Work Text:
Minggu pertama Maret.
Musim semi mulai mengintip dari balik tanah yang masih lembab. Salju sudah mencair, menyisakan bercak-bercak putih di sudut rerumputan, tapi udara masih dingin meski tak semenusuk bulan lalu.
Di tepi Danau Hitam, dua anak laki-laki berbalut jaket musim dingin berjalan bersampingan sambil menikmati sinar matahari sore yang berusaha menembus awan. Sesekali mereka tertawa, berjingkat dan melompat melewati tanah becek, meninggalkan jejak sepatu mereka di belakang.
Langkah mereka akhirnya berhenti di seberang pulau kecil tempat Dumbledore bersemayam. Dari kejauhan pulau itu tampak sunyi, tenang, dan menyimpan banyak rahasia. Mereka lalu duduk di atas rerumputan kering.
Jisung memeluk kedua lututnya dengan bahu terangkat untuk menahan udara dingin. Namun cuaca hari itu bukan satu-satunya alasan yang membuat wajahnya muram, ada hal lain yang terus membebani pikirannya beberapa minggu terakhir ini.
“Minho,” panggilnya lembut, berusaha terdengar selayaknya Jisung yang biasa. “Setelah lulus nanti kamu mau lanjut ke mana?”
Meski nadanya terdengar ceria, tapi tatapannya tidak bisa menyembunyikan rasa sedih yang tersimpan di sana. Tahun ini adalah tahun ketujuh Minho, tahun terakhirnya bersekolah di Hogwarts. Setelah itu, Jisung akan sendirian.
“Hmm…” gumam Minho sambil menatap danau. “Aku kepikiran mau kuliah dokter hewan di universitas Muggle. Tapi mungkin ambil gap year dulu untuk ujian penyetaraan.”
Jisung menoleh terlalu cepat sampai lehernya hampir keseleo.
“Hah? Sejak kapan kamu tertarik sama kedokteran Muggle? Bukannya nanti harus belajar dari nol lagi? Kenapa nggak jadi Healer aja? Kan sama-sama bisa nyembuhin hewan gaib.”
Jisung tahu sekarang memang sudah banyak penyihir yang bekerja di dunia Muggle, meski aturannya lumayan ketat. Tapi kalau lulusan Slytherin yang sering dicap anti-Muggle? Jisung benar-benar tidak menyangka.
Minho hanya terkekeh kecil, angin yang bertiup dari danau mengacak-acak rambutnya. “Awalnya gara-gara kakimu patah waktu jadi kucing itu, aku malah kepikiran mau jadi dokter hewan. Lagian di sekitar rumahku sering ada kucing liar terlantar. Kayaknya asik juga kalau buka klinik.”
Otak Jisung langsung memutar lagi video yang pernah dia lihat, menggantinya dengan wajah Minho yang memakai scrub dokter hewan warna hijau, dengan anak kucing mungil mengeong di kantongnya. Dia terkekeh sendiri saking gemasnya.
“Tapi nilai PTIH-mu kan bagus banget? Kenapa nggak jadi Auror aja?” tanya Jisung lagi, masih setengah tidak percaya dengan cita-cita Minho.
Minho menggeleng. “Aku nggak pernah tertarik jadi Auror.” Minho mangambil sebuah kerikil dan melemparnya ke permukaan danau. Kerikil itu langsung lenyap ditelan air. “Malah tahun lalu aku sempat ketemu Oliver Wood setelah pertandingan. Dia datang ke sini mau scouting pemain, terus nawarin aku gabung ke timnya setelah lulus.”
Jisung langsung menoleh lagi, kali ini benar-benar melompat kaget.
“Heeeehh?! Terus kamu terima nggak?”
“Aku sih bilang mau pikir-pikir dulu,” Minho mengedikkan bahu. “Soalnya orang tuaku kurang setuju kalau aku jadi pemain Quidditch profesional. Kalau Profesor sih nyuruh aku ambil aja.”
