Actions

Work Header

pistol dan kontol

Summary:

Sudah dalam kondisi terikat, mulut disumpal, dinding anus luka, dibanjiri sperma pula, tapi dia tak berhenti memuja; buat Cristoforo, kehancuran ialah bentuk cinta tertinggi. Lebih tinggi dari langit manapun.

Notes:

Valentine edition.

Kalau kata aku sih, jangan baca semisal──kira-kira──ngga akan suka sama tag yang ada. <3 Happy valentine day, by the way!

Work Text:

Api dari lilin-lilin merah yang telah mencair di setiap sudut ruangan bergoyang gelisah, bayangannya menari liar di dinding bak iblis bersorak, seolah mereka ialah saksi bisu yang ketakutan, tercekik oleh atmosfer kamar penuh sarat akan aroma gairah. 

Tak ada aroma mawar manis atau cokelat di sana; udara justru dipenuhi oleh raksi mesiu tajam, bau logam dari minyak senjata, serta aroma khas keringat dari tubuh Cristoforo yang tengah gemetar di atas seprai sutra.

Lama ia bergidik, saraf-sarafnya menegang dalam antisipasi yang menyiksa, sementara pandangannya kabur menatap sosok di hadapan ia. Tak ada kengerian pada binar matanya, yang ada hanya kegilaan masokistik yang sedang berpesta, menuntut raga serta jiwanya dihancurkan oleh tangan yang paling ia puja──

tangan Luuk Herssen.

Lelaki bersurai pirang dengan highlight tosca itu bersimpuh angkuh di atas ranjang, bayang-bayang dari tubuh tegapnya menaungi Cristoforo bak malaikat maut yang tengah jatuh cinta. Permata ahmarnya yang tajam menatap lekat-lekat setiap lekuk tubuh sang kekasih, menguliti setiap jengkal kulitnya dengan tatapan yang lapar. 

Selagi itu, di tangan kanannya, ia genggam pistol──benda kesayangannya dengan warna hitam──yang hari ini telah ia persiapkan sebagai bentuk ‘hadiah’ kasih sayang. Terpandang laras mengkilap yang mencerminkan cahaya lilin, seakan memberi janji penderitaan nikmat bagi tuan bersurai pirang dengan permata hijau yang sudah pasrah di bawah kuasanya. Terpandang pula binar lampion merah-oranye dari kedua permata Luuk, memikat hati Cristoforo dari sejak awal mereka jumpa.

"Selamat hari kasih sayang──" bisik Luuk, suaranya parau, berat dengan nafsu, "—cantikku." Ia lantas merunduk, membuat napasnya yang hangat menyapu kulit wajah Cristoforo. "Hari ini, aku nggak mau kasih kamu bunga, karena sudah pasti layu. Aku mau hal lain. Aku mau sobek nalar dari kepala kamu, mau seret kamu ke dasar neraka sampai kamu nggak bisa lagi membedakan di mana rasa sakit berakhir dan di mana pemujaan bermula."

Cristoforo yang mendengar merasa jantungnya berdenyut hingga ke kerongkongan. Ia sudah tak sabar untuk dirusak. Binar di permata hijaunya sudah menyala-nyala dengan kilat nafsu yang sinting. Andai saja mulutnya tak disumpal oleh celana dalam miliknya sendiri, ia pasti sudah berteriak menantang Luuk; sudah memohon untuk tak banyak bicara, cukup hujam saja lubangnya, buat ia menderita dalam kenikmatan.

Dengan gerakan yang seolah lembut namun nyatanya posesif, Luuk memegang kedua paha Cristoforo. Ia tekuk kaki itu hingga lutut menekan dada, memaksa lubang merah muda yang sudah berdenyut-denyut terekspos di bawah temaram lampu. 

Tanpa peringatan, tanpa pula pelumas selain air liur yang sengaja ia ludahkan dan balur ke sepanjang laras senjatanya, Luuk menekan ujung dingin dan keras itu tepat di atas cincin otot Cristoforo. Ia paksa logam itu menjebol liang kehangatan Cristoforo, sebentuk invasi mekanis yang kasar, kering, dan sama sekali tak alami.

Tentu saja, tak alami.

Logam itu merobek paksa pertahanan Cristoforo.

Jeritan sumbang keluar dari mulutnya, namun tertahan menyedihkan pada kain celana dalam. Punggung Cristoforo lantas melengkung, setiap sarafnya berteriak kaget kala ia rasakan laras itu membuka lebar jalan masuknya, menghujam dinding-dinding anusnya yang lunak. 

Sakitnya terasa tajam, serupa diiris dari dalam. Tetapi, dari bagaimana air mata membendung di sudut mata dan bagaimana lubangnya justru menjepit laras itu dengan rakus, Luuk tahu, Cristoforo sangat menyukai rasa sakit ini. Luuk pun menyukainya—──a suka melihat bagaimana senjatanya kini tertanam dalam tubuh kekasihnya

Semakin ia tekan kedua kaki Cristoforo ke dada, semakin ia mampu melihat betapa liarnya lingkar otot liang Cristoforo menjepit baja senjatanya, mencoba menelan benda mati itu seolah-olah itu ialah daging.

