Work Text:
Lelaki Ahn temannya banyak, ucapan selamat ulang tahun datang silih berganti. Yang mengucapkan langsung saat bertemu di kampus bahkan tak dapat dihitung jari. Seonghyeon pun tak heran kalau temannya yang satu itu banyak dapat hadiah. Pun hari kelahiran temannya berbarengan dengan hari kasih sayang. Semesta memang paling berperan, sayangi salah satu mahluknya sampai diberi kehidupan untuk dirayakan bertepatan dengan hari di mana kasih sayang diserukan.
Seonghyeon merayakan, ia ikut merayakan bersama teman-teman dekat Keonho dan kedua orang tua Keonho di kediaman lelaki Ahn. Doa digaungkan pada semesta, lilin ditiup si pemilik hari, pun kecup di kedua pipi diberikan Bunda dan Ayah Keonho tanpa permisi. Seonghyeon terkikik geli dapati Keonho salah tingkah begini, pura-pura marah sebab dicium di depan banyak temannya, nyata ia paling menikmati afeksi yang diberi oleh kedua orang tuanya.
"Eh?" Seonghyeon yang tengah makan kentang gorengnya mengernyit saat jari kelingkingnya ditarik. Ada Keonho yang tatap Seonghyeon dengan mata teduhnya, lantas Seonghyeon paham apa yang dimaksud temannya.
Rumah Keonho masih ramai, teman-temannya masih bercanda di dalamnya. Keonho hanya ingin jeda, sekejap saja untuk rayakan hari spesialnya tanpa diganggu siapa-siapa.
Taman belakang rumah Keonho jadi tujuan. Seonghyeon ikut duduk disamping sofa yang memang digunakan untuk bersantai di sana. Duduk di sebelah Keonho yang sudah buka lengan kirinya. Lantas jarak tak lagi nampak, Seonghyeon sandarkan kepalanya di lengan Keonho dan tanpa sadar mendusal di dadanya sebelum tatap Keonho dengan senyum manisnya. "Serta mulia."
Yang hari ini bertambah usia mengangguk dengar ucap manis temannya. "Gue yakin semesta kabulin semua doa yang ada. Jadi sebaik-baiknya manusia ya."
Lengkung bibir Keonho naik sempurna. Manisnya kalahkan gula, dalam hati Seonghyeon memuji lantaran temannya tampan sekali. Harapnya semesta berbaik hati semoga temannya banyak senangnya.
"Makasih banyak ya." Keonho pun hanya mampu balas demikian. Namun di bawah sana jemarinya mulai genggam tangan milik sang teman. Ibu jarinya usap halus punggung tangan milik Seonghyeon, diusap pelan buat makin nyaman.
"Iya sama-sama."
"Makasih ya."
"Kok makasih lagi?"
"Iya biar sama-sama terus."
"ALAY!"
Taman belakang riuh tawa keduanya. Keonho terkikik dapati Seonghyeon mengatainya demikian. Pun Seonghyeon tak mengira bualan begitu akan keluar dari bibir temannya.
"Sebentar ya." Keonho tak sadar bibir Seonghyeon mencebik sebab nyaman yang sedang mereka bagi harus disudahi. Seonghyeon pun tak paham kemana perginya sang teman, tak lama sampai Keonho kembali datang dengan buket bunga berisikan bunga lily merah muda yang disusun sedemikian rupa.
"Tadi gue nemenin Ayah beli bunga buat Bunda terus kok liat bunga ini kaya bagus gitu, terus dikson pertangkainya kata mbaknya gara-gara lagi hari kasih sayang. Mumpung diskon jadinya yaudah gue beli aja. Tadinya mau dikasih ke Bunda tapi Bunda maunya bunga bank. Nah daripada mubazir gue kasih ke elu aja, kalau misal gak--"
Lanturan ucapan sang teman Seonghyeon bungkam dengan satu kecupan, ringan tapi buat kinerja otak Keonho tak karuan. Bunga dalam dekapan Keonho diambil pelan oleh Seonghyeon. "Bunganya cantik."
"Cantikan elu sih."
"Dih."
Pipi Seonghyeon rasanya hangat.
"Selamat hari kasih sayang."
"Iya sayang."
"Hei?"
"Kan sayang temen?"
"Nggak salah sih." Keonho mengelak pun tak kuasa sebab faktanya jelas nyata depan mata. "Sini duduk lagi deh." Lantas bunga dalam dekap Seonghyeon diletakan di atas sofa, kembali duduk bersisian dengan temannya tanpa jarak berarti di antaranya. Keonho merogoh saku jaketnya untuk dapati sebungkus pepero ada di sana.
Bungkus pepero dibuka, dimakan satu-satu sampai Keonho sadari tatap lugu mengarah padanya. Seonghyeon yang menyandarkan kepala di lengannya tatap Keonho dengan lamat. "Mau?" Keonho tawarkan pepero pada sang teman. Anggukan ringan jadi jawaban, dan seharusnya Seonghyeon ambil sendiri dari bungkus di genggaman sang teman. Sebab yang Keonho sodorkan adalah pepero yang sudah tergamit di antara bilah bibirnya.
Seonghyeon masih ada dalam rangkulan, dan yang mengusulkan kegilaan pun mabuk kepayang dapati Seonghyeon sudah gigit ujung peperonya. Wajah mereka makin dekat, Keonho tatapi wajah ayu milik temannya yang hampir tak berjarak. Hidung bangirnya, bulu matanya jatuh cantik ketika sedang berkedip. Keonho bisa rasakan hembusan nafas sang teman yang rasanya makin dekat saja. Lantas saat Keonho pegang pelan leher belakang sang teman sambil didorong pelan, bibir mereka akhirnya bersentuhan ringan. Pepero sudah tandas, harusnya keduanya jauhkan kepala. Bukannya saling tatap sambil nikmati wajah satu sama lain dengan dekat. Begitu Keonho miringkan kepala, Seonghyeon pejamkan mata.
