Work Text:
Seungcheol stress mengetahui bahwa perusahaannya gagal mengakuisisi perusahaan lawan yang Seungcheol incar selama lebih setahun ini, dia sudah berusaha semaksimal mungkin agar pihak sebelah melepas sahamnya. Namun ternyata pihak lawan menginginkan lebih banyak tawaran darinya, namun Seungcheol dengan tegas menjawab tidak ingin tertipu dua kali.
Seungcheol mengikhlaskan modal yang sudah dia keluarkan, yang total modalnya bisa untuk membeli beberapa unit rumah secara cash di perumahan mewah. Mingyu selaku rekan kerja sekaligus sahabat karibnya menjadi tidak tega melihatnya, maka dia menawarkan sebuah obat penawar stress untuk Seungcheol, Mingyu jamin bisa membantu dirinya melupakan sejenak masalah yang sedang terjadi. Seungcheol awalnya tidak tertarik, tetapi saat disuguhi katalog talent yang ada di tempat prostutusi tersebut Seungcheol menjadi penasaran.
"Berapa sekali main?" Mingyu berdiri mendekat ke arah sahabatnya, lalu menyerahkan ponselnya. Seungcheol membaca secara seksama, ternyata tarif permalam di tempat tersebut lumayan juga. Tapi mengingat Seungcheol adalah pengusaha kaya raya, service pelacur dengan tarif 100 juta pun jika mampu membuatnya puas, Seungcheol tidak akan masalah.
Lalu mengambil rokok dari kantong jasnya lalu menyalakannya, asap yang dia sudah kumpulkan di dalam mulut Seungcheol semburkan tepat di hadapan Mingyu yang sedang fokus melihat ponselnya. "Bajingan lu."
Seungcheol tertawa lantas duduk di sebelah Mingyu, memukul keras lengan berototnya. "Talentnya dijamin jago gak? Nanti udah bayar seharga Pajero servicenya gak mantep."
"Udah percaya aja. Dulu beberapa kali main ke sana dan servicenya selalu bikin gue puas, lubang perek di sana pada rapet banget. Namanya aja gue masih inget, Lee Chan. Ini karna gue udah janji sama Jeonghan buat setia jadi gak mau lanjut jajan di tempat itu lagi."
"Iya lah tolol. Jeonghan waktu lu masih suka jajan juga percaya banget sama lu, apalagi sekarang kalian udah punya anak tiga. Emang waktunya tobat sih, njing." Mingyu tertawa, benar apa kata Seungcheol walaupun sahabatnya itu juga sama brengseknya dengannya tetapi soal nasehat paling bisa buat yang dengar merasa tertampar.
"Cara kerjanya mirip kaya prostitusi lain bisa milih talent yang sama, suka-suka lu deh pokoknya."
Seungcheol mengangkat alisnya, jujur dia selama ini selalu bermain aman. Jika Seungcheol ingin berhubungan badan, dia akan memilih bermalam dengan rekan kerjanya. Tidak ada yang bisa mengabaikan pesonanya, pria dan wanita pasti tunduk padanya. Dan setelah Mingyu menawarkan tempat prostitusi yang semi elit ini, Seungcheol merasa tertantang.
"Tipe lu banget nih kecil putih semok, mau kaga?"
Seungcheol yang penasaran mengalihkan perhatiannya dari koran yang sedang dibacanya, lalu melihat ponsel Mingyu, matanya langsung tertuju pada profile pria manis yang ada dilayar. Namanya "Hoonieby, 22 tahun." Wajahnya memang tipe Seungcheol sekali, tapi tidak dengan umurnya, terlalu muda untuknya.
"Kontol gue gede. Yang ada lubangnya lecet terus luka, berakhir gue harus tanggung jawab, ah ribet." Katanya. Bukan Seungcheol mau sombong soal penisnya, pernah dua kali wanita yang pernah tidur dengannya, vaginanya robek karena terlalu memaksaan penisnya agar masuk ke dalamnya. Seungcheol bangga, tetapi dia masih mempunyai belas kasih untuk korbannya. Dan itu menjadi alasan Seungcheol jarang sekali menghangatkan tubuhnya.
Mingyu berdiri dari duduknya dan memukul kepalanya, dicengkeramnya jas mahal tersebut. "Cobain dulu bego, mau stress lu ilang apa kaga sih?"
"Ya cobain gimana? Emang mereka nyediain tester?" Balas Seungcheol tak kalah sewot menanggapi omongan Mingyu. Sebenarnya Seungcheol hanya ingin menggoda sang sahabat, melihat ekspresi Mingyu saat sedang menahan emosi adalah hiburan untuknya.
"Elu ke sana dulu liat situasinya, talentnya cocok apa kaga sama lu. Kalau emang cocok baru deh lu bayar lunas jasanya. Maminya juga baik banget kok, santai lah." Seungcheol hanya mengangguk saja, sekarang ini fokusnya ke layar TV. Lagian apa yang membuat Seungcheol harus berlama-lama berbincang dengan Mingyu, urusannya sudah selesai. Seungcheol sudah mengetahui nama pelacur yang akan dibooking nanti malam.
Mingyu yang sudah kepalang jengkel pun memilih pergi dan kembali ke ruangannya sendiri, "udah lah ngomong sama lu bikin gue pusing, gue pamit makan siang di rumah ya. Han masak makanan kesukaan gue, bye jomblo bangkotan."
"Kawinin bego!" Teriak Seungcheol pada Mingyu, semoga sih masih dapat terdengar dari luar pintu kaca ruangannya, Mingyu menyahuti tak kalah lantang. "Iya sabtu atau minggu kalau gak hujan."
Seungcheol berkendara memakai SUV pemberian dari ayahnya untuk ulang tahunnya ke 30 tahun, dia tampak gagah tiap memakai mobil ini, merasa lebih jantan dan percaya diri. Tak jarang satu dua orang menganga saat Seungcheol dengan sengaja membuka kaca mobilnya.
Beberapa menit mengemudi, akhirnya Seungcheol sampai di lokasi, Seungcheol betulan butuh obat penawar stressnya. Ketika Seungcheol masuk ke dalam tempat tersebut mulutnya langsung berdecak, pantas tarifnya tinggi, dilihat dari tempatnya saja terlihat sangat mewah.
Tak lama dari Seungcheol berdiri, muncul satu wanita yang sepertinya usianya tak jauh berbeda dengan ibunya datang menghampirinya, bermaksud ingin menanyakan sesuatu padanya, maka dengan senang hati Seungcheol akan menjawabnya.
