Actions

Work Header

All too well

Summary:

just read it. Little angst. Anxin lebih tua daripada Arno. Age switch agar lebih masuk ke dalam ceritanya. Terinspirasi dari All Too Well milik Taylor Swift. Selamat menikmati!

Work Text:

Tahun itu, New York terasa seperti panggung pribadi mereka, atau setidaknya begitulah cara Jiahao mengingatnya. Pertemuan itu terukir abadi di sebuah galeri seni ternama di Chelsea, dalam sebuah acara amal eksklusif yang berkilauan oleh cahaya lampu kristal dan percakapan bisik-bisik dari elit Manhattan. Jiahao, seorang fotografer muda dengan portofolio yang baru saja mulai menanjak, merasa seperti sehelai benang kusut di tengah gulungan sutra. Ia berdiri di dekat jendela besar, tatapannya menyapu cakrawala kota yang berkilauan, merenungkan ironi dari gemerlap ini yang terasa begitu asing baginya.

"Kau terlihat seperti sedang merencanakan pelarian dari sini," sebuah suara berat nan tenang menyela lamunannya. Suara itu memiliki resonansi yang dalam, memancarkan kepercayaan diri yang memikat.

Jiahao menoleh, jantungnya berdebar samar. Disampingnya berdiri sosok pria matang dengan setelan jas mahal, kacamatanya bertengger di hidung mancungnya, membuatnya tampak berkali lipat lebih tampan— sosok yang memancarkan aura berbeda dari kerumunan. Ia memegang segelas kopi, bukan sampanye seperti kebanyakan elite di sini, dan mengenakan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku, memperlihatkan lengan yang kuat dan jam tangan perak yang berkilau redup. Dia lebih tua dari Jiahao, dengan garis-garis samar di sudut matanya yang justru menambah karisma kematangan dan kedewasaannya.

"Apakah itu terlihat jelas?" tanya Jiahao, mencoba menyembunyikan rasa gugupnya.

"Hanya bagi mereka yang merasakan hal yang sama. Aku Anxin. Dan kurasa kau adalah fotografer yang karyanya dipajang di sudut sana. The wide-eyed gaze, bukan?" Pria itu tersenyum tipis, sorot matanya tajam namun menenangkan. Jiahao tertegun. Anxin tidak hanya menyadari keberadaannya, ia bahkan mengenal karyanya—sebuah seri foto potret yang menangkap kepolosan di tengah kekacauan kota.

Sepanjang malam itu, gemerlap galeri seolah meredup. Dunia mereka menyusut menjadi lingkaran percakapan intim tentang Brooklyn, tentang kegelisahan usia muda, dan tentang paradoks merasa sendirian di tengah keramaian karena keduanya sama-sama introvert.

"Kau tahu," bisik Anxin saat mereka keluar dari gedung galeri menuju udara malam yang dingin.

"Ada sesuatu tentangmu, Jiahao. Sesuatu yang terasa seperti rumah, tapi kau sendiri belum menyadarinya." Anxin membuka mantelnya yang tebal dan dengan gerakan lembut menyampirkannya ke bahu Jiahao, menutupi tubuh mungil Jiahao yang menggenakan dress, seolah siap melindungi Jiahao. Pipi Jiahao memerah, ia menghirup aroma kayu cendana dan parfum mahal dari mantel itu seolah memeluk badan mungil Jiahao. Di bawah lampu jalan New York yang kuning remang, Jiahao merasa seperti telah menemukan pusat gravitasi baru.

 


 

Setelah pertemuan gala itu, Anxin menghuni setiap sudut pikiran Jiahao. Jiahao yang biasanya pemalu, merasa dorongan tak tertahankan untuk menghubungi pria itu. Pesan singkatnya tentang "kopi dan sampanye" dijawab Anxin dengan kepastian yang menggetarkan. Sejak saat itu, dimulailah sebuah fase pendekatan yang pelan namun pasti—sebuah tarian emosi yang menggebu-gebu di balik ketenangan mereka berdua.

Anxin tidak mengejarnya dengan agresif, melainkan dengan ketelitian seorang kurator seni yang sedang menangani mahakarya. Ia mulai memenuhi hidup Jiahao dengan kejutan-kejutan intelektual yang manis. Ia akan mengirimkan buku-buku puisi kuno ke studio Jiahao dengan catatan kecil di halaman tertentu:

"Aku membaca ini dan teringat caramu menatap cakrawala." Pesan yang Anxin tuliskan disela-sela buku puisi yang ia kirimkan pada gadis tersebut.

Ia akan menjemput Jiahao dengan mobilnya di tengah hujan gerimis, hanya untuk membawanya ke sebuah toko buku bekas di sudut tersembunyi Brooklyn yang hanya diketahui oleh penduduk lokal.

Anxin meyakinkannya bukan dengan janji-janji kosong, tapi dengan kehadiran yang intens. Suatu sore saat mereka berada di Metropolitan Museum of Art, berdiri di depan lukisan yang sunyi, Anxin berbisik dengan suara yang menggetarkan hati Jiahao yang rapuh.

"Banyak orang memotret apa yang mereka lihat. Tapi kau memotret apa yang kau rasakan. Itu bakat yang berbahaya, karena itu berarti kau memberikan sepotong jiwamu pada dunia."

"Jangan berikan jiwamu pada sembarang orang. Simpanlah untuk seseorang yang tahu cara menghargainya." Anxin meraih tangan Jiahao, merapatkan jemari mereka di balik saku mantelnya.

Anxin tidak membiarkan Jiahao menebak-nebak; ia adalah pria dengan niat yang jelas. Setiap pagi, sebuah pesan singkat telah menunggu; setiap malam, sebuah telepon panjang menemani tidur. Jiahao merasa hatinya mekar seperti musim semi yang berkembang di tengah musim dingin. Ia merasa ditinggikan. Anxin tidak hanya memujanya secara fisik, tapi ia merayakan pikiran Jiahao, mimpi-mimpinya, dan bahkan ketakutan kecilnya.

"Aku sedikit takut, Anxin," aku Jiahao suatu malam di sebuah restoran kecil yang intim. Anxin mengajaknya untuk makan bersama malam itu, memulai pembicaraan dan menyajikan beberapa kesah dari Jiahao. 

"Semua ini terasa terlalu indah. Bagaimana jika aku mengecewakanmu?" Anxin meletakkan garpunya, menatap Jiahao dengan intensitas yang membuat napas Jiahao tercekat, tatapannya tegas nan tampan, buat Jiahao terpesona.

"Jiahao, Sayangku, Cantikku, kau tidak bisa mengecewakanku dengan menjadi dirimu sendiri. Aku sudah melihat setiap sudut jiwaku melalui matamu. Aku tidak sedang mencari kesempurnaan, aku sedang mencarimu. Biarkan aku menjagamu. Biarkan aku membuktikan bahwa kau layak mendapatkan seluruh dunia." Ucapan Anxin kala itu membuat Jiahao melupakan banyak hal, Ia benar-benar merasa diinginkan dan dicintai.

Fase berbunga-bunga itu berlanjut saat Anxin mulai membawa Jiahao masuk ke lingkaran sosialnya yang dingin dan elit. Namun, Anxin menjadikannya hangat bagi Jiahao. Dalam setiap jamuan makan malam privat antar para kolega, Anxin akan meletakkan tangannya di tengkuk Jiahao atau di pinggangnya, menunjukkan dominasi yang protektif sekaligus penuh kebanggaan.

Jiahao ingat bagaimana Anxin pernah memotong pembicaraan seorang kritikus seni yang sombong hanya untuk meminta pendapat Jiahao.

"Tunggu sebentar," sela Anxin dengan senyum tenang.

