Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2026-02-18
Completed:
2026-02-20
Words:
2,934
Chapters:
2/2
Kudos:
26
Bookmarks:
1
Hits:
252

Aku Harap Lampunya Tiba Tiba Terlihat Aneh

Summary:

Keonho rela prinsipnya digerus jika itu oleh dan demi Si Cantik

Chapter Text

 

Meskipun baru kenal waktu sma, Keonho sudah mempercayakan sepenuhnya Seonghyeon dalam hidupnya. Terlalu banyak yang sama, bahkan idealisme. Begitu yang dipikirkan Keonho.

Maka, ketika teman teman di sekitarnya mulai mencicip rokok, Keonho berpegang teguh pada prinsipnya untuk tidak pernah menempelkan bibirnya pada rokok. ibu ayahnya bilang, apapun selain rokok. Suara kakaknya yang tegas menggema dalam pikirnya. Jangan hancurkan suaramu dengan rokok. Atau vape. Pokoknya jangan.

 

Keonho tidak mau kecewakan orang tersayangnya.

 

Dia kira Seonghyeon juga berfikir begitu. Ketika temannya ramai mengajak hisap nikotin, Seonghyeon dalam rangkulan Keonho hanya melirik singkat dan melenggang pergi. Keonho tidak pernah benar benar bertanya sih. Tapi Seonghyeon juga tidak pernah membahasnya.

 

Jantung Keonho turun ke perut ketika Ia temukan sekelebat bungkus rokok Marlboro merah dalam tas Seonghyeon. Keonho tepis pikiran itu, bilang kalau mungkin itu milik temannya. Mengingat banyak temannya yang suka menitip rokok.

Jantung Keonho merosot turun untuk yang kedua kalinya ketika ia temukan liquid red apple beserta devicenya di meja belajar Seonghyeon ketika ia datangi rumah Seonghyeon. Ditaruh begitu saja diatas meja, seolah tak perlu disembunyikan. Seolah barang itu tidak tabu untuk dilihat orang lain.

Tapi menurut pemikiran Keonho, jika tidak disembunyikan artinya bukan milik Seonghyeon. Jadi Keonho tak pernah tanyakan hal itu.


Tapi ketika Keonho lihat sendiri rokok yang tersumat berada diantara telunjuk dan jari tengah Seonghyeon, dan asap dihembus dari bibirnya-- Keonho tak mampu percaya matanya.

 

Bahkan ketika Keonho dekati Seonghyeon pun tak ada usaha dari Seonghyeon untuk sembunyikan maupun matikan rokoknya. Seolah itu sudah sesuatu yang umum, bukan rahasia. Keonho tak mau hakimi Seonghyeon, maka dipaksakannya wajah netral dan duduk disebelah Seonghyeon.

 

Seolah ia sudah ratusan kali lihat Seonghyeon hisap rokok.

 

Padahal Keonho selama ini selalu cela teman temannya yang merokok. Mereka yang renggut ruang bebas bernafas orang lain, mereka yang hembuskan asap diwajah orang lain, jejalkan asap kotor paksa pada tenggorokannya. bahkan mencium bau asap rokok saja sudah buat nafas Keonho tercekat.

 

Seonghyeon masih sibuk habiskan rokoknya dan Keonho pura pura sibuk dengan ponselnya.

 

Keonho tak mampu toleransi orang merokok dalam hidupnya. Tapi ketika Seonghyeon yang sudah ia anggap sahabat sendiri, pelengkap pemikirannya, tak kurang kurang-- sudah dianggapnya belahan jiwanya sendiri hembuskan asap dari bibir, Keonho bingung bagaimana harus bersikap.

 

Sulit untuk ambil tindakan. Seluruh spekulasi yang dipikirkannya selalu menuju hasil yang sama, Seonghyeon jauhi dirinya. Bahkan jika yang dimaksud adalah pendekatan ramah, tanpa penghakiman (didalam pikiran Keonho). Keonho tak mau hakimi Seonghyeon. Keonho tahu jika ia hakimi Seonghyeon, yang terburuk adalah Seonghyeon tepis dirinya dan tak lagi mau bergaul dengannya. mimpi buruk Keonho.

 

Keonho rela gerus prinsipnya jika yang diujung garis adalah pertemanannya Seonghyeon.

 

Tapi ketika Seonghyeon sodorkan rokok sisa setengah bekas bibirnya kepada Keonho, menawarinya untuk menyicip, Keonho bingung. Ibunya bilang, ayahnya bilang, kakaknya bilang.

 

Tapi Keonho lihat bekas bibir berwarna pink yang menempel di filter rokok bekas bibir Seonghyeon, Keonho tergoda untuk tempelkan bibirnya diatas bekas pink itu, klaim sepihak bibir Seonghyeon. Indirect kiss adalah indirect kiss apapun bentuknya.

 

Keonho amit rokok yang disodorkan Seonghyeon, tempelkan bibirnya erat menekan rokok--menempelkan bibirnya pada bekas bibir Seonghyeon. Hisap asapnya pelan pelan bak profesional yang sudah lakukan gerakan ini sampai diluar kepala.