"Hello tuan, ada yang bisa mami bantu? Kenalkan saya pemilik Sweet Honey."
"Hi, saya baru pertama kali datang kesini atas rekomendasi teman, dan kebetulan teman saya sudah membooking salah satu talent anda."
Wanita paruh baya tersebut semakin mendekat ke arahnya, "baik tuan. Talent mana yang dimaksud, coba mami lihat bukti bookingnya." Seungcheol segera membuka situs web Sweet Honey, dan langsung ke pencarian yang dimaksud. Dapat dilihat tertera bukti bahwa Seungcheol sudah membooking pada jam 4 sore, dan uang muka sudah dibayar.
Wanita berumur tersebut langsung tersenyum lebar setelah mendengar jawaban Seungcheol. "Mari mami antar ke talent yang sudah tuan booking, sepertinya dia baru saja turun tak lama setelah tuan sampai. Mami jamin tuan akan puas dengan servicenya, karena anak-anak mami di sini semuanya terawat dari segi luar dan dalam, setiap seminggu tiga kali pasti melakukan perawatan."
Seungcheol ingin menggaruk muka wanita tersebut, iya memang harus terawat. Dapat dibayangkan bila talent di sini jorok, dengan tarif selangit, pasti langsung dituntut tempat prostitusi ini.
Lantas melirik jam tangan yang selalu tersemat di pergelangan tangannya, waktu sudah menunjukan pukul 11 malam, artinya sudah cukup malam untuk sebagian orang.
Sekarang Seungcheol berada di tengah ruangan yang didominasi warna gold and black. Tidak banyak orang di sini, hanya ada beberapa saja dan itu pun untuk sekedar minum wine atau merokok. Lalu matanya langsung menangkap pada seseorang yang memakai kemeja satin berwarna merah, seakan tungkainya dapat bergerak sendiri, tanpa sadar Seungcheol sudah berada di hadapan pria manis tersebut.
"Kosong?" Beruntungnya sang lawan bicara mengerti apa maksud dari pertanyaannya.
"Saya baru keluar kamar tuan, jadi silahkan kalau tuan mau bermalam dengan saya." Jawabnya dengan suara mendayu dan terkesan sexy. Seungcheol seakan terhipnotis dengan parasnya sampai tangannya tanpa sadar meraih pinggang rampingnya agar lebih mendekat padanya.
"Nama dan umur?" Bisik Seungcheol tepat di telingganya. Walaupun Seungcheol sudah tahu betul siapa orang yang dia ajak bicara, sepertinya ini orang yang sama dengan yang Mingyu tunjukan padanya pada sore hari tadi.
"Hoonie, 22 tahun." Dan benar saja, ini adalah profile pria yang Seungcheol sudah booking untuk bisa Seungcheol cicipi malam ini. Seungcheol sudah akan hilang arah jika tidak ada tangan yang mencegahnya, dan ternyata milik wanita itu.
"Tuan boleh membawa Hoonie jika transaksi sudah selesai dilakukan." Katanya, sambil dia menyuruh Hoonie untuk duduk dahulu sembari menunggu Seungcheol melalukan pembayaran.
Selesai dengan urusan yang berkaitan dengan transaksi, Seungcheol diarahkan oleh Hoonie ke kamar paling ujung yang ada di bangunan tersebut, kamarnya berada di lantai atas. Bahhan lift di sini terlihat sangat megah dengan kaca putih tembus pandang menambah kesan mewah, bangunan tersebut tidak pantas disebut ladang maksiat.
Seungcheol merangkul pinggang Hoonie, dia mencoba memulai obrolan sembari berjalan menyusuri lorong mencari letak kamar mana yang akan menjadi tempat persinggahannya malam ini, pasalnya Hoonie hanya diam saja, mungkin masih merasa malu. "Hoonie? Bisa gak kita ngobrolnya santai aja? Jangan kaku banget. Umur gue baru 30 tahun."
"Bisa kok kak." Jawabnya lirih masih dengan wajahnya yang dibuat menunduk tanpa menatap Seungcheol yang sedang berusaha mengajaknya bicara. Seungcheol tahu Hoonie sedang menahan malu, gemas sekali.
"Ini kamarnya ya kak, maaf dapetnya emang paling ujung karena aku talent terakhir tahun ini."
Lalu pintu kamar tersebut tertutup, Hoonie mempersilahkan Seungcheol masuk lebih dulu, dia pun langsung mengunci kamarnya. Jihoon meminta Seungcheol agar menunggunya di atas kasur, sembari dirinya bersiap di kamar mandi. Namun sebelum berhasil masuk ke dalam kamar mandi, tubuhnya sudah ditarik sehingga sekarang Hoonie duduk di atas pangkuan Seungcheol
"Santai Hoon, nggak perlu buru-buru, waktu kita masih panjang." Ucapnya. Seungcheol mengecup dan menggigit pelan telinganya, tangannya dia bawa untuk meraba selangkangan Hoonie dari luar celana pendek yang dipakainya. Namun ada yang berbeda, Seungcheol tidak menemukan gundukan yang sama dengan miliknya, justru Seungcheol menemukan belahan berlendir persis seperti alat kelamin wanita.
"Hoonie punya vagina?" Hoonie yang panik lantas menjauh dari Seungcheol, lantas menutup rapat kakinya, berharap Seungcheol tidak melihat apa yang dimilikinya. Seungcheol yang melihatnya pun menjadi tidak tega, pasti Hoonie salah paham dengan reaksinya.
"Please t-uan kalau tidak nyaman.. saya bisa oral sex, say-" belum sampai Hoonie menyelesaikan kalimatnya, bibirnya sudah dibungkam oleh Seungcheol. Tubuhnya diangkat, dan secara alami mengalungkan lengannya di lehernya.
"Hey aku gak peduli apa yang kamu punya, asal itu kamu aku mau." Tanpa sadar Seungcheol juga menggunakan kata yang lebih sopan layaknya mereka adalah sepasang kekasih.
"Jihoon."
"Hm?"
"Nama asliku Jihoon, kamu bisa panggil aku Jihoon."
Seungcheol menggerakkan buku tangannya untuk menyentuh pipi Jihoon, lalu menciumnya. Jihoon tersenyum mendengarnya, baru kali ini dia dihargai oleh orang sedemikian rupa. Biasanya Jihoon hanya dijadikan tempat pemuas nafsu. Walaupun memang betul, namun jika di hadapkan dengan orang yang seperti Seungcheol, sejujurnya hatinya merasa tenang.