Jisung hanya bisa menggeleng dan menatap Minho penuh tanda tanya. Bagaimana bisa anak Slytherin yang terkenal ambisius justru membuang kesempatan emas seperti itu?
“Kamu ini beneran anak Slytherin nggak sih?”
Minho tertawa lagi, “Awal masuk dulu emang aku ambisius banget. Tapi makin gede, makin santai, dan akhirnya kepalaku bisa buat mikirin masa depan juga. Karena hidup bukan cuma perkara menang atau kalah.”
Minho mengambil kerikil lain dan melemparnya dengan teknik yang lebih rapi. Kerikil itu memantul beberapa kali di permukaan air sebelum akhirnya tenggelam.
“Kamu sendiri mau jadi apa setelah lulus nanti?” Minho balik bertanya.
“Musisi,” jawab Jisung singkat dan tanpa ragu. Seolah memang dia sudah memikirkan itu sejak lama.
Minho tersenyum kecil. Tentu saja ia tidak terkejut. Dari semua obsesi aneh Jisung, mulai dari eksperimen ramuan gila, sampai mengutak-atik peralatan yang dia ‘pinjam’ tanpa ijin dari kelas Studi Muggle, musik selalu jadi tempat dia kembali. Orkestra, band, lagu-lagu yang dia tulis di tengah malam.
“Mungkin aku bakal bikin band sama temen-temenku,” lanjut Jisung dengan mata berbinar. “Seungmin jadi vokalis. Changbin jadi rapper. Dia juga pinter bikin lagu.”
“Kamu juga pinter nulis lagu,” sahut Minho lembut. Ia menatap Jisung lekat. “Lagu buat hadiah ulang tahunku waktu itu, aku suka banget. Aku nggak bohong.”
Jisung mendadak terdiam. Ia membalas tatapan itu, mencoba mencari tanda-tanda Minho sedang bercanda. Kalau saja Minho tiba-tiba tertawa atau cuma meledek, mungkin lebih mudah untuk dibalas. Tinggal ia pukuli saja bahu anak itu.
Tapi wajah Minho kali ini tampak benar-benar serius dan tulus. Dan itu justru membuat Jisung makin kikuk. Rona merah muda perlahan menjalar naik ke pipinya.
Bulan Oktober lalu, di tempat yang sama, Jisung memang menyanyikan lagu buatannya sendiri untuk hadiah ulang tahun Minho. Diiringi alunan gitar, dengan daun-daun maple berguguran tertiup angin musim gugur. Rambut mereka berantakan terkena hembusan angin, dan di tengah lagu Minho tanpa banyak bicara mengalungkan syalnya ke leher Jisung.
Syal yang dulu pernah Jisung curi dari kamar Minho. Syal yang entah bagaimana menjadi awal dari semua kedekatan ini.
“Kapan-kapan nyanyiin lagi ya.”
Minho mencondongkan tubuhnya hingga jarak wajah mereka kini tinggal sejengkal. Tatapannya tak pernah lepas dari wajah Jisung, seperti sengaja ingin mengamati perubahan ekspresi Jisung yang menurutnya selalu lucu.
“Ah, Minho!” Jisung langsung mendorong bahu Minho menjauh. Wajahnya makin memerah karena cuaca dingin dan bahu Minho yang makin merapat padanya. “Jangan ngelihatin aku kaya gitu dong! Kan malu kalau dilihat Dumbledore!”
Minho hanya tertawa lepas, suara tawanya menghangatkan udara di sekitar mereka. “Soalnya kamu imut banget kalo lagi salting. Ututu… my baby…” godanya sambil menggaruk-garuk dagu Jisung seperti sedang mengelus kucing.
“Diem nggak?!” Jisung pura-pura mengacungkan tinjunya dan melotot, meskipun tidak seram sama sekali. Justru membuat Minho makin gemas.
Minho tertawa sekali lagi sebelum akhirnya menyandarkan kedua tangannya ke rumput, lalu mengalihkan pandangannya ke pulau kecil dengan makam berwarna putih di tengah danau.
