Actions

Work Header

Under His Watch (Wonhan)

Summary:

Ilusi kedamaian hidup Jeonghan di apartemen mewahnya hancur berantakan di suatu pagi ketika ia tidak sengaja menjatuhkan tas milik kekasihnya, Wonwoo.

Work Text:

Rumah adalah tempat perlindungan yang dibangun Yoon Jeonghan dengan sangat teliti.

Apartemen penthouse di kawasan elit Hannam-dong itu selalu berbau seperti lilin aromaterapi Jo Malone varian English Pear & Freesia dan ketenangan yang mahal. Sebagai seorang psikolog klinis yang menghabiskan delapan jam sehari mendengarkan trauma, delusi, dan penderitaan batin pasien di klinik pribadinya, rumah haruslah steril dari drama, tempat di mana Jeonghan bisa melepaskan beban pikiran orang lain dari dirinya. Rumah haruslah menjadi antitesis dari kekacauan, sebuah kestabilan.

Dan Jeon Wonwoo adalah definisi dari kestabilan itu.

Wonwoo, kekasihnya selama dua tahun terakhir, adalah seorang staf IT di sebuah perusahaan start-up keamanan siber. Pria itu adalah personifikasi dari kata “biasa” dalam artian yang paling menenangkan. Wonwoo pulang tepat waktu, mengenakan kacamata tebal yang sering melorot di hidung mancungnya, mengeluh tentang server yang down atau klien yang buta teknologi, lalu menghabiskan malam dengan merakit keyboard mekanik, bermain online game, atau membersihkan debu menggunakan vacuum cleaner Dyson kesayangannya.

Wonwoo pendiam, canggung secara sosial, dan memiliki senyum kotak yang tulus namun jarang ditunjukkan pada dunia luar. Bagi Jeonghan yang hidupnya penuh dengan analisis perilaku manusia yang rumit, kesederhanaan Wonwoo adalah oase. Tidak ada lapisan tersembunyi. Tidak ada permainan pikiran. Hanya Wonwoo dan kemeja flanel kotaknya.

Namun, Sabtu pagi ini berbeda.

Wonwoo pulang dari lari paginya lebih cepat dari biasa. Pukul sembilan pagi, ia sudah menerobos masuk pintu apartemen dengan napas sedikit tersengal, mengenakan jaket windbreaker hitam tebal yang ritsletingnya ditarik sampai ke leher. Wajahnya pucat pasi, dan keringat dingin membasahi pelipisnya.

“Kau pulang cepat?” tanya Jeonghan dari dapur, sedang menata piring untuk sarapan. “Aku baru mau membuat --”

“Aku... aku harus ke kamar mandi sebentar,” potong Wonwoo buru-buru, suaranya terdengar kaku seperti menahan sakit.

Ia membawa masuk tas duffel hitam besar -- tas yang tidak pernah Jeonghan lihat sebelumnya -- dan meletakkannya dengan kasar di atas meja ruang tamu. Tubuhnya sempat limbung sejenak, tangannya mencengkeram pinggiran meja seolah dunia sedang berputar di matanya.

“Jangan sentuh apa pun,” perintahnya, sebelum berjalan setengah menyeret kaki menuju kamar mandi utama.

Jeonghan berdiri mematung sambil memegang gagang vacuum cleaner. Insting psikolognya menyala. Bahasa tubuh Wonwoo berteriak ‘menyembunyikan sesuatu’. Pupil matanya melebar. Adrenalin tinggi.

Jeonghan hendak mengabaikannya, berpikir mungkin Wonwoo hanya sakit perut atau kelelahan karena lari pagi terlalu jauh. Atau mungkin kekasihnya panik karena server kantor benar-benar meledak. Ia melanjutkan kegiatan bersih-bersihnya. Namun, matanya menangkap sesuatu di lantai marmer tempat Wonwoo tadi berdiri.

Setetes noda merah gelap.

Darah.

 

-<>-||-<>-||-<>-

 

Di dalam kamar mandi, Wonwoo tidak sedang buang air atau mandi santai.

Ia mengunci pintu, lalu menyalakan keran wastafel hingga kekuatan maksimal. Suara air yang deras itu ia butuhkan untuk meredam suara rintihannya sendiri. Dengan tangan gemetar, ia membuka ritsleting jaket windbreaker-nya dan melepasnya sepenuhnya perlahan. Kaos putih di dalamnya sudah basah kuyup oleh darah di bagian kiri akibat luka di lengannya.

Sebuah peluru kaliber kecil telah menyerempetnya sepuluh menit yang lalu di Jembatan Banpo, saat tim pengintai musuh berhasil mengidentifikasinya.

“Sial...” desisnya.

Wonwoo tidak punya waktu untuk ke rumah sakit. Ia membuka kotak P3K di balik cermin. Ia mengambil botol alkohol, kain kasa, dan stapler medis kulit (skin stapler). Ia menggigit handuk kecil untuk meredam teriakannya, lalu menyiram lukanya dengan alkohol. Rasa perih yang membakar membuatnya nyaris pingsan -- alasan kenapa tadi ia meletakkan tas senjatanya dengan begitu ceroboh.