"Jiahao, cantikku, beritahu kami bagaimana sudut pandangmu. Karena pendapatmu lah yang paling ingin kudengar malam ini." Malam itu Jiahao mengupkankan pemikirannya yang indah dan cerdas, Anxin melihatnya bangga, menatapnya penuh puja saat melihat Jiahaonya terdidik sempurna dan menjanjikan masa depan yang cemerlang untuknya, gaya bicara Jiahao yang santun memikat para seniman yang ada disana, membuat Anxin menaiki tangga sosial yang semakin tinggi karena Jiahao.

 


 

Puncaknya terjadi ketika Anxin membawa Jiahao ke apartemen pribadinya, sebuah ruang yang terasa seperti tempat perlindungan kedap suara dari hiruk-pikuk Manhattan di luar sana. Ruangan itu hanya diterangi oleh beberapa lilin yang berpijar lembut, memantulkan bayangan di antara rak-rak buku yang menjulang tinggi, menciptakan atmosfer yang intim dalam balutan aroma kayu jati yang bercampur dengan wangi tembakau mahal. Di sana, di bawah cahaya temaram, mereka memadu kisah yang paling sakral.

Jiahao duduk di tepi ranjang, jari-jarinya meremas seprai yang terasa dingin dan licin, sementara Anxin datang menghampiri, melepaskan kacamatanya, menaruhnya di laci terdekat dan duduk di samping Jiahao hingga bahu mereka bersentuhan, menyalurkan kehangatan yang kontras dengan kegelisahan di hati sang fotografer muda.

"Kau masih memikirkannya?" suara Anxin merambat pelan, namun resonansinya yang dalam terasa hingga ke detak jantung Jiahao. Jiahao menunduk, menatap jemarinya sendiri dengan perasaan was was yang tak kunjung reda. Jiahao merasa perasaannya asing, terlalu asing untuk Jiahao yang hidupnya mengabadikan diri untuk seni dan ayahnya. 

"Aku hanya sedang berpikir... bagaimana jika aku terlalu mencintaimu? Di galeri itu, aku hanyalah orang asing. Sekarang, kau membawaku kesini, jauh ke dalam duniamu. Aku merasa seperti sedang membangun istana di atas pasir, Anxin. Aku takut jika aku menaruh seluruh kepercayaanku padamu, aku tidak akan punya jalan pulang jika suatu saat kau berubah. Aku takut cintaku terlalu jatuh dan dalam, hingga aku kehilangan diriku sendiri." Mendengar itu, Anxin meraih dagu Jiahao dengan lembut namun penuh otoritas, memaksanya untuk menatap mata yang selalu tampak tenang dan meyakinkan itu.

"Dengar," ucap Anxin dengan nada yang tak menyisakan ruang bagi keraguan.

"Aku sudah melewati masa di mana hidupku hanya tentang diriku sendiri. Kau lihat foto itu?" Ia menunjuk ke sebuah bingkai tua di sudut ruangan.

"Itu aku, di atas ranjang twin-sized tempat aku dulu bermimpi tentang masa depan yang besar. Tapi di semua mimpi itu, aku selalu sendirian. Aku selalu merasa ada yang kurang dalam hidupku, hingga aku melihatmu di sudut galeri itu." Anxin mengusap pipi Jiahao dengan ibu jarinya, sebuah sentuhan yang perlahan-lahan membakar sisa-sisa kecemasan Jiahao. Tatapannya menghangat, buat Jiahao tenang. Anxin memiringkan kepalanya, mencuri sebuah kecupan yang membuat jantung Jiahao hampir lepas, tangannya meraih pergelangan tangan Anxin, merematnya tanda kegelisahan perlahan mulai pudar. 

"Kau takut cintamu berlebihan? Sayangku, aku justru ingin kau jatuh sedalam mungkin, karena aku di sini, berdiri di dasar untuk menangkapmu. Aku tidak ingin kita hanya sekedar berjalan bersisihan; aku ingin kita berkembang bersama, saling memperbaiki celah yang ada. Jika kau takut mempercayaiku, biarkan aku yang membuktikan setiap hari bahwa aku layak untuk itu. Aku akan membalas perasaanmu setinggi yang kau beri, bahkan lebih." Jiahao menarik napas panjang, aroma kayu cendana dari tubuh Anxin seolah merasuki logikanya dan melumpuhkan pertahanannya.

"Kau berjanji tidak akan membiarkan komunikasi kita terputus? Ayahku selalu bilang, diam adalah awal dari perpisahan." Anxin tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tampak begitu jujur bagi mata Jiahao yang naif kala itu, mengharap kesetiaan Anxin dan kejujuran pria yang sudah jelas lebih tua 9 tahun darinya. 

"Kita akan selalu bicara. Tentang ketakutanmu, tentang kopimu, tentang duniamu, bahkan tentang ketakutanku, pelikku, serta duniaku. Aku tidak akan membiarkanmu sendirian, bahkan dalam diammu. Kau akan berusia dua puluh satu sebentar lagi, Jiahao. Dan aku berjanji, itu akan menjadi tahun terbaikmu. Aku akan memujamu di umur barumu, menjagamu hingga kita menua bersama. Kau adalah rumahku." Mendengar sumpah itu, Jiahao merasa benar-benar telah menemukan pusat gravitasinya. Di tengah keintiman yang sakral di atas seprai mahal itu, ia akhirnya membiarkan dirinya menyerah sepenuhnya, membisikkan kata "aku percaya" ke kulit Anxin sebagai sebuah pengikat jiwa. Anxin membubuhkan banyak kata cinta disela ia mengagumi mahakarya Tuhan yang ia idamkan. Jiahao dibawah kendalinya sangat cantik, rapuh, serta berharga kala ia menyatukan tubuh mereka malam itu. Keperawanan Jiahao diberikan secara sukarela dengan perasaan keduanya yang sangat menggebu. Dengan hati-hati dan penuh cinta, Anxin menoreh tanda kepemilikan di setiap inci badan Jiahao, mengukungnya, memujanya bak dewi yang membuat Jiahao meneteskan air matanya karena merasa beruntung menjadi seseorang yang dicintai dan dirayakan kala itu. Pergumulan malam itu terasa panas dan mendebarkan, pengalaman pertama yang takkan Jiahao lupakan. 

Jiahao menyerahkan segalanya—mimpinya, tubuhnya, hingga rahasia terdalamnya. Ia tidak melihat bagaimana sorot mata Anxin tetap tenang dan sedingin es, bahkan saat pria itu membalas pelukannya dengan sangat erat. Bagi Jiahao, ini adalah awal dari selamanya, sebuah mahakarya cinta yang ia percayai akan abadi.

Karena itulah, sebelum mereka pergi untuk akhir pekan ke rumah saudara perempuan Anxin, Jiahao melakukan sesuatu yang disengaja. Ia melihat syal merahnya tertinggal di atas laci kayu tua di apartemen itu. Saat Anxin memanggilnya untuk berangkat, Jiahao menoleh sejenak ke arah syal itu, lalu tersenyum tipis. Ia memutuskan untuk meninggalkannya di sana sebagai janji, sebuah simbol bahwa separuh jiwanya telah ia titipkan dan ia akan selalu kembali ke "rumah" ini. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa segala ketenangan, komunikasi, dan janji yang dibangun Anxin malam itu hanyalah sebuah skenario yang disusun dengan sangat rapi— sebuah mahakarya yang sedang dipersiapkan Anxin hanya untuk kemudian ia robek sendiri tanpa belas kasihan.

