Chapter Text
Surabaya, 12 Januari 2026
Logan menatap layar ponselnya dan melihat jadwal cuti melalui dokumen yang sudah diberikan oleh atasannya, lalu dia melihat kalau ada cuti bersama selama sepekan di bulan Februari—mulai dari tanggal 11 hingga tanggal 17. Tepat sebulan lagi.
Menurutnya, ini adalah kesempatan emas untuk dirinya pergi berlibur—menikmati kehidupan tanpa harus memikirkan pekerjaan yang selalu mengejarnya.
Lalu dia melihat-lihat tiket pesawat ke Bali dan muncul banyak pilihan maskapai penerbangan dengan jam yang berbeda, saat itulah ia bimbang untuk memilih jadwal penerbangan.
“Mending pagi atau siang ya? Ah tapi… kalo siang panas. Mending pagi deh. Eh tapi, kalo kepagian juga ga enak. Yaudah deh, mending—"
"Logan! Lu dari tadi gue panggil, lu nya kagak nengok. Mikirin apaan sih lu?”
Logan tersadar dari lamunannya dan menoleh ke arah rekan kerjanya itu, Alex. Logan tersenyum malu sambil mengusap lehernya—itu adalah kebiasaan Logan ketika ia sedang malu.
“Ya maaf, Al. Gue tadi agak ngelamun dikit."
“Lu mikirin apaan sih, Lo?"
Logan termenung sesaat—memikirkan apakah dia harus memberitahu dan mengajak Alex berlibur bersamanya atau tidak, lalu Logan akhirnya memutuskan untuk bertanya.
“Anu, nanti bulan Februari kan ada libur tuh seminggu. Lu mau gak jalan-jalan bareng gue?"
Alex sedikit terkejut sekaligus bingung, "Eh… Lo, bukannya gue gak mau nerima ajakan lu. Tapi sayangnya gue udah ada jadwal kencan sama Lily di tanggal segitu, itu juga pas Valentine kan? Gua niatnya mau jalan-jalan sama Lily pas itu, juga dia kan ngerayain Imlek bareng keluarganya di Jakarta. Yaudah gue ikut dia aja, sekalian main padel sama George, Max, sama Carlos."
"Wah, ternyata lu selangkah di depan gue, Al. Yaudah deh, have fun ya!”
"Emangnya lu mau kemana sih, Lo?”
"Oh, gue niatnya mau pergi ke Bali. Kangen, udah lama gak kesana, Al.”
Alex berpikir sesaat dan memperhatikan wajah Logan, "Kenapa lu gak ngajak Fred buat ikut? Dia kan yang paling nemplok sama lu, diajak kemana-mana dia mah mau sama lu.”
Logan menghela napasnya dan melihat ke arah foto berbingkai yang ia taruh di mejanya, foto dirinya bersama kedua sahabatnya.
"Fred sekarang udah susah buat di kontak, kayaknya juga… dia ganti nomor. Soalnya nomor yang lama udah gak pernah aktif lagi sejak 2 tahun yang lalu. Toh dia juga sekarang kerjanya di pertambangan batu bara, pasti jarang banget buka hp. Sinyal juga pasti gak terlalu bagus.”
Alex mengangguk karena mengerti dengan keadaan yang dibicarakan oleh kawannya itu, lalu dia melihat ke arah foto berbingkai itu dan ada seseorang yang ia tak kenali—bahkan sepertinya Logan tak pernah membicarakannya maupun memperlihatkannya.
Alex menunjuk ke arah seseorang yang tidak ia kenali di antara ketiga pria yang ada di sana, "Ini… siapa, Lo?”
Logan melihat ke arah yang ditunjuk oleh Alex, jari nya menunjuk ke arah seseorang yang tidak pernah ia mau bicarakan kepada orang lain—seseorang yang tak mau ia cantumkan namanya, Oscar.
Logan menelan ludah nya dan terkekeh pelan, "Oh, itu. Itu namanya Oscar, temen gue sama Fred dari SMA.”
