Work Text:
“Kayaknya kamu harus jauhin Taesan deh, Han.”
Suara Minju langsung menyadarkan Leehan yang sedari tadi melamun melihat siswa-siswi di lapangan dari jendela kelasnya.
“Kenapa? Taesan baik kok, mukanya aja agak galak gitu.” Leehan langsung membantahnya, perempuan di bangku sebelahnya itu langsung menghela napasnya.
“Perasaan aku gak enak aja.”
Netra Leehan kini bertemu dengan Minju, mengalihkan pandangannya.
“Minju, aku tau kamu tuh mungkin punya indra keenam karena kemarin bisa prediksi Bu Eli bakalan ulangan dadakan, tapi prediksi kamu gak selalu bener, kan? Aku tahu kita juga temenan dari awal, jadi gak ada salahnya juga aku mau temenan sama Taesan, dong?”
Alis perempuan itu berkerut, bukan itu yang dia maksud “Aku gak masalah kamu mau temenan sama siapapun, Leehan. Tapi aku ngerasa kamu kayaknya jangan terlalu deket sama dia, cuma saran aja!” Di akhir, Minju agak nyolot karena kesal akan kesalahpahaman temannya.
Leehan kembali menaruh pandangannya ke jendela, dan kini, Minju mengikutinya. Di sana, ada tokoh utama dari perbincangan mereka barusan, Han Taesan.
Ia tidak sendiri, bersama dengan tiga kakak kelas yang memang wajahnya tidak asing bagi Minju maupun Leehan. Taesan awalnya sedang berbincang sebelum matanya menangkap sosok mereka berdua, mengenal Leehan, ia melambaikan tangan, yang langsung dibalas oleh Leehan.
“Aku paham mungkin kamu khawatir sama aku, Ju. Tapi Taesan beneran baik kok, tuh liat aja, kan dia anak OSIS, terus deket sama MPK juga. I’ll be fine. ” Minju tak bisa untuk tidak mengulas senyum saat Leehan kembali membalikkan tubuhnya.
Ya, mungkin Leehan benar. Mungkin semua itu cuma kekhawatiran Minju. Ia yakin temannya sejak MPLS itu tidak akan kenapa-napa kalau akhirnya punya teman selain dirinya.
“Nah, yang itu, bang.” Ujar Taesan setelah menurunkan tangannya. Riwoo mengikuti arah pandangannya, “Yang cewek?”
“Aduh, skip. ” Jaehyun langsung mengibaskan tangan yang masih bertengger almamater OSIS di lengannya.
“Bukan lah, yang cowok dadah-dadah tadi. Kim Leehan namanya, mungkin dari jauh gini gak keliatan, tapi gue jamin, emang pas, disuruh juga iya-iya aja.” Taesan menyeringai, tiga kakak kelasnya itu masih melihat pada sosok siswa berambut pirang sebahu itu.
“Oke, jadwalin aja.” Jaehyun menepuk bahu Taesan, “Beneran? Wah gila ya lu semua.” Sungho yang masih memakai almamater MPK nya menggeleng tak percaya.
Jaehyun langsung beralih merangkul bahu lebarnya, “Lu kalo mau ikut, ikut. Kalo enggak, ya enggak. Gak usah ngeledek.” Sungho kembali menatap ke arah siswa yang mereka sejak tadi awasi, ia tengah tertawa dengan teman sebangkunya, memang menawan sih, dan hormon remajanya perlu pelepasan juga.
“Yaudah, gue ikut. Beneran aman ya?” Jaehyun mengangguk yakin, “Serahkan pada gue. Woi Riwoo, lu ikut kan?” Riwoo yang dari tadi terdiam dengan datar angkat bicara, “Ikut ramenya aja.”
—
“Main sama kakak kelas?”
“Iya. Sama Bang Jaehyun, Kak Sungho sama Kak Riwoo. Kalo lu mau aja sih, kalo gak mau juga gapapa, no pressure .”
Leehan bisa melihat Minju dibalik sosok tinggi Taesan yang terus memberinya sinyal dengan menggeleng, membuat ‘X’ dengan kedua tangannya dan mengucap tanpa suara ‘ JANGAN!’
Ada satu rahasia yang ia tidak pernah bilang ke Minju, Leehan itu suka sama Taesan.