Ctrek. Ctrek. Ctrek.

Tiga staples logam kini menutup robekan di kulitnya. Cukup untuk menahan darah sementara waktu. Wonwoo membalutnya cepat dengan perban, lalu mengenakan hoodie hitam bersih untuk menutupi bukti kekacauan itu. Ia menatap cermin. Wajahnya masih pucat, tapi matanya tajam. Mode “Pacar yang Lugu” sudah dimatikan; mode “Agen Section Zero” telah aktif.

Ia harus membawa Jeonghan pergi, sekarang.

 

-<>-||-<>-||-<>-

 

Penemuan noda darah itu membuat napas Jeonghan tercekat.

Jantungnya seakan berhenti berdetak. Itu bukan keringat. Wonwoo terluka!

“Wonwoo?” panggil Jeonghan, suaranya bergetar.

Rasa khawatir seketika mengambil alih. Lupakan bersih-bersih. Ia harus memastikan Wonwoo baik-baik saja. Jeonghan melepaskan gagang vacuum cleaner dan berbalik cepat, hendak berlari menyusul Wonwoo ke kamar mandi.

Namun, dalam kepanikannya, kaki Jeonghan tersangkut kabel panjang mesin penyedot debunya yang melintang di lantai. Ia tersandung, dan tubuhnya menabrak meja tamu di sampingnya dengan keras untuk menjaga keseimbangan.

BRAK!

Guncangan keras itu membuat tas duffel hitam Wonwoo -- yang diletakkan sembarangan dan tidak stabil di tepi meja -- tergelincir jatuh.

Tas itu menghantam lantai marmer dengan bunyi yang terlalu padat. Terlalu berat. Bukan bunyi laptop atau keyboard portabel plastik; itu bunyi logam solid yang beradu. Ritsleting tas itu, yang tidak tertutup rapat, terbuka lebar akibat benturan keras. Isinya memuntahkan diri ke lantai, tepat di depan kaki Jeonghan yang masih gemetar karena syok.

Keheningan yang mencekam menyergap ruangan. Rasa khawatir akan darah Wonwoo seketika membeku, tergantikan oleh horor jenis baru.

Di sana, tergeletak di antara kabel charger dan hard disk eksternal, bukanlah laptop atau perangkat keras lain selayaknya milik seorang staf IT...

Tapi sebuah pistol. Hitam, matte, dan terlihat mematikan. Jenis Glock 19 dengan laras yang dimodifikasi untuk peredam suara (silencer). Dua magasin peluru penuh berhamburan.

Jantung sang psikolog mulai berpacu, memompa darah dingin ke ujung-ujung jarinya. Tangannya gemetar saat ia berlutut. Otaknya berusaha keras mencari alasan logis yang masuk akal. Mungkin itu pistol airsoft gun? Mungkin Wonwoo diam-diam punya hobi cosplay militer yang tidak pernah diceritakannya?

Jeonghan ingin tertawa. Ia ingin percaya bahwa ini hanya lelucon konyol. Tapi kemudian matanya menangkap kilatan logam kuning di dalam magasin yang berserakan. Peluru tajam, dan bau minyak pelumas senjata yang khas menusuk hidung -- bau yang sama yang menempel di baju ayahnya dulu.

Ilusi itu pecah seketika.

Di samping senjata itu, sebuah map plastik transparan terbuka, memperlihatkan tumpukan uang tunai dalam pecahan Dolar Amerika dan Euro yang tebal. Cukup untuk hidup setahun tanpa bekerja.

Dan di bawah tumpukan uang itu, ada tiga buah paspor. Jeonghan membuka paspor pertama dengan jari yang terasa kebas. Foto Wonwoo ada di sana, menatap datar ke arah kamera tanpa kacamata, dengan sorot mata dingin yang tidak pernah Jeonghan lihat.

Paspor pertama: Lin Zihao, warga negara China.

Paspor kedua: Hasegawa Ryo, warga negara Jepang.

Paspor ketiga: Jeon Wonwoo, warga negara Korea Selatan, tapi dengan tanggal lahir dan alamat yang berbeda.

Napas Jeonghan tercekat. Ruangan yang sejuk itu mendadak terasa mencekik. Otaknya, yang terlatih untuk menyusun profil psikologis dan menghubungkan titik-titik data, bekerja dengan kecepatan cahaya yang menakutkan.

Tas ini bukan tas kerja. Ini lebih seperti “Go-Bag”, tas untuk melarikan diri.

Potongan-potongan memori masa lalu menghantam Jeonghan seperti ombak pasang. Ayahnya dan kasus sindikat Viper. Nama itu bukan sekadar nama hewan melata. Bagi Jeonghan, itu adalah hantu dari masa lalu yang berlumuran darah.