 


 

Saudara perempuan Anxin, Sangwon, adalah sosok yang memancarkan sikap elegansi dingin yang serupa dengan Anxin, namun dengan tatapan yang lebih menyelidik. Di meja makan yang terbuat dari kayu ek tua, suasana terasa formal. Jiahao, yang mengenakan gaun sederhana namun anggun pilihan Anxin, merasa seperti sebuah objek seni yang sedang dipamerkan di tengah koleksi barang antik keluarga tersebut.

"Jadi, Jiahao," Sangwon memulai percakapan sambil memotong daging dengan presisi, sempurna, layaknya seorang bangsawan terpandang. 

"Anxin bercerita banyak tentang bakatmu. Ia bilang kau memotret jiwa, bukan sekadar wajah. Tapi New York adalah tempat yang keras bagi jiwa yang terlalu lembut, bukan begitu?" Jiahao merasa tenggorokannya tercekat. Ia melirik Anxin, mencari pegangan. Anxin yang sedang menyesap wine merahnya, meletakkan gelasnya perlahan. Ia tidak membiarkan Jiahao menjawab sendirian.

"Itulah sebabnya aku ada di sana, Sangwon," sela Anxin dengan suara berat yang menenangkan. Ia mengulurkan tangan di atas meja, mengusap punggung tangan Jiahao di depan mata kakaknya. Sangwon hanya meliriknya dan berdecih melihat Anxin begitu memuja Jiahao.

"Jiahao tidak perlu menjadi keras untuk bertahan. Dunia justru membutuhkan kelembutannya, dan aku yang akan memastikan dunia tidak merusaknya. Bukankah begitu, Sayang?" Jiahao mengangguk pelan, merasa begitu terlindungi. Di depan keluarga elite ini, Anxin tidak ragu menunjukkan dominasinya yang protektif. Setiap kali ada pertanyaan yang menjurus pada latar belakang Jiahao yang sederhana atau usianya yang masih terlalu muda, Anxin selalu punya cara untuk memutar percakapan itu menjadi pujian bagi Jiahao.

Setelah makan malam, Anxin membawa Jiahao ke perpustakaan pribadi keluarga. Di sana, mereka bertemu dengan suami Sangwon, yaitu Leo, seorang kolektor seni yang disegani. Siapa yang tak mengenal sosok Leo. Ia sendiri juga mengagumi sosok berwibawa nan tenang itu. 

Setelah Anxin pamit sejenak untuk menerima telepon bisnis yang mendesak, keheningan di perpustakaan itu mendadak terasa berat, seolah oksigen di ruangan itu baru saja ditarik keluar dengan paksa. Ruangan yang dipenuhi aroma kertas tua dan kayu jati itu kini menjadi medan pertempuran sunyi. Sangwon berdiri di depan perapian, jemarinya yang lentik memegang gelas kristal berisi cairan amber yang berkilau tertimpa cahaya api. Ia tidak menatap Jiahao; matanya tertuju pada lidah api yang menjilat kayu bakar dengan rakus, mencerminkan gejolak di dalam dirinya. Sangwon telah melihat banyak "proyek" Anxin sebelumnya, namun baru kali ini adiknya itu membawa seseorang pulang ke rumah ini, ke dalam ruang sakral keluarga. Hal itu membuatnya muak sekaligus merasa perlu memberi peringatan dramatis.

"Kau tahu, Jiahao," suara Sangwon memecah kesunyian, terdengar tajam namun bergetar oleh sesuatu yang menyerupai empati yang dipaksakan— gesekan beludru di atas lapisan es.

"Anxin memiliki selera yang luar biasa. Selama tiga puluh tahun aku mengenalnya, dia adalah predator estetika yang paling sabar. Dia tidak pernah memilih sesuatu yang biasa-biasa saja. Dia melihat potensi pada dirimu yang bahkan mungkin tidak kau sadari sendiri. Potensi untuk... dibentuk." Jiahao mencoba berdiri tegak di bawah gaun sutranya, meski lututnya terasa sedikit lemas, menghargai kakak dari pria yang dipujanya ini. 

"Anxin menghargai karyaku, Sangwon. Dia melihat dunia dengan cara yang sama denganku. Kami memiliki koneksi yang melampaui sekedar hobi." Sangwon terkekeh, sebuah suara yang pendek, kering, dan penuh sinis. Ia akhirnya menoleh, menatap Jiahao dengan tatapan yang seolah sedang menguliti setiap lapisan pelindung sang fotografer, seperti melihat seekor domba yang jatuh cinta pada serigalanya.

"Benarkah? Koneksi? Atau dia hanya sedang meminjam matamu untuk sementara waktu agar bisa merasakan kembali apa itu 'kepolosan'?" Sangwon melangkah mendekat, aroma parfum mawar hitamnya yang berat kini terasa mencekik.

"Anxin adalah seorang arsitek emosi, Jiahao. Dia tidak hanya mencintai seseorang; dia membangun sebuah monumen untuk egonya sendiri. Dia memberimu buku puisi kuno, membawamu ke tempat-tempat tersembunyi, membuatmu merasa seolah kau adalah satu-satunya manusia yang mampu memahami bahasanya. Itu bukan cinta, itu adalah isolasi yang dikemas sebagai romansa." Ia menatap Jiahao lebih dalam berusaha semampunya untuk menyadarkan Jiahao akan peliknya dan rumitnya pemikiran Anxin.

"Pertanyaannya adalah, apa yang terjadi jika 'monumen' itu sudah selesai dibangun? Anxin mencintai kesempurnaan dari sebuah proses penaklukan. Dia sangat sabar dalam membangun pondasi—memastikan kau benar-benar bergantung padanya, memastikan kau tidak lagi punya jalan pulang karena kau sudah membakar semua jembatanmu demi dia. Dia menciptakan 'rumah' untukmu hanya agar dia memiliki kuasa mutlak untuk mengusirmu darinya saat dia mulai bosan. Hati-hati, Gadis Kecil. Jangan sampai kau lupa cara bernafas tanpa bantuannya, karena saat dia memutuskan untuk berhenti menjadi oksigenmu, kau akan mati lemas dalam sekejap di ruang hampa yang ia ciptakan." Jiahao terpaku, kata-kata Sangwon terasa seperti racun yang merambat perlahan melalui aliran darahnya.

"Anxin tidak seperti itu. Kami selalu berkomunikasi. Dia menjanjikan masa depan di ulang tahunku yang ke-21. Dia memintaku untuk percaya. Dan aku memutuskan untuk mempercayainya." Sanggah Jiahao dengan penuh kepastian dan kepercayaan pada Sangwon, ia tahu jika Sangwon hanya mengecohnya. Ia berusaha tak menggubris Sangwon yang menegurnya dengan penuh kata-kata sarkasme itu. 

"Dia menjanjikan apa yang perlu kau dengar agar kau tetap diam di tempat yang ia tentukan," balas Sangwon tajam, sebelum berbalik pergi dengan langkah anggun tanpa suara, meninggalkan Jiahao yang gemetar di depan api yang kian meredup.

Belum sempat Jiahao mencerna racun dari Sangwon, Leo mendekatinya dari kegelapan sudut rak buku. Leo adalah pria yang bijak; ia memahami mengapa istrinya begitu sarkas— itu adalah cara Sangwon melindungi diri dari kegilaan adiknya sendiri. Namun, Leo juga memahami Anxin; ia memahami kegelapan yang tersembunyi di balik setelan jas mahal itu. Berbeda dengan Sangwon yang menyerang dengan ketajaman, Leo berbicara dengan nada seorang pengamat yang netral namun sangat dingin.

"Sangwon memang terkadang terlalu dramatis," ujar Leo tenang, suaranya berat dan penuh wibawa, seolah bisa membaca keraguan di pikiran Jiahao.