“Oscar, Lo? Kok lu gak pernah ngomongin dia ke gue sih? Dia gimana sekarang?"
"Gue gak terlalu deket sama dia, gak terlalu banyak kenangan juga.”
Logan mengatakan kata demi kata kebohongan itu dengan santai—tertutup sangat rapi sehingga Alex tidak menaruh kecurigaan sama sekali kepadanya.
Logan menatap ke arah wajah Oscar yang tersenyum lebar di foto itu, ia kembali teringat dengan masa lalu nya saat Oscar masih bersamanya.
***
Yogyakarta, 9 Mei 2019.
Logan, Oscar, dan Fred pergi ke Jogja karena acara perpisahan dari sekolah.
Terdengar suara deru ombak yang berasal dari pantai selatan, matahari yang berdiri tegak tepat diatas bumi—menyinari dua sejoli yang sedang berlari-lari di hamparan pasir putih. Suara tawa dan bahagia tersiarkan layaknya kabar angin.
Anak laki-laki berambut coklat itu berdiri di ujung pantai dan dia tertawa bahagia—melihat kawannya yang berambut pirang itu berjalan terseok-seok karena kehabisan napasnya.
"Lo! Lo! Sini, Lo!”
"Bentar, Osc! Gue engap banget sumpah!”
“Yah, lu sih! Pake acara punya asma segala.”
"Yeh, itukan turunan kocak! Lu jangan salahin gue, kalo mau lu salahin emak gue noh!”
Oscar tertawa dan akhirnya menghampiri Logan yang sedang terengah-engah itu, lalu ia menggenggam tangan kawannya dan menariknya ke arah ombak.
Kedua insan itu terlalu sibuk dengan masing-masing dan tidak ada yang berani mengusik mereka, air laut terciprat ke seluruh pakaian mereka—rasa asin alami dari laut itu tercicipi saat mereka bertukar rasa.
Akhirnya penat mulai menyerang ke seluruh tubuh mereka dan mereka memutuskan untuk duduk di atas hamparan pasir itu—memandang pantai selatan yang membentang jauh hingga ke ujung mata, lalu Oscar mulai memecahkan keheningan diantara mereka.
“Lo, kayaknya ini bakal jadi memori inti gue deh."
Logan menoleh ke arah Oscar dan dia menatap kedua manik coklat milik sang pujaan hati, rambut halusnya tertiup oleh angin dan itu menambah keinginan Logan untuk selalu memperhatikan keindahan wajahnya.
"Kenapa gitu?” Tanya Logan.
Oscar termenung sesaat dan tersenyum, “Mungkin karena ada lu, Lo."
Logan mendengus sambil tersipu malu, "Ah, lu apaan sih? Lebay amat.”
Oscar menoleh ke arahnya dan tertawa, “Yaelah, Lo. Bercanda gue.”
Logan ikut tertawa karena itu. Dia tahu betul bagaimana gaya bercanda Oscar dan dia sudah terbiasa dengan hal itu, tapi entah mengapa untuk yang kali ini terasa sangat membuat dada nya sesak bukan main.
"Bisa aja lu kutu kupret.” ujar Logan.
Oscar merasa tidak terima dengan panggilan itu dan mencubit bisep Logan, Logan menepis tangan Oscar dan merintih kesakitan. Tentu saja si pelaku senang melihatnya.
"Awas aja lu panggil gue kutu kupret lagi, tar gue gak bakal nemenin lu. Biar gue bisa ngedate sama Lando.”
Lando.
Tentu saja Lando.
“Terserah deh, gue mau sama Fred aja main PS berdua." Lalu Logan memalingkan wajahnya dari Oscar, melihat ke arah Fred yang sedang bermain dengan kawan-kawannya.
Oscar melihat pandangan kawan nya beralih dari dirinya menuju arah lain, kemudian dia merangkul bahu Logan untuk menenangkan nya. Sekarang suasananya terasa lebih hangat dan intim.