Ciumannya tak tergesa. Duduk mereka makin rapat, tangan Seonghyeon masih diusap-usap, pun jangan tanya siapa yang mau sekarat saat bibir makin disesap kuat. Keonho sesap bibir bawah temannya lamat-lamat, dilumat hikmat sebab nikmat makin hebat. Manisnya disesap Keonho, disesap lagi sebab makin disesap manisnya makin jadi. Tangan Seonghyeon peluk leher temannya, pun remasan diberikan Seonghyeon pada rambut sang teman sambil mundurkan kepala pelan-pelan.
"Mau lagi..." Keonho majukan wajahnya kembali. Permohonan tergambar jelas di matanya. Seonghyeon terkekeh dibuatnya. Pilih majukan wajah untuk gesekan hidung bangir keduanya. "Pelan aja. Gue nggak kemana-mana."
Keonho beri anggukan, gigit bibir bawah Seonghyeon hingga timbulkan pekik. Keonho terkikik sebelum beri kecup di titik yang tadi ia gigit. Kecup sekali, kecup dua kali, kecup lagi buat Seonghyeon tak tahan sendiri. Kepala belakang Keonho ditahan supaya bibir mereka tetap bertautan. Mata mereka yang belum terpejam saling tatap, sampaikan apa yang ada dalam angan dengan harapan semoga paham.
Yang Keonho lakukan adalah bawa sang teman dalam pangkuan. Seonghyeon dipangku Keonho. Ada Seonghyeon dalam pangkuan sang teman. Peluk erat di pinggang sang teman dilakukan Keonho tanpa beban. Yang kemudian bibir mereka kembali bertaut dengan lidah yang saling bersambut. Mereka berbagi saliva yang saat dirasa biasa-biasa saja, bukan hal aneh sebab rasanya malah candu. Mencumbu bibir ranum sang teman sering terlintas dalam angan, Keonho menang karena benar-benar bisa sesap bibir sang teman tanpa gangguan. Rematan Seonhyeon di bahu Keonho menguat saat lidahnya disesap, enak. Seonghyeon jujur saja karena memang begini adanya. Menikmati cumbu yang diberi dengan jantung berdebar tak tau diri.
Dicium lagi dicium terus, napas terputus sambut keduanya begitu Keonho urai ciuman mereka. Untaian saliva terjalin dari bibir keduanya saat Keonho mundurkan wajah. Pipinya merah, yang ada dalam pangkuan tak kalah merahnya. Bibir Seonghyeon layak masuk jajaran narkoba sebab sekali coba buat Keonho lupa dunia. Manisnya senyum Keonho tanpa sadar buat Seonghyeon elus pipi temannya. Dielus pelan buat Keonho terpejam. Tawa lembut milik sang teman buat Keonho buka matanya, oh jadi begini wujud indahnya ciptaan semesta yang semestinya Keonho puja sampai tua. Lengkung manis sang teman buat Keonho sadari bibir merekahnya masih terbalut saliva, pun tanpa aba-aba Keonho tarik kaos milik sendiri pada bagian leher untuk bersihkan bibir temannya.
"Ayu banget kalau ketawa."
Ya harusnya Keonho hanya perlu memuja. Keonho harusnya memuja Seonghyeon dengan membabi buta sebab senyumnya, harusnya Keonho ketawa juga lantaran tawa Seonghyeon candu di telinga. Harusnya Keonho ketawa bukannya malah jatuh suka.
"Bunda nyariin kalian."
Suara yang tiba-tiba datang buyarkan lamunan keduanya. Bak tertangkap basah Seonghyeon segera bangun dari pangkuan temannya. Wajah dan telinganya memerah lantaran dipergoki dalam posisi demikian. Keonho tak kalah merahnya hanya pura-pura santai aja.
"Itu temen-temen pada mau pamitan." Tubuh rasanya kaku, Seonghyeon mengangguk sebelum ambil buket bunga dari atas sofa. "Iya Bunda ini kita kesana hehe."
Aduh, malunya.
"Oh bunganya buat Seonghyeon toh. Tadi Ayah bilang kamu milih bunga yang arti---"
"BUNDAAAAA...." Keonho cengengesan sambil gandeng tangan sang bunda. Kedip matanya buat Bunda paham. Anaknya sudah besar rupanya.
"Bentar deh." Seonghyeon yang sedari tadi mengekor di belakang Bunda ikut berhenti saat Bunda Keonho berhenti. Genggaman tangan sang anak di lepas oleh Bunda Keonho sebelum perempuan itu berbalik ke arah Seonghyeon. Jemarinya yang lentik terulur mengusap bibir Seonghyeon, jangan ditanya siapa yang tahan napas saat Bunda Keonho berbuat demikian.
"Besok ganti produk bibirnya ya sayang. Nggak transferpoof nih, belepotan."
Kepiting kalah merah sama dua manusia yang nyatanya ketahuan Bunda. Seonghyeon reflek peluk Bunda Keonho sembari berseru, sedangkan Keonho hanya bisa berharap bumi telan dia saat ini juga. Lalu satu hal yang dipelajari Keonho pada hari di mana ia dilahirkan ke dunia, harus yang transferpoof rupanya.