Sepuluh tahun lalu, Korea Selatan diguncang oleh skandal “Gerbang Viper” -- sebuah jaringan perdagangan manusia dan pencucian uang transnasional yang melibatkan politisi korup dan mafia Rusia. Ayahnya, Jaksa Agung Yoon Hyunsuk, adalah satu-satunya orang yang berani menatap mata ular itu. Ayahnya memimpin tim khusus yang berhasil memenjarakan separuh petinggi sindikat itu.

Separuh lainnya yang lolos... mereka tidak pernah memaafkan.

Jeonghan masih ingat malam itu, lima tahun silam. Malam di mana ayahnya ditemukan tewas di ruang kerjanya. Laporan otopsi resmi menyatakan: Gagal Jantung Akut.

Tapi Jeonghan tahu kebenarannya. Ayahnya adalah pelari maraton yang sehat. Tidak ada riwayat penyakit jantung. Ayahnya meninggal tepat tiga hari sebelum ia dijadwalkan memberikan kesaksian rahasia tentang sisa-sisa pemimpin Viper yang masih buron. Kematian itu terlalu bersih, terlalu rapi, dan terlalu tepat waktu. Itu bukan serangan jantung; itu adalah eksekusi sunyi menggunakan racun yang tidak terdeteksi.

Sejak hari pemakaman itu, Jeonghan hidup dalam paranoia bahwa gilirannya -- satu-satunya keturunan Jaksa Agung Yoon -- akan tiba. Ia sadar bahwa mimpi buruk itu tidak pernah berakhir. Kata-kata terakhir ayahnya kembali terngiang, bergema di telinga Jeonghan seperti lonceng kematian, “Mereka tidak pernah lupa, Jeonghan. Sindikat itu akan menunggu sampai kau lengah. Sampai pengawasan negara melonggar. Mereka akan mengirim seseorang yang tidak akan kau curigai. Bahkan mungkin orang terdekatmu.”

Dunia Jeonghan runtuh.

Dua tahun... jadi, selama dua tahun, ia tidur di samping seorang pembunuh bayaran yang menyamar.

Kecanggungan Wonwoo, sifat pendiamnya, jadwalnya yang teratur -- itu semua bukan kepribadian asli. Itu adalah cover. Itu adalah kamuflase yang dirancang dengan presisi militer untuk menyusup ke dalam hidup Jeonghan, mempelajari rutinitasnya, dan menunggu perintah eksekusi turun.

Dan hari ini, dengan tas berisi senjata dan paspor palsu itu, Jeonghan menyimpulkan satu hal; hari eksekusi itu adalah hari ini.

Ular itu telah kembali untuk menelan sisanya.

 

-<>-||-<>-||-<>-

 

Pintu kamar mandi terbuka, uap panas mengepul keluar.

Wonwoo muncul dengan wajah yang sedikit lebih segar namun masih pucat. Ia mengenakan hoodie hitam baru dan berjalan cepat ke ruang tamu, matanya langsung tertuju pada tas duffel yang tergeletak di lantai.

Wajah Wonwoo menegang. “Kau... menyentuhnya?”

Jeonghan mundur selangkah, tangannya mencengkeram erat vas bunga kristal berat -- hadiah dari ibunya -- yang ada di atas meja tamu.

“Siapa kau?” desis Jeonghan, suaranya pecah namun penuh ancaman. “Siapa kau sebenarnya, Jeon Wonwoo?”

Wonwoo mengangkat kedua tangannya perlahan, gestur menenangkan yang biasa ia pakai jika klien marah, tapi kali ini matanya waspada.

“Jeonghan, dengarkan aku. Letakkan vas itu.”

“Jangan mendekat, Jeon Wonwoo -- atau siapa pun namamu!” teriak Jeonghan sembari air mata kemarahan mengalir di pipinya. “Aku melihat isinya! Pistol, paspor palsu, uang tunai! Kau dikirim oleh Viper, kan? Dua tahun kau membohongiku! Dua tahun kau tidur di sini menunggu perintah untuk membunuhku seperti mereka membunuh ayahku?!”

Wajah Wonwoo memucat. Bukan karena takut pada ancaman Jeonghan, tapi karena kengerian murni saat mendengar nama Viper.

“Kau tahu tentang Viper?” bisik Wonwoo. “Sial... Jeonghan, dengar, pistol itu bukan untuk menyakitimu. Itu untuk --”

BEEP! BEEP! PERIMETER BREACHED!

Di pergelangan tangan Wonwoo, jam pintarnya berbunyi nyaring, memotong pembicaraan mereka.

Mata Wonwoo membelalak. Ia melihat ke arah jendela besar di belakang Jeonghan. Sensor di jam tangannya menunjukkan ada tiga objek panas tubuh manusia yang sedang merayap turun dari atap menggunakan tali. Mereka terlambat; pertengkaran ini membuang waktu lima menit yang krusial untuk evakuasi.

“Jeonghan, tiarap!”

Teriakan Wonwoo memecah udara bersamaan dengan suara kaca yang meledak.

PRANG!

Kaca jendela apartemen lantai 17 itu meledak bukan karena vas bunga, tapi karena peluru subsonik yang ditembakkan dari luar.