“Ngomong-ngomong soal Dumbledore, kamu pernah dengar rumornya sama Grindelwald nggak?”
Jisung ikut menoleh ke makam Dumbledore yang berdiri sunyi di seberang. “Bukannya mereka dulu duel hebat? Dumbledore menang kan?”
“Iya. Tapi aku pernah denger rumor kalau mereka punya hubungan romantis.”
Jisung mengernyit. “Hah? Masa sih? Bukannya mereka dulu teman dekat terus jadi musuh? Lalu akhirnya duel itu…”
“Namanya juga rumor, jadi nggak tau juga bener atau nggak. Tapi yang aku denger sih Dumbledore jatuh cinta sama Grindelwald, cuma kayaknya cintanya bertepuk sebelah tangan.”
Jisung kembali memeluk lututnya, menyandarkan dagu di atasnya. “Kalau itu bener sedih juga ya. Udah bertepuk sebelah tangan, akhirnya malah musuhan.”
Angin sore berhembus, menggoyangkan riak-riak air di permukaan danau.
Tatapan Minho kembali ke Jisung. Tapi kali ini berbeda dari sebelumnya, lebih dalam dan serius, dan ada sedikit kesenduan.
“Menurutmu sendiri gimana? Tentang hubungan romantis sesama laki-laki?” tanyanya lirih.
Jisung terdiam sejenak, tak menyadari bahwa pertanyaan Minho kini sudah tak lagi tentang Dumbledore dan Grindelwald.
“Hmm… menurutku nggak ada masalah,” jawabnya jujur. “Nggak ada yang salah dengan jatuh cinta. Mau laki-laki ke perempuan, atau sesama laki-laki sekalipun.”
Jisung lalu memalingkan wajahnya ke arah Minho. “Tapi kenapa tiba-tiba—”
“Kalau aku bilang aku jatuh cinta sama kamu gimana? Kamu ngerasa jijik nggak?” potong Minho lembut.
Jantung Jisung serasa berhenti sesaat, sebelum tiba-tiba berdetak begitu kencang sampai rasanya bisa terdengar di telinganya sendiri. Ia tidak yakin dengan apa yang baru saja didengarnya.
Karena Minho baru saja mengucapkan hal yang selama ini tak pernah berani Jisung akui, bahkan pada dirinya sendiri.
Perasaan aneh yang selalu muncul setiap kali Minho tersenyum padanya. Rasa hangat yang tidak bisa dijelaskan setiap kali mereka duduk bersama dan berbagi tawa. Jisung selalu menepisnya, mengira dia sedang kena demam, atau kadang menganggapnya sekedar rasa kagum atau rasa nyaman.
Tapi hari itu, di bawah langit musim semi yang masih dingin, semua jadi terasa jelas.
Perasaan itu bukan kagum.
Itu cinta.
“Aku cinta sama kamu, Ji…” Minho kembali bersuara, menegaskan kembali pengakuannya. “Bukan sebagai teman. Aku rasa aku harus bilang ini sebelum aku lulus.”
Sebelum aku lulus. Kata-kata itu terus berdengung di telinga Jisung.
Jisung masih terdiam. Isi kepalanya tiba-tiba dipenuhi potongan-potongan kenangan bersama Minho. Lapangan Quidditch, Hogsmeade, syal yang ia curi, lagu ulang tahun yang ia nyanyikan dengan gugup.
Perasaan yang selama ini ia sembunyikan agar pertemanan mereka tidak rusak.
Kini perasaan itu menghangat seperti matahari musim semi setelah musim dingin yang panjang.
Ia bahkan tidak sadar sudah terlalu lama terdiam menatap riak air danau.
“Jadi… apa aku bakal kaya Dumbledore yang cintanya bertepuk sebelah tangan?” Minho tertawa getir melihat Jisung yang tidak bereaksi. “Maaf kalau kamu ternyata nggak—”
Jisung tidak membiarkan Minho menyelesaikan kalimat itu. Dengan cepat ia meraih kedua pipi Minho dan menariknya mendekat. Bibir mereka bertemu dalam sebuah kecupan singkat dan ringan.