"Nggak lah, Lo. Gue gak akan ngebiarin lu berduaan sama si Fred."
“Ya gapapa sih, lu juga kalo mau ngedate ya silahkan. Lagian Fred juga gak keberatan buat nampung gue di rumahnya. Emaknya juga seneng kalo gue dateng, bokap sama adeknya juga. Udah welcome banget lah mereka sama gue."
Oscar terdiam sesaat dan mencondongkan wajahnya ke dekat telinga Logan.
“Gue nya yang keberatan goblok."
Logan terkejut dan ingin menoleh ke arah Oscar, tapi dia mengurungkan niatnya agar tidak terjadi sesuatu yang lebih dari ini.
“Kok malah jadi lu yang keberatan sih tolol?"
"Ya gue gak enak lah ninggalin lu berduaan sama si Fred.”
"Ah lu rese banget dah, car. Biarin aja sih napa? Lagian gue juga hepi hepi aja di rumahnya.”
"Gue yang gak seneng ngeliat nya tolol, lu napa lagi manggil gue ‘car’ sekarang?”
“Suka suka gue? Hak dong. Lagian kok bisa jadi lu yang gak seneng sih?”
Oscar menghela napasnya dan hembusan angin itu terasa di telinga Logan—membuat hati pria itu tergelitik, kemudian Oscar menyandarkan kepalanya ke kepala kawannya itu sambil terkekeh.
“Gue gak nyangka kalo lu bisa kek gitu, Lo. Gue kira lu bakal nanya kenapa gue keberatan ninggalin lu di rumah si Fred.”
“Hm, udah gue tebak lu pasti lagi bercanda."
“Tau aja sih lu, tapi sumpah, Lo. Gue nya ga enak ke si Fred, soalnya tiap gue pergi ngedate, lu nya pasti di rumah si Fred terus."
“Eh dodol, lu kan yang minta gue buat jemput lu terus abis ngedate? Ya rumah si Fred lah yang paling deket sama semua tempat kencan lu, udah paling strategis di sana.”
“Eh, bener juga lu, Lo."
"Udahlah, lu fokus ngedate aja sama Lando, Osc. Gue aman lah gak sama si Fred juga, gue bisa sama Liam, Felipe, Zhou, atau sama yang lain lah.”
"Yaudah deh, seneng seneng dah ya lu ntar sama siapapun itu lah.”
Lalu tangan Oscar turun dari bahu Logan dan mencari jemari tangannya untuk di genggam, akhirnya Logan menoleh ke arahnya dan melirik tangannya yang di genggam itu.
Mereka berdua menikmati pemandangan warna biru laut yang menghiasi seluruh pandangannya, warna biru ini tentu mengingatkan Oscar dengan Logan—melalui manik biru laut milik Logan yang sama menenangkannya seperti laut.
Lalu dari ujung mata Logan, terlihat ada Lando yang datang ke arah mereka. Dengan cepat Logan melepaskan tangannya dari genggaman Oscar, lalu dia juga memberikan sedikit jarak diantara mereka. Logan melakukan ini semua untuk menghormati Lando sebagai pacarnya Oscar, juga agar tidak menimbulkan pemikiran aneh tentang hubungan mereka berdua.
Oscar jelas sangat kecewa melihat tindakan yang dilakukan oleh Logan, malah dia berharap agar Lando pergi untuk kali ini saja. Oscar ingin sekali menghabiskan waktu dengan Logan, tapi waktu itu tak kunjung datang. Mungkin alam juga tidak setuju dengan keinginan Oscar.
Tapi untuk kali ini, Oscar memutuskan untuk egois dengan keinginannya. Dia akan memilih Logan daripada Lando untuk pertama kalinya.
“Lando! Jangan kesini dulu ya! Aku lagi ngobrol sama Logan ini!"
Lando yang mendengar itu langsung menuruti keinginan Oscar, kemudian pergi dari pandangan mereka. Logan tentu merasa aneh dengan hal itu.