"Tapi kau harus mengerti, dia bicara seperti itu karena dia sudah terlalu sering melihat akhir dari cerita-cerita Anxin. Hanya saja, kali ini berbeda. Anxin membawamu ke sini, memperkenalkanmu pada kami. Itu berarti permainannya kali ini jauh lebih besar dari biasanya." Leo mengambil sebuah buku tua dari rak, mengusap sampul kulitnya yang retak dengan ibu jari yang kasar.

"Anxin adalah kolektor yang sangat teliti. Di keluarga ini, kami menghargai nilai dari sesuatu yang langka hanya selama barang itu masih memberikan stimulasi intelektual bagi kami. Lihat buku ini. Sangat indah, bukan? Anxin menemukannya di sebuah pelelangan kecil di Paris. Dia merawatnya, memujanya seolah itu adalah relik suci. Tapi coba kau perhatikan lebih dekat..." Leo membuka buku itu secara tiba-tiba, menunjukkan halaman-halamannya yang rapuh dan sedikit menguning.

"Buku ini indah karena ia terisolasi dari dunia luar. Begitu ia dikeluarkan ke udara bebas atau disentuh oleh tangan yang salah, ia akan mulai hancur. Itulah yang sedang Anxin lakukan padamu, Jiahao. Dia membawamu ke sini bukan untuk memperkenalkannya, tapi untuk 'meresmikan' kepemilikannya atas dirimu di depan saksi, menjadikannya sebuah perayaan ulang tahun ke-21 yang megah seolah-olah ini adalah debut seorang putri yang akan ia kurung dan dekap sepenuhnya, yang memungkinkanmu sulit untuk keluar. Kamu masih terlalu muda untuk itu." Leo menatap Jiahao melalui kacamata tipisnya dengan pandangan yang kosong dan tanpa emosi.

"Kau merasa ditinggikan, merasa menjadi pusat dunianya—setidaknya itulah yang ingin Anxin kau rasakan. Tapi perhatikan posisimu sekarang. Kau berada di rumah yang asing, dikelilingi oleh orang-orang yang menilai setiap helaan nafasmu, dan satu-satunya peganganmu hanyalah Anxin. Tidakkah kau merasa bahwa 'keamanan' yang dia berikan sebenarnya adalah sebuah sangkar emas?" Leo menghembuskan asap cerutunya, menciptakan kabut abu-abu yang mengaburkan pandangan Jiahao.

"Dia membalas cintamu dengan 'ketinggian' yang sama, seperti yang kau katakan. Tapi ingat, semakin tinggi dia membawamu terbang untuk melihat pemandangan yang indah, semakin hancur tulang-tulangmu saat dia memutuskan untuk melepaskan genggamannya tanpa peringatan. Sangwon hanya tidak ingin kau hancur tanpa tahu apa yang menimpamu." Leo memberikan senyum tipis yang terasa lebih dingin daripada udara musim dingin di luar.

"Selamat ulang tahun yang ke-21, Jiahao. Selamat datang di dunia orang dewasa, di mana cinta sering kali hanyalah nama lain dari sebuah strategi kepemilikan yang direncanakan dengan sangat rapi." Leo beranjak keluar sesegera mungkin, menghindari Jiahao yang sedang dalam kebingungan, memberikan cela untuknya berfikir memilih diam atau pergi dari sisi Anxin. 

 


 

Di dalam perpustakaan yang sunyi itu, Jiahao merasa seolah dinding-dinding kayu jati di sekelilingnya mulai merapat, menciptakan sebuah labirin yang menyesakkan. Kata-kata Sangwon dan Leo bukan sekadar peringatan; mereka adalah palu yang menghantam kaca pelindung naif yang selama ini membungkus dunianya. Jiahao mulai terjebak dalam realitas yang menyakitkan, dimana setiap memori manis bersama Anxin mendadak berubah warna menjadi sesuatu yang lebih gelap dan penuh kalkulasi. Ia menatap pantulan dirinya di cermin besar berlapis emas, menyadari dengan ngeri bahwa ia tidak lagi mengenali sosok di depannya. Gaun sutra yang ia kenakan bukan lagi simbol kemewahan, melainkan seragam dari sebuah peran yang telah dituliskan Anxin untuknya. Ia mulai mempertanyakan apakah cinta yang ia rasakan adalah sebuah ikatan yang tulus, ataukah hanya sebuah erosi identitas yang sistematis, dimana Anxin secara perlahan telah menghapus setiap garis tepi kepribadiannya untuk digantikan dengan kurasi yang sempurna.

Keraguan itu berkembang menjadi sebuah emosional saat ia merenungkan janji Anxin tentang "ketinggian yang sama, cinta yang setara, usaha yang sama besarnya". Jiahao baru menyadari bahwa selama ini ia tidak sedang terbang bersama Anxin; ia sedang dibawa ke puncak sebuah menara tinggi yang pondasinya sepenuhnya berada di bawah kendali pria itu. Ia merasa ngeri membayangkan betapa mutlaknya ketergantungan ini. Jika Anxin adalah oksigennya, maka Anxin juga memiliki kuasa untuk membiarkannya mati lemas dalam sekejap. Paradoks antara perlindungan dan isolasi mulai terlihat jelas; perlindungan Anxin terasa seperti sangkar emas yang memutus hubungannya dengan dunianya yang lama—teman-temannya di Brooklyn dan studionya yang kini terasa seperti kehidupan di masa lalu yang sangat jauh. Syal merah yang ia tinggalkan di apartemen Anxin kini menghantui pikirannya bukan lagi sebagai janji untuk kembali, melainkan sebagai bukti penyerahan diri yang bodoh, sebuah kunci yang ia berikan secara sukarela kepada sang penjara jiwanya.

Puncaknya, Jiahao mulai merasa ngeri dengan ketenangan Anxin yang tak tergoyahkan. Ia bertanya-tanya, apakah kelembutan tangan Anxin saat membelainya adalah kasih sayang, ataukah hanya ketelitian seorang kurator yang memastikan "aset"-nya tetap dalam kondisi prima sebelum dipamerkan atau dihancurkan. Setiap kata "percaya padaku" yang diucapkan Anxin kini bergema di benaknya sebagai perintah hipnotis yang dirancang untuk membungkam insting bertahan hidupnya. Jiahao merasa terjebak di tengah labirin tersebut; kembali ke belakang berarti mengakui bahwa hidupnya selama ini adalah kebohongan yang indah, namun melangkah maju berarti menyerahkan lehernya sepenuhnya pada pisau pengkhianatan yang mungkin saja sudah disiapkan Anxin di balik punggungnya. Di tengah kedinginan malam itu, Jiahao menyadari bahwa ia bukan lagi seorang kekasih, melainkan sebuah mahakarya yang sedang menunggu keputusan sang seniman: apakah ia akan dipuja selamanya, atau dirobek hingga tak bersisa. Jiahao menyadari, selama ini kata cinta yang disampaikan tak pernah keluar dari mulut Anxin, mayoritas kata "Aku mencintaimu" keluar dari mulutnya, Anxin hanya memujanya dengan kata-kata hiperbola betapa cantik dan mengangumkan dirinya, kepalanya berat. Pemikiran yang tak pernah ia sadari memabukkannya. Jiahao tak lagi bisa membedakan apapun. 