Mungkin gak cuma sekedar suka yang menganggap Taesan keren untuk menjadi temannya, karena wajah dan sikap Taesan selalu membuat pipinya panas dan gak bisa tidur malamnya.
Kalau ada di situasi sekarang, dimana ia ditawari untuk main sama gebetannya dan tiga kakak kelas superior yang Leehan tau siapa aja: Kak Jaehyun, Wakil Ketua OSIS, Kak Sungho, Ketua Umum MPK, dan Kak Riwoo, Kepala salah satu Sekbid MPK.
“Iya.. boleh..”
Mana bisa Leehan menolak.
Leehan gak tahu gimana sampai dia gini.
Ia ingat Taesan yang terus menarik tangannya ke arah gudang di belakang sekolah, selama masa SMA, Leehan cuma pernah deket sama Minju, dan mungkin kali ini nambah Taesan. Biasanya kalau ia dan Minju main, paling jauh ke gacoan yang jaraknya 3 kilo dari sekolah. Mungkin emang Taesan dan kakak kelasnya itu seneng nongkrongnya disini.
Leehan daritadi cuma melihat ke arah ubin gudang yang entah sudah berdebu. Leehan gak berani ngangkat kepalanya, karena ia pasti bakal langsung ketemu tatapan kakak kelasnya itu yang rasanya menembus kepalanya.
“Halo, Leehan.” Salah satu dari mereka menyapa dengan lembut.
“Iya.. Halo kak…”
“Kamu seangkatan sama Taesan kan? IPA atau IPS?”
“IPS Kak…”
“Lu pernah diajarin adab gak sih kalo ngobrol tuh liat ke muka orangnya?” Suara ramah itu berubah jadi suara yang sedikit tegas, Leehan tahu itu dari orang yang berbeda, seketika langsung mengangkat kepalanya ragu
Aduh sumpah deh.. Taesan bilang dia ngajakin Leehan main, bukan di ospek!
“Riu, jangan lebay deh.” Sungho menegur Riwoo yang barusan menegurnya. Suara ramah Jaehyun kembali menyapa telinganya, “Nah, kayak gini kan muka cantiknya keliatan— Eh gapapa kan Leehan dibilang cantik? Apa gak suka?”
Leehan sedikit merona dibuatnya, pujian ‘cantik’ memang sudah tidak asing untuk Leehan, dan Leehan biasa aja kok sebenernya. Tapi kenapa pas kakak kelasnya yang nyebut jantungnya jadi lebih cepat ya?
Sosok yang menjadi pusat perhatian itu menggeleng, baru saja Leehan ingin menjawab, terpotong oleh Taesan yang berdiri di belakang sofa menimpali, “Kan emang cantik.” Lagi-lagi, cuma bisa nambahin suhu di kedua pipinya. Jaehyun terkekeh gemas melihat Leehan yang kembali mengalihkan pandangannya.
“Kan kita udah kenalan nih, langsung main aja kali ya?” Jaehyun membuka sebuah bungkus kartu uno yang nampak masih baru.
“Leehan ngerti uno kan?” Leehan kembali mengangguk.
“Kalo uno biasa kan bosen, ya. Kita adain punishment buat yang kalah gimana? Gue udah nyiapin minuman aneh ini, kalo tiap kalah, harus minum, deal? ” Insting bahaya Leehan seolah bergelora melihat segelas minuman yang berwarna pink di depannya.
Apa itu miras? Tapi masa iya kakak-kakak kelas ini berani minum miras, masih di area sekolah lagi!
“Gila lu ya bang, ikut deh gue.” Taesan menimpali,
“ Deal. ”
“Oke.”
Mereka berempat sontak melihat ke arah Leehan yang masih ditelan sunyi penuh ragu. Lagi-lagi, bagaimana Leehan bisa menolak?
“O-oke..”
Senyum puas, sedikit kekehan muncul di bibir mereka, apa mereka se-senang itu Leehan ingin bergabung?
“Riwoo, lu yang ngocok kartunya ya.” Jaehyun mengedip pada Riwoo.
Ya sudahlah, lagian main uno apa susahnya sih?
Leehan salah besar.
Entah memang dewa keberuntungan sedang membencinya, atau emang ternyata Leehan benar-benar payah dalam uno, tapi rasanya gak mungkin kalau Leehan kalah empat kali berturut-turut.