"Aku boleh tanya sesuatu?" Seungcheol mengangguk.
"Kamu udah berapa kali kesini?" Tanya Jihoon. Seungcheol bisa saja tertidur kalau tidak ingat ada beban tubuh Jihoon yang berada di atas pahanya, karena sedari tadi tangan Jihoon terus mengusap rambutnya. Begitu tenang seperti usapan ibunya.
"Baru kali ini, itu pun dari rekomendasi teman."
Jihoon mengangguk mengerti, lalu dia turun dari pangkuan Seungcheol dan melepas kemejanya, "wait for me, okay?"
Sesaat pintu kamar mandi tertutup, tanpa sadar Seungcheol menyunggingkan senyumnya. Pandangan matanya mengedar melihat ke sekitar, melihat isi kamar Jihoon. Terdapat satu sofa besar yang menghadap ke TV, kulkas, serta mini kitchen. Cukup nyaman untuk ditinggali sendiri, sewaktu Seungcheol kuliah juga memilih tipe apartemen seperti milik Jihoon.
Sekitar 15 menit akhirnya Jihoon keluar dari kamar mandi, rahangnya sukses menganga saat melihat tampilan Jihoon, bagaimana tidak. Jihoon keluar memakai lingerie berwarna merah yang sangat kontras dengan warna kulitnya.
Seungcheol langsung terpaku tidak dapat bergerak dari posisinya. Jihoon terlalu sempurna untuknya. Jihoon begitu cantik, sangat cantik. Bayangkan saja rambut blonde sebahunya dipadupadakan lingerie merah dan jangan lupakan lipglossnya, jika Jihoon mengingkan pernikahan, Seungcheol akan menikahinya sekarang juga.
Jihoon melangkah mendekat pada Seungcheol yang masih berdiri terpaku di tempat, dia berjinjit untuk mensejajarkan tinggi badannya. "How do I look?" Ucapnya malu-malu. Jihoon meraba dada bidangnya, Seungcheol tahu dirinya sedang digoda. Maka biarkan saja sampai mana Jihoon bisa merangsangnya.
Jihoon membawa tangan Seungcheol agar berada di dadanya, memintanya untuk meremas puting susunya, dan langsung dituruti. Buahkan desahan tertahan keluar dari mulut manisnya, "mnhh.."
Tahan. Seungcheol harus bisa tahan, karena demi apapun desahan Jihoon terdengar begitu merdu di telinganya. Seungcheol sudah tidur dengan banyak pria dan wanita, tetapi tidak ada satu pun yang mempunyai paras ayu, body mulus dan suara merdu seperti Jihoon.
Rasanya Seungcheol bisa gila sekarang. Tanpa sadar bibir ranum Jihoon mendarat di lehernya. Bokongnya yang mulus itu diremas olehnya, libidonya semakin tinggi melihat tingkah binal Jihoon.
Kedua tangan Jihoon berusaha melepas kancing kemejanya, dan melepas celana bahan yang Seungcheol kenakan namun tidak berhasil, "susah..." ujarnya pelan.
"Hey coba liat aku." Jihoon mendongak, Seungcheol terpukai saat matanya bertemu dengan mata indah milik Jihoon. Cantik, sangat cantik.
Seungcheol menangkup pipinya, dikecupnya bibir yang terpoles lipgloss itu dengan perlahan, dia mencoba memasukan lidahnya dan disambut baik oleh Jihoon. Lalu bunyi kecipak basah terdengar nyaring di telinga mereka, keduanya berciuman layaknya sepasang kekasih yang sudah lama tidak bertemu. Tidak ada yang mau mengalah, ingin saling mendominasi. Seungcheol menekan tengkuknya agar lebih memperdalam pergalutan lidah mereka, Jihoon kewalahan mengimbangi ciuman Seungcheol, pelangannya ini sangat pandai mengeksplor mulutnya.
Sampai Jihoon menepuk keras dada Seungcheol meminta untuk menyudahi ciuman mereka, Jihoon butuh mengais oksigen. Benang saliva terbentang di antara mereka. Seungcheol menjilat sisa air liur yang menetes di sepanjang leher Jihoon. Lantas Seungcheol menyingkap lingerie merah yang dikenakan Jihoon, menampilkan paha mulus sampai pinggulnya yang terdapat tattoo kecil bertuliskan adorasi. Seungcheol mengusap tattoo kecil tersebut, lalu bertanya. "Arti tattoonya apa?" Seungcheol meraba pahanya, begitu halus kulit Jihoon.
"Artinya pengorbanan. Aku berkorban pergi jauh dari rumah untuk memulai kehidupan yang baru, berharap bisa mengubah nasib keluarga. Malah terjebak di pekerjaan yang hina seperti ini, tapi aku mulai menghargainya. Dari hasil ini aku bisa bayar sekolah adikku, aku bisa bantu mamaku buka warung kecil di rumah. Aduh maaf ya kamu jadi denger cerita gak penting begini."
Seungcheol menggeleng, lalu mengenggam dan mencium tangannya. "Kamu kuat banget Jihoon."
Jihoon mengusap air matanya yang tanpa sadar menetes di pelupuk matanya, dia jadi malu sendiri karena sudah terlalu terbuka dengan pelanggannya. Bisa saja Seungcheol menetawakannya seusai hubungan semalam ini berakhir, siapa pula Jihoon berharap belas kasihan dari seseorang yang nyatanya tak bisa Jihoon genggam kehadirannya.
Lalu keduanya saling diam, baik Seungcheol dan Jihoon sedang mencoba mengembalikkan mood mereka dengan meningat tujuan mereka di sini untuk apa. Seungcheol yang lebih dulu bersuara, menyentuh paha Jihoon.
"Aku pegang vagina kamu ya?" Jihoon mengangguk, mempersilahkan Seungcheol untuk mengambil alih tubuhnya. Jihoon sudah dibayar mahal, jadi sudah semestinya Seungcheol bebas melakukan apa saja terhadap tubuhnya. Vaginanya masih tertutup celana dalam berenda yang warnanya senada dengan lingerienya, tangannya mulai menyentuh vaginanya yang masih tertutup kain itu dengan jari tebalnya, menggosokknya dengan telapak tangannya di sekitar labianya.
"Udah basah banget sayang, pengen banget ya aku entot?" Jihoon mengangguk, celana dalamnya sudah basah, dan sepertinya tidak akan sanggup menampung cairannya. Ditambah mendengar Seungcheol memanggilnya dengan sebutan "sayang", Jihoon sudah sering dipanggil dengan sebutan manis seperti itu. Namun ketika Seungcheol yang memanggilnya, Jihoon tidak bisa tidak tersipu.