Sebelum Jeonghan sempat memproses apa yang terjadi, tubuh Wonwoo sudah melayang ke arahnya. Pria itu menubruk Jeonghan dengan kekuatan penuh, menjatuhkannya ke lantai di balik kitchen island marmer yang tebal, dan menutupi tubuh Jeonghan dengan tubuhnya sendiri.

Tak lama kemudian, serentetan tembakan menyapu ruang tamu. Lampu gantung hancur. Vas bunga yang tadi dipegang Jeonghan pecah berkeping-keping di lantai, serpihannya berhamburan. Tiga sosok berpakaian hitam lengkap dengan masker gas dan rompi taktis melompat masuk dari jendela yang pecah.

“Target terlihat! Amankan VIP, bunuh penjaganya!” teriak salah satu penyerbu.

Di lantai dapur, di bawah perlindungan tubuh Wonwoo, Jeonghan gemetar hebat. Ia menatap Wonwoo. Kacamata pria itu sudah terlempar entah ke mana. Tatapan canggung dan lembut yang biasa ia lihat telah lenyap, digantikan oleh tatapan predator.

Dingin. Fokus. Mematikan.

“Tetap di sini,” bisik Wonwoo di telinga Jeonghan. “Hitung sampai sepuluh, dan jangan buka matamu!”

 

-<>-||-<>-||-<>-

 

Wonwoo bergerak.

Ia tidak mengambil pistol dari tasnya yang tertinggal di ruang tamu -- terlalu jauh dan terekspos. Sebagai gantinya, ia menekan serangkaian kode di jam tangannya.

KLIK.

Seluruh lampu di apartemen padam total.

Wonwoo adalah agen spesialis Tech-Ops (Technical Operations). Ia tidak hanya ahli menembak, ia adalah ahli memanipulasi lingkungan menggunakan teknologi. Ia sudah meretas sistem kelistrikan unit penthouse ini sejak pertama kali mereka pindah, “hanya untuk berjaga-jaga”. Dalam kegelapan, para penyerbu yang mengandalkan penglihatan mata telanjang menjadi buta sesaat sebelum mereka sempat menyalakan night vision.

Itu adalah celah dua detik yang dibutuhkan Wonwoo.

Jeonghan meringkuk dalam gelap, napasnya tertahan. Telinganya menangkap suara desingan angin, diikuti bunyi tulang patah yang bersih dan efisien. Bunyi pisau dapur yang dicabut dari blok kayu. Erangan tertahan.

DOR!

Satu tembakan menyala dalam gelap, menerangi wajah Wonwoo sekilas. Wajah itu tanpa ekspresi saat ia memelintir lengan seorang penyerbu, menggunakan tubuh musuh sebagai tameng dari tembakan rekannya yang lain, lalu menembak kepala musuh kedua dengan pistol rampasan. Tidak ada keraguan, tidak ada langkah yang sia-sia.

Ke mana perginya pria yang minggu lalu menjatuhkan gelas karena tersenggol sikunya sendiri? Ke mana perginya pria yang bingung merakit meja IKEA?

Dalam kegelapan itu, Jeonghan menyadari dengan ngeri; kecanggungan Wonwoo selama ini adalah seni. Itu adalah akting tingkat tinggi yang dirancang begitu sempurna hingga Jeonghan -- sang pakar perilaku manusia -- tertipu mentah-mentah. Pria yang kini membunuh demi melindunginya adalah orang asing yang menakutkan, namun ironisnya, satu-satunya hal yang berdiri di antara Jeonghan dan kematian.

Wonwoo bergerak dalam senyap. Ia melempar pisau daging ke arah penyerbu ketiga yang mencoba mendekati meja dapur tempat Jeonghan bersembunyi. Pisau itu menancap tepat di bahu, membuat senapan lawan terjatuh. Wonwoo menerjang maju, melakukan tendangan sapuan yang menjatuhkan musuh terakhir, lalu melumpuhkannya dengan pukulan keras gagang pistol ke pelipis.

Lalu hening. Hanya ada suara hujan yang menderu masuk lewat jendela pecah, dan napas berat Wonwoo.

“Lampu,” perintah Wonwoo pada jam tangannya.

Lampu darurat remang-remang menyala, menciptakan bayangan panjang yang menyeramkan.  Jeonghan mengintip dari balik meja dapur. Ruang tamunya yang indah hancur lebur, tiga orang tak sadarkan diri (atau mati) tergeletak di lantai.

Dan Wonwoo berdiri di tengah kekacauan itu.

Tangan kanannya yang memegang pistol terkulai di sisi tubuhnya. Tangan itu gemetar hebat. Bukan karena takut, tapi karena lonjakan adrenalin yang mulai surut. Getaran tangan itu... entah kenapa, itu adalah hal paling manusiawi yang Jeonghan lihat dalam lima menit terakhir. Itu mengingatkannya bahwa di balik mesin pembunuh itu, jantung Jeon Wonwoo masih berdetak.