Pintu perpustakaan terbuka dengan suara gesekan halus yang nyaris tak terdengar, namun bagi Jiahao, bunyi itu seakan dentang lonceng yang memanggilnya kembali ke realitas yang semu. Anxin melangkah masuk, memecah kabut keraguan yang baru saja menyesakkan dada Jiahao. Ia telah meletakkan ponselnya, dan ekspresi wajahnya kembali pada ketenangan yang presisi— sebuah topeng kedamaian yang kini, di mata Jiahao yang mulai curiga, terasa lebih seperti ketenangan permukaan laut sebelum badai besar menghantam. Anxin tidak perlu bertanya untuk mengetahui bahwa atmosfer di ruangan itu telah berubah; ia melihat bahu Jiahao yang kaku dan binar matanya yang bergetar hebat di bawah cahaya lilin dan kecantikannya terpancar penuh keraguan di depan cermin tersebut. 

Dengan langkah yang mantap, Anxin mendekat. Ia tidak memberikan ruang bagi keraguan untuk bernapas lebih lama. Ia langsung melingkarkan tangannya di pinggang Jiahao, sebuah gerakan posesif yang halus, menarik tubuh mungil itu masuk ke dalam dekapan kemeja hitamnya yang hangat. Memeluknya dari belakang, di depam cermin yang menjadi saksi bisu bagaimana Anxin begitu memuja Jiahao, ia memberikan kecupan kecupan ringan di leher Jiahao, membuat Jiahao kembali terjebak dalam sosoknya. Aroma kayu cendana dan sisa tembakau mahal kembali menyerbu indra penciuman Jiahao, mencoba menidurkan nalar yang baru saja terbangun dengan paksa.

"Sayang, kau terlihat seperti baru saja melihat hantu. Apa mereka mengganggumu?" bisik Anxin tepat di telinga Jiahao, suaranya terdengar begitu tulus, dalam, dan penuh keprihatinan yang manis, seolah ia adalah satu-satunya pelindung yang tersisa di dunia ini. Jiahao tampak ragu, namun ia masih percaya Anxin. 

"Mereka... mereka bicara hal-hal yang tidak kumengerti, Anxin. Sangwon bilang kau sedang membangun monumen, dan Leo bilang aku hanyalah sebuah buku yang rapuh," bisik Jiahao dengan suara bergetar, tanpa sadar menyandarkan kepalanya di dada bidang Anxin, menatap dari kaca bagaimana ekspresi Anxin, menghirup aroma yang selama ini ia anggap sebagai penawar segala racun.

"Abaikan saja mereka, Sayang. Jangan biarkan kata-kata Sangwon meracunimu. Dia hanya sulit memahami bahwa ada sesuatu yang murni di dunia ini, sesuatu yang tidak bisa ia miliki. Ingat apa yang kukatakan di apartemen? Komunikasi kita adalah yang utama. Selama kau percaya padaku, dunia di luar sana tidak akan bisa menyentuhmu bahkan Sangwon sekalipun." Anxin terkekeh rendah— sebuah vibrasi yang merambat dari dadanya ke telinga Jiahao, suara yang selama ini menjadi kompas keselamatannya.

"Aku sabar karena kau layak ditunggu, Jiahao. Aku membawamu ke rumah ini untuk merayakan masa depanmu. Percayalah padaku, karena hanya aku yang tahu cara menjagamu. Aku berjanji, besok akan menjadi pembuktian bahwa kau adalah pusat dari duniaku." Tangan Anxin membalikkan badannya, membuat Jiahao berhadapan dengannya. Tangan yang semula mampir di pinggang mungil Jiahao, kini menangkup wajah Jiahao dengan kedua tangannya yang besar dan hangat, memaksa mata Jiahao yang berkaca-kaca untuk menatap langsung ke dalam manik matanya yang gelap— sebuah sumur tak berdasar yang penuh dengan janji-janji palsu.

Malam itu, Anxin menggendongnya dengan penuh cinta, di kamar tamu yang megah dengan ranjang besar berselimut beludru, Anxin membantu Jiahao melepaskan perhiasan dan gaunnya dengan ketelitian seorang kurator yang sedang menangani barang antik yang tak ternilai harganya. Tangannya menyentuh kulit Jiahao yang dingin karena udara malam, memberikan sensasi terbakar yang manis sekaligus melumpuhkan logika. Di bawah tatapan intens Anxin, Jiahao merasa dirinya kembali ditinggikan, seolah peringatan Sangwon dan Leo hanyalah ujian pahit yang harus ia lalui untuk mencapai cinta yang abadi. Jiahao menyerah, ia kalah telak dalam kukungan Anxin malam itu. Jiahao menyukai segalanya tentang Anxin, bagaimana Anxin memberikan kecupan hangat dan membubuhkan kata-kata pujaan, yang sebenarnya Jiahao sadari tak sekalipun Anxin membalas kata cinta darinya disaat pelepasan mereka. Hanya ada kata-kata "kamu cantik, kamu bidadariku, kamu rumahku." Arno melupakan fakta tersebut, tenggelam dalam sentuhan gairah yang diberikan disetiap jengkal tubuhnya. 

Jiahao, yang dalam hatinya sedang menjerit ketakutan, akhirnya memilih untuk menyerah. Kenaifannya menang telak melawan insting bertahan hidupnya. Ia memejamkan mata, membiarkan aliran kata-kata cinta Anxin menghapus bayangan hitam yang sempat muncul. Ia kembali menjadi kanvas yang pasrah, menyerahkan setiap inchi kedaulatan jiwanya kepada sang seniman yang ia puja.

Ia tertidur dengan perasaan ditinggikan dan senyum tipis di wajahnya, merasa telah menemukan pelabuhan terakhir di pelukan pria ini. Ia membayangkan syal merahnya di apartemen Anxin sebagai simbol janji bahwa ia akan selalu kembali. Jiahao tidak pernah menyadari bahwa di balik pintu kamar yang tertutup itu, saat nafasnya sudah mulai teratur dalam tidur, Anxin meninggalkan dekapannya, berdiri di dekat jendela, menatap salju yang turun dengan mata yang tetap dingin dan penuh perhitungan. Semua kelembutan ini hanyalah lapisan cat terakhir; panggung telah selesai disiapkan, dan Anxin hanya tinggal menunggu fajar menyingsing untuk merobek seluruh dunia Jiahao hingga tak bersisa.

 


 

Pagi itu, fajar ulang tahun ke-21 Jiahao tidak menyingsing dengan cahaya keemasan yang hangat, melainkan dengan langit kelabu yang tampak seabu-abu semen. Awan menggantung rendah, seolah sedang menahan napas menyaksikan sebuah tragedi yang tertunda. Di teras batu kediaman keluarga Anxin yang megah, kabut tipis menyelimuti taman belakang, memberikan nuansa melankolis yang meramalkan akhir dari sebuah dongeng sebelum ia benar-benar dimulai.


Jiahao berdiri mematung di sana, masih mengenakan gaun sutra yang semalam tampak begitu indah namun kini terasa seperti beban yang berat dan kostum yang salah tempat. Matanya sembab, sisa dari malam yang penuh keraguan yang bertarung dengan pelukan yang terlalu erat. Di dalam, Anxin kembali berbicara dengan ayahnya melalui telepon mengenai "urusan bisnis mendesak". Di tengah kesunyian teras yang membeku itu, langkah kaki yang ritmis dan elegan mendekat. Itu adalah Sangwon.


Sangwon tidak lagi mengenakan gaun zamrudnya. Ia kini dibalut jubah sutra panjang berwarna hitam yang berkibar pelan tertiup angin musim dingin, membuatnya tampak seperti bayangan yang megah sekaligus mistis—seorang ratu yang sedang meninjau reruntuhan kerajaannya sendiri. Ia berdiri di samping Jiahao, menatap lurus ke arah hutan yang membeku tanpa memandang pemuda itu secara langsung.

"Anxin akan membawamu pulang pagi ini," suara Sangwon memecah kesunyian, tajam namun bergetar oleh kecemasan yang tulus.