Seungcheol menyentuh vaginanya menggunakan satu jarinya, membiarkan cairan lengket itu membasahinya. Seungcheol mencabut jarinya, dan langsung memasukkan jarinya ke dalam mulutnya. Merasakan cairan Jihoon, rasanya sedikit asam namun nikmat.
Seungcheol tersenyum pongah lalu berkata, "aku tau kok kamu itu pelacur, tapi gak nyangka gampang banget beceknya. Kenapa? sebelum ini gak ada pelanggan seganteng aku ya?"
Pria di hadapannya terus melemparkan kata-kata kotor yang membuat lubangnya terus menerus berkedut, meminta untuk segera ada yang mengisinya. Seakan mengerti Seungcheol kembali menyentuh vaginanya, membuatnya semakin becek karena disentuh oleh Seungcheol. "Liat deh, padahal memeknya baru digesek-gesek pake tangan loh, udah sebegininya. Gimana kalau udah aku sumpel pake kontol gede, makin gowoh kayanya." Seungcheol tertawa, tangannya semakin bersemangat memainkan labia Jihoon.
Jihoon merasa kurang puas bila Seungcheol hanya menyentuh bagian luar vaginanya, dia mengingkan lebih dari ini. Maka dibawanya jari Seungcheol agar masuk ke dalam mulutnya, lalu dikeluarkan dan diarahkan ke vaginanya. Seungcheol menggeleng tak menyangka pelacur yang akan dia tiduri malam ini betulan binal, tak salah dia memilih Jihoon untuk menghangatkan tubuhnya.
Seungcheol merentangkan kaki Jihoon, menahan agar tetap terbuka lebar. Menarik celana dalam berenda miliknya, diangkatnya kedua kaki jenjangnya lalu diletakkan di atas pundaknya. Seungcheol menunduk dan langsung memasukkan lidahnya ke dalam vaginanya, menjilat di sekitar labianya. Perlahan masuk lebih dalam hingga lidahnya menyentuh klitorisnya, Jihoon mengerang keenakan sembari terus menekan kepala Seungcheol agar lebih terbenam di dalamnya. Suara kecipak terdengar nyaring di telinganya, membuatnya tarsentak dari posisinya. Jihoon megangkat tinggi pinggulnya, supaya lidah Seungcheol dapat masuk lebih dalam di dalam sana.
“Fuck! I want to cum! Ah-ah.” Jihoon meremas puting susunya sendiri, vaginanya semakin basah dan lengket oleh cairan sendiri. Seungcheol membantu meringankannya dengan mengulum puting susunya, setelahnya Jihoon menjerit kencang.
Seungcheol semakin bersemangat memaju-mundurkan lidahnya di dalam sana, menggigit klitorisnya. Jihoon mendorong pundak Seungcheol, namun tidak berhasil. Tubuhnya bergetar, kakinya terasa lemas. Jihoon merasakan ada cairan yang akan keluar dari dalamnya, dan saat dia ingin menjauhkan wajah Seungcheol dari hadapannya, pelanggannya itu malah lebih membenamkan wajahnya di dalam vaginanya.
Benar saja, tak lama putihnya pun tiba, mengenai dada dan perutnya sendiri. Seungcheol langsung memasukkan jarinya ke dalam vaginanya lebih dalam, menikmati sisa orgasmenya Jihoon. Menarik jarinya, lalu memasukkan ke dalam mulutnya, Jihoon yang melihatnya hanya bisa menggelengkan kepalanya.
"Ah- ah ah feels so good, Cheol."
Suara mendayu Jihoon semakin membuat penis Seungcheol berdiri lebih tegak. Jihoon sendiri tidak menjauh, dia justru dengan sengaja membuka kembali pahanya lebih lebar.
Dibawanya tubuh Jihoon agar berbaring di kasur, Seungcheol membantu Jihoon melepaskan lingerie yang sedang dipakainya. Menurutnya sayang sekali jika dia tidak sengaja merusaknya, walaupun sejujurnya Seungcheol ingin sekali melakukannya. Seungcheol berhasil melepas seluruh kain dari permukaan kulit Jihoon.
Seungcheol menjilat serta menggigit sampai timbul ruam kemerahan, dari dada hingga perutnya. Jihoon tak hentinya mendesah, menikmati sentuhan mulut Seungcheol. Jihoon bahkan tidak sadar bahwa seharusnya dia lah yang memberi service untuk Seungcheol, bukan malah sebaliknya.
Seungcheol menghirup wangi sabun yang menempel pekat di paha mulus Jihoon. Tentu menjadi sasaran mulutnya, Jihoon melenguh inginkan lebih dari sekedar jilat dan kecup yang dilakukan Seungcheol pada pahanya. Jihoon menekan kepala Seungcheol agar tetap tenggelam di pahanya, seakan tidak membiarkannya berpaling pada bagian tubuhnya yang lain.
"Memek kamu basah lagi, sayang.” Seungcheol menggesekan hidungnya di area sekitar vaginanya. Lalu fokusnya terbagi ketika dia melihat puting milik Jihoon yang menegang keras, seakan tahu apa yang diinginkan Seungcheol. Jihoon membusungkan dadanya agar dia bisa mengulum puting susunya. Seungcheol langsung menjilat dan menggigitnya kecil di sekitar areolanya, membuat vaginanya kembali basah.
“Enak ya pentilnya aku hisap begini?
Kepala Jihoon terasa kopong dia hanya bisa mengangguk seraya mendesahkan nama Seungcheol berulang-kali, dia tidak bisa fokus. Karena yang ada di otaknya adalah bagaimana caranya agar penis besar Seungcheol segera masuk ke dalam vaginanya.
“Ah! Cheol enak. Pentilnyaa jangan stop, t-terus emut lagi. Ah-ahh." Jihoon merengek begitu merasakan Seungcheol dengan sengaja berhenti mengulum putingnya yang sudah keras itu, lalu menyeringai mendengar permintaannya.
Bukannya menuruti, Seungcheol malah menggigit bibir bawahnya. "Harusnya kamu gak sih yang puasin aku? Kan aku bayar mahal buat rasain service kamu" Jihoon mengusap dada bidang Seungcheol, lalu mencium bibirnya.