Minuman merah muda misterius yang awalnya satu gelas plastik penuh kini hanya tersisa setengahnya. Leehan masih gak bisa nebak apa isi minuman itu, rasanya kayak es marimas cocopandan yang suka dijual ibu kantin, tapi entah kenapa sedikit asam dan ada sensasi aneh semenjak Leehan pertama kali neguk minuman itu.
Awalnya badannya kerasa gerah, konsentrasinya menurun, perutnya juga agak mual. Tapi di kala hukuman kalah ketiganya, badan Leehan panas gak karuan, kancing seragamnya udah di buka dua, tapi masih kerasa sesak.
“ Uno game. Gue menang lagi, Han.” Taesan menaruh kartu terakhirnya, dan Leehan cuma bisa mendengus frustasi dengan delapan kartu di tangannya.
“Leehan udah kalah lima kali dong?” Tutur Riwoo dengan nada mengejek, “Nah, iya! Kalo gitu minum lagi dong, cantik~” Jaehyun dengan gembira kembali menyodorkan minuman misterius itu. Dengan tangan yang lemas gemetaran, Leehan menggenggam gelas itu.
“Han? Kamu gapapa? Kalo gak udahan aja deh, kamu pucet banget sumpah.” Sungho yang menyadari tubuh Leehan melemah langsung menahan tangannya, “Ah, gak seru lu, kak.” Taesan mendecih sebal.
“Lagian Jaehyun sih! Kebanyakan ya lu naronya?!” Sungho mengomeli Jaehyun,
“Eh gue naronya gak banyak ya! Kalo banyak juga baru seteguk udah teler dia!”
Leehan bahkan tidak bisa memproses apa yang terjadi di depannya, hingga Riwoo maju ke arahnya, menepis genggaman Sungho dan mengarahkan tangan Leehan yang menggenggam gelas itu ke mulut si adik kelas.
“Minum, Leehan.” Perintah Riwoo, Leehan sontak menggeleng. Namun Riwoo semakin kencang memaksa Leehan dengan cairan itu yang masuk ke mulutnya hingga mau tidak mau, itu ditelan meski banyak yang tumpah menuruni leher dan mengotori seragamnya.
“Riu!” Sungho menghentikan perbuatan Riwoo, meski sia-sia karena gelas minuman itu sudah kosong. Tubuh lemas Leehan langsung jatuh pada paha Sungho di sebelahnya. Keempatnya terdiam melihat yang paling muda dengan napas tersengal dan tatapan sayu, melenguh dengan keringat bercucuran di dahinya.
“ Hnggh.. Kakak.. Panas..”
“Tunggu apa lagi? Yaudah gas.” Ujar Jaehyun sebelum Leehan merasakan banyak tangan yang menyentuhnya, lalu diangkat dengan mudah. Sentuhan-sentuhan itu membuat sensasi gatal dan semakin gerah, Leehan mau lagi.
Ia bisa mendengar tawa Jaehyun yang mengikuti mereka. Lalu tubuh kurus Leehan ditaruh di atas sofa bekas yang ada di gudang tersebut.
“Leehan, kamu pernah ciuman gak?” Pertanyaan membuat Leehan cukup heran hingga membuka matanya, makin herannya saat pertanyaan itu keluar dari mulut Sungho.
Ia menatap ke arah Taesan, seolah mencari validasi bahwa hal yang terjadi padanya beneran konyol dan gak masuk akal. Taesan mengangkat satu alisnya, “Jawab, Han.”
“E-enggak..”
Rumornya, Sungho memang dikenal tegas meski lembut dan peduli— nyerempet galak sebagai Ketua MPK. Kadang ia lebih ditakuti dari Ketua OSIS kalau sedang jaga depan gerbang, jadi alangkah terkejutnya saat kakak kelasnya itu menyapu bibir sang adik kelas dengan jempolnya lalu berkata,
“Mau nyobain?”
Belum sempat Leehan menjawab, mata lentik miliknya membelalak saat merasakan bibir halus sang kakak kelas di atas bibirnya. Leehan kembali terpejam saat ia merasakan kecupan di pipi dan dahi dari Riwoo dan Taesan.
Saat Sungho melangkah mundur dan kepala Leehan mencoba memproses, kini Jaehyun tiba di depannya, memposisikan dirinya di atas Leehan, lalu ikut mencium bibirnya. Tidak seperti Sungho yang hanya menempel, Jaehyun seolah ingin melahapnya, ia terus menjilat, menghisap buah bibir sang adik kelas, membuat Leehan membuka mulutnya.