"Dia akan memberitahumu bahwa kepulangan ini adalah demi ketenanganmu. Dia akan berperan sebagai ksatria yang menyelamatkanmu dari 'kekejaman' keluarganya. Aku sudah hafal setiap bab dalam buku permainannya, Jiahao. Dia sangat ahli dalam membakar rumah seseorang, lalu datang membawa segelas air dan mengharapkan ucapan terima kasih seolah dia adalah pahlawan." Jiahao menoleh, mencoba mencari sisa-sisa sarkasme semalam, namun yang ia temukan adalah keheranan dan keletihan jiwa di mata Sangwon.

"Dia mencintaiku, Sangwon. Dia hanya ingin aku merasa aman dari segala pendapat kalian," bisik Jiahao pelan, mencoba mempertahankan benteng kepercayaannya yang sebenarnya mulai retak. Sangwon akhirnya berbalik, melangkah mendekat hingga ia berhenti tepat di depan Jiahao. Ia menatap mata pemuda itu dengan intensitas yang seolah sedang membedah setiap fragmen jiwanya, tatapan matanya menjadi iba kala melihat Jiahao tampak rapuh dan dipenuhi rasa cinta mendalam untuk adiknya. 

"Keamanan? Tidak, Gadis Kecil. Dia sedang mengisolasimu. Dia tahu aku dan Leo sudah mulai menyisipkan retakan pada kaca pelindungmu, maka dia harus segera membawamu kembali ke tempat di mana suaranya adalah satu-satunya frekuensi yang bisa kau dengar. Dia ingin kau merasa bahwa dunia di luar sana terlalu jahat dan menghakimi, sehingga hanya di dalam pelukannya kau bisa benar-benar bernafas." Sangwon merogoh saku jubahnya dan mengeluarkan sebuah kartu nama kecil dari kertas premium berwarna gading dengan tinta emas yang timbul. Tanpa suara, ia meraih tangan Jiahao dan memaksa jemari yang dingin itu untuk menggenggamnya erat.

"Simpan ini. Masukkan ke dalam pakaianmu yang paling dalam, jangan biarkan mata tajamnya melihat ini," bisik Sangwon dengan nada dramatis yang jujur.

"Aku sudah melihat banyak orang lewat di hidup Anxin, tapi kau adalah kasus khusus. Aku belum pernah melihatnya memuja seseorang sampai setingkat ini—dia meninggikanmu seolah kau adalah hal yang paling suci. Dan justru itulah yang membuatku ketakutan." Sangwon mendekatkan wajahnya, suaranya kini selembut desiran angin namun sekuat peringatan badai.

"Anxin yang meninggikanmu setinggi langit adalah Anxin yang paling berbahaya. Semakin tinggi dia menempatkanmu di atas alas porselen itu, semakin sedikit ruang bagimu untuk bergerak. Dia memujamu bukan karena siapa dirimu, tapi karena kesempurnaan yang ia proyeksikan padamu. Jika suatu saat kau merasa oksigen di sekitarmu habis karena kau hanya hidup dalam 'pemujaan'-nya... hubungi aku. Aku tahu cara keluar dari labirin ini, karena aku mengenal salah satu dari sedikit orang yang berhasil selamat darinya, meski dengan luka yang tak akan pernah sembuh." Jiahao terpaku. Ia merasakan sudut tajam kartu itu menusuk telapak tangannya—sebuah rasa sakit fisik kecil yang nyata di tengah pertarungan psikologisnya. Ia ingin membantah, namun di hadapan tatapan Sangwon yang penuh kepedihan, ia kehilangan kata-kata.

Saat Sangwon berbalik meninggalkan teras dengan langkah yang sedikit terhuyung oleh beban kejujurannya, ia hampir menabrak Leo, suaminya yang sedari tadi berdiri mematung di balik pintu kaca. Leo telah menjadi saksi bisu dari pengkhianatan kecil yang dilakukan istrinya demi menyelamatkan jiwa seorang asing.
Sangwon tampak terguncang; menyerahkan kartu nama itu adalah deklarasi perang halus terhadap adiknya sendiri. Leo melangkah maju, dadanya yang bidang memberikan perlindungan fisik bagi Sangwon dari udara dingin. Tanpa suara, Leo mengulurkan tangannya yang besar dan hangat, menggandeng jemari Sangwon dengan kekuatan yang stabil—sebuah jangkar di tengah badai.

"Kau melakukannya dengan benar," bisik Leo di dekat telinga Sangwon. Tidak ada nada menghakimi, hanya pengertian mendalam.

"Ini berbeda, Leo," sahut Sangwon dengan suara yang hampir pecah, matanya masih menatap Jiahao yang berdiri bingung di teras.

"Anxin benar-benar memujanya. Dia menempatkan Jiahao di tempat yang begitu tinggi sehingga anak itu tidak akan sadar saat fondasinya mulai dihancurkan. Anxin akan merobek kepolosan itu pelan-pelan, dan Jiahao akan tetap berterima kasih kepadanya karena dia tidak tahu apa itu luka yang direncanakan. Aku tidak bisa diam melihat Anxin menumbalkan kemurnian anak itu demi obsesi 'estetika'-nya." Leo mengangguk perlahan, menarik Sangwon lebih dekat ke sisinya dan membiarkan istrinya bersandar pada bahunya yang kokoh.

"Kita tidak bisa menghentikan Anxin saat dia sudah memutuskan untuk 'mendekati' seseorang. Tapi kita bisa memberikan gadis itu sebuah kompas untuk jalan pulang. Biarkan mereka pergi sekarang. Anxin sudah merasa dia menang karena telah berhasil membawa 'pujannya' kembali ke dunianya yang tertutup." Leo menatap Jiahao melalui kaca—sebuah tatapan penuh iba dan hormat yang sunyi. Di rumah yang penuh dengan intrik dan manipulasi ini, ia menyadari bahwa satu-satunya hal yang layak mereka perjuangkan adalah sisa-sisa kemanusiaan yang masih berdenyut di dalam dada mereka.

 


 

Tak lama kemudian, Anxin muncul dari balik pintu kaca besar, melangkah dengan keanggunan. Ia telah mengenakan mantel wol hitamnya yang dipotong sempurna, tampak begitu rapi seolah-olah ketegangan semalam tidak pernah menyentuhnya. Dengan kepekaan predator yang tajam, ia segera menyadari atmosfer yang berubah di teras itu, namun alih-alih menunjukkan kecurigaan, ia justru menampilkan gestur "perlindungan" yang luar biasa.

Ia mendekat, merangkul bahu Jiahao dengan kehangatan yang memabukkan, lalu mencium pelipisnya dengan penuh khidmat. Tindakannya begitu lembut, seolah-olah ia baru saja menjemput sesosok dewi yang tersesat di tempat yang salah. Setelah berterima kasih kepada Sangwon dan Leo dengan formalitas yang dingin namun sopan, ia membimbing Jiahao pergi.

"Ayo, Sayang. Kita pulang. Manhattan merindukanmu," ucap Anxin dengan nada yang begitu manis hingga membuat Jiahao didera rasa bersalah yang hebat karena telah menyimpan kartu nama Sangwon di saku gaunnya. Bagi Jiahao yang naif, keputusan Anxin untuk pergi lebih awal adalah bukti cinta yang mendalam—bahwa Anxin lebih memilih ketenangannya daripada formalitas keluarga yang menyesakkan. Suasana di dalam mobil mewah yang kedap suara itu terasa sangat privat, sebuah setting yang selalu disukai Anxin untuk melancarkan pengaruhnya. Anxin meraih tangan Jiahao, menggenggamnya erat dengan jemari yang kokoh, dan tidak melepaskannya sepanjang perjalanan menyusuri jalanan yang bersalju.