"Lah, kok malah diusir sih Lando nya? Padahal gue gapapa kalo harus pergi bentar biar lu berduaan, guru-guru juga gak pada tau kali.”
"Gue masih pengen sama lu, biarin gue egois sesekali napa?”
"Yeh, lu gak usah bilang kek gitu. Pada dasarnya lu kan emang egois.”
Pada akhirnya mereka tertawa dan Oscar memeluk lengan Logan sambil bersandar di bahunya, mereka tak peduli lagi dengan siapapun yang sedang melihat mereka berdua. Menurut Oscar, asalkan mereka bahagia, orang lain tak lagi menjadi prioritas.
"Oscar.”
"Apa?”
"Menurut lu… salah gak sih kalo kita suka sama seseorang yang udah punya gebetan?”
Oscar melirik ke arah wajah Logan sesaat, "Namanya perasaan ya, Lo. Lu gak bisa ngambil kesimpulan kalau itu bener atau salah, yang salah itu tindakannya. Kalo lu cuma jadi pemuja rahasia sih gapapa. Tapi kalo lu nyoba buat nikung, itu baru salah.”
"Kalo misalnya lu ada di posisi itu… lu bakal gimana, Osc?”
"Gue? Selama dia pacarannya sebelum dari gue suka sama orangnya sih, gue gapapa. Tapi kalo misalnya orang ini udah deket sama gue sebelum di deketin orang lain, gue sih bakal sakit hati kalo misalnya dia malah milih yang baru. Cuma ya… balik lagi ke pilihan dia, kita kan gak bisa maksa dia buat milih kita ya."
Logan mencerna setiap kalimat yang terucap oleh Oscar dan itu semua ada benarnya. Mau bagaimanapun juga, Oscar akan tetap memilih si rambut ikal daripada si rambut pirang. Lando memiliki banyak effort untuk mendapatkan hati Oscar hingga akhirnya seorang Oscar juga bisa luluh setelah sekian lamanya.
Tidak seperti Logan yang hanya diam-diam menyukai sahabatnya itu, tentu saja Logan memiliki keinginan untuk memberikan Oscar apapun yang ia inginkan. Logan bahkan sudah sering melakukan nya, mulai dari hal-hal kecil hingga sesuatu yang besar. Logan selalu siap sedia untuk membantu Oscar kapanpun itu, bahkan dia pernah menerjang dahsyatnya banjir di Jakarta saat itu hanya untuk menjemput Oscar dari tempat kencannya dengan Lando.
Tapi setidaknya Lando jauh lebih baik daripada dirinya, menurut Logan sendiri. Maka dari itu dia ingin sekali Oscar bisa langgeng hubungan nya dengan Lando, karena hanya bersama Lando lah hidupnya bisa terjamin. Tiba-tiba Oscar menyadarkan Logan dari lamunannya.
“Tumben lu nanya ginian, Lo? Lu lagi… suka sama orang kah?" Tanya Oscar dengan ragu.
"Kagak, gue lagi mau aja nanya kayak begitu.”
Mereka menikmati suara deru ombak cukup lama, hingga akhirnya salah satu kawan mereka datang ke arah mereka.
"Woy bulol! Ayo balik ke bus! Kita udah mau pergi lagi ke hotel ini!” Teriak Fred.
Oscar dan Logan sontak menoleh ke arah suara itu berasal, lalu Oscar melepaskan lengan Logan dari pelukannya.
“Woy, kita bukan bulol anjir. Gue juga punya pacar ya dodol!" Ucap Oscar.
“Ah, serius lu, pret?” Tanya Logan dan menghiraukan perkataan Oscar.
“Lah, wong dibilangin kok ga percaya. Dah ah, gue duluan! Bodo amat gue kalo lu berdua di tinggal.” Lalu Fred pergi meninggalkan mereka berdua.
Mendengar perkataan yang serius dari mulut Fred, mereka langsung berdiri dan berlari mendahului si kawan. Fred yang tak mau kalah, berakhir ikut berlari bersama-sama.