Hanya beberapa detik dan Jisung langsung melepasnya.
“Itu jawabanku.”
Minho terdiam mematung. Otaknya seperti tertinggal beberapa detik di belakang. Ia masih mencoba memahami apa yang terjadi ketika Jisung kembali bicara.
“Kamu pikir kenapa aku bikin lagu buat ulang tahunmu?” gerutu Jisung dengan bibir merengut dan pipi merah merona. “Dasar bodoh!”
Minho mendengus lega dan tertawa pelan, “Padahal aku udah nyiapin mental buat ditolak dan jadi orang asing.”
“Ya mana mungkin aku bisa nolak!” sahut Jisung masih menggerutu.
Senyum Minho berubah lebih lembut. Ia lalu meraih kedua tangan Jisung yang terasa dingin dan menggenggamnya erat, memutar tubuh mereka sedikit agar kini mereka benar-benar berhadapan.
“Ji… boleh aku…?”
Tatapannya perlahan turun ke bibir Jisung.
Jisung mengangguk pelan.
Kini giliran Minho yang mendekatkan wajahnya. Bibir mereka kembali bertemu untuk kedua kalinya. Kali ini lebih pelan, lebih lembut, dan tidak terburu-buru. Menikmati setiap detik yang terasa berjalan lebih lama.
Minho mengecup bibir bawah Jisung, lalu menghisapnya lembut. Ia tersenyum tipis saat merasakan tubuh Jisung sedikit gemetar karena sentuhannya.
Ciuman yang awalnya polos itu perlahan berubah menjadi lebih dalam. Tangan Minho naik ke tengkuk Jisung dan menekannya untuk memperdalam ciuman, menyalurkan luapan perasaan yang selama ini mereka pendam. Entah sejak kapan tubuh Jisung terdorong hingga punggungnya menyentuh rerumputan kering di bawah mereka.
Satu tangan Minho menopang kepala Jisung agar tak terbentur tanah. Tangan satunya menahan berat tubuhnya sendiri agar tak sepenuhnya menindih Jisung.
Cuaca dingin membuat bibir mereka terasa kering. Tanpa pikir panjang, Minho menyapu bibir Jisung dengan ujung lidahnya untuk membasahinya. Jisung terkesiap geli, lalu membalasnya dengan canggung.
Udara di sekitar mereka masih dingin, tapi rasa hangat perlahan menjalari tubuh mereka dari dada hingga ke ujung jemari
Jisung melingkarkan kedua tangannya ke punggung Minho, meremas jaket tebal itu, seolah tak ingin Minho menjauh. Napasnya terdengar sedikit terengah karena perasaan yang membanjiri seluruh inderanya.
Namun sebelum semuanya jadi terlalu jauh, Minho perlahan menarik wajahnya menjauh.
Ia menyeringai nakal, “Sabar, darling… Kan malu kalau dilihat Dumbledore,” godanya sambil mengulang ucapan Jisung tadi.
Jisung yang masih terengah-engah langsung memukul dada Minho kesal. “Dih, nyebelin banget!”
Bibirnya kini memerah dan sedikit bengkak. Minho harus menahan diri untuk tidak kembali merebutnya. Meski wajah Jisung tampak kesal, matanya justru berbinar ceria, tak lagi muram seperti tadi.
“Kita balik ke kastil dulu ya? Udah mulai gelap, nanti kita kedinginan.”
Minho bangkit lebih dulu lalu mengulurkan tangan. Jisung meraihnya tanpa ragu. Minho menepuk-nepuk rumput kering yang menempel di pakaian mereka, kemudian merapikan rambut Jisung yang sedikit acak-acakan.
Dengan jari yang masih saling menggenggam, mereka berjalan menyusuri tepi danau menuju kastil.
Langit sore mulai menjingga. Musim semi datang seolah ikut menyambut hari pertama mereka sebagai sepasang kekasih.