Luuk kemudian menarik turun resleting celananya sendiri dengan satu tangan; yang mula-mula ia gunakan untuk menggenggam senjata. Ia bebaskan kejantannya yang sudah tegang──sebatang daging tebal, panjang, berurat menonjol, dan berdenyut panas menuntut bagian. Dan, dengan satu tekanan mutlak yang tak kenal ampun, ia masukkan tegaknya itu ke dalam lubang yang sama, yang tengah dijajah.

MMHHH—!!

Cristoforo terbelalak hebat. Kedua bola matanya mendelik ke atas hingga menyisakan bagian putih saja, sementara napasnya seakan terputus di tenggorokan karena rasa penuh yang luar biasa destruktif. 

Sakit. 

Sakit sekali hingga terasa ingin pingsan

Jari-jemari kakinya sampai menukik ke dalam menahan kejang, kedua tangannya yang diikat erat di belakang punggung mengepal hingga telapak memutih dan kuku-kuku melukai kulit sendiri. Air mata yang mula-mula tertahan kini jatuh deras membasahi pipi, mengalir hingga ke daun telinga, selagi liurnya merembes banyak melalui kain celana dalam.

Sakit, namun mencekik dengan gairah.

Sensasi menelan dua benda keras dalam liangnya ini bukanlah sekadar penetrasi; ini ialah pemerkosaan terhadap sistem sarafnya, dan Cristoforo sangat suka diperkosa oleh Luuk. Suka, suka sekali! 

Ia merasa seolah tubuhnya akan terbelah menjadi dua; di satu sisi karena baja pistol yang dingin dan licin, lalu di sisi lain karena penis yang luar biasa besar, panas, dan berdenyut meminta ruang lebih dalam lagi. Rasa yang bertolak belakang, namun sial, nikmatnya luar biasa. Keduanya lekas berdesakan, bergesekan dengan kasar di dalam rongga sempit yang kian terpaksa meregang hingga ke batas paling ekstrem, membuat kulit di sekitar otot lubangnya memucat, menipis, dan akhirnya ... sobek, mengeluarkan aroma logam yang pekat.

"Cantik," ucap Luuk dengan nada rendah, tatkala ia memandang wajah Cristoforo yang sudah merah padam, berantakan dengan berbagai cairan──baik itu tangisan, keringat, maupun liur yang menjijikkan. "Cris, kamu cantik banget kalau hancur begini." Tambah Luuk memuji dengan tawa kecil. 

Cristoforo hanya mampu menjawab melalui denyut di anus. Dia antusias atas puji itu, dia senang sampai-sampai buat Luuk mulai bergerak, memacu pinggulnya dengan dorongan pelan namun menghujam. Setiap hentakannya mengirim kepala kemaluan menumbuk laras pistol di dalam sana, mengirim keinginan untuk Luuk menggerakan tangan kanannya dengan sadis pula; memutar, menarik, lalu mendorong senjatanya secara sinkron dengan gerakan pinggul.

Suara gesekan logam dengan jaringan daging yang semakin basah dengan darah, berpadu dengan suara tamparan kulit pantat yang becek oleh rembesan pra-ejakulasi Luuk. Setiap tubrukan membuat ujung pistol menekan dan menggerus prostat Cristoforo, setiap gerakan kemaluan Luuk memberi rangsangan elektrik yang buat penis Cristoforo berkedut-kedut hebat, memuncrat-muncratkan cairan pra-ejakulasi tanpa henti di atas perutnya sendiri.

Mmhh──! Mmhh . . nnHH!

Cristoforo terus melenguh. Ia mengerang di balik sumpalannya. Kepala menengadah ke belakang dengan urat leher yang menonjol seakan siap meledak. Ia menangis; air mata kebahagiaan akan rasa sakit yang teramat sangat itu luruh melewati pelipis

Betapa sungguhnya ia mencintai kehancuran ini.

Betapa sungguhnya ia memuja bagaimana cara Luuk memperlakukannya tak lebih dari sekadar lubang kotor untuk membuang nafsu dan benih.

Luuk lantas menarik keluar pistol miliknya hingga nyaris terlepas dari lubang yang merah merona itu, hanya untuk ia hujamkan kembali bersamaan dengan penisnya dalam satu hentakan yang jauh lebih kencang. Ia ingin menanamkan eksistensinya hingga ke ulu hati Cristoforo, memastikan tak ada lagi ruang untuk oksigen dalam paru-paru sang kekasih. 

Laras pistol itu lantas mulai kembali menggores dinding internal yang sensitif, dan Luuk dapat merasakan kehangatan darah tambahan yang mulai merembes keluar, menyatu dengan cairan birahi untuk melumasi pergerakan logam dan dagingnya yang haus.