Lengan kiri hoodie Wonwoo robek, menampilkan perban putih yang kini merah kembali oleh darah segar -- jahitannya lepas karena perkelahian tadi. Ia tidak memedulikan lukanya. Ia menekan earpiece yang tersembunyi di telinganya.

“Status compromised. Lokasi Alpha terbakar. Tiga musuh dilumpuhkan. VIP aman. Kirim tim pembersih sekarang,” perintahnya dengan suara dingin yang asing.

Ia berbalik menatap Jeonghan yang masih mengintip dari tempatnya berlindung. Dan seketika itu juga, topeng “Agen Rahasia”nya runtuh. Bahunya merosot. Matanya yang tajam kembali dipenuhi kekhawatiran dan rasa bersalah yang mendalam.

“Kau terluka, Jeonghan?” tanyanya, melangkah mendekat namun ragu-ragu.

Jeonghan menggeleng kaku. Ia terlalu syok untuk bicara, hanya menunjuk lengan Wonwoo. “Kau... berdarah.”

“Cuma goresan,” kata Wonwoo, menekan lukanya dengan tangan. “Maaf. Maafkan aku. Seharusnya kita sudah pergi lima menit yang lalu. Aku... aku gagal mengantisipasi seberapa cepat mereka menemukan kita.”

 

-<>-||-<>-||-<>-

 

Jeonghan merangkak keluar dari persembunyiannya, kakinya lemas seperti jeli.

Ia berdiri berhadapan dengan pria asing yang memakai wajah kekasihnya.

“Siapa kau sebenarnya?” tanya Jeonghan lirih. “Kau menyelamatkanku. Tapi kau juga punya paspor palsu itu. Kau bukan staf IT biasa, kan?”

Wonwoo menghela napas panjang. Ia berjalan pincang menuju sofa tebal yang terbalik, mendudukkan dirinya di sana karena kehabisan tenaga.

“Namaku Jeon Wonwoo. Itu asli,” jawabnya. “Aku bukan pembunuh bayaran, Jeonghan. Aku agen Section Zero, sebuah perusahaan konsultasi keamanan dan bodyguard.”

Section Zero?”

“Ayahmu tahu dia tidak akan selamat, Jeonghan,” jelas Wonwoo, matanya meredup saat menceritakan kebenaran pahit itu. “Lima tahun lalu, Jaksa Agung Yoon menemukan bukti baru bahwa Viper sedang menyusun kekuatan kembali di Asia Timur. Dia tahu dia sedang diburu. Serangan jantung itu... itu adalah succinylcholine. Senyawa pelumpuh otot yang menyebabkan gagal napas. Viper membunuhnya agar dia tidak bicara. Tapi ayahmu cerdas. Seminggu sebelum dia dibunuh, dia mencairkan seluruh aset rahasianya dan membentuk Blind Trust. Dana itu dirancang dengan satu algoritma; jika intelijen mendeteksi nama ‘Yoon Jeonghan’ muncul di dark web atau daftar target Viper, kontrak perlindungan Level Merah akan aktif otomatis. Itu adalah polis asuransi terakhir ayahmu. Dia tidak bisa menyelamatkan dirinya sendiri, jadi dia memastikan uangnya akan menyewa iblis terbaik untuk menjaga malaikat kecilnya.”

Jeonghan ternganga, wajah mendiang ayahnya melintas di benaknya. “Ayah...”

“Dan dua tahun lalu, algoritma itu menyala. Viper akhirnya menemukanmu. Kontrak perlindungan diaktifkan, dan Section Zero mengirimku,” lanjut Wonwoo, meringis menahan sakit di lengannya. “Aku seorang spesialis Tech-Ops. Tugasku adalah menyusup ke dalam hidupmu, mengamankan perimeter digital dan fisikmu 24 jam tanpa kau sadari.”

Jeonghan menatap pria jangkung di hadapannya seolah ia sedang melihat hantu. Kacamata berbingkai tebal yang biasanya membuat Wonwoo terlihat kikuk kini entah berada di mana, mengekspos sepasang mata elang yang tajam, dingin, dan sepenuhnya asing.

“Jadi...” suara Jeonghan bergetar, merangkai kepingan realitas yang kini terasa seperti pecahan kaca di kerongkongannya. “Pertemuan pertama kita di kedai kopi itu... saat kau menumpahkan americano ke kemejaku dan meminta maaf dengan wajah memerah, itu...”

Wonwoo membuang muka, rahangnya mengeras hingga otot lehernya menonjol. Jemarinya yang masih bernoda darah terkepal erat di sisi tubuh, tak berani balas menatap mata yang hancur itu.

“Diatur. Semuanya dikalkulasi,” aku Wonwoo, suaranya parau dan nyaris tanpa intonasi -- sebuah laporan taktis yang membunuh jiwa. “Aku meretas jadwal harianmu. Aku menciptakan persona Jeon Wonwoo si staf IT yang membosankan dan lemah... agar kau merasa memegang kendali. Supaya kau merasa aman membiarkanku masuk ke rumahmu, ke dalam hidupmu, tanpa pernah curiga mengapa aku selalu memastikan posisi CCTV, atau apa yang sebenarnya aku sembunyikan di balik sandaran ranjang kita setiap malam.”