 

Asap pahit penuhi mulut dan tenggorokan Keonho, membelai giginya. Keonho tak sampai untuk menelan asapnya masuk ke paru paru, Ia hembuskan asap yang baru masuki mulutnya itu keluar.

 

Seonghyeon tersenyum, cantik sekali. tidak bisa Keonho bayangkan membenci maupun dibenci wajah secantik itu, "Enak, nggak? Aku baru nyobain yang itu,"

 

"Emang biasanya yang mana?" Keonho balas, tak sanggup lihat wajah Seonghyeon. Keonho sudah serahkan kembali rokok Seonghyeon pada empunya. Jari mereka bersentuhan ketika Seonghyeon terima rokoknya kembali. Sentuhan itu buat merinding turun ke punggung Keonho. Keonho tidak tahu bagaimana ia harus sikapi ini. Keonho lihat dari ujung matanya bagaimana Seonghyeon dekatkan rokok ke sela sela bibirnya. Bagaimana bibirnya dilipat kedalam, menipiskan diri, untuk hisap batangan rokok itu. Dilihatnya bagaimana bibir Seonghyeon menekan erat filter rokok, semakin pertajam bekas pink itu.

Keonho tak lagi memandang dari ujung matanya, kini seluruh wajahnya pun sudah menghadap Seonghyeon. Menatapnya lamat lamat. Matanya perhatikan asap yang terbentuk karena Seonghyeon hisap rokok, perhatikan jakun Seonghyeon yang naik turun ketika dihisapnya asap itu masuk ke kerongkongan, dan malu malu mengintip keluar lewat bibirnya. Mata Keonho tak lepas dari bagaimana Seonghyeon lepas dan hisap kembali asap untuk ditelan masuk kerongkongannya.

Seonghyeon, kini tatap balik Keonho, ambil satu hisapan panjang—habiskan seperdelapan rokoknya sendiri. Tidak langsung hembuskan asap ke udara untuk di hidu, tetapi tiupkan asap itu kearah wajah Keonho. Terkesiap, Keonho berusaha stay cool meskipun nafasnya sudah tercekat dan matanya berair kepedasan terkena asap. Dalam hatinya terbesit, kurang ajar kau Seonghyeon. Tetapi tak sampai hati dirapalkannya dengan bibir. Keonho paksakan tawa sekalipun ia rasa hatinya bagai dicubit.

“Ngelihatin apa, sih? Serius banget”

Seonghyeon lepaskan kontak mata untuk melihat kedalam tas. Sebelah tangannya yang tidak mengamit rokok menggeledah tasnya, mencari kotak rokoknya untuk dipamerkan pada Keonho. Dijejalkannya kotak rokok coklat itu ketika tangannya temukan benda itu didalam - tas ke wajah Keonho. Sampai-sampai Keonho harus tarik kepalanya mundur sedikit untuk bisa baca tulisan dikotak itu.

Djarum Black, Cappucino Flavour. 16 Kretek Filter.

 

Keonho tidak tahu harus bersikap bagaimana, jadi ia paksakan kepalanya mengangguk patah patah dan tersenyum. Keonho lihat senyum bangga Seonghyeon ketika ia tunjukkan rokok itu, sampai setelah Keonho berikan anggukan, senyum Seonghyeon masih merekah. Sebegitu bangganya kah ia? Sebegitu spesialnya kah rokok itu? Keonho tidak paham. Seonghyeon tarik barang itu dari wajah Keonho, tanpa sadar Keonho hembuskan nafas lega. Keonho tatapi Seonghyeon yang menatap barang itu dengan tatapan—hangat? Lembut? Seolah ada kerinduan dalam tatapannya. Seonghyeon tersenyum, jempolnya belai kotak rokok itu. Ia berkedip agak lebih lambat dari biasanya, mengerling pada Keonho.

“Enak nggak? Berasa kan’ rasa kopinya?”

 

Sejujurnya Keonho tidak tahu. Mungkin. Tapi Keonho tak mau jawabannya buat senyum di wajah Seonghyeon luntur. Jadi tarik senyum kecil, dan mengangguk, “Iya, tadi aku rasa sedikit ada kafein kafeinnya,”

Seonghyeon nyengir, lebar. Nyengir dengan giginya. Biasanya cengiran itu keluar kalau Seonghyeon sedang salah tingkah. Artinya sekarang ia sedang salah tingkah. Karena rokok? Yang benar saja. Bibir Keonho tanpa sadar ikuti Seonghyeon tarik senyuman. Seonghyeon menyundut rokoknya yang sudah hampir habis, dan bergerak nyalakan satu batang lagi. Keonho memampusi dirinya sendiri dalam benaknya. Tangkap basah Seonghyeon hisap rokok saja sudah buatnya ketar ketir, apalagi lihat langsung Seonghyeon ambil satu batang rokok, sematkan diantara bibirnya—menekan erat filter rokok sampai lipbalmnya tercetak disitu, dan dengan bersamaan hisap sambil nyalakan korek.