"Yang larinya paling terakhir jadi orang gila!” Teriak Logan yang jaraknya cukup jauh dari mereka berdua.
Siapa yang pernah menyangka kalau seseorang yang memiliki asma ini, nyatanya bisa berlari sangat kencang layaknya cheetah. Tentu saja Oscar dan Fred tidak mau kalah, mereka berlari sekencang mungkin untuk mengejar kawannya itu.
Kerasnya tawaan mereka bertiga memenuhi sepanjang pantai itu, sang ombak menjadi saksi bisu dari kenangan manis yang mereka ukir saat itu.
***
Surabaya, 31 Januari 2026
Hujan turun membasahi kota seharian, sepertinya matahari enggan menyapa semua orang di hari itu. Logan adalah penggemar hujan, walaupun hujan sering membawa petaka kepada Logan, dia akan tetap menyukainya.
Rekan-rekan kantornya Logan perlahan mulai meninggalkan meja kerjanya, waktu juga sudah menunjukkan pukul 17:15. Jalanan juga mulai ramai dipenuhi para pekerja kantoran yang sedang menuju rumahnya masing-masing.
Logan saat ini sedang merapikan mejanya dan memasukkan barang-barang nya ke dalam tas, lalu Alex datang dan menepuk bahu nya sebelum akhirnya pergi.
“Lo, gue duluan ya!"
“Ya, hati-hati, Al."
Setelah semuanya selesai, Logan akhirnya menaiki lift untuk ke parkiran basement—tempat dimana mobil Logan terparkir. Lalu setelah berada di basement, Logan berjalan ke arah mobilnya yang terparkir sendirian disana. Dia masuk kedalam dan menyalakan mesin mobilnya, lalu membuka ponselnya.
Dia melihat beberapa pesan yang belum dia buka dan membalasnya sambil memanaskan mesin mobilnya, lalu dia menaruh ponselnya dan mulai menyetir.
Saat diperjalanan menuju rumah, Logan sempat terjebak macet di beberapa tempat. Karena dia belum sempat makan malam, akhirnya dia memutuskan untuk pergi ke mall untuk membeli makan malam.
Sesampainya di mall, Logan melihat-lihat beberapa restoran dan memutuskan untuk makan di restoran suki & grill. Menurutnya, ini adalah kombinasi terbaik—ketika hari sedang hujan dan memakan makanan yang hangat.
Setelah membayar semua bahan yang Logan telah ambil, dia berjalan ke arah mejanya dan mulai memasukkan bahan-bahan suki nya.
Di saat Logan sedang asyik memasak makanan nya, tiba-tiba ada seseorang yang duduk di kursi seberangnya. Saat Logan mendongak, di sanalah mata Logan terbelalak dan terkejut dengan seseorang yang ia lihat di hadapannya.
“O-oscar…?"
Logan tidak percaya nama itu terucap kembali dan langsung di depan pemilik nama itu, Oscar hanya menatapnya dengan tatapan penuh rindu yang terlihat sangat memenuhi kedua manik coklat itu dan Oscar membalas ucapan Logan dengan senyuman yang Logan rindukan selama ini.
Oscar benar-benar berubah cukup signifikan dan terlihat jelas perubahannya. Dadanya menjadi bidang dan bahunya lebar mengikuti lebar dadanya, juga model rambutnya telah berubah, lalu ada beberapa perubahan lain yang Logan tidak bisa jelaskan. Takut membuat Logan berpikir dan melakukan sesuatu yang aneh-aneh malam ini di kamarnya. (semoga hal itu tidak terjadi).
Logan merasa hatinya kembali berbunga-bunga setelah beberapa periode selalu musim gugur, Logan kembali jatuh cinta pada Oscar seperti di hari pertama Logan melihat Oscar pada bangku sekolah. Melihat banyaknya perubahan dari pujaan hatinya itu, tentu membuat Logan merasa insecure dan kembali merasa kalau dia tidak pantas untuk mendapatkan hatinya.