Jeonghan terhuyung mundur, tumitnya menghantam keras ujung meja kopi marmer yang terbalik. Ngilu yang menjalar tajam di tulang keringnya tidak ada artinya dibandingkan dengan fondasi kewarasannya yang baru saja runtuh menjadi debu. Udara di apartemen mewah itu mendadak habis, mencekik paru-parunya.

“Tugas?” Jeonghan mengulang kata itu, wajahnya pucat pasi seperti mayat hidup.

Tawanya lolos, sumbang, kosong, dan menyayat hati, bersamaan dengan air mata yang tak lagi bisa dibendung.

“Kau ditugaskan...” suara Jeonghan pecah menjadi bisikan yang mencekik, syarat akan keputusasaan yang murni.

Ia mencengkeram dadanya yang berdenyut menyakitkan, menatap Wonwoo dengan tatapan paling terluka yang pernah pria itu lihat. Pria yang sama yang memeluknya saat ia menangis karena kehilangan pasien. Pria yang sama yang menyeduh teh chamomile setiap malam agar ia bisa tidur. Pria yang sama yang mengucapkan janji setia di perayaan anniversary kedua mereka minggu lalu.

Memori dua tahun terakhir berputar di kepala Jeonghan seperti film horor.

Setiap senyuman malu-malu Wonwoo. Palsu.

Setiap ciuman selamat pagi yang hangat. Skenario.

Setiap kali Wonwoo menatapnya dengan lembut saat mereka bercinta. Taktik pengawasan.

“Jadi, semuanya bohong? Hubungan kita? Cinta kita? Semuanya cuma... tugas?”

Itu bukan pertanyaan. Itu adalah kesimpulan yang menghancurkan tulang rusuknya.

“Aku... aku jatuh cinta pada ‘tokoh ciptaanmu’,” isak Jeonghan, suaranya terdengar kering dan menyedihkan. “Aku membuka hatiku, menceritakan semua rahasia dan ketakutan tergelapku pada seseorang yang bahkan tidak ada. Betapa bodohnya aku. Psikolog klinis terbaik di Seoul, tapi aku tidak bisa melihat bahwa pria yang tidur di sebelahku hanyalah aktor yang sedang bekerja!”

Wajah Wonwoo tetap datar -- sebuah refleks dari latihan sepuluh tahun di unit intelijen. Jangan tunjukkan emosi saat target sedang tidak stabil.

“Kau pasti tertawa dalam hati setiap kali aku bilang aku mencintaimu, kan?” tuduh Jeonghan, suaranya naik satu oktaf. “Kau pasti berpikir, ‘betapa mudahnya klien ini dimanipulasi’. Apakah ciuman kita juga ada di dalam kontrak, Tuan Agen? Apakah tidur denganku adalah bagian dari paket layanan premium ayahku? Berapa bayaran yang ayahku berikan untuk membuatmu berpura-pura mencintaiku sedetail ini, Jeon Wonwoo?!”

Kata-kata itu meluncur seperti racun. Jeonghan merasa kotor. Ia merasa dikhianati oleh satu-satunya tempat yang ia anggap rumah.

Di balik topeng dinginnya, dunia Wonwoo sedang kiamat. Tangannya mengepal hingga memutih. Jantungnya berdetak begitu kencang hingga sakit. Setiap kata yang dimuntahkan Jeonghan terasa seperti peluru kaliber tinggi yang menembus tubuhnya.

Katakan padanya, teriak batin Wonwoo. Katakan padanya kau mencintainya!

Tapi lidahnya kelu. Wonwoo tahu ia tidak berhak. Ia adalah pembohong. Melihat Jeonghan menatapnya dengan pandangan terluka dan penuh kebencian adalah mimpi buruk terbesarnya yang menjadi kenyataan.

Wonwoo ingin berlutut. Ia ingin memeluk kaki Jeonghan dan memohon ampun. Ia ingin mengatakan bahwa setiap kali ia harus mengirim laporan rutin tentang aktivitas Jeonghan ke markas, tangannya gemetar karena rasa bersalah. Bahwa ia pernah hampir menembak atasan pengawasnya karena menyarankan untuk memanfaatkan perasaan Jeonghan demi kelancaran misi.

Air mata yang menggenang di mata Jeonghan akhirnya tumpah membasahi pipinya yang kotor oleh debu. “Terima kasih... sekarang semuanya jelas. Selama ini cintaku hanya bertepuk sebelah tangan.”

That’s it.

Wonwoo mendongak cepat. Pertahanan stoic-nya akhirnya retak, emosinya mengambil alih. Matanya yang biasanya tenang kini berkaca-kaca, penuh keputusasaan.