“Yah, udah sange dia, pantes gak sabaran.”
Aneh, sensasinya sangat aneh. Leehan dapat merasakan liur dan lidahnya,
“ Hmmngh… ” Ia melenguh saat merasakan tangan Jaehyun tidak tinggal diam, meraba tubuh mungil yang masih terbalut seragam, dari dada, perut, pinggang. Hingga lututnya pun menekan selangkangan Leehan yang terasa sesak dengan celana abu lengkap dengan ikat pinggang.
Kalakian, Jaehyun melepas tautan bibir mereka lalu melonggarkan dasi abu yang sebelumnya bertengger rapih, “Makin cantik, berantakan gini.” Dengan tubuhnya yang disentuh, bibirnya yang dilumat tanpa izin dan seenaknya, mungkin Leehan dengan akal sehatnya bakal melawan dan kabur dari entah punishment apa yang sudah mereka rencanakan padanya.
Tapi, mungkin akal sehatnya hilang saat ia hanya diam dan membuka satu per satu kancing kemeja seragamnya setelah mendengar Riwoo berujar “Panas kan? Buka bajunya.”
Karena nyatanya Leehan menginginkan lebih segala sentuhan serta pujian itu.
“Gila, lu semurahan itu ternyata, langsung nurut gini.” Ia bisa merasakan kemaluannya yang semakin sesak mendengar suara Taesan yang menghinanya. Jaehyun menyingkir dari sofa itu, bertukar dengan Taesan.
“ Hey. ” Sapanya, seolah mereka sedang mengobrol biasa dan Leehan tidak telanjang dada.
“Lu pernah nonton bokep gak?” Leehan tidak pernah menyangka kata-kata sefrontal seperti ini bisa keluar dari seorang Taesan yang ia bela didepan Minju. Mungkin memang harusnya Leehan mendengar kata Minju dan pulang bersama dengan teman perempuannya daripada dipermainkan bak boneka disini.
Semua pemikiran itu runtuh kala ada nyeri dari Taesan yang merengut rambut pirang panjangnya, “Jawab, perek!” Leehan mengangguk dengan netra sayu yang berkaca-kaca. Seperti lelaki muda dalam umur hampir legal normal lainnya, Leehan tentu saja pernah di masa penasaran dan menonton video dewasa.
“Nah, kita sekarang mau recreate video bokep, oke?”
“Gak mau… J-Jangan… AH!” Leehan mendesah kala Taesan memilin putingnya sambil melepas celana seragamnya. Ia menjadi sensitif kepada segala macam sentuhan, meski pikirannya terus menolak, tubuhnya menginginkan lebih.
Leehan terus menggeliat lemah dengan mulut terbuka mengeluarkan berbagai macam suara tidak senonoh selama Taesan menjamah tubuh ringkihnya. Merasa terganggu, Taesan memasukkan dua jari panjangnya kedalam mulut Leehan, membuatnya tersedak.
“Han belajar nyepong ya? Jari gue jangan sampe kena gigi, emut terus lebih dalem.”
Leehan cuma bisa menurut dengan air mata yang mulai turun, jari Taesan ia biarkan masuk sampai ke ujung tenggorokan.
Saat jari itu kembali ditarik dengan benang saliva yang menggantung, yang dibawahnya mengambil oksigen sebanyak-banyaknya. Leehan baru saja ingin kembali menangis kalau Taesan tidak mengecup bibirnya yang bengkak,
“Pinter, pinter banget cantik.” Puji dilimpahkan kepadanya yang tidak berdaya.
Leehan benci saat bahkan perih dan sakit mengisi bagian bawahnya karena jari Taesan kini bertengger didalamnya, ia dibuat mabuk dengan kata demi kata yang dilimpahkan oleh Taesan.
“Ah! Ah! Taesan! Sakit!”
“ I know it hurts but you did well, tahan sedikit cantik, it will feel good soon. ”
Mata sayu miliknya menangkap kakak kelas di sekelilingnya menyaksikan perbuatan yang tidak senonoh itu dengan penuh nafsu sambil mengocok kemaluan mereka, layaknya ia domba yang siap disantap oleh para serigala.
Anehnya, ia merasa ada gelombang asing, Leehan menikmatinya, dipertontonkan bak bintang porno. Penis kecilnya yang menegang mengeluarkan cairan bening precum membayangkan jika ia beneran jadi bintang porno yang diperlihatkan ke seluruh dunia.