“Kok lu ada di sini?"
Oscar tertawa pelan dan mulai memasukkan bahan-bahan suki nya kedalam kuah milik Logan, kini suki itu menjadi milik mereka berdua.
"Gue kebetulan lagi nginep di hotel deket sini.”
"Buat apa? Lu lagi liburan?”
"Kagak, gue lagi ada dinas ke sini.”
"Oh… lu masih kerja di perusahaan yang lama?”
"Kagak, yang lama gaji gue udah seret banget. Di yang baru gue baru tahun kedua. Lu sendiri gimana, Lo?”
Logan baru saja ingin menyeruput kuah hangat itu dan salah satu ucapan Oscar membuat ia terhenti, “Lo.". Oscar masih memanggilnya dengan panggilan yang selalu membekas di hati Logan. Walaupun Alex juga memanggil Logan dengan panggilan itu, tapi rasanya jauh berbeda.
“Gue juga sama, tahun kedua." Lalu Logan menyeruput kuah itu dan seketika tubuhnya menjadi hangat.
“Lu sendiri kesini ngapain, Lo?"
“Ya… gue laper aja, belum makan malem. Soalnya kejebak macet dari tadi.”
Percakapan berhenti sampai di situ untuk mereka mulai melahap makanan nya, lalu Logan akhirnya memecahkan keheningan diantara mereka.
“Hubungan lu sama Lando gimana, Osc?"
“Gue putus, Lo."
Logan lagi-lagi terdiam dan menatap wajah Oscar kali ini, Oscar memberikan wajah datar saat menanggapi pertanyaan Logan.
“S-serius, Osc?"
"Ya, serius lah, Lo. Dia selingkuh dari gue, cuma ya… gue udah tau dari lama, makanya gue gak terlalu sedih.” Lalu Oscar kembali melahap makanan nya sambil menatap wajah Logan yang sedang tercengang itu.
"Gak usah lah kaget kek gitu, Lo. Lu sendiri kan udah tau gimana sifat dia waktu SMA."
“Ya, gue ga nyangka aja, Osc. Manusia secan– eh maksudnya, manusia sesempurna lu bisa di selingkuhin. Itu kan gak make sense gitu loh!” lalu terlihat wajah Logan menjadi sedikit memerah.
Oscar mengangkat alisnya saat mendengar kata yang terpotong dan dia tersenyum geli, “Secan apa, Lo? Lanjutin dong, penasaran nih gue.”
Logan menutupi wajahnya dengan menunduk dan melahap makanannya dengan cepat karena panik, “hnngak kok! Hbbukan aha-aha!”
Oscar tertawa dan terus menggoda Logan, “Pelan-pelan makannya… itu masih panas loh, nanti kalo kamu keselek, aku yang harus bantuin… kunyah dulu, baru ngomong, ya Lo?"
Logan tidak pernah kuat mendengar suara lembut Oscar sejak dulu, tindakan paling parah Logan saat mendengar itu adalah pergi ke kamar mandi dan kembali dalam 15 menit. Entah apa yang dia lakukan disana.
Logan akhirnya mengunyah makanannya dan menelannya, "Gak kok! Bukan apa-apa!"
Oscar tersenyum, "Nah, sekarang lanjutin yang tadi. Kamu tadi mau ngomong apa sih?”
Wajah Logan masih memerah dan kali ini dia mulai mengusap-usap lehernya sekaligus melepaskan kancing kerahnya karena panas, lalu Logan melirik ke arah Oscar.
"Lu cantik.”
Oscar kembali tertawa dan menggodanya, "Gak kedengeran, Lo. Coba suara kamu gedein.”
"Lu cantik, Osc. Makanya si Lando demen sama lu, ini bukan berarti gue muji lu cantik ya!”
Oscar tersenyum dan sepatunya sedikit mendorong celana panjang Logan keatas, Logan sempat tersentak dan wajahnya semakin memerah.