Jihoon lantas membalikkan posisi mereka, dan kini Seungcheol yang bersandar di kepala ranjang. Jihoon menunduk dan mengecup singkat bibir Seungcheol, melihat pandangan matanya terganggu oleh poninya. Seungcheol mencepol rambut blonde Jihoon, menggunakan ikat rambut yang kebetulan ada di atas nakas samping tempat tidur.
Jihoon membuka lebar paha Seungcheol, dan memulai dengan mengecup palkon penis tegangnya lebih dulu. Tangannya dengan lembut menggenggam penis Seungcheol yang terlihat sangat keras itu, memijatnya naik dan turun secara perlahan.
Sentuhan Jihoon sedikit tarasa kaku di penis Seungcheol, karena memang Jihoon jarang melakukannya. Pelanggannya paling sering memintanya untuk melakukan blowjob. Namun kian lama sentuhan jari Jihoon terasa nikmat mengenggam penisnya, memijat penis besarnya dengan tempo cepat. Ketika erangan Seungcheol terdengar di telinganya, Jihoon semakin lebih berani dan percaya diri.
"Oh, shit!" Seungcheol terkulai di leher ranjang. Jihoon mencondongkan tubuhnya ke depan, napasnya terasa panas di ujung penisnya. Lalu dengan satu gerakan cepat, memasukkannya ke dalam mulut kecilnya. "Your mouth is so good, Hoon."
Seungcheol terbelalak merasakan sensasi itu. Bibir Jihoon terasa begitu hangat dan basah, penisnya tenggelam di dalam mulutnya, mencengkeramnya erat dan basah. Mulut Jihoon terasa sangat nikmat, lidahnya berputar menggoda ujung penisnya. "Fuck! Ya-ah ah begituu, ahh." tangannya secara otomatis terulur untuk menarik rambut Jihoon. Mendorong kepalanya agar lebih tenggelam mengulum penisnya, membuat Jihoon tersedak. Seungcheol kira Jihoon akan berhenti, namun nyatanya pelacur itu kembali memasukkan penisnya ke dalam mulutnya.
"Ah ya! Good job! Hisap. Hisap terus penisnya." Jihoon menganggukkan kepalanya, memasukkan penis Seungcheol agar masuk jauh ke dalam tenggorokannya, bibirnya mengulum naik turun di batang penisnya. Suara hisapannya yang basah memenuhi kamar, bercampur dengan erangan Seungcheol yang terdengar semakin putus asa. "It feels so good, Hoon." Pinggulnya bergerak pelan mengikuti gerakan mulut Jihoon. Mata Jihoon berbinar saat mendengar pujian dari pelanggannya, Jihoon menjadi lebih bersemangat mengulum penis Seungcheol. Tangannya tak tinggal diam, dengan mengelus paha berotot Seungcheol, meremas dan memijat ototnya yang kencang saat dia menggerakkan mulutnya naik turun di penis yang kaku itu. Napas Seungcheol terengah-engah, tubuhnya menegang saat dirasa akan mendekati klimaksnya, dia pun berteriak kencang. "Fuck! I want to cum!" Seungcheol memperingati Jihoon, suaranya berat dan serak.
Klimaksnya pun tiba, mengenai Jihoon, sehingga kini wajahnya penuh dengan cairan kental Seungcheol yang menempel di hidung, mulut dan dagunya. Jihoon menelan cairan Seungcheol tanpa tersisa, menyeka sisa cairan yang menempel di sekitar mulutnya menggunakan buku jarinya. Napas pelanggannya tersengal-sengal usai klimaksnya, Jihoon merangkak ke depan dan jatuh terduduk di atas pahanya.
"Sebentar, aku mau lepas baju dulu." Seungcheol mengangkat Jihoon dari atas pangkuannya, lantas dia berdiri menanggalkan pakaianya. Kembali duduk, lalu menepuk pahanya. Seakan mengerti, Jihoon kembali duduk di atasnya.
Seungcheol pelintir puting susu Jihoon yang kembali mengeras itu, "mau gak aku nyusu lagi?"
Jihoon mengangguk pelan, "mmnhh-mau." Seungcheol gemas sendiri melihatnya. Bagaimana tidak, telinga serta wajah Jihoon begitu merah bak buah tomat.
Lalu Seungcheol kembali meraup puting merah tersebut, menghisapnya tak sabaran. Tidak pedulikan Jihoon yang mencengkram kuat pundaknya, Seungcheol artikan sebagai maksud pertahanan diri dalam menahan semua rangsangannya.
"Please yang sebelahnya please." Napasnya berderu seperti orang yang baru selesai lari marathon, sambil Jihoon usap surai hitam Seungcheol yang mulai basah akan keringat.
Seungcheol menekan dan meremas dada Jihoon, satu desahan lolos dari mulutnya, kepalanya mengadah ke atas. Terlalu nikmat mulut Seungcheol mengerjai putingnya. Lidahnya terus menghisap serta menggigit puting Jihoon, menjilat dengan rakus disekitar areola merah tersebut.
"Cheol.. terus- ahh.. Pinter banget.” Jihoon memuji sambil mengusap rambut tebal Seungcheol.
"Hisap terus. Iya kaya begitu, ah! Good job." Rangsangan tersebut jelas sampai ke vaginanya yang sekarang sudah mengeluarkan cairan kentalnya lebih banyak, vagina Jihoon sudah gatal sekali. Inginkan Seungcheol untuk segera memasuki dirinya.
Seakan mengerti kemauan Jihoon, dia pun melelas kuluman pada puting susunya. Memposisikan wajahnya ke hadapan vagina tidak berbulu milik Jihoon, dia kecup singkat lebih dulu. Membuka pahanya selebar mungkin, lidahnya terjulur di antara lipatan vagina Jihoon yang berkedut seakan meminta untuk segera masuk dan merasakan cairan yang tersimpan di sana.
Tentu Seungcheol dengan senang hati menyanggupinya. Klitorisnya disentil lalu ditarik kasar, "ah! sakit Cheol."
“Jihoon tahan ya jari aku bakal masuk ke dalam, jadi kalau ngerasa sakit bisa cakar punggung aku.” Tanpa terduga, satu jari Seungcheol telah masuk ke dalam belahan vaginanya, bersamaan dengan Seungcheol menjilat di sekitar labia Jihoon, menekan-nekan klitorisnya guna mempersiapkan lubangnya agar lebih longgar.
Seungcheol sadar penisnya itu berukuran besar dan dia tidak ingin membuat Jihoon kesakitan. Kalau yang lain tak masalah, tapi tidak dengan Jihoon. Seungcheol merasa harus lembut memperlakukannya, dan Seungcheol sadar betul pekerjaan Jihoon membolehkan dirinya bersikap kasar padanya.