“Angh! Taesan, enakh… kencengin…” Leehan menjerit saat jari Taesan menyentuh prostatnya, membuat tak hanya Taesan, tapi insan lain di ruangan itu meneguk ludah menahan gairah.
“Mau di kencengin? Iya?” Taesan mencoba garuk daerah sekitar itu lagi, Leehan ngangguk gak karuan. “M-mau! Hnng ! Enak!”
“Anjing.” Ia mendengar kakak kelasnya mengumpat, entah siapa, Leehan udah gak peduli lagi.
Taesan menyeringai penuh bangga, jarinya makin gencar ngobelin pantat perawan teman seangkatannya itu, dimasukin, dikeluarin, dikocok, menghasilkan jeritan, desahan dan suara tidak senonoh lainnya.
“Taesanhh.. Ah! A-Aku mau… Ah!” Saat Taesan tau Leehan pengen bucat dengan kaki yang bergetar, ia langsung menghentikan pergerakannya, Leehan langsung melenguh kecewa.
“Masa iya lu doang yang dibikin enak? Tengkurep, nungging.” Perintahnya, dan Leehan cuma bisa nurut karena dia mau lebih dari sentuhan-sentuhan itu.
Sementara Taesan terdengar membuka resleting celananya di belakang, Leehan mendongak saat ada sosok di depannya yang langsung nabok muka Leehan pake kontol panjang yang udah menegang. Kak Riwoo ada di depannya.
“AH— Hmmph !” Leehan baru saja menjerit karena merasakan lubang pantatnya kembali diisi sama kontol padet punya Taesan, namun mulutnya disumpal oleh kakak kelas di depannya.
“Daripada berisik mending mulutnya dipake.” Ujar Riwoo, menatap rendah adik kelasnya yang berlinang air mata.
Leehan udah gak karuan. Riwoo menjambak rambut Leehan, dijadiin pegangan sambil maju mundurin mulut Leehan, mengejar kenikmatannya sendiri, kepala adik kelasnya ditekan sampai hidungnya menyentuh bulu halus pubik miliknya, lalu kembali digerakan, tidak ada waktu untuk bernapas.
Sementara di belakangnya, Taesan juga menggenjotnya tanpa ampun, pinggangnya dipegang, Leehan beneran dipakai sebagai alat pemuas mereka.
“Ah! Anjinggg, enak banget, Leehan, sempit banget.” Sementara Taesan terus mengerang di belakangnya, Riwoo di depan Leehan hanya terdiam sambil sesekali mendesah penuh nafsu. Kedua lubangnya dipakai secara kasar, tidak berdaya, cuma bisa nangis keenakan.
“Han.. Gue mau bucat..” Kata-kata yang keluar dari Taesan, sebelum Leehan merasakan panas mengisi bagian bawahnya. Tidak butuh waktu lama Riwoo menarik kepala Leehan untuk melepaskan kelaminnya yang sudah bengkak selama di mulut adik kelasnya itu.
Tangan Riwoo masih menahan kepala Leehan, bahkan mulutnya masih terbuka bagai boneka seks yang siap dipakai. Riwoo mengocok penisnya beberapa kali sebelum keluar spermanya mengotori wajah dan rambut Leehan.
Saat mereka berdua pergi, Leehan pikir sudah selesai. Hingga ia lupa akan presensi dua kakak kelas lainnya yang memegang jabatan penting di sekolah itu.
Leehan masih terbaring lemas dengan sayu dan cairan Taesan yang mengalir dari lubangnya. Hingga Jaehyun dan Sungho menghampiri, Leehan lagi-lagi pasrah saat digendong kedua kakak kelasnya.
“Bucat juga dia, keenakan ya dientot Taesan sama Riu?” Leehan kembali mengumpulkan kesadarannya saat Jaehyun berbicara. Leehan masih di angkat dengan posisi kakak kelasnya yang duduk saling berhadapan, Leehan bisa merasakan ujung kelamin entah milik siapa yang mencolek lubangnya.
“Gue sama Sungho abis ini ada rapat, dipercepat aja ya?”
Leehan melenguh saat milik Jaehyun memasuki lubangnya dengan mudah, hasil diberi lubrikan alami oleh Taesan. Tapi gak ada yang bisa mempersiapkannya waktu Sungho memasukkan jarinya, mencoba membuka lubang sempit Leehan lebih lebar, lalu memasukkan daging miliknya pula yang tak kalah besarnya.