“Nah gitu dong… ngomong tuh di lanjutin, Lo. Biar gak bikin orang penasaran."
Akhirnya mereka menghabiskan waktu bersama dengan berbincang-bincang tentang kehidupan setelah lulus dari SMA, walaupun terkadang Logan masih sering digoda oleh Oscar. Logan merasa kalau Oscar sekarang lebih bebas daripada Oscar saat masih SMA, ternyata Oscar sekarang lebih mengenal dunia malam karena pergaulan kantor nya di Jakarta.
Tak terasa waktu berlalu, makanan pun sudah habis dan mereka memutuskan untuk pulang. Logan menawarkan Oscar untuk mengantarkannya kembali ke hotel dan Oscar menerima tawaran itu, di perjalanan Oscar menyetel lagu kesukaan mereka saat SMA dan mereka mengadakan karaoke di dalam mobil.
Lalu sesampainya di parkiran hotel, Oscar melihat ke arah Logan dan tersenyum.
“Makasih ya, Lo, atas tumpangan nya. Gue gak nyangka kalo gue bisa di anterin lu lagi setelah sekian lamanya, pake mobil lagi! Gokil sih kata gue!"
"You’re welcome, Osc. Itukan udah jadi kebiasaan gue kalo sama lu, anggap aja ini sebagai reuninya kita.”
“Iya, iya. Ngeliat ini, jujur gue jadi kangen dibonceng lu naik motor, Lo. Kapan deh lu balik ke Jakarta? Ortu lu kangen tau, mereka sering nanyain ke gue… padahal gue jarang banget ngechat lu.”
"Hmm, gimana ya… bukannya gue gak mau balik, cuma uangnya aja yang masih gue irit-irit."
“Eh, ntar kan cuti seminggu, Lo. Di bulan Februari. Kenapa lu nggak pulang aja, Lo?”
"Gue niatnya mau liburan dulu, Osc. Jadi pas balik ke Jakarta, gue bawa oleh-oleh buat orang rumah.” Lalu Logan teringat dengan rencana liburannya ke Bali.
"Eh, Osc. Lu ntar cuti seminggu ada acara kemana-mana nggak?”
“Harusnya sih enggak, kenapa emang, Lo?”
"Nah, pas banget! Gue niatnya make 4 hari itu buat ke Bali, abis itu gue pulang sebentar ke sini. Setelah itu, baru deh gue ke Jakarta. Lu mau gak ikut gue ke Bali? Tapi kalo nggak mau juga gapapa kok, Osc. Barangkali lu ada janji ketemuan sama siapa gitu atau ada pacar baru lu gitu, gue bisa aja kok sendirian."
Seketika Oscar tersenyum lebar dan menarik wajah Logan ke arahnya, mereka berhadap-hadapan sangat dekat.
“Serius Lo?! Ih gue mau banget! Gue ikut! Gue ikut! Oh my God! Gue gak sabar menghabiskan waktu bareng lu di Bali, Lo!” Lalu Oscar menarik Logan ke pelukannya yang erat itu dan Logan membalas pelukannya.
"Gue gak nyangka kalo lu se-excited ini, Osc.”
Lalu Oscar mendorong Logan dari pelukan itu untuk menatap wajahnya lagi.
“Gimana gue gak excited? Gue pergi liburan bareng lu dan kita cuma berdua!? Pasti seru banget lah!”
Logan terkekeh pelan, “Iya deh, iya. Yaudah, lu masuk gih biar cepet istirahat. Nanti chat gue aja kalo lu butuh apa-apa selama di sini, nomor gue gak ganti kok."
“Oke, oke! Gue sayang sama lu, Lo. Hati-hati di jalan ya!" Lalu Oscar menjilat pipi Logan dan keluar dari mobil sebelum diamuk oleh Logan.
Logan berteriak saat Oscar menjilat pipinya dan buru-buru mengelap pipinya yang basah itu. "Oscar, lu masih sama aja joroknya ANJEEEEENGGGG! BERAK!”