"Sakit ah! udah! Cheol, ah-ah stop." Jihoon berusaha mencoba mengeluarkan jari Seungcheol yang berada di dalam vaginanya, Seungcheol mengerti maka berhenti lebih dulu. Foreplay tidak selalu berjalan mulus, ada saatnya partner merasa kesakitan yang seperti Jihoon rasakan.
Setelah tenang Jihoon mengusap pipi Seungcheol yang tatapan matanya tenang menatap Jihoon, dia tersenyum lalu membawa tangan Jihoon dan dikecup lama. "Aku gerak lagi ya."
"O-oke." Dikecupnya singkat bibirnya. Jihoon menangkup pipi Seungcheol, lalu mengajaknya berciuman. Jihoon mengalungkan lengannya di lehernya sembari menyentuh kulitnya sensual, punggung Seungcheol begitu lebar dan kuat. Saat ciuman mereka terlepas, Seungcheol membawa kaki Jihoon ke atas pundaknya.
Jarinya kembali masuk ke dalam vaginanya yang sudah terlihat longgar, memasukkan dan mengeluarkan jarinya di dalam sana dengan tempo cepat.
Jihoon mencoba meredam suara desahannya sendiri dengan menggigit bantal, dan langsung disingkirkan oleh Seungcheol. "Liat nih jari aku masuk ke memek kamu, Hoon." Jihoon kembali mengambil bantalnya, oleh Seungcheol dilempar lebih jauh.
"Iy-aa. Nnghh.."
Jihoon menggelinjang hebat, dia bisa merasakan jari tebal Seungcheol menekuk di dalam sana, sampai tembus di perutnya saking dalamnya. Menggaruk-garuk dinding rahimnya, seperti Seungcheol sedang menyiapkan tempat yang luas untuk menampung benihnya.
Tidak lama Seungcheol berhasil menyentuh titik terdalammya, Jihoon menjerit dengan kencang. Mungkin jika kamar Jihoon tidak kedap suara, kamar sebelah bisa dengar suara desahan mereka yang saling bersahutan.
Sungguh rasanya begitu nikmat, Jihoon ingin Seungcheol saja yang bisa menyentuhnya, dan dia ingin hanya lubangnya yang memuaskan penisnya.
"Angghh. ahh — ahh!" yang bisa Jihoon lakukan adalah mendesah, Seungcheol terus menghisap klitoris Jihoon, agar lubang Jihoon yang sudah dia persiapkan menggunakan jarinya semakin terbuka lebar dan longgar. Lalu siap menampung penis besarnya.
"Shit! masih sempit banget memek kamu, Hoon." Seungcheol mempercepat jarinya keluar masuk dari dalam vaginanya, dengan gerakan mengunting. Total sudah ada tiga jari di dalamnya, rasanya jari Seungcheol bisa membelah dengan mudah vaginanya.
“Haha sampai merem melek begitu, terlalu enak ya memeknya aku kobel begini?” Bisik Seungcheol, sembari mengecup paha Jihoon, jarinya tetap maju dan mundur di dalam vaginanya, berharap Jihoon segera menemui putihnya.
"Aku pengen liat kamu muncrat keenakan.” Ucap Seungcheol sambil memilin puting susunya, Jihoon hanya mengangguk menanggapi perkataannya.
"Ngomong dong rek, perek. Kopong kali ya otaknya, makanya cuma bisa ngangguk doang." Seungcheol menarik rambut Jihoon yang menjuntai, membuatnya meringis menahan perih karna ditarik begitu saja.
“Ahh — ahh. Sumpah enak banget memek aku dikobel begini.” Desahan Jihoon semakin kencang yang mana membuat Seungcheol semakin bersemangat memainkan jarinya di dalam sana.
“Mau k-keluar! Ah!" Vaginanya semakin gatal, dan dia merasa akan ada sesuatu yang keluar dari vaginanya. Pahanya bergetar, cairannya pun sudah merembes keluar, suara kecipak mulut kotor Seungcheol di dalam vaginanya semakin terdengar jelas di telinganya.
Seungcheol semakin bersemangat memaju-mundur jarinya di dalamnya, dia mendelik saat Seungcheol menekuk jarinya saat mengenai titik terdalamnya. Jihoon merasakan klimaksnya akan datang tidak lama lagi, Seungcheol bersenandung melihat wajah pucat Jihoon. Kuku menancap dalam di punggungnya, Seungcheol hiraukan saja. Memberi Jihoon ruang bebas dalam menahan rangsangannya. Seungcheol menyentakkan jarinya lebih dalam dan kuat. Mencari titik nikmat Jihoon, menekan-nekan klitorisnya.
"OH GOD!!! I WANT TO CUM!" Akhirnya Seungcheol berhasil membuat Jihoon sampai pada klimaksnya, dapat dilihat lelaki manis itu yang kesusahan mengais oksigen seusai orgasmenya. Cairan kentalnya mengenai dada dan paha Seungcheol.
“Sini angkat pinggulnya, aku pengen jilat memeknya.” Jihoon menurut walaupun kakinya begitu lemas seperti jelly. Seungcheol langsung memasukkan ketiga jarinya ke dalam vagina Jihoon, lalu mengeluarkannya. Seungcheol lantas menghisap jarinya yang penuh dengan cairan kental milik Jihoon, melahap cairan tersebut sampai tandas tak tersisa.
Seusai dengan kegiatan membersihkan vagina Jihoon, Seungcheol berdiri untuk memasang kondom pada penisnya. Seungcheol tidak ingin mengambil resiko, jika Jihoon hamil. Walaupun sangat tidak masuk akal, kalau satu pertemuan langsung menghasilkan anak.
"Siap? Kontol aku udah gak sabar pengen masuk ke memek kamu." Seungcheol memperlalukan Jihoon layaknya kekasihnya sendiri, sejak awal tak ada tuh fantasi liar yang Seungcheol sudah rencanakan jauh sebelum ke tempat ini.
Jihoon menganga melihat sesuatu dibalik punggung lebar Seungcheol, saat dia memasang kondomnya menghadap ke belakang. Ternyata terdapat tattoo yang ukurannya cukup besar, dan tunggu.. apakah itu sebuah pohon? Jihoon berdiri di belakang Seungcheol, lalu menyentuh tattoo-nya. "Ini pohon apa?"
"Olive tree." Jihoon kembali menyentuhnya, menyelusuri lelukan tattoo itu terbentuk. Tattoo-nya timbul, dan besar. Pasti sakit, tattoo Jihoon yang ukuran jauh lebih kecil, terasa sakit saat membuatnya.