"Maafkan aku soal kakakku, Sayang. Dia memang suka bicara misterius hanya untuk merasa dirinya penting dan berkuasa," ucap Anxin dengan suara berat yang menenangkan, getarannya seolah mampu meruntuhkan dinding pertahanan batin Jiahao.

"Aku tidak tahan melihatmu terlihat begitu kecil dan tertekan di bawah tatapannya. Itu sebabnya aku membawamu pulang. Aku ingin hari ulang tahunmu hanya tentang kita, tanpa gangguan orang-orang yang tidak mengerti betapa istimewanya kamu."

"Tapi... kenapa kita pulang secepat ini? Bukankah ini hari ulang tahunku?" tanya Jiahao lirih, mencari kepastian di tengah badai emosi yang berkecamuk. Anxin tersenyum—sebuah senyuman penuh pengabdian semu yang biasanya membuat Jiahao merasa sangat aman, namun kini entah mengapa terasa sedikit asing.

"Karena urusan bisnis dengan ayahku semakin mendesak, Sayang. Ada restrukturisasi bisnis yang krusial kemungkinan besok malam. Aku harus memastikan posisiku kuat di depan Ayah, agar tidak ada lagi yang bisa mengatur dengan siapa aku harus menghabiskan hidupku. Aku melakukan ini semua untuk melindungi masa depan kita, agar aku bisa terus menjagamu di tempat yang layak bagimu." Ia mengangkat tangan Jiahao, mengecup punggung tangannya dengan penuh khidmat seolah sedang melakukan ritual pemujaan.

"Abaikan saja semua yang mereka katakan. Mereka hanya melihat dunia dari sisi transaksi dan kekuasaan. Mereka tidak mengerti bahwa kau adalah rumahku, Jiahao. Aku melakukan semua ini—bahkan harus meninggalkanmu malam ini dan bekerja sampai fajar—karena aku sangat memujamu. Kau percaya padaku, bukan? Hanya padaku." Di bawah pengaruh suara Anxin yang menghipnotis dan aroma kayu cendana yang memenuhi kabin mobil, keraguan Jiahao perlahan memudar, tertutup oleh lapisan "perlindungan" baru yang dibangun dengan sangat rapi. Jiahao mengangguk pelan, menyandarkan kepalanya di bahu Anxin, mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa firasat buruknya hanyalah paranoia belaka.

Namun, di balik saku gaunnya, jemari Jiahao diam-diam meraba sudut tajam kartu nama Sangwon. Sudut kertas premium itu sedikit melukai telapak tangannya—sebuah rasa sakit fisik kecil namun nyata yang menyadarkannya pada satu kebenaran yang pahit. Di balik kata-kata indah dan "pemujaan" agung Anxin, ada sebuah isolasi yang sedang menantinya. Jiahao tidak menyadari bahwa kepulangan ini bukanlah pelarian menuju kebebasan, melainkan awal dari sebuah isolasi yang terencana secara sistematis. Anxin sedang menggiringnya kembali ke apartemen di Manhattan—sebuah sangkar emas di mana suara Anxin akan menjadi satu-satunya kebenaran yang boleh ia dengar.

 


 

Malam ulang tahun ke-21 Jiahao bukan sekadar perayaan kedewasaan; itu adalah sebuah upacara penyerahan jiwa yang dibungkus dengan kemegahan aristokrat dan manipulasi emosional yang sempurna. Di dalam apartemen Manhattan yang luasnya terasa mengintimidasi, Anxin telah menyulap ruang tamu menjadi altar cahaya. Puluhan lilin aromatik dengan wangi oud dan amber menyala di setiap sudut, menciptakan pendaran emas yang memantul pada lantai marmer hitam, seolah-olah mereka sedang berpijak di atas air yang tenang namun mematikan. Di tempat inilah, kehangatan yang selama ini Jiahao rasakan mulai berubah menjadi dingin yang menggigit, meski dibalut dalam kata-kata manis yang tak pernah absen.

Zhang Yixing berdiri di tengah ruangan itu, tampak begitu kontras dengan segala kemewahan yang ada. Sosoknya yang bersahaja, dengan gurat lelah di wajah yang menceritakan tahun-tahun kerja keras di studio tua Brooklyn, seakan menjadi jangkar realitas terakhir bagi Jiahao. Namun, Anxin tidak membiarkan kecanggungan itu bertahan lama. Dengan keanggunan seorang predator yang menyamar sebagai pelindung, Anxin mendekati Yixing. Ia tidak berdiri tegak dengan keangkuhan hartanya; sebaliknya, ia menanggalkan otoritas dunianya dan memilih bersikap rendah hati, hampir menyerupai seorang murid dihadapan guru.

Anxin menjabat tangan kasar Yixing dengan kedua tangannya sendiri, sedikit membungkukkan tubuh dalam gestur penghormatan yang sangat terukur. Tindakan ini seketika meruntuhkan tembok pertahanan Yixing. Bagi seorang pria yang menghabiskan hidupnya dengan jujur, kerendahan hati pria seberkuasa Anxin adalah racun yang sangat manis. Sambil menuangkan sampanye terbaik ke gelas Yixing, Anxin memulai mempengaruhi psikologisnya.

"Tuan Zhang, terima kasih sudah bersedia hadir. Aku tahu Brooklyn terasa sangat jauh dari sini, tapi aku ingin kau melihat sendiri di mana Jiahao akan menghabiskan masa depannya," ucap Anxin dengan nada lembut. Yixing menatap gelasnya, lalu menatap Anxin dengan ragu.

"Tempat ini terlalu tinggi, Nak Anxin. Anakku... dia lebih suka membumi. Aku takut dia akan pusing melihat dunia dari ketinggian seperti ini." Anxin tersenyum tipis, sebuah senyuman yang menenangkan sekaligus mengunci.

"Itulah mengapa aku ada di sini, Tuan Zhang. Untuk menjadi pegangannya agar dia tidak jatuh. Aku tidak hanya mencintainya; aku memujanya. Bagiku, Jiahao adalah satu-satunya hal murni yang tersisa di dunia yang kotor ini. Aku telah berjanji pada diriku sendiri—dan sekarang di hadapanmu—bahwa aku akan melindunginya dari setiap debu dan rasa sakit yang pernah ia rasakan di jalanan. Di tanganku, warnanya akan menjadi lebih terang, Tuan Zhang. Aku akan memastikan tidak ada satupun debu yang hinggap di mahakaryanya." Momen paling krusial terjadi saat kue ulang tahun bertingkat itu diletakkan di atas meja marmer. Suasana mendadak hening, hanya ada suara denting gelas sampanye yang diletakkan dan musik klasik yang mengalun tipis. Anxin melangkah ke belakang Jiahao, menarik tubuh pemuda itu hingga punggungnya menempel erat pada dada bidangnya. Ia melingkarkan lengan di pinggang Jiahao dengan posesif yang dibungkus rapi sebagai perlindungan, menyandarkan dagunya di bahu Jiahao.

"Lihat, Tuan Zhang. Bukankah dia terlihat sempurna di bawah cahaya ini?" bisik Anxin, namun suaranya sengaja dikeraskan agar didengar sebagai sumpah.

"Jiahao, Cantikku, buatlah permohonan. Mintalah dunia, dan aku akan memberikannya padamu di depan ayahmu malam ini. Katakan pada Ayahmu bahwa kau telah menemukan tempat di mana kau tidak akan pernah merasa sakit lagi." Anxin memulai acara malam itu, kemudian Jiahao berbisik dengan suara gemetar oleh emosi. 