Ia menjilat bibirnya sendiri, memandang lanskap keindahan yang ternoda di bawahnya dengan kilat haus tatkala rona merah darah mulai mengalir membasahi pipi pantat Cristoforo. “Cantik,” pujanya lagi, dalam bisikan yang membuat bulu kuduk berdiri, “darah kamu ... ini cokelat valentine terbaik yang pernah aku cicip.

Ingin sekali Cristoforo memberi jawaban. Ingin ia meminta Luuk untuk membuatnya lebih terluka lagi, lebih terhias dengan cairan ahmar berbau anyir. Namun, sayang, ia tak mampu, sehingga ia memilih untuk mengunci pandang, melihat ekspresi wajah Luuk yang sedang keenakan atas dirinya dengan tatapan sayu.

Luuk, selagi itu, lekas percepat ritme gerak pinggulnya hingga ke titik puncak kecanduan. Dorongan-dorongannya menjadi serangkaian hantaman tanpa ampun yang mengguncang seluruh ranjang. Ia biarkan laras pistol miliknya ditelan dalam lubang yang semakin menganga, sementara kedua tangannya beralih merenggut paha Cristoforo agar mengangkang lebar-lebar, mengekspos pemandangan lubang yang menjepit dua benda besar itu.

Cristoforo tak lagi mampu berpikir jernih. Ia hanya dapat mendesah dalam ekstase yang menyakitkan, penuh lena. Tangannya terus mengepal kuat di belakang punggung hingga kulit di telapak tangan semakin terluka lantaran menahan perih serta nikmat di lubangnya. Tubuh Cristoforo terus berguncang hebat setiap kali Luuk menghujamkan miliknya dalam-dalam.

Dan, tatkala Luuk merasakan denyut hebat di sepanjang tegaknya yang menandakan klimaks, ia putuskan kembali menekan laras pistol itu sedalam mungkin hingga ujungnya menekan prostat Cristoforo dengan kuat, sementara itu, ia benamkan penisnya hingga ke pangkal, menghantam ujung rektum dan membuat kepala merah mudanya menembus batas usus. Perut rata Cristoforo jadi nampak sedikit membuncit ke atas di bawah tekanan ganda dari baja dan daging itu.

Haah.” Luuk mengerang, suara yang keluar dari tenggorokannya begitu berat begitu ia menyemburkan spermanya yang panas, kental, dan melimpah ruah ke dalam lipatan usus serta dinding anus Cristoforo. 

Di saat yang sama, tubuh Cristoforo mengalami kejang-kejang hebat, spermanya menyembur keluar bak air mancur, selagi dadanya membusung tinggi mencari oksigen yang hilang.

MNHHH . . ! !

Ada pekik panjang yang tertahan dari lisan Cristoforo, ada lengkingan tinggi yang kemudian hilang menjadi napas yang tersengal-sengal dan patah sebelum akhirnya ia terkulai lemas tak berdaya. Matanya sempat terpejam, hanya sampai seluruh tubuhnya lunglai, seolah tulang-tulangnya telah dicairkan oleh orgasmenya sendiri──serta banjir sperma panas Luuk dalam dirinya.

Ia berbaring di sana, berantakan dan kotor, dipandangi oleh Luuk yang menyeringai puas, merasa senang dapat melihat kehancuran mahakaryanya. Rasanya, Luuk ingin melakukannya lagi dan lagi sampai Cristoforo benar-benar pecah.

Kendati begitu, ia justru memilih menarik keluar kemaluan serta senjatanya dengan sangat lambat, menikmati setiap inci gesekan kulit yang terluka dan becek. Kedua permatanya lantas turun, menatap dengan puas pemandangan lubang Cristoforo yang kini menganga, memerah, dan membendung kolam sperma bercampur darah sebelum akhirnya berdenyut lemas, mengeluarkan aliran campuran kedua cairan itu ke atas seprai.

Kotor. 

Hina.

Namun, Luuk suka. Suka sekali. Ia lekas merunduk, memberi ciuman lembut di kening Cristoforo yang penuh peluh dan sisa-sisa air mata. 

“Cantik,” katanya dengan suara yang kembali tenang. Ia tarik pula celana dalam yang sudah basah kuyup oleh liur dan sisa napas yang sedari tadi menyumpal mulut Cristoforo, “ingat, mati dan hidup kamu ... setiap tetes darah dan lubang ini ... cuma milik aku.

Haa . . haah──hh,” Untuk sesaat, Cristoforo hanya bisa mengatur napasnya yang pendek, buru-buru begitu mulutnya bebas dari sumpalan. Ia pandang wajah Luuk melalui bulu mata yang sudah basah. Garis bibirnya ia tarik pelan, membentuk senyum sebelum ia perlahan mengangkat kepalanya yang lemas, mencium bibir Luuk yang merah, manis, “haahh . . hari kasih sayang masih panjang ... aku masih hidup juga, Herssen. Jadi isi lagi, penuhi lubang aku sampai aku mati.