"You like it?" Seungcheol membalikkan tubuhnya, merangkul pinggang Jihoon posesif. Dia mengecup dadanya, lalu mereka berpelukan. Seungcheol membisikan kalimat manis untuknya, Jihoon berucap lirih di telinganya. "I like everything about you."
Seungcheol mencengkeram kepalanya, lalu menyatukan bibir mereka, mencoba memperdalam ciuman. Dengan menyelipkan lidahnya di antara bibir Jihoon, Seungcheol menggigit bibir bawahnya meminta akses lebih. Jihoon membuka mulutnya, dan langsung merasakan lidah Seungcheol menyentuhnya. Ciuman mereka perlahan berubah menjadi lebih menuntut, dan panas.
Seungcheol membawa tubuh Jihoon agar kembali ke atas kasur. Seungcheol menarik pinggulnya agar lebih menempel padanya. Jihoon tersentak dalam ciuman mereka saat selangkangan mereka bersentuhan, dan merasakan penis keras menyentuh vaginanya.
"Aku udah siap kamu masukin, Cheol." Seungcheol menunduk agar sejajar dengan wajahnya.
Lalu mengarahkan penisnya ke depan lubang vagina Jihoon, didorongnya perlahan agar dapat masuk secara perlahan, tubuh Jihoon langsung melengkung dan mengangkat pinggulnya lebih tinggi. Seungcheol mencium pucuk hidungnya. Basahnya vagina Jihoon memudahkan penisnya masuk dengan lumayan mudah, apalagi dengan penis Seungcheol yang telah terbenam di dalam lubangnya. Vaginanya menjepit erat penis Seungcheol, mejerat kuat di sekitar batang keras tersebut.
Seungcheol dan Jihoon saling mendesah bersamaan setelah penisnya masuk seluruhnya ke dalam lubang vagina Jihoon. Seungcheol tak hentinya melenguh, karena dinding vagina tersebut terasa mencengkeram kuat penisnya. Begitu juga Jihoon yang merasa nikmat, karena lubangnya terisi penuh oleh penis Seungcheol.
"Kontol kamu gede banget, enak!" Seungcheol sangat suka jika partner tidurnya lebih vokal, yang artinya menikmati servicenya.
"Ayo gerakin terus Cheol, ah-ah ah."
Seungcheol terus menghentak penisnya lebih dalam, tempo hentakkannya lebih cepat dan kuat menghantam di dalamnya. Tubuhnya berkali-kali tersentak dari posisinya, Seungcheol menekan kaki Jihoon agar lebih menekuk, supaya mempermudah dirinya menghentakkan penisnya lebih dalam.
"S-seungcheol. Ah-ah gila! Kontol kamu enak banget. Ah, ya terus! Enak banget. Ahh."
Seungcheol tersenyum puas melihat pelacur yang dia tiduri merem melek keenakan karena penis besarnya. Egonya langsung melambung tinggi. Hentakannya kian kencang di dalam vagina Jihoon, sampai sang pemilik tubuh terpental di atas kasur.
Seungcheol meremas dadanya sambil dia garuk puting merekah Jihoon pakai ujung kukunya sampai membuatnya kembali menitihkan air matanya, serta pantat sintalnya pun tak luput dari tamparan tangan Seungcheol. Sudah dipastikan keesokan harinya akan membekas dan tak ada pelangan yang mau memakai jasanya.
"C-cheol ah... enak banget! Shit lebih cepet lagi genjotannya please." Seungcheol menurut, dia menggerakkan pinggulnya cepat. Desahan Jihoon di kamar pribadinya berubah menjadi jeritan, berisik sekali.
Tetapi Seungcheol menyukainya. Segala hal tentang pelacur satu ini akan selalu dia puji, bahkan ide gila terlintas di otaknya. Tunggu di akhir pasti Seungcheol akan menungkapkan isi hatinya kepada Jihoon.
"Ah! Ah—ah enak banget. Cheol-ah lebih cepet.. ah! Iya kaya begitu."
"Fuck! Kamu mau gak aku pake terus setiap hari? kamu cukup ngangkang di rumah nunggu aku pulang kerja, ngga usah pake baju seharian. Tetek penuh susu, karena udah pasti kamu bakal hamil anak aku, nanti aku kenyot susu kamu setiap hari haha." Ucapnya ngaco. Lubang Jihoon semakin basah dan dia lebih mengetatkan lubangnya, penis Seungcheol yang berada di dalamnya terasa ngilu.
"Shit! Malah makin dikempotin memeknya. Ah! besok k-kita nikah yaaa." Seungcheol dapat merasakan vagina Jihoon yang meremas penisnya, berdenyut dengan kuat.
Seungcheol tahu Jihoon akan kembali menjemput putihnya, Seungcheol membantunya dengan lebih menghentakkan penisnya lebih keras dan dalam, menyentuh titik nikmatnya berakali-kali, ujung penisnya hampir sampai pada dinding rahimnya saat dia memperdalam penisnya di dalam vagina Jihoon dengan gerakan cepat.
“Ah-ah. aku — mau keluar!” Jihoon menjerit keras, tangannya mencengkeram kuat pundak Seungcheol lalu menancapkan kukunya tepat di atas tattoo olive tree-nya. Kepalanya mendongak ke atas saat cairannya keluar dengan deras dari vaginanya. Tubuhnya bergetar hebat setelah orgasmenya. Jihoon begitu lemas tak bertenaga, tetapi pelangannya belum mau berhenti, Seungcheol belum sampai pada putihnya.
"Fuck. Fuck enak banget emang lubang perek."
Beruntungnya vagina milik Jihoon sudah sangat basah, mempermudah Seungcheol untuk menggerakkan penisnya di dalam sana lebih dalam dan cepat. Seungcheol menghentakkan penisnya dengan tempo cepat. Saat dorongan terakhir, Seungcheol mendorongnya sampai mentok, saat merasa cairannya akan merembes keluar, buru-buru Seungcheol mencabutnya. Menyuruh Jihoon menyingkir dari hadapannya, lalu membuang benihnya di dalam kondom. Seungcheol bediri untuk mengikat kondomnya, lalu dibuang ke tong sampah dekat kamar mandi.
Bergabung dengan Jihoon yang terlihat lemas bersandar pada kepala ranjang, Seungcheol memeluk pinggangnya. Meminta Jihoon agar bersandar di dadanya, dia pun menurut. Seungcheol mengecup pelipisnya, menyelipkan rambutnya di sela telinganya.