“Tidak. Itu bagian di mana aku gagal sebagai agen,” ucapnya dengan suara parau. “Enam bulan pertama, itu tugas. Sisanya... sisanya adalah pelanggaran kode etik terberat. Aku jatuh cinta padamu, Jeonghan. Sangat dalam. Sampai aku sering lupa kalau ada ancaman di luar sana. Sampai aku membawa pulang tas kerjaku hari ini karena aku panik ingin menyelamatkanmu. Bukan sebagai aset, tapi sebagai nyawaku sendiri!”

Tapi semesta tampaknya tidak – atau belum -- mendukung kisah cinta mereka. Suara notifikasi dari jam tangan Wonwoo memberitahunya bahwa tim pembersih dan evakuasi sudah mendekat. Wonwoo menghembuskan napas panjang dan berdiri susah payah. Ia mengambil tas hitam yang menjadi sumber masalah itu.

“Timku akan membawamu ke safehouse di Namhae. Identitas baru sudah disiapkan untukmu,” katanya berat, mengusap air matanya yang menetes pelan. “Tugasku selesai, Jeonghan. Karena identitasku sudah terbongkar, agensi akan menarikku dan mengirim agen baru. Yang lebih profesional, yang tidak akan membohongimu. Maafkan aku dan... selamat tinggal.”

Wonwoo menatap lekat wajah indah Jeonghan, pria yang dicintainya, pria yang selalu berhasil membuatnya lupa akan kejamnya dunia, untuk terakhir kalinya. Ia siap menyerahkan Jeonghan pada tim evakuasi dan menghilang ke dalam bayang-bayang.

Ia membalikkan badan, bahunya merosot lelah di bawah beban rasa bersalah saat ia melangkah gontai menuju pintu.

 

-<>-||-<>-||-<>-

 

Jeonghan mematung di tengah reruntuhan ruang tamunya.

Tatapannya terpaku pada punggung lebar yang kini terbalut kain robek berlumuran darah kental dan peluh. Punggung rapuh namun kokoh, yang beberapa menit lalu menutupi tubuh Jeonghan sepenuhnya, rela menanggung hujan peluru dan hancur berkeping-keping asalkan Jeonghan tetap bernapas.

Melihat punggung itu kian menjauh, badai kemarahan dan rasa terkhianati yang tadi mendidih di dada sang psikolog mendadak menguap tak bersisa. Terkikis habis, digantikan oleh ruang hampa yang membekukan aliran darahnya. Ketakutan pada senjata api, pada tumpukan paspor palsu, atau pada sindikat kejam di luar sana tiba-tiba terasa begitu kerdil dan tidak penting.

Realitas yang menghantam kesadarannya jauh lebih brutal dan menakutkan; ia akan kehilangan Jeon Wonwoo untuk selamanya.

Ia tidak peduli jika pria di hadapannya ini adalah anjing pelacak agensi, monster berdarah dingin, atau pembohong paling ulung sekalipun. Kesederhanaan Wonwoo mungkin palsu, tapi rasa aman yang Jeonghan rasakan dalam pelukannya adalah nyata. Jeonghan sadar ia telah menyerahkan seluruh kewarasannya pada pria ini, dan membiarkan Wonwoo keluar dari pintu itu sama saja dengan membiarkan jantungnya sendiri dicabut paksa.

Tangannya bergerak mendahului rasionalitas otaknya.

“Tunggu.”

Satu kata itu merobek keheningan yang mencekik. Suara Jeonghan bergetar hebat, serak dan diliputi keputusasaan yang telanjang, namun memiliki gravitasi yang cukup kuat untuk memaku langkah sang agen elit di tempatnya.

Jeonghan melangkah maju, mengabaikan pecahan kaca menggerus sol sandalnya. “Kau bilang... ini kontrak dari ayahku. Ayahku sudah meninggal. Berarti hak atas kontrak itu jatuh ke tanganku sebagai pewaris tunggal, benar?”

Wonwoo menoleh sedikit, bingung. “Secara teknis, ya.”

“Kalau begitu, aku akan menggunakan hak prerogatif klien. Aku menolak pergantian personel!”

Wonwoo memutar tubuhnya sepenuhnya. “Yoon Jeonghan, jangan bodoh! Aku monster yang baru saja membunuh tiga orang di ruang tamumu. Kau tidak lihat darah ini?”

“Aku lihat darah itu!” teriak Jeonghan, kini berdiri tepat di hadapan Wonwoo. Ia meraih lengan Wonwoo yang terluka, tidak peduli darah itu mengotori tangannya sendiri. “Itu darahmu yang tumpah karena melindungiku! Kau berbohong tentang pekerjaanmu, dan itu salah. Tapi kau tidak pernah berbohong saat memelukku. Kau tidak pernah berbohong saat merawatku sakit...”

“Aku berbahaya buatmu.”

“Kau berbahaya buat mereka,” koreksi Jeonghan, menunjuk mayat para penyerbu. “Dan itulah yang aku butuhkan. Ayahku membayar untuk perlindungan terbaik, kan? Dan kau yang terbaik!”

Jeonghan menatap mata Wonwoo, menembus pertahanan agen rahasia itu.