“AH! Ah! Kakak.. Hiks sakit.. Gak mau…” Leehan terisak menggelengkan kepala, tubuhnya masih gemetaran, sensitif dari aktivitas sebelumnya, dan kini tubuhnya seolah terbelah.
Sungho yang ada di belakang mengecup punggung Leehan untuk menenangkannya, “Tahan.” Tangisan Leehan makin menjadi semakin dalam penis mereka masuk ke dalam badannya.
Jaehyun pun mencoba untuk mengalihkan Leehan dengan terus menghisap dadanya, memberi sedikit gigitan, dan mungkin usahanya berhasil, sebab jeritan Leehan berubah menjadi desah keenakan saat penis keduanya mentok di dalam.
Sungho dan Jaehyun saling bertukar pandangan sebelum bergerak bersamaan. Leehan merasa penuh, akalnya bener-bener hilang, kakak kelasnya itu menyentuh prostatnya tiap bergerak, mulutnya cuma bisa nganga dengan liur yang turun membasahi lehernya.
Jaehyun yang awalnya sibuk ngemutin dada rata Leehan salah fokus saat melihat kebawah. “Ihan, liat kebawah.” Perintahnya, saat Leehan menuruti, ia menemukan tititnya yang terus mengeluarkan sperma tanpa henti bagai selang yang tidak dimatikan. Tapi itu kalah vulgar saat Leehan melihat perut ratanya yang kini menonjol dengan kontol kakak kelas di dalamnya.
“Ihan hamil? Ihan mau dihamilin?” Leehan beneran gak bisa mikir, dia cuma ngangguk lemes dengan mata sayu, apalagi saat Sungho mengemut daun telinganya yang sensitif.
“Kalau hamil nanti tetenya keluar susu terus, enak diemut nya. Ihan mau?” Jaehyun masih saja menggodanya.
“M-mau dihamilin kakaak… Ahhh!” Kata-kata adik kelasnya yang udah teler bikin Sungho sama Jaehyun makin ngentotin lubangnya habis-habisan, bahkan bikin dua insan yang menganggur di sebelahnya kembali mengocok kemaluan mereka yang kembali menegang.
Leehan gak akan nyangka bakal ada suatu hari di masa SMA-nya dimana dia dientot habis-habisan sama gebetan dan kakak kelasnya. Kalau misalnya ia tahu dari awal, mungkin Leehan bakalan deketin mereka duluan!
Gak sampe sepuluh kali ditusuk, hingga akhirnya perut Leehan kerasa kembung dengan sperma kedua kakak kelasnya yang bucat bersamaan. Berbarengan dengan Riwoo dan Taesan yang spermanya muncrat ke tubuh Leehan.
Tubuh Leehan rasanya kayak jelly, otomatis bersandar pada Jaehyun di depannya, masih ngiler dengan kesadaran entah dimana.
“Makasih ya, cantik.” Suara yang didengar entah dari siapa, sebelum Leehan melihat gelap.
—
“Han, pulang sekolah main ke Gacoan, yuk… Lagi pengen udang keju sumpah..” Gumam Minju yang menyandarkan kepalanya di atas meja, teman sebangkunya langsung menutup buku geografi sambil merenung sejenak.
“Hari ini gak bisa, Ju. Aku ada janji sama Taesan.”
“Taesan mulu, sekarang emang temen kamu Taesan aja ya.” Minju cemberut, Leehan terkekeh mendengarnya. “Yaudaah, besok aja ya?”
Minju cuma bisa mengangguk malas, hingga sang ketua kelas memanggil temannya.
“Leehan! Di cariin sama Kak Sungho tuh!” Leehan langsung bangun dari tempat duduknya untuk pergi.
Minju mengangkat kepalanya, melihat Leehan di depan kelas yang berbincang dengan beberapa kakak kelas yang Minju tahu, memang temennya Taesan. Sejak kapan mereka jadi akrab banget? Sampe ngasih seragam Leehan lagi.
Semua tanda tanya itu semakin memenuhi kepalanya, apalagi saat ponsel Leehan yang tergeletak di meja menyala menampilkan notif terbarunya.
[ 1 NEW MESSAGE ]
Kak Jaehyun : Pulang main lagi yuk?