"Aku serius, Jihoon. Aku mau nikah sama kamu, aku bakal bayar biaya pinalty kamu karena putus kontrak begitu aja dari Sweet Honey, dan aku juga bakal tanggung biaya hidup orang tua dan biaya sekolah adik kamu."
Jihoon yang mendengarnya pun kaget, dirinya tidak menyangka kalau Seungcheol akan berkata seserius itu. Dari awal memang Jihoon merasa ada yang berbeda dengan cara pandang Seungcheol, namun dirinya tetap tidak menyangka dia akan selantang itu mengajaknya menikah.
Jihoon mendongak ke arah Seungcheol yang ternyata sedang menatapnya, "kamu serius? Serius mau nikahin aku?"
"Aku serius, Jihoon."
"T-tapi, tapi aku kotor, Cheol. Tubuhku kot-" Seungcheol tak membiarkan Jihoon menyelesaikan kalimatnya, karena bibirnya langsung dibungkam oleh bibir Seungcheol.
Seungcheol menggelengkan kepala tak setuju, "aku ngga peduli tentang itu, yang aku mau itu kamu. Aku sama sekali ngga rela orang lain nyentuh kamu, Hoon. Please nikah sama aku, aku mau kamu Hoon." Jihoon terkekeh mendengar kalimat putus asa yang keluar dari mulut Seungcheol yang menurutnya sangat manis itu.
Jihoon mengecup pipinya, dan kembali bersandar di dada bidang Seungcheol. Mengusap tangan Seungcheol yang dengan posesif memeluk tubuhnya. "Aku mau Cheol nikah sama kamu."
Wajah Seungcheol langsung berbunga, pipinya memerah, dan Jihoon dapat melihat air matanya yang akan menetes jatuh ke pipinya. Seungcheol buru-buru mengusapnya, lalu mengenggam tangan Jihoon untuk dikecup.
"Besok ya kita bicara sama mami kamu, aku bakal terima apapun konsekuensinya. Makasih ya Jihoon sayang udah nerima aku."
Satu tahun kemudian Seungcheol meyakinkan kembali Jihoon untuk menikah dengannya, dan kali ini Seungcheol diterima. Sekarang pernikahan Seungcheol dan Jihoon sudah masuk tahun ketiga dan memiliki satu anak perempuan yang mereka beri nama Choi Alana.
Jika ada yang bertanya, apakah Jihoon sudah keluar dari pekerjaan hina tersebut? Jawabannya sudah. Walaupun awalnya sedikit susah karena kontrak kerja Jihoon masih berjalan, tapi berkat bantuan Wonwoo sebagai pengacara pribadinya, dan sedikit permainan kekuasaan. Akhirnya Seungcheol dapat membawa Jihoon keluar dari tempat itu.
Kalau ada yang meragukan cinta Seungcheol pada Jihoon bisa kita potong lidahnya. Contohnya saat Jihoon mengalami kram perut saat usia kandungannya masuk bulan 8 yang mana perut Jihoon terlihat besar sekali, Seungcheol yang tahu kabar itu langsung pulang. Padahal saat itu Seungcheol sedang berada di New York.
Seungcheol nekat terbang menggunakan helicopter demi cepat sampai menemani suami manisnya, ketika sampai rumah, Jihoon menatapnya bingung sambil memakan buah potongnya. Berakhir Seungcheol menangis di depan perut besar Jihoon, memohon pada anaknya agar tidak membuat papanya panik.
-
Sekarang kegiatan Jihoon adalah menjadi MC, Jihoon biasa menerima job untuk acara musik atau influencer yang akan launching suatu produk. Namun baru dua bulanan ini Jihoon mencoba peruntungan baru, dengan terjun ke dunia tarik suara. Ternyata disambut baik oleh orang banyak. Bahkan video cover dia menyayikan lagu grup korea Seventeen yang berjudul Good to Me mencapai 1 juta viewers. Itu yang membuat Seungcheol semakin yakin kalau Jihoon, suaminya bisa sukses di dunia barunya.
Seungcheol menangkup pipi Jihoon, mencoba memberi semangat padanya. Karena suaminya terlihat sangat nervous untuk perform pertama kalinya di atas panggung besar, tanpa Jihoon sadari kalau di luar sana Jihoon sudah mempunyai banyak fans.
"Hey sayang look at me. Semua orang di luar sana pengen lihat kamu tampil, karena mereka tahu potensi yang ada di dalam diri kamu, sayang." Seungcheol menghujani Jihoon dengan ciuman di seluruh wajahnya, sebelum mendaratkan ciuman panjang di bibir suaminya.
Jihoon rasanya ingin menangis bila Seungcheol sudah berbicara serius seperti ini, Jihoon beruntung mempunyai Seungcheol di dalam hidupnya. Alana yang berada di gendongan Seungcheol pun turut memberi semangat dirinya, "fighting papi!" Jihoon penuh akan cinta dari dua kesayangannya.
Acara berjalan sukses. Jihoon menyanyikan lagu ciptaannya sendiri, bersyukurnya dapat diterima baik oleh khalayak. Tak sedikit yang sing-along, membuat Jihoon hampir menangis di atas panggung.
Mereka pulang sekitar jam 10 malam, sementara Alana pulang lebih dulu di jemput oleh kakek dan neneknya. Pastinya bocah dua tahun itu menginap di rumah orang tua Seungcheol.
Jihoon merasa aura sang suami berbeda, tadi di backstage Seungcheol masih ramah dan bercanda dengannya. Namun saat mereka sudah masuk ke dalam di mobil, tatapannya terlihat seram. Tangan Seungcheol tidak hentinya mengelus entah itu punggung Jihoon, atau meremas pantatnya. dan Seungcheol kini memaksa Jihoon agar duduk di pangkuannya, padahal suaminya sedang menyetir.
"Bahaya sayang kalau nyetir sambil aku duduk dipangkuan kamu. Nanti kan bisa lanjut di rumah, mumpung Alana nginep juga kan?" Tawar Jihoon. Lalu wajah Seungcheol berubah muram, cemberut dia karna keinginannya tidak dituruti olehnya.
Seungcheol mendegus tak suka, tetapi dia tetap memaksakan senyumnya. "Oke, kita check in hotel. Inget aku gak suka ditolak, ya Jihoon." dia terkekeh lalu mengecup singkat pipi Seungcheol, usia boleh saja tua tapi untuk urusan merajuk si Seungcheol juaranya.