“Di kontrak itu... apakah ada klausul yang melarang agen mencintai kliennya?” tanyanya lirih.

Wonwoo menelan ludah. “Ada. Pasal 4 ayat 1, dilarang menjalin hubungan romantis dengan klien.”

“Kalau begitu, kita putus saja kontraknya,” bisik Jeonghan, meraih kerah baju Wonwoo yang penuh darah. “Aku tidak akan menjadi klienmu lagi. Aku memecatmu, Jeon Wonwoo. Tapi jangan pergi... Jadikan aku pasanganmu!”

Pertahanan Wonwoo hancur lebur. Ia menjatuhkan tas di tangannya, lalu menarik Jeonghan ke dalam pelukan yang erat dan putus asa. Lengan berdarahnya melingkar di pinggang Jeonghan, tidak peduli rasa sakitnya. Ia membenamkan wajahnya di ceruk leher Jeonghan, menghirup aroma tubuh alaminya yang kini bercampur bau mesiu, mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa ini kenyataan.

“Maafkan aku,” bisik Wonwoo berulang kali. “Aku mencintaimu. Demi Tuhan, aku mencintaimu, Yoon Jeonghan.”

Jeonghan menarik wajah Wonwoo, menatap bibirnya yang gemetar, dan tanpa ragu menciumnya.

Ciuman itu bukan ciuman manis. Itu adalah tabrakan dua jiwa yang baru saja lolos dari maut. Kasar, penuh rasa asin darah dan keringat, penuh euforia kehidupan. Lidah mereka bertaut dengan urgensi yang menyakitkan. Wonwoo membalas ciuman itu dengan intensitas yang membuat lutut Jeonghan lemas.

Under my watch, you are safe.

 

Enam Bulan Kemudian

 

Vila putih di tebing pantai Pulau Jeju itu sunyi, dikelilingi pagar tinggi dan pepohonan rimbun.

Namun, bagi mata terlatih, tempat itu adalah benteng. Kamera pengawas tersembunyi di setiap sudut, dan sensor gerak tertanam di tanah.

Jeonghan duduk di teras kayu, menikmati angin laut yang membawa aroma garam segar sambil membaca buku. Wajahnya terlihat lebih rileks, beban masa lalu perlahan luntur oleh deburan ombak.

“Sayang,” panggil Wonwoo dari dalam rumah.

Pria itu keluar membawa nampan berisi es teh hallabong dan potongan buah. Ia mengenakan kaos oblong santai dan kacamata baru -- kali ini modelnya lebih modern dan stylish, pilihan Jeonghan.

“Ada email masuk dari klien di Jerman,” kata Wonwoo, meletakkan nampan dan duduk di kursi sebelah Jeonghan. Ia membuka tabletnya. “Bank sentral Frankfurt. Mereka minta audit sistem keamanan server mereka. Mereka dengar reputasi konsultan misterius ‘Mr. J’.”

Jeonghan terkekeh, menutup bukunya. “Bayarannya?”

“Cukup untuk beli pulau kecil kalau kita mau,” Wonwoo menyeringai.

Ini adalah ironi manis dari kehidupan baru mereka.

Wonwoo tidak sepenuhnya berhenti menjadi orang IT. Ternyata, kemampuan Tech-Ops -- gabungan antara hacking ofensif dan strategi pertahanan -- membuatnya menjadi komoditas panas di dunia keamanan siber legal (dan kadang grey area). Ia kini bekerja sebagai konsultan keamanan lepas dengan bayaran fantastis, bekerja dari rumah, tanpa harus memegang senjata lagi.

“Ambil saja,” kata Jeonghan. “Tapi jangan begadang.”

“Siap, Bos!” canda Wonwoo.

Tiba-tiba, jam tangannya bergetar pelan. Matanya menajam sekilas.

“Ada apa?” tanya Jeonghan, sudah hafal gestur itu.

“Drone turis nyasar, dua kilometer dari sini,” jawab Wonwoo santai. Jari-jarinya mengetuk layar tablet beberapa kali. “Sudah aku ambil alih kontrolnya dan kusuruh mendarat di laut. Tidak ada yang boleh mengintip waktu santaimu!”

Jeonghan tersenyum, meraih tangan Wonwoo dan mengecup punggung tangannya yang memiliki bekas luka tembak samar yang kini sudah sembuh.

“Posesif sekali, Tuan Bodyguard!”

Wonwoo membetulkan letak kacamatanya, menatap Jeonghan dengan tatapan memuja yang tak lagi disembunyikan di balik lensa kepura-puraan.

“Itu klausul kontrak seumur hidup, ingat?”

Di laci meja kerja Wonwoo di dalam rumah, pistol Glock dan paspor-paspor itu masih tersimpan aman, terkunci rapat. Siap digunakan jika dunia kembali mencoba menyentuh Yoon Jeonghan.

Tapi untuk saat ini, senjata terbaik Wonwoo bukanlah peluru, melainkan kedamaian yang berhasil ia curi untuk mereka berdua.

 

 

The End

Series this work belongs to: