampir saja Yusril terlampau betah sampai lupa kalau ia harus sudah berada di gubuk sebelum Lukman kembali. Ia mengelap sisa peju di kontolnya dengan telapak tangan, lantas menjilat cairan itu seadanya. Tanpa lupa memakai celana, Yusril pun meninggalkan tempatnya mengintip Lukman.
Kurang dari lima menit lamanya Lukman bersiap-siap untuk kembali ke gubuk milik Yusril di sawah. Karena merasa cukup lama meninggalkan Yusril, ia merasa tak enak. Janji pada diri sendiri pun dibuat oleh Lukman: ia akan membelikan sesuatu untuk Yusril di pasar malam nanti.
Sembari menunggu Lukman kembali, Yusril berbaring santai di gubuknya. Pikirannya sekarang mengawang, membayangkan semua hal tentang Lukman yang baru saja dilihatnya di sungai tadi.
“Mas Yus!” Lukman mengangkat dan melambaikan tangannya untuk menyapa Yusril.
Yusril pun menoleh seraya bangkit dari posisi berbaringnya. “Abang,” ujar Yusril, “sakit banget, ya, perutnya?” Ia berpura-pura tak tahu apa-apa.
Lukman terkekeh atas pertanyaan Yusril. Tukang becak itu duduk di samping Lukman dan mengangguk. “Begitulah, Mas.” Tangannya mengusap tengkuk karena malu dan sungkan. “Maaf, ya, Mas Yus jadi lama nunggu saya. Tadi saya mau minta Mas untuk pulang duluan juga nggak bisa.”
Topi Lukman yang sempat tertinggal di gubuk diambil oleh Yusril, lalu diberikan pada Lukman.
“Kalo soal ini, bisa Mas kasih nanti.”
“Nggak, Bang.” Yusril menggeleng. “Saya pengen nunggu Abang. Kebetulan saya juga lagi males di rumah, makanya saya ngajak Abang buat jalan-jalan nanti,” jelasnya dengan raut wajah cukup serius—raut wajah yang menggemaskan bagi Lukman.
“Ya udah. Makasih, ya?”
“Abang makasih untuk apa?”
Lukman tertawa sambil merangkul Yusril. Ia menepuk-nepuk dan mengusap pundak lelaki itu. “Makasih karena Mas Yus udah mau nungguin saya.”
Senyum tipis terbit di wajah tampan Yusril. Ia agaknya malu karena sudah mengintip Lukman tanpa sepengetahuan tukang becak itu. Baru sekarang muncul kekhawatiran di benaknya. Bagaimana jika Lukman sebenarnya mengetahui apa yang ia lakukan?
Rangkulan Lukman masih belum dilepas. Berdekatan dengan Yusril rupanya terasa cukup nyaman.
“Nanti jadi pergi, kan, Bang? Saya takut Abang sakit perut lagi. Nanti Abang juga yang repot.”
“Jadi, dong. Mas Yus nggak usah kuatir soal itu. Tadi udah saya keluarin semua yang bikin sakit perutnya,” timpal Lukman sambil tertawa.
Kata-kata Lukman membuat Yusril sedikit salah tingkah sebab Yusril jelas-jelas sudah melihat prosesnya dengan mata kepala sendiri. Ia hanya terkekeh dan berkata, “Iya juga, ya.”
Lukman mengangguk. “Ya udah. Saya mau permisi dulu, ya, Mas. Saya mau bersih-bersih dan mandi, biar wangi waktu Mas Yus jemput nanti.”
“I-ya, Bang. Dandan yang cakep.” Senyum Yusril berpadu manis dengan semburat merah di pipi. “Jam 4 Abang harus udah siap pokoknya.”