Keonho berkedip pelan. Separuh dirinya pandangi Seonghyeon kagum, seksi sekali, begitu dipikirnya. Tapi separuhnya lagi kecam pemikirannya, paksakan untuk tetap berdiri pada prinsipnya. Keonho begitu sibuk berkelahi dengan dirinya sendiri sampai tak sadar Seonghyeon, dengan lancangnya sematkan satu batang rokok diantara bibirnya yang terbuka sedikit. Dengan senyum tipis, Seonghyeon dekatkan wajahnya untuk sundutkan pantat rokoknya yang sudah tersumat, kepada rokok Keonho yang masih bersih. Dengan rokok masih terselip diantara bibir keduanya.

Keonho tak bisa pikirkan apapun, selain pandangi Seonghyeon yang hisap rokoknya untuk ciptakan percikan api, agar bisa menyebar ke rokok Keonho. Sampai akhirnya percikan api dari rokok Seonghyeon melompat ke rokok Keonho, memakan sedikir demi sedikit ujung rokok Keonho. Seonghyeon lirik Keonho malu-malu, berikan cengiran sekali lagi untuk Keonho,

“Enak kan?”

 

Bergetar tangan Keonho dipaksa bawa naik untuk sangga rokok itu. Ditempatkannya rokok itu diantara telunjuk dan jari tengahnya. Dihisapnya sedikit sedikit, dibuangnya banyak banyak. Keonho pusing. Seonghyeon senyum semakin lebar dengan giginya. Seluruhnya buat hati Keonho tercubit, telapak kakinya mati rasa. Keonho biarkan api memakan rokoknya sendiri tanpa dihisapnya. Hanya menempel mulutnya sesekali. Perokok performatif. Seonghyeon sudah hisap rokoknya sampai sisa seperempat, pandangannya melayang layang. Entah apa yang dipikirnya.

 

Tolong percayalah bahwa Keonho benar benar berusaha keras untuk tidak menghakimi. Setiap orang punya alasannya sendiri untuk merokok, Keonho tahu betul itu. Rokok sebagai media penyalur stress, rokok sebagai media gejolak kenakalan remaja—menjadi simbol pembuktian diri. Tetapi Keonho tak bisa pahami mengapa seorang Seonghyeon yang merokok. Apakah selama ini Seonghyeon stress? Apa yang buat Seonghyeon larikan diri dan tenggelam dalam asap rokok? Lebih – lebih tak bercerita apapun pada Keonho. Apakah dirinya sudah tak lagi dipercaya oleh Seonghyeon?

 

 

Pernah Keonho marahi Seonghyeon soal ini. Kenapa rokok, kenapa.. kenapa… kenapa… Tapi respon Seonghyeon tampar Keonho tepat di muka, kencang.

“Inilah kenapa Aku nggak mau cerita ke kamu. Aku tau responmu pasti begini,”

Seonghyeon bagai tamparkan kedua tangannya ke wajah Keonho, tambahkan buku, tambahkan tasnya. Wajah Keonho menghangat, matanya mulai pedas. Keonho mati matian tahan agar air mata tak lolos dari matanya. Susah payah Keonho paksa wajahnya tetap datar. Meskipun hatinya tercubit kencang setengah mati.

Keonho raih lengan Seonghyeon, berusaha cegahnya pergi—baik saat itu maupun dari hidupnya, “Bukan gitu, Seonghyeon….”

Keonho bahkan tidak membuat dialog didalam kepalanya, tidak ada yang dipikirnya. Keonho hanya melepehkan apapun, mengoceh apapun yang bisa buat Seonghyeon tetap tinggal. Sampai akhirnya Seonghyeon terlihat melunak. Dihembuskannya nafas dan bilang tidak mengapa. Masih tetap sembunyikan motif sebenarnya ia merokok.

Seonghyeon hanya bilang, Ia tak teradiksi merokok. Ia hanya butuh merasakan pahit ketika hidup sedang sama pahitnya. Hal tersebut tak bisa dijajal dengan kopi saja. Seonghyeon butuh sesuatu yang lebih pahit, makanya ia sentuh tangannya kepada rokok. Keonho bisa apa selain mengangguk dan iyakan kata pujaan hatinya. Keonho bisa apa selain iyakan dan dukung apapun keputusan Si Cantik. Keonho bisa apa selain paksakan dirinya terbiasa dengan dunia asap Seonghyeon. Keonho bisa apa selain terima tawaran rokok Seonghyeon. Keonho bisa apa selain tersenyum dan mengiyakan ajakan Seonghyeon untuk temaninya cari liquid baru di vapestore. Apapun Keonho lakukan demi senyum Si Cantik tetap naik. 

 

Sekalipun yang harus Ia korbankan adalah rasa bersalah kepada suara tegas kakaknya yang berdenging dalam telinga setiap Ia terima rokok dari Seonghyeon.