"Aku hanya ingin... kita tetap seperti ini. Aku ingin tetap merasa aman." Ucap Jiahao dengan suara parau

"Kau akan selalu aman," janji Anxin sambil mengecup pelipis Jiahao dengan durasi yang terasa abadi—sebuah ciuman yang di mata Yixing tampak seperti kasih sayang luar biasa, namun dalam skenario Anxin, itu adalah stempel kepemilikan.

"Tiup lilinnya, Sayang. Malam ini, di depan pria yang membesarkanmu, aku meresmikanmu sebagai satu-satunya mahakarya yang akan kupuja seumur hidupku." Lilin itu padam dalam satu hembusan nafas. Yixing bertepuk tangan pelan dengan mata berkaca-kaca, benar-benar percaya bahwa ia telah menyerahkan anaknya ke tangan seorang pelindung suci. Ia tidak menyadari bahwa binar di mata Anxin bukan berasal dari kehangatan cinta, melainkan dari kepuasan seorang sutradara yang melihat adegannya berjalan sempurna.

Malam ulang tahun Jiahao berubah menjadi sebuah simfoni pahit yang dimainkan dengan sangat apik di atas panggung kemewahan Manhattan. Hanya sepuluh menit setelah tawa mereda dan gelas-gelas sampanye berhenti berdenting, mantra kebahagiaan itu pecah. Getaran ponsel di saku mantel wol hitam Anxin memicu perubahan atmosfer yang drastis; pria itu menatap layarnya dengan kening berkerut, memasang ekspresi yang dingin dan terburu-buru, seolah-olah seluruh dunia sedang runtuh dan hanya dialah sang penyelamat. Dari kejauhan, ayahnya memberikan anggukan kecil—sebuah kode rahasia, instruksi tanpa kata yang tidak dipahami Jiahao, namun terasa seperti lonceng kematian bagi kebebasannya.

Anxin menarik Jiahao menjauh dari kerumunan teman-temannya menuju koridor apartemen yang remang-remang. Disana, jauh dari musik yang masih berdentum pelan, suasana mendadak terasa privat dan mencekik.

"Jiahao, maafkan aku," bisik Anxin, suaranya berat namun penuh desakan yang dimanipulasi secara sempurna.

"Ayahku baru saja menelpon. Pertemuan restrukturisasi darurat dengan investor dari perbankan pusat dimajukan malam ini juga. Ini adalah batu loncatan terbesar untuk posisi tertinggiku di perusahaan, Jiahao. Ini kunci agar aku bisa menjagamu tanpa intervensi siapapun lagi." Jiahao terpaku, jemarinya yang gemetar tanpa sadar meraba gaun merahnya dengan berantakan.

"Malam ini? Tapi Ayahku baru saja sampai, Anxin... ini malam ulang tahunku. Tidak bisa ditunda ya?" Anxin menangkup wajah Jiahao, ibu jarinya mengusap tulang pipinya dengan ritme yang menenangkan namun memaksa.

"Justru karena ayahmu ada di sini, aku harus pergi. Aku harus membuktikan padanya bahwa aku layak untukmu, bahwa putrinya berada di tangan orang yang menguasai kota ini. Aku pergi demi memuja dirimu di tempat yang lebih tinggi besok." Dengan kecupan lama di dahi yang lebih terasa seperti segel kepemilikan daripada kasih sayang, Anxin segera menghilang di balik pintu lift sesaat setelah anggukan pedih Jiahao yang coba mengerti untuk menggandeng mengamankan takhtanya. Begitu pintu lift tertutup, apartemen Manhattan yang tadinya istana impian berubah menjadi galeri seni yang dingin.

Di tengah sisa perayaan yang berserakan, hanya tersisa Jiahao dan ayahnya, Zhang Yixing. Pria tua itu mendekati putrinya, meletakkan tangannya yang kasar penuh bekas kerja keras di atas tangan Jiahao yang halus dan mendingin.

"Jiahao... lihat Ayah," suara Yixing merendah, penuh kepedihan yang dalam.

"Dia bilang ini untuk kita, Yah. Dia bilang dia memujaku," bisik Jiahao, matanya berkaca-kaca mencari pembenaran atas rasa kesepiannya yang baru ditinggalkan untuk urusan bisnis di hari bahagianya. Pikirannya mulai berputar liar, terjebak dalam pusaran denial. Ia mencoba menepis suara Sangwon yang berbisik tentang "sangkar," dan peringatan Leo tentang "aset bisnis." Tidak, batin Jiahao, Anxin mencintaiku. Dia hanya sedang berjuang.

Yixing menarik napas panjang, memilih kata-katanya dengan ketelitian seorang pengrajin lensa. Ia tahu betul bahwa bagi Jiahao, Anxin adalah matahari, dan ia tidak ingin menjadi badai yang mematikan cahaya itu secara kasar.

"Ayah melihat bagaimana Anxin menatapmu, Nak. Ayah melihat bagaimana dia menjanjikan dunia di bawah kakimu. Kebahagiaanmu adalah nafas bagi Ayah, dan jika kau tersenyum karena dia, maka Ayah akan mencoba mencintai pria itu sepertimu mencintainya." Namun, Yixing tidak bisa membiarkan kebohongan itu menelan putrinya.

"Tapi, Ayah ingin kau mengerti sesuatu dengan hati-hati. Anxin memperlakukanmu seperti sebuah lukisan yang sangat mahal. Dia menjagamu dari debu, tapi dia juga menempatkanmu di dalam bingkai yang terkunci. Ada perbedaan besar antara dicintai dan dipuja, Putriku. Jika seseorang memujamu, dia menempatkanmu di atas alas yang tinggi, tapi dia juga memastikan kau tidak bisa turun dari sana. Kau menjadi seperti patung di kuilnya. Indah, tapi tidak bernafas." Yixing memeluk Jiahao—pelukan yang terasa seperti Brooklyn; hangat dan jujur. Sebelum berpamitan, ia membisikkan kata-kata yang mengiris hati,

"Ayah merasa seolah baru saja mengantarmu ke tempat yang sangat tinggi, namun tidak memberimu tangga untuk turun. Jika suatu saat tembok ini terasa lebih sempit daripada studio tua kita, kembalilah pada kamera tuamu. Disana, kau yang memegang kendali atas cahayanya, bukan orang lain yang mengatur bayanganmu. Jangan biarkan kemewahan ini membuatmu merasa berhutang budi sampai kau lupa cara berkata 'tidak'." Kata bijak sang Ayah mempengaruhi sebagian besar pemikiran Jiahao. Malam itu, saat pintu apartemen terkunci secara otomatis dengan denting logam yang final, Jiahao berdiri sendirian di puncak menara emasnya. Gelisah merayap di dada. Perkataan Sangwon, Leo, dan "altar tanpa tangga" milik ayahnya kini beradu di kepalanya. Namun, Jiahao menggeleng kuat. Mereka hanya tidak mengerti, pikirnya. Namun, saat ia meraba saku, jemarinya menyentuh sudut tajam kartu nama Sangwon—satu-satunya benda nyata yang mengingatkannya pada dunia luar.

Pagi harinya, sinar matahari Manhattan yang tajam jatuh tepat di atas ranjang king-size yang terasa terlalu luas. Jiahao terbangun dengan perasaan berat; Anxin belum pulang. Sisi tempat tidurnya masih dingin. Ia berjalan melewati reruntuhan dekorasi semalam dan berdiri di depan cermin, menatap pantulan dirinya dalam kemeja sutra pemberian Anxin.

"Anxin sedang bekerja. Dia melakukannya untukku," bisiknya, mencoba menambal tembok penyangkalannya yang mulai retak.


To be continued

 


 

Please jangan lupa berkomentar agar aku semakin semangat menulisnya!